18 Januari 2026
Beranda blog Halaman 37140

BPS: Impor Sultra Naik 1,31 Persen

Jakarta, Aktual.co — Kepala Badan Pusat Statistik Sultra Adi Nugroho mengatakan bahwa nilai impor Sulawesi Tenggara pada Februari 2015 mengalami peningkatan mencapai 1,31 persen dibandingkan dengan Januari 2015.

“Nilai impor Sultra pada Februari 2015 tercatat 27,86 juta dolar AS atau mengalami peningkatan sebesar 1,31 persen dibanding impor Januari 2015 yang tercatat 27,50 juta dolar AS,” katanya di Kendari, Sabtu (4//4).

Volume impor pada Februari 2015 tercatat 45,20 ribu ton atau turun 27,72 persen dibandingkan dengan impor Januari 2015 yang mencapai 35,39 ribu ton.

Jika dilihat empat tahun terakhir, kata dia, impor Sultra pada 2011 sudah menunjukkan tren naik, sampai 2012 dan pada 2013 masih naik tapi tidak setajam pada 2011.

Total impor Sultra pada 2015 mencapai 35,39 ribu ton atau senilai 27,50 juta dolar AS, dibandingkan Januari 2014 tercatat 26,68 ribu ton atau senilai 30,00 juta dolar AS.

Dia mengatakan negara asal impor pada Februari 2014 berasal dari Tiongkok, Singapura, dan Malaysia.

“Volume impor terbesar dari Singapura tercatat 40,44 ribu ton atau senilai 22,98 juta dolar AS, kemudian Tiongkok tercatat 3,04 ribu ton senilai 3,96 juta dolar AS dan sisanya dari Malaysia,” katanya.

Ia mengatakan impor pada Februari 2015, antara lain dari bahan bakar mineral, alat dan sarana apotik, fotografi, sinematografi, serta perlengkapannya, kelompok mesin dan peralatan listrik, kelompok perabot rumah tangga, perkakas dan peralatan bukan logam mulia, mesin dan pesawat mekanik dan kelompok aneka produk kimia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Segera Ambil Alih 28 Blok Migas Habis Masa Kontrak Demi Kedaulatan Energi

Jakarta, Aktual.co — Komandan Gerakan Nasionalisasi Migas (GNM) Binsar Effendi Hutabarat menegaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki 263 blok minyak bumi dan gas bumi (migas). Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan eksplorasi-eksplorasi baru. Dari 263 Blok Migas yang dimiliki Indonesia saat ini, sebanyak 79 Blok Migas sudah produksi. Sedangkan sisanya 184 Blok Migas masih dalam tahap eksplorasi.
 
Dari 79 Blok Migas milik Indonesia yang sudah produksi, sekitar 55 Blok Migas (70%) dikelola oleh perusahaan migas asing berskala global. Sebut saja, Chevron, Total, Inpex, ExxonMobil, Petronas, Petrochina, CNOOC, Santos, British Petroleum (BP), Hess, Stat Oil, Eni dan sebagainya.
 
“Sepanjang 2015 – 2021, ada 28 Blok Migas yang akan habis masa kontraknya. Berdasarkan peraturan, kontrak pengelolaan Blok Migas di Indonesia sepanjang 30 tahun. Lalu untuk perpanjangan kontrak pengelolaan Blok Migas diberikan selama 20 tahun. Maksimal, pengelolaan Blok Migas di Indonesia selama 50 tahun kemudian diserahkan kepada Negara dan harus dikelola oleh National Oil Company (NOC) atau BUMN Migas, yakni Pertamina”, ujar Binsar Effendi Hutabarat yang Ketua Umum Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina (eSPeKaPe) tandas.
 
Proses pengajuan perpanjangan kontrak Migas menurutnya, diberikan waktu 10 tahun hingga 2 tahun sebelum habis masa kontrak. Artinya, bagi kontrak Migas yang habis tahun 2021, akan menjadi tanggung jawab pemerintahan 2014 – 2019, atau pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Sebab klasifikasi 28 Blok Migas yang akan habis masa kontraknya antara 2015 – 2021, ada dalam pemerintahan Jokowi-JK lebih dulu.
 
Jika ditelaah tutur Binsar Effendi yang juga Ketua FKB KAPPI Angkatan 1966, target produksi migas 2013 di angka 840.000 barel per hari (bph), tapi realisasinya 827.000 bph, berkurang 13.000 bph. Rata-rata produksi 1 Blok Migas sekitar 10.000 bph. Angka itu diperoleh dari realisasi produksi migas (lifting) APBN-P tahun 2013 sebesar 827.000 bph dibagi 79 Blok Migas Produksi.
 
Dengan produksi 827.000 bph di 2013 lanjutnya, berarti produksi setahun 301.855.000 barel. Jika dipakai harga minyak US$ 100/barel waktu itu, total nilai produksi 28 Blok Migas itu setahun US$ 30.185.500.000. Dalam rupiah, nilai produksi 28 Blok Migas itu sekitar Rp. 302 Triliun. Jika 28 Blok Migas itu memperpanjang kontraknya 20 tahun, kira-kira nilai kontraknya Rp. 6.040 triliun.
 
“Angka Rp. 6.040 triliun itu sangat besar, kurang lebih setara dengan angka PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia setahun. Dan pastinya, kontrak 28 Blok Migas senilai Rp. 6.040 triliun itu tanggung jawab pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden JK. Para pemain minyak raksasa global sudah pasti akan berpartisipasi aktif dalam mempengaruhi pemerintahan sekarang ini. Itulah sebabnya GNM menyerukan rebut kedaulatan energi yang dikuasai oleh negara demi untuk kepentingan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Ini amanat konstitusi negara, tak perlu dibantah”, imbuh Binsar Effendi tegas.
 
Koordinator Eksekutif GNM Muslim Arbi mengingatkan, menurut Abraham Samad, waktu menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Samad katakan potensi pendapatan negara hilang Rp. 7.200 triliun setiap tahun. Perhitungan KPK, royati dari Blok Migas yang tidak dibayarkan kepada negara mencapai Rp. 7.200 triliun tiap tahun. Samad menjelaskan, hal itu terjadi karena para kontraktor Migas tidak mematuhi perjanjian yang telah disepakati. Lalu Samad sebutkan, jika digabung seluruh industri mineral dan pertambangan, royalti yang tidak dibayarkan mencapai Rp. 20.000 triliun setahun. Samad pun bilang, jika dila dibagi ke seluruh rakyat, maka pendapatan rakyat Indonesia per bulan bisa mencapai Rp. 20 juta.
 
Apa yang terjadi disini?, keluh Muslim Arbi yang juga Kepala Staf Invokasi Gerakan Aliansi Laskar Anti Korupsi (GALAK). “Indonesia sudah betul-betul tidak tertutup pada asing, tapi bukan berarti asing boleh terus menerus merugikan Indonesia. Hanya saja karena raksasa migas global terus menerus menipu Indonesia, bahkan ketika sudah diberi kesempatan untuk mengelola migas Indonesia, itu sebabnya Komandan GNM serukan rebut kedaulatan energi milik negara yang bakal habis masa kontraknya dengan asing”, ucapnya geram.
 
Tak hanya soal tak bayar royalti sehingga Indonesia merugi, lanjut Muslim Arbi yang juga Koordinator Eksekutif Gerakan Perubahan (GarpU). “Raksasa migas asing juga menipu Indonesia dengan menurunkan produksi migasnya perlahan. Menjelang habis masa kontrak Blok Migas 2015 – 2021, raksasa migas asing dengan sengaja terus mengurangi produksi. Tujuannya jelas, ingin menciptakan permintaan (demand) lebih. Sehingga kontrak akan diperpanjang, dan bisa menambah kontrak di Blok Migas lain. Ini yang perlu disikapi kenapa Bolk Mahakam masih belum diputuskan oleh Menteri ESDM Sudirman Said untuk diserahkan 100% ke Pertamina. Selama ini hanya omong kosong saja”, katanya sengit seraya menuding Sudirman Said jua penggiat neo-lib.
 
Tapi kalau dilihat lebih jauh, kata Juru Bicara GNM, Teddy Syamsuri, alasan kenapa produksi menurun dan harga BBM melambung, ada di tangan kontraktor 79 Blok Migas tersebut. “Sederhana saja. Sebab dengan kontraktor asing itu menurunkan produksi secara berkala, kontrak harus diperpanjang dan perlu eksplorasi tambahan. Bahasa yang umum dari raksasa migas asing adalah bahwa Pertamina tak mampu tingkatkan produksi secepat itu, maka diperpanjanglah kontrak mereka. Lalu asing-asing itu juga akan katakan jika perpanjang kontrak pun tak cukup, harus tambah Blok Migas lain karena kebutuhan BBM untuk rakyat di dalam negeri terus bertambah. Dengan cara ini, raksasa migas asing memperoleh dua keuntungan. Pertama, perpanjangan kontrak Blok Migas dan kedua, kontrak baru di Blok Migas lain bisa didapat”, terangnya.
 
“Ini yang kerap menyesatkan dan Pemerintah juga bisa terpengaruh”, kata Teddy yang juga Ketua Umum Forum Sildaritas Masyarakat Peduli Migas (Fortas-MPM).
 
Menurut Teddy yang juga Ketua Umum Lintasan ’66, sebenarnya negara terus dibohongi oleh raksasa migas asing ini. Dengan segala tipu daya raksasa migas asing turunkan produksi untuk naikkan harga BBM. Dengan segala tipu daya raksasa migas asing didapatkan perpanjangan kontrak lagi atau kontrak baru di Blok Migas lain. “Dengan segala tipu daya raksasa migas asing juga di duga tidak membayarkan royalti kepada Indonesia. Faktanya, selama 2015 – 2021, terdapat 28 Blok Migas yang habis masa kontrak yang tentunya menjadi tanggung jawab pemerintahan 2014 – 2019, tapi lifting minyak disebut menurun dan harga BBM dinaikan hanya dengan alasan perkembangan harga minyak dunia dan fluktuasi nilai rupiah melamah terhadap dolar yang jelas mengikuti mekanisme pasar, yang justru bertentangan dengan UUD 1945”.
 
Sebab itu, GNM menyerukan kepada setiap anak bangsa yang cinta tanah-air dan rakyatnya,

“Rebut kedaulatan energi milik negara demi kemakmuran rakyat. Kita dengan Pertaminanya dipastikan mampu mengelola 28 Blok Migas yang akan habis masa kontraknya, termasuk Blok Mahakam pasca 2017 yang mengandung produksi seperlima dari produksi migas nasional,” pungkas Komandan GNM Binsar Effendi Hutabarat.

Komandan Gerakan Nasionalisasi Migas (GNM) Binsar Effendi Hutabarat

APBD 2015 Ditargetkan Disahkan 10 April

Jakarta, Aktual.co —Kementerian Dalam Negeri menargetkan pengesahan terhadap Rancangan Peraturan Gubernur atas penggunaan APBD DKI Jakarta Tahun Anggaran 2015 selesai 10 April mendatang. 
Dirjen Keuangan Daerah Kemendagri, Reydonnyzar Moenek, mengatakan target tersebut lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan yakni 30 hari setelah ranpergub disetor Pemprov DKI.
“Waktu normal dibutuhkan sekitar 30 hari (untuk mengesahkan rapergub). Namun, dengan spirit pelayanan, pak Menteri minta dipercepat (proses pengesahan rapergub) dan setidaknya 10 April 2015 mendatang (rapergub APBD DKI Jakarta 2015) dapat pengesahan,” ujar Donny, di Kemendagri, Jakarta, Kamis (2/4).
Diakuinya, Mendagri Tjahjo Kumolo telah meminta tim evaluasi Kemendagri untuk mempercepat proses pengesahan APBD DKI 2015.
Total belanja yang telah disusun Pemprov DKI menggunakan pagu APBD 2014 untuk tahun ini sebesar Rp 67,269 triliun. Dari total anggaran tersebut, alokasi belanja langsung untuk modal mendapat porsi paling besar. Dengan jumlah anggaran mencapai Rp 22,2 triliun, atau 34,8 persen dari total anggaran belanja.
Setelah belanja modal, belanja tidak langsung untuk pegawai juga mendapat porsi besar dalam rapergub penggunaan APBD DKI Jakarta 2015 sebesar Rp 19,5 triliun, atau 30,47 persen dari jumlah anggaran belanja. 
Belanja barang dan jasa menyusul sebesar Rp 16,9 triliun, atau 26,5 persen dari alokasi belanja.

Artikel ini ditulis oleh:

Anggaran Belanja DKI 2015: Gaji Pegawai Naik, Pendidikan Menurun

Jakarta, Aktual.co —Dirjen Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Reydonnyzar Moenek meminta Pemprov DKI lebih rasional dalam menyusun sejumlah mata anggaran di Peraturan Gubernur (Pergub) terkait APBD 2015.
Salah satu yang jadi sorotan Kemendagri, ujar Donny, tak lain tentang besarnya anggaran belanja pegawai DKI yang sebesar Rp 19,08 triliun. Padahal kemendagri sudah mengevaluasi dan menilai anggaran belanja pegawai sebesar itu tidak wajar dan rasional.
Oleh karena itu, sambung dia, Kemendagri sudah menyarankan agar sebagian besar anggaran dialihkan untuk menambah belanja pelayanan publik. “Misal, untuk anggaran pendidikan,” kata Donny di kantor Kemendagri, Jakarta, Kamis (2/4).
Tapi kenyataannya, setelah dievaluasi, belanja pegawai DKI tetap tinggi, tetapi anggaran pendidikan justru menurun dibanding APBD tahun anggaran sebelumnya. “Dalam Rancangan Pergub 2015 yakni sebesar 21 persen dari total anggaran dalam APBD 2014. Padahal, pada tahun lalu alokasi anggaran pendidikan sempat mencapai angka 25 persen dari jumlah total APBD sekitar Rp 67 triliun,” ujar Donny.
Kemendagri pun meminta Pemprov untuk meningkatkan belanja publik terlebih dahulu sebelum mengalokasikan dana banyak di belanja pegawai.

Artikel ini ditulis oleh:

Digugat, Surat Izin Reklamasi Ahok ke Anak Perusahaan Agung Podomoro

Jakarta, Aktual.co —Surat Keputusan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) No. 2238 Tahun 2014 yang memberi izin reklamasi pulau di pantai utara Jakarta terhadap anak perusahaan PT Agung Podomoro Land Tbk yakni PT Muara Wisesa Samudera, digugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Sekretaris Jenderal Jakarta Monitoring Network (JMN) Amir Hamzah mengatakan gugatan atas izin tersebut akan disidangkan di PTUN Jakarta Selasa, tanggal 7 April.
Izin digugat lantaran dianggap telah melanggar prinsip norma hierarki Peraturan Perundang-undangan. Dimana Ahok telah mengabaikan UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil juncto Perpres No. 122 Tahun 2012 tentang Reklamasi.
Kata Amir, pihaknya yakin bakal menang di PTUN meskipun maju tanpa didampingi kuasa hukum. “PTUN akan kabulkan gugatan tersebut karena indikasi Ahok sebagai Pejabat TUN tidak taat azaz dan norma hukum dalam melahirkan SK Reklamasi tersebut,” kata Amir, di Jakarta, Jumat (3/4).
Diketahui, PT Muara Wisesa Samudera mendapatkan izin prinsip Reklamasi Pulau G di pantai utara Jakarta. Pulau buatan tersebut rencananya akan dibangun seluas 165 Ha. Konsesinya, 5 persen dari total lahan akan diserahkan ke Pemda DKI. PT Muara Wisesa Samudera juga diwajibkan membangun rumah pompa dan membeli mesin pompa air sebagai kompensasi izin reklamasi tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Kemendagri: Ahok Lebih Pentingkan Gaji Ketimbang Pendidikan Pegawai

Jakarta, Aktual.co —Kementerian Dalam Negeri kritik anggaran minim pendidikan untuk pegawai negeri Pemprov DKI di tahun anggaran 2015. Padahal alokasi anggaran untuk belanja gaji pegawai sebesar Rp 19,520 triliun.
Hasil klarifikasi tim Kemendagri menilai Pemprov DKI tidak memandang penting pendidikan bagi pegawainya. Sebab DKI hanya menganggarkan Rp 17,21 miliar saja untuk Belanja Beasiswa Pendidikan pegawainya.
Kemendagri pun anggap kebijakan Gubernur Ahok lebih mementingkan gaji pegawai ketimbang pendidikan pegawainya.
“Pak Gub tolong ini diperhatikan pendidikan PNS-nya pak, kalau bisa S1, S2, S3 pak sampe es teler,” ujar Dirjen Keuangan Daerah Kemendagri, Reydonnyzar Moenek, saat rapat pembahasan Peraturan Gubernur RAPBD 2015 di Kemendagri, Kamis (2/4).   Angka Rp 17,21 miliar ini pun sudah diturunkan dalam Rapergub. Sebelumnya dalam Raperda, alokasi anggaran untuk pendidikan PNS mencapai Rp 17,75 miliar.
Donny, bahkan mencibir dengan potensi penghasilan fantastis yang bisa didapat PNS Jakarta, tapi menafikan pentingnya pendidikan PNS-nya. “Ngapain sekolah ya pak kalau gajinya udah 33 juta pak Lurah,” sindir dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain