4 April 2026
Beranda blog Halaman 36135

Bangun Pelabuhan Kuala Tanjung, BNI Setor Rp3,176 Triliun

Jakarta, Aktual.co —  PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) ikut dalam pembiayaan Pembangunan Proyek Pelabuhan Kuala Tanjung bersama dengan dua bank BUMN lainnnya, dengan pembiayaan sebesar 70 persen dari total nilai proyek senilai Rp3,176 triliun.

Pembiayaan tersebut dilakukan untuk pembangunan pelabuhan multi purpose di Kuala Tanjung yang konstruksinya dimulai pada Mei 2015 dengan target konstruksi selesai dalam waktu 2 tahun dan disalurkan melalui pelaksana Proyek Pelabuhan Kuala Tanjung, yaitu PT Prima Multi Terminal (PMT) yang merupakan joint venture antara PT Pelindo I (Persero), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, dan PT. Waskita Karya (Persero) Tbk.

Corporate Secretary BNI Tribuana Tunggadewi mengatakan bahwa tujuan penandatanganan MoU ini adalah untuk menciptakan sinergi usaha dengan prinsip yang saling menguntungkan antara pihak perbankan dengan perusahaan infrastruktur.

“Pembiayaan yang dilakukan oleh tiga bank milik negara ini juga menunjukkan sinergi yang terus dilaksanakan oleh bank-bank BUMN,” ujar Tribuana di Jakarta, Senin (18/5).

Pembiayaan terhadap Pelabuhan Kuala Tanjung itu juga merupakan salah satu bentuk dukungan BNI terhadap Sektor Kemaritiman yang merupakan sektor strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Sektor tersebut menjadi fokus dari Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kala.

Hingga Desember 2014, BNI telah membiayai sektor kemaritiman senilai Rp8,7 triliun baik dari skala mikro hingga skala korporasi.

Kedepan, lanjut Tribuana, BNI akan terus meningkatkan dukungan terhadap pertumbuhan di sektor kemaritiman dengan menyediakan layanan perbankan yang terbaik bagi para pelaku usaha dan stakeholder di sektor kemaritiman.

Pelabuhan Kuala Tanjung itu merupakan bagian dari Project Integrai Sei Mangkei yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan Ekspor curah (CPO) dan Peti Kemas di Sumatera Utara dan daerah sekitarnya. Dengan target kedalaman laut LWS -14 m, Pelabuhan Kuala Tanjung akan dapat dilabuhi oleh kapal berukuran besar, sehingga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi logistik serta perekonomian di Sumatera Utara.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Pernyataan Politik Memperingati Harkitnas 2015

Jakarta, Aktual.co — Pancasila Dasarnya, Trisakti Jalannya, Republik Indonesia Keempat: Masyarakat Adil dan Makmur Tujuannya.
20 Mei 2015, kita kembali memperingati salah satu momentum paling bersejarah dari perjuangan bangsa kita: Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Meski punya nilai sejarah yang penting, peringatan Harkitnas seringkali hanya sayup-sayup di tengah hingar-bingar perpolitikan kita akhir-akhir ini. Padahal, bagi kami, peringatan peristiwa yang sudah memasuki tahun ke-107 ini perlu kita ambil sari pati-nya, yaitu nilai sejarah dan semangatnya, untuk melipatgandakan tekad dan semangat kita dalam memperjuangkan cita-cita nasional.
Nilai sejarah yang terkandung dalam Harkitnas juga bisa menjadi suluh yang menerangi jalan perjuangan rakyat kita menuju kemenangannya. 8 Mei 1908, yang merupakan hari lahirnya Boedi Oetomo, bukan hanya penanda lahirnya organisasi pribumi modern pertama yang mengawali ledakan semangat berorganisasi di kalangan bumiputera. Peristiwa ini juga merupakan momen sejarah yang menandai berkecambahnya kesadaran di kalangan bumiputera akan proyek masa depan bersama, yang diikat oleh kesamaan kehendak untuk bersatu, kesamaan nasib, dan kesamaan cita-cita.
Dalam proses sejarah selanjutnya, organisasi pergerakan yang lahir kemudian dengan watak lebih maju dan radikal berhasil mempertajam kesadaran itu menjadi cita-cita Indonesia Merdeka, dengan tujuan nasionalnya: mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Inilah esensi dari Harkitnas. Bung Karno, pada peringatan Harkitnas ke-50 tahun 1958, mempertegas esensi peringatan Harkitnas itu.
Menurutnya, esensi dari peringatan Harkitnas adalah kemenangan beginsel (prinsip), yaitu tekad untuk menjadi bangsa yang bebas dan merdeka memerintah dirinya sendiri. Lalu, di peringatan Harkitnas tahun 1962, Bung Karno kembali mengulangi penegasannya, bahwa hanya bangsa yang percaya pada kekuatan sendiri (self reliance) yang bisa menjadi bangsa yang besar. Jadi, kata kuncinya adalah Trisakti.
107 tahun sejak kebangkitan nasional dan jelang 70 tahun usia Kemerdekaan kita, bangsa kita terhambat kemajuannya oleh sebuah persoalan besar, yakni penjajahan baru alias neokolonialisme. Ini nampak sangat nyata dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial-budaya bangsa kita. Cita-cita bersama kita sebagai sebuah bangsa, yakni masyarakat adil dan makmur, makin terkoyak oleh menguatnya kesenjangann ekonomi antara si kaya dan si miskin, ketimpangan pembangunan antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur, ketimpangan antar pusat dengan pinggiran, dan lain sebagainya.
Ketimpangan itulah yang menciptakan basis material bagi menguatnya etnosentrisme, semangat kedaerah, fanatisme keagamaan, dan gerakan separatisme. Belum lagi, kehadiran partai politik di parlemen gagal mengartikulasikan suara rakyat, terutama mereka yang terpinggirkan. Semua itu telah mengakumulasi kekecewaan rakyat, terutama di akar rumput, terhadap negara, pemerintahan, dan institusi politik lainnya. Secara politik kita tidak lagi berdaulat. Kita tidak lagi merupakan bangsa yang bebas dan merdeka memerintah dirinya sendiri. Kita punya pemerintahan nasional, tetapi produk kebijakannya lebih banyak yang merugikan kepentingan nasional dan menyengsarakan rakyat.
Bukan rahasia lagi, ada ratusan UU yang lahir di Republik ini ternyata merupakan pesanan pihak asing. Ironis sekali! Secara ekonomi pun kita tidak lagi mandiri. Sekarang ini, kita bukan hanya bergantung pada modal asing, tetapi telah diperas habis-habisan oleh modal asing. Hampir semua aset kekayaan nasional kita, dari perusahaan negara, kekayaan alam, hingga pelayanan publik, berpindah kepemilikan ke tangan pemodal asing. Lantas, rakyat kita diperas keringatnya, lalu dibayar dengan upah murah. Tak ada ubahnya dengan kuli-kuli kerja rodi di zaman kolonial. Secara budaya pun demikian. Kepribadian nasional kita makin tergerus oleh arus deras liberalisasi yang membawa gaya hidup konsumeristik, hedonis, dan individualistik. Semangat gotong-royong nyaris sekarat di bawah relasi-produksi yang sangat kapitalistik.
Pemerintahan Jokowi-JK, setelah berkuasa lebih dari tujuh bulan, tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengubah keadaan. Padahal, kampanye Trisakti yang diusung oleh Jokowi-JK semasa kampanye Pilpres sempat memercikkan harapan di sebagian besar rakyat Indonesia. Ironisnya, ketika sudah berkuasa, pemerintahan Jokowi-JK masih melanjutkan agenda neoliberal rezim sebelumnya. Lihat saja, pemerintahan Jokowi-JK sangat bergantung pada modal asing. Jokowi-JK juga mengalihkan tata-niaga sejumlah barang publik, seperti BBM, listrik, gas elpiji, tarif transportasi, dan lain-lain, kepada mekanisme pasar. Tidak Cuma itu, pemerintahan Jokowi-JK dengan khusuknya melanjutkan proyek MP3EI.
Sehubungan dengan peringatan Harkitnas ke-107, sudah saatnya bangsa ini mengingat kembali, bahwa salah satu perekat kita sebagai sebuah bangsa adalah cita-cita bersama: masyarakat adil dan makmur tanpa penindasan manusia atas manusia dan penindasan bangsa atas bangsa.
Untuk itu, PRD memiliki pandangan sebagai berikut:
1. Bangsa ini perlu kembali pada filosofi bangsa yang sejati, yaitu Pancasila. Selain itu, praktek penyelenggaraan negara ini harus berpijak kembali pada dasar negara: Pancasila.
2. Agar perjuangan bangsa ini menemukan jurusan yang tepat, maka Trisakti adalah jalannya, yang bisa menghantarkan bangsa ini pada tujuannya. Karena itu, seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang suku, agama, golongan, dan partai politik, untuk bersatu padu memperjuangkan Trisakti hingga kemenangannya.
3. Cita-cita pendirikan Republik Indonesia, yakni masyarakat-adil dan makmur, harus menjadi cita-cita bersama. Republik Indonesia Pertama (era Bung Karno) telah menyiapkan landasannya, berupa Pancasila dan UUD 1945. Sayang, Republik Kedua (era Orde Baru) dan Republik Ketiga (era liberal pasca reformasi) menginterupsi cita-cita tersebut dengan mengundang kembali modal asing dan mengembalikan neokolonialisme. Karena itu, PRD mengajak seluruh komponen bangsa untuk memperjuangkan Republik Indonesia Keempat atau masyarakat Adil dan Makmur.
Inilah solusi atas persoalan bangsa kita saat ini: Pancasila Dasarnya, Trisakti Jalannya, Dan Republik Indonesia Keempat: Masyarakat Adil Dan Makmur Tujuannya.

Jakarta, 18 Mei 2015
Komite Pimpinan Pusat (KPP) Partai Rakyat Demokratik (PRD)
Agus Jabo Priyono SH (Ketua Umum)
Dominggus Oktavianus (Sekjend)  

Artikel ini ditulis oleh:

Wagub Heran Mantan Kepsek SMAN Tiga Ancam Gugat

Jakarta, Aktual.co —Wakil Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat ikut mengomentari sikap Retno Listyarti, mantan Kepala Sekolah SMAN 3, yang keberatan dengan pemecatan dirinya oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) beberapa waktu lalu.
Djarot heran Retno dengan menggandeng Lembaga Bantuan Hukum (LBH) mengancam laporkan Pemprov DKI ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan Ombudsman RI.
Padahal, menurut Djarot, tugas utama Retno sebagai guru adalah mengajar. Sedangkan jabatan kepala sekolah hanyalah tugas tambahan. “Aku heran kok kepala sekolah kita itu bisa geger gitu,” ujar Djarot di Balai Kota, Senin (18/5).
Ketimbang ajukan gugatan, Djarot sarankan Retno sebagai guru agar fokus di tempat barunya di SMAN 13 untuk mengajar murid-murid. “Dia harus sadar bahwa tugas utamanya ya mengajar. Bahwa ada tugas tambahan sebagai kepsek dan setiap hari dia harus siap dievaluasi,” jelas Djarot.
Diketahui, siang tadi, Retno bersama kuasa hukumnya mendatangi Balaikota guna menyampaikan surat keberatan atas pemecatannya menyusul insiden saat Ujian Nasional SMA beberapa waktu lalu. Retno mengeluhkan pemecatannya yang tak didahului surat teguran atau surat peringatan.

Artikel ini ditulis oleh:

Pulihkan Konsumsi Masyarakat, Pemerintah Harus Turut Fokus Incar Kelas Menengah

Jakarta, Aktual.co — Ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Agus Eko Nugroho mengatakan Pemerintah perlu gencar mengeksekusi berbagai program untuk meningkatkan konsumsi masyarakat, terutama guna memulihkan konsumsi kelas menengah, selain mempercepat realisasi proyek-proyek infrastruktur.

Agus menilai konsumsi kelas menengah, terutama kelas pekerja cukup terpukul sejak triwulan I 2015, padahal andil pengeluaran kelas menengah cukup besar untuk menopang konsumsi masyarakat.
“Dari sisi konsumsi, setelah ada perubahan harga BBM yang begitu cepat, dan harga barang energi lainnya, terlihat juga dari data di perbankan, kelas menengah ini cukup terganggu ‘confidence’-nya untuk konsumsi,” ujarnya ketika dihubungi di Jakarta, Senin (18/5)
Pemerintah, kata Agus, perlu fokus pada program-program untuk memulihkan konsumsi masyarakat, termasuk kelas menengah.”Komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga dan investasi pemerintah masih jadi penopang untuk capaian pertumbuhan ekonomi,” ujar dia.
Konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap domestik bruto masih menjadi sumber terbesar untuk capaian pertumbuhan ekonomi 4,71 persen pada triwulan I 2015. Meski demikian, sumbangan konsumsi rumah tangga sebesar 2,7 persen turun jika dibanding periode sama tahun 2014 sebesar 2,9 persen, atau triwulan I-2013 sebesar 3,0 pesen.
Agus menilai perubahan harga BBM yang terlalu sering pada triwulan I-2015, merupakan faktor yang melemahkan konsumsi masyarakat, termasuk konsumsi kelas menengah. Naikknya harga BBM menimbulkan kenaikan instan pada harga barang dan jasa lainnya sehingga turut mengerek laju inflasi, kata dia.
Namun, sebaliknya, harga barang dan jasa mengalami penurunan yang lambat, meskipun harga BBM sudah diturunkan. “Ini menjadi catatan yang mesti diperbaiki,” ujar dia.
Menurut Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, setiap kenaikan harga BBM Rp500 dapat menyumbang laju inflasi sebesar 0,6 persen.
Selain soal harga BBM, Agus menilai pemerintah, Bank Indonesia, juga industri perbankan, perlu melonggarkan ketentuan pengajuan untuk beberapa kredit konsumer, seperti kredit properti dan kredit kendaraan bermotor.
Dia meminta, BI memperlonggar peraturan untuk pengajuan kredit kepemilikan rumah pertama yang mensyaratkan uang muka 30 persen dari total harga. “Untuk KPR agar jangan kaku. Peraturannya bisa diperlunak,” ujar dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Luhut Sebut Tiga Penyebab Pelambatan Ekonomi

Jakarta, Aktual.co —   Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan menyinggung tentang penyebab pelambatan ekonomi yang dipersoalkan para pakar serta pencabutan subsidi BBM dan kasus Freeport yang dipersoalkan para mahasiswa.

“Pelambatan ekonomi itu sebenarnya sudah ada dalam prediksi kita akibat tiga penyebab, namun kebijakan yang kita ambil, seperti pencabutan subisidi BBM itu, mungkin tidak enak, tapi hasilnya akan baik setelah setahun,” katanya dalam Dialog Kebangsaan di Rektorat ITS Surabaya, Senin (18/5).

Tiga penyebab pelambatan ekonomi adalah hilangnya momentum hilirisasi, siklus tujuh tahunan dalam perekonomian dunia, dan rendahnya pajak/PNBP.

“Kita kehilangan momentum dalam pertumbuhan ekonomi, karena selama ini kita lupa melakukan hilirisasi, namun melakukan ekspor terus, seperti batu bara, sawit, dan sebagainya, sehingga kita baru sadar sekarang kalau bahan bakar minyak yang kita miliki sudah sangat terbatas, karena itu kita akhirnya membatasi subsidi BBM,” tuturnya.

Selain itu, pemerintah sekarang juga mengalami siklus tujuh tahunan dalam perekonomian dunia yang melambat, bahkan negara seperti Jepang dan Tiongkok pun mengalami. “Kita tinggal berharap kepada ekonomi Amerika, tapi hal itu juga bukan jawaban,” ucapnya.

Untuk menjawab semua itu, Pemerintahan Jokowi-JK melakukan program hilirisasi secara perlahan, meningkatan pendapatan dari pajak yang saat ini hanya ada sejuta sumber pajak, padahal mestinya ada puluhan atau ratusan juta sumber pajak.

“Jawaban yang mungkin juga tidak populer adalah mencabut subsidi BBM. Sebenarnya, kita tidak mencabut tapi membatasi subsidi yang biasanya Rp2.000 menjadi hanya Rp1.000, sehingga kita mampu menghemat Rp300 triliun yang akhirnya kita arahkan pada infrastruktur, karena infrastruktur kita bisa menyelesaikan 27 persen ‘cost logistic’,” tuturnya.

Menurut mantan Menteri Perindustrian dan Dubes RI di Singapura itu, penghematan Rp300 triliun itu bukan tanpa risiko, karena pemerintah dikritik para mahasiswa sebagai pihak yang tidak pro-rakyat, karena kenaikan harga di mana-mana.

“Kami tidak bisa mengatakan apa-apa, tapi hal yang pasti adalah kita memang akan susah dalam kuartal 1 dan 2, tapi insya-Allah pada kuartal 3 atau maksimal kuartal 4, kita akan mulai mengalami perbaikan. Kami akui stabilitas ekonomi kita memang baru akan terjadi pada kuartal 3 atau 4 itu,” ujarnya.

Mengenai masalah nasionalisasi aset terkait kasus PT Freeport, Luhut Pandjaitan menyatakan pihaknya berkomitmen dalam kontrak berskala dunia.

“Kalau kontrak belum selesai ya dilanjutkan, tapi kalau sudah selesai akan diserahkan kepada BUMN, tapi bisa BUMN itu bekerja sama dengan pihak asing secara ‘B to B’,” imbuhnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Busana Pesta dengan Bahan Kain Tenun NTT Ditampilkan Adjie Notonegoro

Jakarta, Aktual.co — Di perhelatan akbar ‘Pekan Gelar Produk DPC IWAPI 2015’ di Jakarta, Levico Colection  mencoba memadukan kain tenun dengan ketrampilan khas dari kawasan lain di Tanah Air. Seperti, bordir bunga dengan tambahan tas yang terbuat dari kain tenun asal NTT.

Melalui rancangan Desainer Adjie Notonegoro, keenam busana yang ditampilkan kali ini, dalam bentuk busana dengan gaun pesta.

“Busana dengan bahan dasar kain tenun NTT bisa dikenakan untuk pesta. Dengan tambahan tas yang terbuat dari bahan yang sama, akan lebih anggun, elegan bagi pemakai gaun ini, ” ucap Bedi seorang penjaga stand Levico,  ditemui, di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Senin (18/5).

Sekedar informasi, kain tenun NTT adalah kain yang dibuat dari proses menenun oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Tenun sendiri merupakan kegiatan membuat kain dengan cara memasukan benang pakan secara horizontal pada benang-benang lungsin, biasanya telah diikat dahulu dan sudah dicelupkan ke pewarna alami.

Pewarna alami tersebut biasanya dibuat dari akar-akar pohon dan ada pula yang menggunakan dedaunan.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain