2 Januari 2026
Beranda blog Halaman 36804

IHSG Masih Berpeluang Technical Rebound

Jakarta, Aktual.co — Pada perdagangan hari ini (14/4), Asjaya Indosurya Securities memperkirakan indeks harga saham gabungan (IHSG) akan bergerak di kisaran 5.423– 5.524.

“IHSG sedang menguji support 5423, hal ini merupakan proses alami sebelum melanjutkan kenaikannya,” kata Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya dalam risetnya, Selasa (14/4).

Menurutnya, potensi untuk kembali menggapai resistance terdekat pada level 5.524 masih terbuka cukup besar, sambil menanti rilis data ekonomi yang diperkirakan akan stabil.

Namun, lanjutnya, dalam timeframe jangka pendek IHSG berada dalam fase konsolidasi dengan potensi terdapat tekanan terbatas. Jika terjadi rebound maka sifatnya adalah technical rebound selama belum berhasil bertahan diatas resisten.

“Hari ini IHSG memiliki peluang untuk melakukan t-bound,” ucapnya.

Dalam risetnya, William juga memaparkan sejumlah saham yang dapat dipertimbangkan pada perdagangan hari ini adalah UNVR, BBNI, GJTL, EXCL, MAIN, ASII, dan WSKT.

Artikel ini ditulis oleh:

IHSG Diprediksi Gagal Dekati Area Target

Jakarta, Aktual.co — Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan pelemahan. Kembalinya pelaku pasar melanjutkan aksi jualnya membuat IHSG kian terbenam di zona merah.

“Tidak banyak indeks sektoral yang menguat dimana hampir mayoritas mengalami pelemahan. Penguatan yang terjadi lebih banyak dialami saham-saham lapis bawah,” ujar Kepala Riset dari NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Pada perdagangan Selasa (14/4) IHSG diperkirakan Reza berada pada rentang support 5.415-5.426 dan resisten 5.455-5.490. Menurutnya, laju IHSG gagal mendekati area target resisten, dan jika aksi jual tidak terbendung maka pelemahan dapat dimungkinkan terjadi.

“Meski kami berharap pelemahan dapat lebih terbatas, namun tetap cermati dan antisipasi bila terdapat potensi pelemahan lanjutan,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Dolar Terus Melaju, Rupiah Diprediksi Melemah

Jakarta, Aktual.co — Laju Rupiah di awal pekan ini melemah pasca adanya sentimen negatif pada laju Yuan. Tidak hanya itu, tetapnya kebijakan moneter BoJ juga turut membuat laju Yen melemah yang berimbas negatif pada laju mata uang kawasan regional.

“Laju Dolar Amerika Serikat (AS) tentu saja memanfaatkan pelemahan-pelemahan tersebut untuk berbalik naik. Akibatnya harapan kami akan pelemahan laju Dolar AS pun tidak terjadi,” ujar Kepala Riset dari NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Pada Selasa (14/4) laju Rupiah diprediksikan Reza berada di bawah target level support 12.925, yakni Rp12.955-12.930 (kurs tengah BI). Menurutnya, mulai meningkatnya laju Dolar AS dapat memberikan peluang untuk mata uang tersebut kembali melanjutkan kenaikannya.

“Sehingga dapat berimbas pada kembali melemahnya laju Rupiah. Tetap cermati dan antisipasi jika terjadi pembalikan arah melemah,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Dolar Menguat Ditengah Jatuhnya Pasar Wall Street

Jakarta, Aktual.co — Kurs dolar AS menguat terhadap euro pada Senin (Selasa pagi WIB), di tengah perbedaan kebijakan moneter antara bank sentral di Amerika Serikat dan Eropa.

Euro turun ke terendah dalam empat minggu terhadap greenback karena Bank Sentral Eropa (ECB) berada di bawah program pembelian aset besar-besaran, sementara Federal Reserve AS bergerak lebih dekat ke menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir sepuluh tahun.

Menurut risalah Fed yang dirilis pekan lalu, para pejabat Fed selama pertemuan kebijakan Maret terpecah atas apakah akan menaikkan suku bunga pada Juni. Sementara itu, beberapa pembuat kebijakan Fed menunjukkan optimisme pemulihan ekonomi AS.

Para analis mengatakan argumen di antara para pejabat Fed mempertahankan berlanjutnya harapan untuk kenaikan suku bunga Juni, yang terus mendukung greenback pada Senin. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,16 persen menjadi 99,501 pada akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan di New York, euro turun menjadi 1,0569 dolar dari 1,0606 dolar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,4675 dolar dari 1,4649 dolar. Dolar Australia turun ke 0,7587 dolar dari 0,7685 dolar. Dolar AS dibeli 120,08 yen Jepang, lebih rendah dari 120,19 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9777 franc Swiss dari 0,9787 franc Swiss, dan naik menjadi 1,2597 dolar Kanada dari 1,2587 dolar Kanada.

Sementara itu, pasar saham Wall Street berakhir merosot pada Senin (Selasa pagi WIB), menjelang dimulainya musim laba kuartal pertama, karena para pedagang membatasi taruhan mereka setelah keuntungan kuat pekan lalu.

Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun 80,61 poin (0,45 persen) menjadi 17.977,04. Indeks berbasis luas S&P 500 turun 9,63 poin (0,46 persen) menjadi ditutup pada 2.092,43, sedangkan indeks komposit teknologi Nasdaq turun 7,73 poin (0,15 persen) menjadi 4.988,25.

General Electric, yang Jumat lalu mendorong kenaikan pasar dengan keuntungan 10,8 persen karena rencananya untuk mengalihkan sebagian besar bisnis perbankannya, berbalik jatuh 3,1 persen, sehingga menarik Dow turun. GE akan merilis laporan laba kuartal pertama pada Jumat.

Di antara saham teknologi, Facebook naik 1,2 persen dan Netflix naik 4,4 persen sehingga membatasi penurunan indeks komposit Nasdaq. Sementara Comcast turun 1,7 persen.

Harga obligasi bervariasi. Imbal hasil pada obligasi 10-tahun pemerintah AS merosot menjadi 1,94 persen dari 1,95 persen pada Jumat, sementara pada obligasi 30-tahun tetap stabil di 2,58 persen. Harga dan imbal hasil obligasi bergerak berlawanan arah.

Artikel ini ditulis oleh:

Pasokan Berlebih, Harga Minyak Dunia Naik Secara Moderat

Jakarta, Aktual.co — Harga minyak dunia secara moderat memperpanjang kenaikan minggu lalu dalam perdagangan hati-hati pada Senin (Selasa pagi WIB), karena investor mencerna berita kenaikan persediaan minyak mentah AS lagi di tengah pasar global yang kelebihan pasokan.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei di New York Mercantile Exchange ditutup pada 51,91 dolar AS per barel, naik 27 sen dari tingkat penutupan Jumat lalu. Minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Mei, patokan global, merangkak naik enam sen menjadi menetap di 57,93 dolar AS di perdagangan London.

Pasar New York telah dibuka lebih tinggi, didorong oleh data perdagangan Tiongkok buruk yang memicu spekulasi bahwa pemerintah Tiongkok akan bertindak dengan memberikan dukungan lebih banyak untuk perekonomian.

“Minyak mentah terlihat sedang melanjutkan momentum reli pekan lalu, karena anggapan gagasan pulas dari ‘buruk adalah baik’ yang terbangun sekali lagi oleh beberapa data mengerikan dari Tiongkok, mendorong harapan langkah-langkah stimulus dari konsumen energi terbesar di dunia itu,” kata Matt Smith dari Schneider Electric.

Tetapi pasar jatuh pada perdagangan pagi setelah penyedia data energi Genscape melaporkan bahwa persediaan minyak mentah telah kembali meningkat di pusat penyimpanan utama di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk WTI, kata Bill Baruch dari iiTrader.com. Itu menunjukkan bahwa produksi AS terus membanjiri pasar.

“Kami sedang memasuki sebuah minggu besar dengan banyak rilis data penting,” kata Baruch, diawali angka pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada Selasa, laporan persediaan Departemen Energi AS pada Rabu, dan laporan pasar bulanan OPEC pada Kamis.

Kedua kontrak, WTI dan Brent, naik lebih dari lima persen pada minggu lalu setelah penurunan jumlah rig minyak AS yang beroperasi, data ekonomi yang lebih baik dari Jerman dan berkurangnya kekhawatiran tentang kembalinya minyak Iran ke pasar yang kelebihan pasokan setelah Teheran mencapai kesepakatan awal dengan kekuatan Barat atas program nuklirnya.

Jumlah rig AS yang aktif melakukan pengeboran minyak dan gas bumi pada 10 April turun 40 rig menjadi 988 rig, kata perusahaan jasa minyak Baker Hughes, Jumat lalu.

Produksi minyak mentah AS meningkat 18.000 barel menjadi 9,404 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 3 April menurut Departemen Energi AS. Persediaan minyak mentah AS meningkat 10,9 juta barel menjadi 482,4 juta barel, 98,3 juta barel lebih dari setahun sebelumnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Pengamat: Jokowi Sudah Tak Percaya Lagi JK

Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo memberikan sinyal tidak puas atas kinerja wakil presiden dan menterinya. Hal itu ditandai dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2015 tentang Kantor Staf Kepresidenan.

Demikian disampaikan Pakar hukum tata negara Irmanputra Sidin

Dikatakannya, wakil presiden seharusnya bisa berfungsi untuk membawahi kementerian, sehingga tidak perlu tugas diberikan kepada Kepala Staf Kepresidenan.

“Yang jadi isu utama, apakah Presiden tidak merasa cukup dilayani Wapres dan menteri. Kalau ini benar-benar terjadi, ini berbahaya, rumah tangga pemerintah bisa goyah. Ini masalah serius,” kata Irman di Jakarta, Senin (13/4).

Selain itu,  perpres ini bisa memunculkan kesan ada keretakan hubungan antara Presiden dan Wakil Presiden.

“Perpres tersebut juga memunculkan kesan bahwa Presiden tidak cukup dilayani oleh Wakil Presiden dan jajaran Menterinya,” ucapnya.

Padahal papar Irman, alat bantu konstitusional yang disiapkan dalam Undang-undang sudah banyak dan siapa membantu kinerja presiden.

Menurut Irman, Perpres yang memberikan kewenangan bagi Kepala Staf Kepresidenan tersebut perlu dikaji ulang. Irman menilai, Perpres tersebut sebaiknya diuji ke Mahkamah Agung, untuk menentukan apakah pembentukannya justru tidak sesuai dengan konstitusi.

“Wajar kalau penerbitan Perpres ini menimbulkan pertanyaan. Memang Jokowi tidak percaya lagi sama Wakil Presiden?” pungkasnya.

Diketahui, melalui Perpres tersebut Kepala Staf Kepresidenan Luhut B Pandjaitan memiliki kewenangan di antaranya, melaksanakan pengedalian dalam rangka memastikan program-program prioritas nasional dilaksanakan sesuai dengan visi dan misi presiden.

Kemudian, melakukan penyelesaian masalah secara komprehensif terhadap program-program prioritas nasional yang dalam pelaksanaannya mengalami hambatan. Selain itu, percepatan dan pemantauan terhadap pelaksanaan program-program prioritas nasional

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain