21 April 2026
Beranda blog Halaman 36007

Budi Waseso Bantah Penyerangan TVRI karena Lalai

Jakarta, Aktual.co — Dalam sidang kasus dugaan pencemaran nama baik, Kabareskrim Polri Komjen Pol Budi Waseso membantah penyerangan kantor TVRI Gorontalo, akibat kelalaiannya sewaktu menjabat sebagai Kapolda Gorontalo.
“Saya dituding melakukan pembiaran dalam penyerbuan TVRI saat itu, padahal saya datang ke TKP setelah tahu TVRI diserang. Saat saya tiba di sana sudah ada Kapolres juga,” ujar dia saat menjadi saksi di Pengadilan Negeri Gorontalo, Senin (25/5).
Budi menjadi saksi dalam kasus pencemaran nama baik yang menyeret Gubernur Gorontalo Rusli Habibie sebagai terdakwa, saat Pilkada Kota Gorontalo tahun 2013. Meski demikian Budi mengakui sebelum terjadi penyerangan, jumlah kekuatan polisi tidak maksimal sehingga massa berhasil menduduki kantor tersebut.
Dia juga menjelaskan, proses hukum terhadap pelaku tidak tuntas, karena seluruh korban menolak untuk melaporkan kasus itu ke polisi. “Padahal saya sudah membujuk rayu para korban untuk melapor, bahkan saya bersedia mengamankan mereka di rumah saya sendiri demi keamanan korban. Tapi tidak ada yang berani.”
Penyerangan kantor LPP TVRI Gorontalo terjadi pada Senin, 25 Maret 2013, yang menyebabkan beberapa jurnalis mengalami kekerasan. Tujuh wartawan mengalami pemukulan, ancaman, intimidasi dan perampasan kamera saat meliput massa pendukung pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Adhan Dambea-Inrawanto Hasan yang melakukan penyerangan.
Massa memprotes pemberitaan TVRI terkait putusan PTUN Manado, yang mengabulkan gugatan pasangan Marten Taha-Budi Doku dan Feriyanto Mayulu-Abdurahman Bachmid terhadap KPU Kota Gorontalo. Massa menuntut Kepala Stasiun TVRI meminta maaf melalui siaran langsung televisi tersebut, serta melalui koran lokal.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Kembangkan Pembangunan Infrastruktur, Pemerintah Buat RUU Arsitek

Jakarta, Aktual.co — Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan beragam upaya guna mengembangkan pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian Indonesia.
“Termasuk dalam upaya tersebut adalah disahkannya Undang-undang No 11 Tahun 2014 tentang keinsinyuran oleh DPR RI tahun lalu, yang menjadi pijakan hukum utama bagi seluruh kegiatan Iptek dan engineering di Indonesia,” kata Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah Kemenpupera Hermanto Dardak dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (25/5).
Menurut dia, dengan terciptanya UU tersebut maka masyarakat yang menggunakan jasa insinyur di Tanah Air juga memiliki standar pelayanan.
Selain itu, berbagai langkah lainnya yang telah dilakukan pemerintah termasuk memetakan potensi industri dan kebutuhan infrastruktur strategis di setiap provinsi.
Kemudian, melakukan kajian tentang ketersediaan dan kebutuhan sumber daya, menata regulasi, dan memulai persiapan pembentukan bank infrastruktur yang akan menjadi kunci pembiayaan yang selama ini tidak optimal.
Ia juga mengungkapkan, dengan adanya Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah, ke depannya akan ada konsep pengembangan infrastruktur yang dibagi ke dalam beragam wilayah pengembangan strategis.
“Sehingga dalam pelaksanaan dan penyelenggaraannya, seluruh Insinyur nasional diharapkan dapat benar-benar memberikan kontribusinya,” jelasnya.
Sebelumnya, Dirjen Pembiayaan Perumahan Kemenpupera Maurin Sitorus mengingatkan bahwa dengan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015, penting pula untuk menjadikan arsitek di Indonesia menjadi profesi yang bersaing.
Untuk itu, pihaknya juga telah melakukan sejumlah kunjungan kerja guna mendapatkan masukan yang substansif dan konstruktif terkait dengan Rancangan Undang-Undang (RUU) Arsitek.
“RUU Arsitek ini sudah mendesak karena akan berdampak langsung kepada bangsa kita dari sisi lapangan pekerjaan, kesejahteraan dan keprofesian,” paparnya.

Artikel ini ditulis oleh:

WALHI: Reklamasi Teluk Jakarta Sudah Pasti Berdampak Buruk

Jakarta, Aktual.co — Direktur Eksekutif WALHI DKI Jakarta Puput TD Putra mengatakan pelaksanaan reklamasi Teluk Jakarta bertabrakan dengan peraturan.
“Terkait dengan peraturan pusat dengan DKI bertabrakan peraturannya karena menurut pusat di KKP Teluk Jakarta masuk zonasi strategis nasional. Jadi izin itu harus melalui KKP juga. Sedangkan DKI tidak melakukan kordinasi yang berkelanjutan dengan KKP,” ujar Puput saat dihubungi di Jakarta, Senin (25/5).
Jika dilihat dari lingkungan hidup, WALHI melihat itu berdampak bagi kehidupan sekitar, khususnya Teluk Jakarta. Dengan adanya reklamasi, ekosistem bisa terganggu. Pekerjaan nelayan terganggu karena ekosistem mati, ikannya rusak, ikan bermigrasi keluar Teluk Jakarta dan nantinya kesulitan mencari ikan.
“Dari sisi sosial budaya juga akan ada pergeseran, karena reklamasi otomatis budaya akan tersingkir dengan sendirinya,” tuturnya.
Puput menyebut reklamasi bukan untuk masyarakat kecil tetapi untuk pembangunan kantor, hotel, apartemen dan lainnya yang jelas kelasnya tak tercapai oleh masyarakat nelayan.
“Sudah pasti dampaknya buruk. Karena kalau kita melihat karakteristik Jakarta itu tidak bisa disamakan dengan Korea, Belanda atau lainnya. Yang jelas Jakarta masuk ke dataran yang lebih rendah,”
“Kalau hukum alam air mengalir dari atas ke bawah, Jakarta di bawah. Kalo kita tambah dengan reklamasi otomatis air laut akan naik. Ketinggian akan berubah. Air dari sungai akan terhambat kelaut, otmatis berbalik ke darat,” tambahnya.
Walapun, lanjutnya, dari pengembang menyatakan akan ada alat yang memompa, tetapi tidak menjamin nantinya akan berjalan dengan baik.
“Alih-alih adanya pembangunan reklamasi ini kan dampak banjir sudah terlihat, seharusnya pemprov belajar dari itu,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Masalah Rohingya Belum Tuntas, Pukulan Bagi ASEAN

Jakarta, Aktual.co — Pakar Sejarah Sosial Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, Prof. Saifullah berpendapat belum tuntasnya permasalahan pengungsi dari etnis Rohingya merupakan pukulan bagi organisasi ASEAN.
“Organisasi ASEAN selama ini terlalu banyak kegiatan berbentuk seremoni, dan menggelar acara dengan bermewah-mewah di tempat yang elit, sehingga melupakan kejadian yang dialami masyarakat di sekitarnya,” kata dia di Padang, Senin (25/5).
Menurutnya, selama ini kegiatan ASEAN cenderung kepada persoalan yang ringan saja, sehingga terkesan organisasi itu seperti perkumpulan atau arisan antara petinggi negara di kawasan Asia Tenggara saja.
Padahal setiap negara ASEAN harus melindungi setiap warga dan memperlakukannya dengan sama rata. Namun disayangkan justru ASEAN jarang membahas dan membicarakan masalah pengungsi dan kaum minoritas yang tertindas ini.
Nasib kaum minoritas seperti Rohingya terkesan dibiarkan tanpa ada penyelesaian akhir.
“Jika ada etnis minoritas jangan sampai terkesampingkan atau teraniaya, lindungilah mereka agar mereka hidup dengan aman,” kata dia.
Dia mengimbau negara yang penduduknya mayoritas non muslim untuk menghentikan perilaku yang tidak baik tersebut terhadap umat Islam.
Hal itu bukan hanya untuk etnis Rohingya di Myanmar, tetapi juga untuk orang Patani di Thailand, Suku Moro di Filipina, dan negara-negara lain yang memiliki minoritas Islam.
Kemudian, organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan ASEAN harus memberikan tekanan kepada Pemerintah Myanmar agar mereka tidak semena-mena terhadap umat muslim Rohingya.
Dia mengimbau agar umat Islam Indonesia dan negara lain membantu untuk meringankan beban umat Islam Rohingya, karena kondisinya saat ini memprihatinkan.
Dia menyebutkan jumlah etnis Rohingya yang meninggalkan negaranya kali ini merupakan yang paling banyak sepanjang sejarah.
“Sebelumnya mereka juga ada yang meninggalkan negerinya, tapi jumlahnya hanya belasan hingga puluhan orang.”

Artikel ini ditulis oleh:

Polda Metro Jaya Kembali Tangkap 31 WNA

Anggota polisi mendata para WNA di sebuah rumah mewah kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2015). Dalam penggrebekan tersebut, tim Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya kembali mengamankan 31 WNA yang terlibat dalam kasus penipuan online. AKTUAL/MUNZIR

Harga Lebih Mahal, Mentan: Ada Motif Lain Dari Peredaran Beras Plastik

Jakarta, Aktual.co — Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan beras plastik tidak mungkin menguntungkan dibandingkan beras asli, karena harganya lebih mahal.
“Secara bisnis ini tidak memungkinkan, plastik Rp12.000 per satu kilogram, sedangkan beras Rp7.300 per satu kilogram,” kata Amran Sulaiman di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (25/5).
Menurut dia, kemungkinan ada agenda lain diluar mencari keuntungan yang dirinya sendiri tidak tahu motif dari beras plastik tersebut. Dia mengatakan pihaknya sudah ke pasar melakukan sidak terkait isu tersebut, agar masalah tersebut segera terselesaikan.
“Saat ini kita sudah melakukan sidak ke pasar-pasar dan kasus ini sudah sampai ke Polri,” kata Amran.
Dia menyarankan warga Indonesia untuk mengkonsumsi beras dalam negeri agar terbebas dari beras plastik. “Yah kita coba ambil hikmahnya saja, sebagai warga Indonesia mari mengkonsumsi produk-produk dalam negeri,” kata Amran.
Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta masyarakat untuk tidak khawatir dalam menghadapi isu beras plastik yang beredar di beberapa daerah. “Saya tidak tahu motifnya, tidak tahu berasnya macam mana. Tapi saya pikir masyarakat tidak perlu khawatir,” kata Kalla.
Menurut Kalla, pemerintah tetap harus mencermati masalah beras plastik tersebut. Dia menambahkan pemerintah sedang mengkaji penyebab adanya isu beras plastik yang tersebar di sejumlah daerah.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain