12 April 2026
Beranda blog Halaman 36322

Ayatullah Khomeini, Bapak Revolusi Islam di Iran

Jakarta, Aktual.co —Bicara tentang sejarah Iran modern, tak mungkin tidak menyebut nama Ayatullah Ruhullah Khomeini. Peran ulama besar Syiah kelahiran 21 September 1902, yang sering disebut Imam Khomeini ini, sangat besar dalam Revolusi Islam, yang menggulingkan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi di Iran.
Revolusi Iran adalah revolusi yang bersifat populis, nasionalis, dan Islam Syiah. Revolusi ini menggantikan sistem monarki diktatorial warisan Shah Iran dengan teokrasi berdasarkan sistem “velayat-e faqih” (perwalian oleh para ahli hukum Islam). Revolusi ini merupakan bagian dari perlawanan kubu konservatif terhadap upaya westernisasi dan sekulerisasi oleh rezim Shah yang didukung Barat.
Dari perspektif lain, revolusi ini juga merupakan reaksi yang tidak begitu konservatif terhadap ketidakadilan sosial dan berbagai kekurangan lain dari rezim monarki lama. Shah dipandang oleh banyak rakyat Iran sebagai antek atau boneka kekuatan Barat non-Muslim atau Amerika Serikat. Rezim Shah juga dianggap bersifat menindas, brutal, korup, dan boros. Program ekonomi Shah yang terlalu ambisius justru menghasilkan inflasi, kekurangan,  hambatan ekonomi, dan kegagalan negara dalam pemenuhan fungsi-fungsi dasar.
Jika melihat latar belakang revolusi Iran, kaum ulama Syiah sebagai aktor penting memang sejak lama memiliki pengaruh signifikan terhadap mayoritas warga Iran. Warga Iran ini cenderung religius, tradisional, dan teralienasi dari setiap proses Westernisasi. Kaum ulama pertama kali menunjukkan diri sebagai kekuatan politik penting, ketika mereka menentang monarki Iran lewat aksi boikot Protes Tembakau pada 1891.
Aksi ini secara efektif meruntuhkan konsesi monopolistik yang tidak populer, yang diberikan Shah pada perusahaan Inggris untuk membeli dan menjual tembakau di Iran. Bagi sejumlah kalangan, insiden ini mendemonstrasikan bahwa ulama Syiah adalah “garis pertahanan terdepan Iran” dalam melawan kolonialisme.
Pendiri dinasti Pahlavi, Jenderal Reza Pahlavi, mengganti hukum Islam dengan hukum Barat dan melarang busana Islam tradisional, pemisahan perempuan-lelaki, dan penggunaan chador atau hijab oleh kaum perempuan. Perempuan yang menentang larangan hijab di depan publik ini akan dipaksa membuka hijabnya. Pada 1935, pemberontakan oleh warga Syiah yang taat agama di kawasan makam Imam Reza di Mashhad ditindas dengan kekerasan, yang menyebabkan puluhan warga tewas. Hal ini merusak hubungan antara Shah dan warga Syiah di Iran.
Khomeini pertama menjadi terkenal secara politik pada 1963, ketika dia memimpin oposisi terhadap Shah serta program-program reformasi Shah, yang dikenal sebagai Revolusi Putih. Revolusi Putih bertujuan membongkar kepemilikan tanah yang dikuasai sejumlah ulama Syiah, mengizinkan kaum perempuan memberi suara, kesetaraan untuk kaum perempuan dalam isu-isu perkawinan, dan hak minoritas religius untuk memegang jabatan pemerintahan.
Khomeini mengumumkan, Shah telah menjalankan “penghancuran Islam di Iran.” Khomeini pun ditangkap pada 5 Juni 1963. Lalu, selama tiga hari kemudian terjadilah kerusuhan besar di seluruh Iran. Para pendukung Khomeini mengklaim, 15.000 warga terbunuh oleh tembakan aparat keamanan. Khomeini lalu menjalani tahanan rumah selama 8 bulan.
Sesudah bebas, ia kembali mengecam kedekatan rezim Shah dengan Israel, serta “penyerahan” rezim Shah pada AS.  Waktu itu Shah memberikan perluasan imunitas diplomatik untuk personel pemerintah AS di Iran. Pada November 1964, Khomeini ditangkap kembali dan dikirim ke pengasingan, di mana ia bertahan di luar negeri selama 14 tahun, sebelum akhirnya kembali ke Iran sesudah jatuhnya rezim Shah Reza Pahlavi.
Khomeini mengkotbahkan bahwa revolusi, khususnya jihad, dalam melawan ketidakadilan dan tirani merupakan bagian dari Islam Syiah. Maka Muslim harus menolak pengaruh kapitalisme mau pun komunisme dengan slogan “Neither East, nor West – Islamic Republic!” (bukan Timur ataupun barat, tetapi Republik Islam).
Untuk mengganti rezim Shah, Khomeini mengembangkan ideologi “velayat-e faqih” sebagai pemerintah, bahwa Muslim –yang berarti setiap orang—membutuhkan “perwalian” dalam bentuk aturan atau supervisi dari para ahli hukum Islam terkemuka.
Aturan itu akan melindungi Islam dari penyimpangan terhadap hukum syariah tradisional, dan dalam proses itu juga menghapuskan kemiskinan, ketidakadilan, dan penguasaan wilayah Muslim oleh orang asing yang kafir. Bagi Khomeini, pembentukan dan kepatuhan terhadap pemerintah Islam ini “sebenarnya adalah ekspresi kepatuhan terhadap Allah,” dan ini suatu ketetapan buat seluruh dunia, bukan terbatas untuk Iran.
Faktor utama yang berperan dalam keberhasilan Khomeini sebagai “Bapak Revolusi Islam di Iran” adalah kepercayaan diri, karisma, dan yang terpenting kemampuannya untuk memenuhi imajinasi massa. Caranya, dengan menghadirkan dirinya sendiri sebagai pengikut jalan yang ditempuh oleh Imam Syiah ke-3, Hussein bin Ali bin Abi Thalib. Pada saat yang sama, Khomeini menggambarkan Shah Iran sebagai versi modern dari musuh Hussein, yakni khalifah dan penguasa tiran yang sangat dibenci: Yazid bin Muawiyah.
Khomeini juga bisa menampilkan diri sebagai Imam yang Tersembunyi di Paris, dengan mengirim pesan-pesannya –lewat kaset rekaman kotbah Jumat, dan sebagainya– lewat utusan-utusan khusus. Dengan melakukan hal itu, ia dipandang oleh jutaan rakyat Iran sebagai figur penyelamat, dan menginspirasi ratusan orang untuk berjihad mempertaruhkan nyawa melawan rezim yang berkuasa.
Di sisi lain, ada rasa percaya diri yang berlebihan dari kalangan Muslim sekuler dan modernis tentang kemampuan mereka untuk mengontrol revolusi. Mereka meyakini bahwa kaum ulama tidak akan mampu memerintah negara, sehingga harus menyerahkan kekuasaan ke pihak lain. Itulah sebabnya kelompok sekuler gagal mengantisipasi dominasi total Khomeini atas revolusi Iran, dan kegagalan fatal inilah yang membuat mereka tersingkir dari panggung kekuasaan di Iran.
Khomeini wafat pada 3 Juni 1989. Namun warisan sistem “velayat-e faqih” ciptaannya dan Republik Islam Iran ternyata tetap bertahan sampai sekarang. Revolusi Islam di Iran sempat menimbulkan kerisauan di berbagai negara Arab, khususnya yang menganut sistem monarki, bahkan juga di sebagian kalangan di Indonesia. Kerisauan itu muncul karena watak revolusioner Revolusi Islam di Iran dan semangat Khomeini untuk “mengekspor revolusi.”

Jakarta, 29 April 2015
E-mail: [email protected]

Artikel ini ditulis oleh:

PSSI Bali Ingatkan Klub Untuk Ikuti Kompetisi Resmi

Jakarta, Aktual.co — Pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Provinsi Bali, mengingatkan klub sepak bola di daerah setempat agar mengikuti kompetisi yang digelar secara sah.

“Saya mengingatkan Bali United (kontestan ISL) dan PS Badung (Divisi Utama) mengikuti kompetisi yang diakui PSSI pusat secara sah,” kata Ketua PSSI Bali, IGN Putra Wirasana, di Denpasar, Selasa (12/5).

Dengan keikutsertaan klub profesional Bali dikompetisi resmi PSSI, maka arah dan tujuan jenjang kegiatan tersebut semakin jelas kedepannya.

Selain itu, pihaknya melihat perkembangan hasil rapat umum pemegang saham PT Liga selaku penyelenggara kompetisi.

Menurut dia, klub yang kompetisi Liga Nusantara wilayah Bali-Nusra sudah dipastikan lolos ke Divisi Utama.

Kemudian, untuk klub yang sudah masuk level Divisi Utama dan menjadi juara klub dan “runner up” dipastikan berhak ikut kompetisi ISL.

Sedangkan, klub yang menjadi juara dikompetisi ISL melaju untuk mewakil Indonesia di ajang AFC. “Begitu lolos di AFC, berhak mewakili AFC ke liga klub dunia,” ujar Wirasana yang juga mantan Wakil Bupati Tabanan itu .

Oleh sebab itu, semua kompetisi berjenjang tersebut arahnya lebih jelas sehingga pihaknya mengharapkan klub-klub di Bali dan Indonesia mengikuti kompetisi yang legal.

Artikel ini ditulis oleh:

SBY Terpilih Kembali jadi Ketum Demokrat

Jakarta, Aktual.co — Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat periode 2015-2020. SBY merupakan calon tunggal dan terpilih menjadi ketua umum secara aklamasi.

Persetujuan peserta Kongres ke-4 Partai Demokrat langsung dibuat keputusan oleh ketua sidang, EE Mangindaan. Saat memimpin sidang, Mangindaan didampingi Syarief Hasan, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan Amir Syamsuddin.

“Menetapkan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ketua umum terpilih DPP Partai Demokrat periode 2015-2020,” kata Mangindaan saat membacakan SK penetapan SBY sebagai ketua umum di hotel Shangri-La, Surabya, Jawa Timur, Selasa (12/5).

Menurut Mangindaan, penetapan tersebut atas persetujuan seluruh pemilik suara partai Demokrat. Penetapan tersebut membuat ribuan peserta kongres bertepuk tangan dan berteriak “hidup SBY”. “Dengan demikian maka seluruh pengurus DPP demisioner,” demikian Mangindaan

Laporan: Wahyu Romadhony

Artikel ini ditulis oleh:

Lukisan Picasso Terjual dengan Rekor Rp2,3 Triliun

Jakarta, Aktual.co — Lukisan cat minyak karya Picasso, memecahkan rekor sebagai karya seni termahal saat terjual di balai lelang Christie senilai 179,4 juta dolar AS atau sekitar Rp2,3 triliun.

Balai lelang itu memperkirakan lukisan berjudul “Les femmes d’Alger” itu terjual senilai 140 juta dolar AS. Namun, persaingan di antara penawar pada Senin (11/5) waktu setempat itu, membuat harga terus naik hingga 160 juta dolar AS.

Pemenang lelang harus membayar 179,4 juta dolar AS atau ditambah 12 persen dari komisi untuk balai lelang Christie.

Karya seni termahal sebelumnya adalah lukisan Francis Bacon berjudul “Three Studies of Lucian Freud”. Lukisan itu terjual di balai lelang Christie pada 2013 senilai 142,4 juta dolar AS.

“Akan sangat menarik untuk mengikuti sampai seberapa lama rekor ini akan bertahan,” kata Jussi Pylkkanen, presiden gobal Christie, dikutip dari Reuters, Selasa (12/5).

Pada lelang itu, Christie menjual lebih dari 30 karya seni dengan total nilai 705,9 juta dolar atau jauh melampaui perkiraan awal yang hanya mencapai 578 juta dolar AS.

“Les femmes d’Alger” terakhir kali dilelang pada 1997 dengan nilai jual pada saat itu 31,9 juta dolar AS atau hampir tiga kali perkiraan awal. Pada tahun ini, penawaran awal yang diajukan adalah 100 juta dolar AS dengan angka kenaikan minimal satu juta dolar AS.

“Kami telah menyaksikan kompetisi yang sangat hebat. Lima kolektor utama telah melakukan penawaran di atas 120 juta dolar AS. Pasar karya seni telah berubah secara dramatis,” kata Pylkkanen.

Pihak Christie sendiri menyatakan bahwa para penawar itu datang dari 35 negara. Para kolektor dari Eropa dan Asia bersaing dengan warga Amerika Serikat untuk karya-karya bernilai tinggi.

Sementara itu, lukisan lain Picasso, “Buste de femme (femme a la resile)”, mencatatkan angka penjualan senilai 67,4 juta dolar AS.

Penjualan besar lain adalah lukisan Mark Rothko berjudul “No. 36 (Black Stripe)” dan karya Monet “Le Parlement” masing-masing senilai 40,5 juta dolar AS.

Acara lelang akan diteruskan pada Selasa waktu setempat dengan koleksi rumah lelang Sotheby untuk karya seni pasca-perang dan kontemporer.

Artikel ini ditulis oleh:

Indonesia Sumbang 51 Persen Minyak CPO Seluruh Dunia

Jakarta, Aktual.co — Indonesia menjadi negara produsen CSPO (minyak kelapa sawit berkelanjutan bersertifikat) yang menyumbang 51 persen dari total produksi CSPO global.

“Volume CPSO secara global dari Januari hingga 7 Mei tahun ini mencapai satu juta ton lebih dan Indonesia menjadi negara terbesar memproduksi minyak kelapa sawit berkelanjutan bersertifikat,” kata Direktur Roundtable on Sustainable Palm Oil Indonesia Desi Kusumadewi saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (12/5).

Menurut dia, dengan capaian itu seharusnya menjadikan Indonesia sebagai kiblat bagi negara lain, bagaimana berkomitmen untuk membangun industri kelapa sawit yang berkelanjutan.

Roundtable on Sutainable Palm Oil adalah perkumpulan para pemangku kekuasaan yang bergerak di industri kelapa sawit, mulai dari perkebunan, pabrik.

Mereka mencoba memecahkan masalah lingkungan, sosial yang sering meliputi industri kelapa sawit.

“Sebanyak 54 persen masalah penebangan hutan secara liar, 26 persen emisi gas dan masalah sosial lainnya menjadi masalah utama yang sering disandingkan dengan industri kelapa sawit,” kata Desi.

Untuk itu, dengan adanya sertifikat kelapa sawit berkelanjutan, menjamin bahwa industri yang dijalankan tidak memakai lahan yang ilegal, tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

PSSI: Klub ISL Tak Akan Termakan Ancaman Menpora

Jakarta, Aktual.co — Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kembali menunjukkan intervensinya kepada PSSI dan anggotanya. Setelah membekukan PSSI dan akan mencari pengganti operator kompetisi selain PT Liga Indonesia, kini Kemenpora mengancam akan memberi sanksi kepada klub-klub.
 
Ancaman sanksi dinyatakan Menpora Imam Nahrawi bagi klub-klub yang menolak berkompetisi di bawah Tim Transisi. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, bila benar disanksi, bagaimana Menpora mengeksekusinya, mengingat klub-klub tersebut adalah anggota dari PSSI.
 
Direktur Members&Development PSSI, Budi Setiawan, menegaskan, anggota-anggota PSSI tidak akan termakan dan terintimidasi dengan ancaman sanksi Menpora. Budi juga menjelaskan, sesungguhnya tidak ada konflik dalam tubuh PSSI, yang ada hanya kesewenangan dan arogansi Menpora yang membuat situasi sekarang menjadi kian pelik.
 
“Anggota tumbuh dewasa dan matang karena konflik organisasi 2011-2013, jadi mereka tak akan termakan ancaman sanksi Menpora. Tak terintimidasi dengan kesewenangan Menpora, yang mengaburkan fakta seolah ini ada konflik,” terang Budi dalam rilis yang diterima wartawan, Selasa (12/5). 
 
“Kemarin PSSI yang dibekukan, lalu PT Liga mau diganti, sekarang anggota PSSI diancam sanksi kalau tak mau ikut kompetisi Kemenpora. Ini contoh aparatur negara yang arogan, mengatasnamakan negara untuk tujuan dan ambisi pribadinya,” tambahnya.
 
Budi juga heran dengan perhatian berlebihan yang ditunjukkan Menpora kepada PSSI, yang bisa membuat cabang olahraga lain iri. Oleh karena itu, Menpora disarankan sebaiknya juga memberikan perhatian yang sama terhadap cabang-cabang olahraga lainnya.
 
Selain itu, Budi mempertanyakan apakah Kemenpora benar-benar bisa mengelola kompetisi lebih baik dari PSSI. Bukan apa-apa, turnamen Piala Menpora yang rutin digelar saja transparansi anggaran dan penggunaan dananya belum diungkapkan. 
 
“Piala Menpora rutin digelar, apa tata kelola Kemenpora untuk kompetisi bisa lebih baik? Apa hasil Piala Menpora selama ini? Anggarannya berapa yang terpakai? Transparansi penggunaan dananya dipublikasikan tidak di website?,” paparnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain