6 April 2026
Beranda blog Halaman 36084

Tak Ada Aksi Demo, Kapolda Sebut Bali Jadi Teladan

Denpasar, Aktual.co — Aksi demonstrasi yang digalang mahasiswa untuk mengevaluasi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), sama sekali tak terjadi di Bali.
Sebaliknya, hanya kegiatan resmi pemerintah saja yang diselenggarakan dalam serangkaian Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).
“Hari ini kegiatan di Bali difokuskan kepada acara merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Kegiatan itu dipimpin Wagub Sudikerta. Itu yang kita lakukan,” kata Kapolda Bali, Inspektur Jenderal Ronny F Sompie, Rabu (20/5).
Ronny memastikan jika kegiatan yang datang dari masyarakat semisal aksi demonstrasi mahasiswa sampai saat ini belum ada surat pemberitahuan yang masuk ke pihak kepolisian.
“Untuk kegiatan yang sifatnya ‘bottom up’ tidak ada,” tegas dia. 
Kendati begitu, Kapolda mengaku telah menginstruksikan jajarannya untuk mengantisipasi aksi demonstrasi mahasiswa di Pulau Dewata.
“Kita tetap antisipasi. Kita berharap mereka menyalurkan aspirasi melalui dialog. Kita berharap masyarakat agar lebih peduli terhadap hal positif menyikapi Harkitnas, ketimbang melakukan hal yang tak bermanfaat,” papar dia.
Dengan tiadanya aksi demonstrasi mahasiswa, Ronny menyebut Bali patut menjadi teladan bagi daerah lainnya. 
“Sementara ini tidak ada masyarakat yang melaporkan kegiatannya. Bisa menjadi teladan Bali ini dalam menyikapi Harkitnas.”

Artikel ini ditulis oleh:

Aliansi BEM Seluruh Indonesi Lakukan Demo Besok

Jakarta, Aktual.co —  Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia mengaku mereka akan melakukan aksi unjuk rasa dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada hari Kamis tanggal 21 Mei 2015.

“Saya menghimbau hari ini seluruh ketua BEM berkumpul di Jakarta, dan tanggal 21 mei kita berkumpul di istana negara,” kata perwakilan BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Akhmad Khairudin Syam saat ditemui di Bundaran HI, Jakarta, Rabu (20/5).

Akhmad mengatakan pihak BEM SI akan memulai aksi esok hari sejak pukul 10.00 WIB dari Tugu Patung Kuda depan Monas menuju Istana Negara dengan kekuatan 1.000 orang.

“Kami mengajak untuk setiap BEM seluruh kampus untuk bergabung dengan aksi besok sejak pukul 10.00 WIB di Patung Kuda untuk ‘longmarch’ ke Istana. Hingga saat ini ada sekitar seribu yang sudah menyatakan akan ikut serta dan terus bertambah,” katanya.

Penyampaian sikap yang akan mereka lakukan esok hari adalah terkait kebijakan Presiden Joko Widodo yang terkesan menyerahkan harga BBM kepada harga pasar.

“Permasalahan mendasar karena harga BBM yang naik turun, maka kami menuntut pemerintah mencabut kebijakan harga BBM dari mekanisme pasar bebas dan mengembalikan subsidi BBM seperti semula,” kata Akhmad Selain itu, mereka juga mendesak pemerintah untuk menasionalkan aset asing yang menurut mereka telah merugikan negara dengan terus mengeruk kekayaan alam Indonesia.

“Kami juga mendesak pemerintah mengambil alih 100 persen kekayaan dan aset blok Mahakam serta Freeport ketika kontrak sudah habis,” ujarnya.

Akhmad mengharapkan tuntutan mereka dikabulkan dan saat aksi unjuk rasa mahasiswa esok hari, Presiden Joko Widodo mau menemui mereka. “Jika presiden tidak menemui kami pada hari tersebut kami akan menginap,” katanya.

Terkait dengan ada isu aksi besar-besaran saat tanggal 20 Mei 2015 yang bertepatan dengan peringatan Harkitnas, Akhmad mengatakan pihaknya tidak mengetahui hal tersebut dan pihak mana yang melakukan aksi hari ini.

“BEM SI menyepakati aksi akan dilaksanakan 21 Mei ini, kami juga tidak tahu siapa yamg turun hari ini,” ujarnya.

Menurut pengakuan Akhmad massa mahasiswa yang akan datang esok hari 25 persen adalah dari luar pulau Jawa. Sedangkan yang melakukan aksi awal hari ini di Bundaran Hotel Indonesia ada sekitar 20 orang yang berasal dari BEM kampus UI, Politeknik Negeri Jakarta, Unila (Lampung), UGM, Unpad, Unsri dan BSI.

Sementara dari pantauan, selain massa mahasiswa, yang melakukan aksi unjuk rasa hari ini ada juga dari Ormas Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia yang menyuarakan dukungan pada Polri.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

DPRD DKI Gelar Rapim Untuk Pengguliran HMP Ahok

Jakarta, Aktual.co —DPRD DKI akhirnya menggelar rapat pimpinan gabungan (rapimgub) untuk menindaklanjuti hasil temuan pansus angket mengenai pelanggaran Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke tahap selanjutnya, yaitu Hak Menyatakan Pendapat (HMP).
Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi membenarkan kabar akan digelarnya rapim untuk memutuskan HMP. “Melanjutkan masalah angket. Kan harus ditindaklanjuti dengan kondisi sekarang,” kata politisi PDI-P itu, di DPRD DKI, Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (20/5).
Anggota Fraksi Gerindra Prabowo Sunirman pun membenarkan kabar digelarnya rapim pengguliran HMP terhadap Ahok. “Iya,” jawabnya singkat saat dihubungi aktual.co.
Sebelumnya dalam diskusi Aktual Forum awal Mei lalu, pengamat politik Ray Rangkuti mengatakan penggelaran rapim barulah tahap kedua saja menuju HMP setelah sebelumnya dilakukan hak angket. “Setelah rapim masih ada satu langkah lagi yakni paripurna, baru HMP,” ujar dia, (3/5) lalu.
Masih kata Ray, lambannya DPRD DKI menggulirkan HMP pasca paripurna hak angket, menunjukkan bentuk belum matangnya Kebon Sirih dalam berpolitik. Ray menduga, anggota dewan di Kebon Sirih lebih banyak dilatarbelakangi emosi sesaat saja saat sepakat gulirkan angket terhadap Ahok, ketimbang kalkulasi politik.
“Jadi ketika reaksi publik terhadap wacana pengguliran HMP ternyata negatif, banyak anggota DPRD DKI yang terlihat cari ‘pintu keluar’ alias coba selamatkan diri. Misalnya banyak dari mereka yang bilang angket belum tentu berujung HMP,” ujar Ray. 
Padahal, kata dia, kalau DPRD DKI sudah berani sepakat pakai hak angket, maka mau tidak mau harus diselesaikan lewat HMP. “Karena mana ada angket yang ngga berujung ke HMP kalau sudah terbukti benar (ditemukan pelanggaran Ahok). Kalau ngga mau berujung HMP ya pakai interpelasi saja dong harusnya,” ucap dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Soal Mafia Migas, Effendi: Hanya Pindah Dari Kartel A ke Kartel B

Jakarta, Aktual.co — Politikus PDI Perjuangan, Effendi Simbolon enggan terjebak dalam opini yang dibangun, baik oleh Menteri ESDM Sudirman Said maupun mantan Presiden SBY, terkait dengan pemberantasann mafia Migas dan pembubaran Petral.
Ia menilai jika perang opini itu menujukan adanya kongsi yang terbelah.
“Ini hanya pecah kongsi, antara Petral dulu. Yang menuding itu juga yang menikmati, Sudirman Said ini kan anak buahnya Ari Sumarno (mantan Direktur Pertamina),” ucap Effendi di Komplek Parlemen, Senayan, Rabu (20/5).
“Ini kan hanya pindah tangan dari kartel A ke kartel B. Sudirman Said kan bagian dari kartel B yang sekarang ISC,” sebut mantan pimpinan Komisi VII DPR RI itu.
Masih kata Effendi, apa yang dilontarkan oleh Sudirman Said mengingatkan pada sebuah pribahasa Indonesia, ‘memukul air didulang terpercik muka sendiri’. Ia pun menantang, bila pemerintah ingin serius melakukan pemberantasan mafia migas, khususnya di Petral, maka segera dilakukan audit forensik.
“Upaya membubarkan Petral sampai sekarang itu saja belum bubar, sekarang hanya buka casing-nya. Silahkan audit forensik, audit investigasi. Siapa selama ini yang diuntungkan, siapa yang berkepentingan.”

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Sejumlah Elemen Masyarakat Demo Jokowi di Malang

Malang, Aktual.co — Jelang kedatangan Presiden Jokowi ke Kota Malang, sejumlah elemen melakukan aksi unjuk rasa di depan Balaikota Malang secara bergantian, Rabu (20/5).
Aksi pertama dilakukan oleh mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Peduli Bangsa. Pada aksi kali ini, merek menuntut Presiden Jokowi agar menghapus aroma neoliberal dalam skuad kabinetnya.
Tak hanya itu, mahasiswa juga menuntut liberalisasi pendidikan dihapuskan, disamping adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang menyulitkan bangsa.
“Kami minta agar Jokowi melakukan reshuffle kabinet, singkirkan mereka menteri yang tak becus bekerja,” ucap Korlap Akasi, Umbu Pindi.
Usai mahasiswa melakukan aksi demo, warga dan LSM yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (Kommak) juga menggelar aksi serupa.
Uniknya, dalam aksi kali ini, Kommak menampilkan teatrikal yang menggambarkan Jokowi hanya pembantu Ketum PDIP, Megawati, semata.
“Ada beberapa tokoh yang menyandera Jokowi,” ucap salah seorang pengunjuk rasa.
Dalam aksi kali ini Kommak juga mengajukan delapan tuntutan, salah satunya agar Jokowi membentuk tim pansel KPK yang lebih berintegritas.

Artikel ini ditulis oleh:

Korupsi ‘Payment Gateway’, Bareskrim Garap Presdir Bank BCA Selama Dua Jam

Jakarta, Aktual.co — Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri Brigjen Pol Ahmad Wiyagus menyebut Presiden Direktur Bank Centar Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja  digarap penyidik terkait kaus Payment Gateway yang melibatkan Denny Indrayana.
“Iya, yang bersangkutan diperiksa selama dua jam dari jam 09.00-11.00 WIB,” kata Wiyagus saat ditemui di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (20/5).
Kendati demikian, dia tak menjelaskan kaitan Jahya dengan kasus pembuatan paspor secara elektronik itu. Namun, dia berjanji akan memberikan keterangan hasil pemeriksaan Dirut BCA dan membeberkan sejauh mana perkembangan penyidikan kasus tersebut.
“Nanti, saya akan cek diatas (penyidik),” tandasnya sambil menaiki mobil di pelataran gedung Bareskrim.
Penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi Badan Rerserse Kriminal Mabes Polri pun terus mendalami kasus dugaan korupsi payment gateway di Kementrian Hukum dan HAM.
‪Bareskrim Polri diketahui sudah mengendus aroma dugaan tindak pidana korupsi dalam program payment gateway sejak Desember 2014 silam. 
Pada Februari lalu, pihak kepolisian juga menerima laporan perihal dugaan tindak pidana korupsi itu.‬ Tak lama berselang, penyidik Bareskrim langsung meningkatkan perkara dari penyelidikan ke penyidikan. 
Penyidik menemukan ada kerugian negara sebesar Rp 32 miliar. Kepolisian juga menduga ada pungutan tidak sah sebesar Rp 605 juta dari sistem tersebut.
Atas perbuatannya, Denny Indrayana dijerat dengan Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 KUHP tentang Penyalahgunaan Wewenang.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Berita Lain