19 Januari 2026
Beranda blog Halaman 37134

Tinjauan Religius Gerhana Bulan Total dari Kajian Islam dengan Peneliti NASA

Jakarta, Aktual.co — Gerhana bulan bukan semata-mata fenomena alam dan kejadian antariksa, tetapi di balik itu sarat dengan nuansa religius yang oleh agama-agama diimani sebagai Kemahakuasaan Allah terutama dalam agama Islam, Katolik dan Protestan.

Dalam hadis riwayat Buchori-Muslim disebutkan bahwa “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Maka jika kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah kepada-Nya, bersedekahlah, dan shalatlah.” Bukan hanya itu, dalam Fiqih tentang Gerhana Matahari dan Bulan Oleh Ustaz Abdullah Haidir Lc, tentang Hikmah Dibalik Peristiwa Gerhana menyatakan banyak cerita khurafat dan tahayyul beredar di masyarakat seputar terjadinya gerhana.

Namun syariat telah menyatakan dengan tegas nilai-nilai yang terkandung di balik terjadinya peristiwa tersebut. Di antaranya adalah menunjukkan salah satu keagungan dan kekuasaan Allah Ta’ala yang Maha mengatur alam ini.

Berikut untuk menimbulkan rasa gentar di hati setiap hamba atas kebesaran Allah Ta’ala dan azab-Nya bagi siapa yang tidak taat kepada-Nya.

Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya. Akan tetapi keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian menyaksikannya, maka hendaklah kalian shalat.” (HR. Bukhari) Dalam redaksi yang lain, Bukhari juga meriwayatkan, “Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya. Akan tetapi Allah hendak membuat gentar para hamba-Nya.” (HR. Bukhari) Hal ini juga mengingatkan seseorang dengan kejadian hari kiamat yang salah satu bentuknya adalah terjadinya gerhana dan menyatunya matahari dengan bulan, seperti Allah nyatakan dalam surat Al-Qiyamah: 8-9.

“Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Dan Matahari dan bulan dikumpulkan.” (QS. Al-Qiyamah: 8-9) Shalat Gerhana Islam mengajarkan umatnya untuk melakukan shalat apabila menyaksikan gerhana, baik matahari maupun bulan, sebagaimana diisyaratkan dalam hadis di atas, juga sebagaimana riwayat adanya perbuatan Rasulullah SAW tentang hal tersebut.

Para ulama menyimpulkan bahwa hukum shalat gerhana adalah sunah. Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa sunahnya shalat gerhana merupakan ijma ulama (Lihat, Syarah Muslim, 6/451). Ibnu Qudamah dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa shalat gerhana merupakan sunnah mu akkadah/sunah yang sangat ditekankan (Al-Mughni, 3/330, Fathul Bari, 2/527).
Sebagian ulama bahkan menyatakan kewajiban shalat gerhana, karena Rasulullah SAW melaksanakannya dan memerintahkannya. Ibnu Qayim menyatakan bahwa pendapat ini (wajibnya shalat gerhana) merupakan pendapat yang kuat. (Kitab Ash-Shalah, Ibnu Qayim, hal. 15).

Di sisi lain, karena jarang kaum Muslim yang mengenal dan melaksanakan shalat gerhana, maka dengan melakukannya maka dia akan mendapatkan keutamaan orang yang menghidupkan sunah.

Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam di seluruh Tanah Air untuk melakukan shalat kusuful qamar atau shalat gerhana bulan di Masjid, Mushalla, atau rumah, pada Sabtu (4/4) petang hingga malam.
Berdasarkan data astronomis, pada 14 Jumadil Akhir 1436 Hijriah atau Sabtu (4/4) mulai pukul 17.15 WIB di Indonesia akan terjadi gerhana bulan total (GBT).

Hampir seluruh kawasan Indonesia dapat mengamati gerhana bulan total ini. Sedangkan puncak gerhana bulan total akan terjadi pada Sabtu pukul 19.01 WIB dan selesai pada pukul 20.44 WIB.

“Sehubungan gerhana bulan pada Sabtu 4 April 2015 mulai pukul 17.15 WIB, kepada umat Islam diserukan untuk menunaikan shalat kusuful qamar di masjid, mushalla, atau rumah,” kata Ketua Umum MUI Pusat Din Syamsuddin dalam siaran persnya.

Sementara itu, tata cara shalat gerhana bulan antara lain dianjurkan secara berjamaah dua rakaat, dengan setiap rakaat dua kali berdiri (baca al-Fatihan dan surat lain) dan dua kali ruku’, kemudian sujud seperti biasa.

Din Syamsuddin menambahkan, setelah shalat dilakukan khutbah untuk mengingat kemahakuasaan Allah SWT dan kelemahan manusia, serta kondisi kehidupan kebangsaan dewasa ini.

Sedangkan, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Machasin, juga mengimbau umat Islam melakukan shalat sunnah gerhana bulan secara berjamaah, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW, dan dianjurkan (sunnah muakkadah) untuk bertakbir terlebih dahulu.

Dalam Alkitab Bagi umat Kristen Katolik dan Protestan, gerhana bulan darah atau “blood moon” itu muncul saat hari Paskah, tepatnya pada malam Paskah atau Sabtu Alleluya dan diimani dalam ajarannya sesuai dalam Kitab Suci.

Seperti dikutip dari Daily Mail (01/04), di Alkitab versi Raja James (Yoel 2:31), tertulis “Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan yang hebat dan dahsyat itu.” Mengenai ajaran ini seorang Pastor dari Amerika, John Hagee, menyatakan bahwa hal besar akan terjadi pada umat manusia.

Berdasarkan buku berjudul “Four Blood Moons” karya Hagee, gerhana bulan berdarah yang akan terjadi pada hari Paskah nanti adalah tanda kejadian besar terjadi di Timur Tengah yang berhubungan dengan Israel.

“Aku percaya kita akan melihat sesuatu yang dramatis terjadi di Timur Tengah yang menyangkut Israel. Dan hal itu akan berdampak besar bagi seluruh dunia,” ujar Pastor Amerika itu.

Entah kebetulan atau tidak, gerhana bulan darah yang terjadi di hari ini Sabtu (4/4/2015) (antara pukul 16.00 hingga pukul 22.00 WITA) itu adalah gerhana bulan darah ketiga dalam rentetan empat gerhana bulan darah (tetrad blood moons) dalam kurun waktu dua tahun ini.

Oleh sebab itu, banyak pihak yang percaya bahwa gerhana tersebut sarat akan nuansa religius.

Gerhana bulan darah pertama dan kedua sudah terjadi pada tahun 2014. Setelah gerhana bulan darah ketiga di malam Paskah nanti, akan ada gerhana bulan darah lagi yang diprediksi terjadi tanggal 28 September 2015.

Menanggapi kemunculan empat gerhana bulan darah dalam dua tahun secara beruntun, Pastor Hagee berpendapat bila ini adalah tanda ‘akhir zaman’.

“Alkitab menyatakan ‘bila kita melihat tanda-tanda itu’, dan empat gerhana bulan darah adalah pertanda yang jelas dari akhir era ini,” ujar Hagee.

Di sisi lain, badan antariksa AS, NASA, mengatakan gerhana bulan darah Paskah adalah sesuatu yang alami dan tidak berbahaya atau berdampak besar bagi manusia.

“Saat gerhana terjadi, bulan sering terlihat kemerah-merahan karena sinar matahari yang menimpanya melewati atmosfer bumi. Ketika itu, spektrum warna biru di cahaya matahari tersaring, sehingga yang tersisa hanya warna merah saja. Namun, fenomena ini tidak berbahaya bagi manusia,” ungkap NASA.

Menurut Space.com, gerhana bulan darah ini akan terjadi tanggal 4 April dan bisa dilihat di Amerika Utara, Asia, dan Australia. Di kawasan Asia Tenggara sendiri, gerhana bulan darah akan terjadi pada pukul 18.45 WIB selama kurang lebih 12 menit.

Untuk Indonesia Barat gerhana bulan total akan mulai terjadi pada pukul 17.16 WIB-20.45 WIB, untuk Indonesia Tengah gerhana akan terjadi pukul 18.16 Wita-21.45 Wita, sedangkan untuk gerhana bulan total di Indonesia timur akan terjadi pada 19.16 WIT-22.45 WIT.

Adapun proses terjadinya gerhana bulan total pada Sabtu (4/4) yakni akan dimulai dari bagian kanan bawah bulan.

Lalu puncak gerhana total akan terjadi pada pukul 18.58 WIB-19.03 WIB di Indonesia barat, 19.58 Wita-20.03 Wita di Indonesia tengah dan 20.58 WIT -21.03 WIT. Gerhana berakhir dengan lepasnya bayangan bumi dari piringan bulan sebelah kanan atas.

Artikel ini ditulis oleh:

Tidak Timbulkan Tsunami, Sore Ini Kota Ambon Diguncang Gempa 5,8 SR

Jakarta, Aktual.co — Gempa tektonik berkekuatan 5,8 skala Richter (SR) yang berpusat di bawah laut, mengguncang Kota Ambon, Maluku, pada Sabtu pukul 17.06 WIT.

Kepala Stasiun Geofisika Ambon, Kustoro, di Ambon, Sabtu (4/4) sore, mengemukakan, pusat gempa di 2.62 Lintang Selatan dan 127.70 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer di bawah laut.

Gempa tersebut tidak menimbulkan gelombang pasang (tsunami).

Posisi pust gempa di 69 km barat laut Piru, ibu kota Kabupaten Seram Bagian Barat), 98 km timur laut Namlea, ibu kota Kabupaten Burudan 126 km timur laut Kabupaten Buru Selatan.

Kekuatan gempa di Kota Ambon dan Namlea masing-masing III MMI, sedangkan Namlea IV MMI.

Gempa itu guncangannya mengejutkan warga, dan membuat panik para pegawai kantor Gubernur Maluku yang sedang bekerja.

“Kami di lantai IV merasakan guncangan kuat sehingga berlarian melalui tangga khawatir terjadi gempa susulan,” ujar mereka.

Provinsi Maluku merupakan salah satu daerah rawan gempa karena terletak pada pertemuan tiga lempeng besar yakni Pasifik, Indo Australia dan Eurasia.

Lempeng Indo Australia masuk ke bawah Eurasia, bertemu dengan Lempeng Pasifik sehingga mengakibatkan patahan yang tidak beraturan.

Daerah-daerah rawan gempa di Maluku di antaranya wilayah-wilayah bagian Tenggara, Pulau Ambon, Seram dan Buru. Sedangkan pusat patahan di antaranya berada di Laut Ambon dan Seram Bagian Barat.

Artikel ini ditulis oleh:

Terapkan Harga BBM Sesuai Pasar, Arteri : Itu Liberal !



Jakarta, Aktual.co —Terkait kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi masing-masing Anggota Komisi II DPR RI Arteri Dahlan, mengatakan bahwa semestinya pemerintah melakukan langkah-langkah efisiensi pada sektor energi sebelum menaikan harga BBM. Namun fakta yang terjadi pemerintah justru menerapkan harga bahan bakar minyak sesuai dengan harga pasar yang dia tegaskan sebagai bagian dari liberalisme yang jauh dari nawacita pemerintah Jokowi-JK. Hal itu dia katakan dalam agenda diskusi yang di selenggarakan oleh Kaukus Muda Peduli Kawasan Timur Indonesia yang digelar di Gedung Juang, Jakarta, Selasa, 31 Maret 2015.
Arteri juga mengatakan bahwa pemerintah harus mempertimbangkan secara matang dalam membuat kebijakan yang dapat membebani rakyat  dan bukan hanya dilakukan oleh satu orang menteri. Apalagi jika dilihat eskalasinya, harga BBM akan kembali mengalami kenaikan begitu juga dengan harga elpiji ukuran 3Kg serta harga tarif dasar listrik. Untuk itu dia berharap pada Presiden Joko Widodo, untuk lebih sensitif menanggapi isu-isu yang menyangkut hajat hidup masyarakat. 

Artikel ini ditulis oleh:

Warnoto

Gerhana Bulan Total di Indonesia, MUI Imbau Umat Islam Salat Gerhana Bulan

Jakarta, Aktual.co — Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam di seluruh Tanah Air untuk melakukan salat kusuful qamar atau salat gerhana bulan di Masjid, Mushalla, atau rumah, pada Sabtu (4/4) sore hingga malam.

Berdasarkan data astronomi, pada 14 Jumadil Akhir 1436 Hijriah atau Sabtu (4/4) mulai pukul 17.15 WIB di Indonesia akan terjadi gerhana bulan total (GBT).

Hampir seluruh kawasan Indonesia dapat mengamati gerhana bulan total ini. Sedangkan puncak gerhana bulan total akan terjadi pada Sabtu pukul 19.01 WIB dan selesai pada pukul 20.44 WIB.

“Sehubungan gerhana bulan pada Sabtu 4 April 2015 mulai pukul 17.15 WIB, kepada umat Islam diserukan untuk menunaikan shalat kusuful qamar di masjid, mushalla, atau rumah,” kata Ketua Umum MUI Pusat Din Syamsuddin dalam siaran persnya

Sementara itu, tata cara shalat gerhana bulan antara lain dianjurkan secara berjamaah dua rakaat, dengan setiap rakaat dua kali berdiri (baca al-Fatihan dan surat lain) dan dua kali ruku’, kemudian sujud seperti biasa.

Din Syamsuddin menambahkan, setelah shalat dilakukan khutbah untuk mengingat kemahakuasaan Allah SWT dan kelemahan manusia, serta kondisi kehidupan kebangsaan dewasa ini.

Sedangkan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Machasin, juga mengimbau umat Islam melakukan shalat sunnah gerhana bulan secara berjamaah, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW, dan dianjurkan (sunnah muakkadah) untuk bertakbir terlebih dahulu.

Dalam Hadist riwayat Buchori-Muslim disebutkan bahwa, “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Maka jika kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah kepadaNya, bersedekahlah, dan salat-lah”.

Artikel ini ditulis oleh:

Kolaborasi dalam Karya Pentatonis Sunda dan Keroncong

Jakarta, Aktual.co — Grup band independen “Tigapagi” memperkenalkan irama tradisional dengan mengolaborasikan pentatonis Sunda dan keroncong melalui lagu-lagu karyanya.

“Sebetulnya, tak ada unsur kesengajaan yang artifisial dalam mengawinkan berbagai kebudayaan ke dalam musik,” kata vokalis Tigapagi Sigit Agung Pramudita di Bandung, Sabtu (4/4).

Menurut dia, hanya tentang bagaimana bermacam unsur kebudayaan menyatu sehingga melahirkan keberagaman musik yang bercitarasa lokal.

“Unsur pentatonik atau “da-mi-na-ti-la” dalam musik Tigapagi lahir dari kehidupan kami yang memang tumbuh dan dibesarkan di Tanah Pasundan, jadi kami familiar dengan hal yang berkaitan dengan Sunda,” katanya.

Ia memaparkan para personel Tigapagi yang hidup dalam lingkup keluarga penggiat budaya Sunda itu lantas menjadikan musik Tigapagi kental dengan sentuhan irama tradisional tersebut.

“Mungkin kepiawaian bermain musik bisa merupakan warisan, nenek dan kakek kami adalah seniman Sunda,” kata pria berusia 30 tahun tersebut.

Tigapagi yang beranggotakan Sigit Agung Pramudita (vokal, gitar akustik, bass) serta dua bersaudara Eko Sakti Oktavianto (Gitar akustik, piano, kecapi) dan Prima Dian Febrianto (gitar akustik) itu pernah mendapat penghargaan Rookie of the Years 2014 alias pendatang baru terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Memulai debut dalam industri musik jalur minor pada Agustus 2004 lalu, grup musik asal Kota Bandung itu telah merilis dua album, yakni mini album berjudul Half Awake (2006) dan full album Roekmanas Repertoire (2013).

Terkhusus pada album kedua, musik Tigapagi kental dengan irama pentatonik.

“Dalam album kedua itu kami hanya menggunakan kecapi, sisanya menggunakan alat musik diatonis. Berbagai macam tangga nada pentatonik seperti madenda, pelog, dan sorog juga bisa dihasilkan tak hanya melalui alat musik tradisional,” katanya.

Selain itu, ia juga menjelaskan alasan Tigapagi mengambil suasana di era pertengahan tahun 1960-an lantaran ingin mengingatkan kembali peristiwa tersebut kepada para generasi muda.

Artikel ini ditulis oleh:

MUI: Wawasan Keislaman-Kebangsaan Bisa Tangkal Paham Radikal ISIS

Jakarta, Aktual.co — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Halim Subahar, menyatakan wawasan keislaman dan wawasan kebangsaan dapat menangkal paham radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

“Perkuat wawasan tentang Islam dan kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak dari dunia pendidikan karena cara tersebut merupakan cara jitu untuk menangkal paham radikalisme,” katanya di Kabupaten Jember, Sabtu (4/4).

Menurut dia, pelajar dan generasi muda biasanya menjadi sasaran dari gerakan garis keras tersebut karena emosi mereka masih belum stabil dan cenderung memiliki sikap fanatisme yang berlebihan.

“Mereka yang masuk gerakan radikal biasanya tidak memahami Islam secara utuh dan wawasan kebangsaan yang dimiliki juga minim, sehingga mudah terpengaruh dengan doktrin-doktrin yang menyesatkan,” tuturnya.

MUI Jember, lanjut dia, sudah melakukan sosialisasi tentang keislaman dan toleransi beragama kepada siswa di sejumlah sekolah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Badan Kesatuan Bangsa Perlindungan Masyarakat (Bakesbang Linmas) untuk menangkal paham radikal seperti ISIS tersebut.

“Pengikut ISIS dan gerakan radikal lainnya biasanya memiliki sikap fanatisme buta, padahal ajaran Islam mengajarkan saling menghormati orang lain, termasuk warga non-muslim,” paparnya.

Ia menjelaskan banyak perguruan tinggi di Kabupaten Jember menjadi peluang masuknya gerakan garis keras tersebut melalui komunitas-komunitas fanatik yang terkadang tidak disadari oleh mahasiswa yang bersangkutan.

“Sejauh ini kami belum menerima laporan terkait dengan perekrutan ISIS di Jember, namun bisa saja gerakan radikal tersebut ada di Jember karena paham garis keras itu bisa tumbuh di mana-mana,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PCNU Jember Misbahussalam mengatakan pihaknya juga sudah melakukan berbagai upaya untuk menangkal perkembangan gerakan radikal ISIS tersebut.

“Kami imbau para ulama dan guru ngaji untuk memberikan pemahanan keagamaan kepada masyarakat secara benar dan menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin karena Islam tidak mengajarkan kekerasan dalam berdakwah dan menyampaikan ajarannya,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain