4 April 2026
Beranda blog Halaman 376

Muhammadiyah Ungkap Masyarakat Aceh Masih Butuh Perhatian dari Pemerintah

Pengurus Pemuda Muhammadiyah saat menyalurkan bantuan untuk kader terdampak bencana banjir, di Bireuen, Aceh, Rabu (24/12/2025). ANTARA/HO-PWPM Aceh
Pengurus Pemuda Muhammadiyah saat menyalurkan bantuan untuk kader terdampak bencana banjir, di Bireuen, Aceh, Rabu (24/12/2025). ANTARA/HO-PWPM Aceh

Banda Aceh, aktual.com – Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Aceh menyatakan bahwa masyarakat hingga fasilitas umum yang terdampak bencana di Aceh masih membutuhkan perhatian untuk segera ditangani secara baik dan cepat.

“Dampak bencana masih dirasakan di berbagai wilayah, pemulihan fasilitas umum, jalur penghubung antardaerah serta kebutuhan dasar masyarakat harus menjadi prioritas utama,” kata Ketua PWPM Aceh, Zul Hafiyan, di Banda Aceh, Sabtu (27/12).

Pernyataan itu disampaikan setelah melakukan kunjungan lapangan dan menyerahkan bantuan sembako dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah kepada kader angkatan muda yang terdampak bencana dan tekanan sosial ekonomi di Aceh.

Di sisi lain, PW Pemuda Muhammadiyah Aceh menegaskan bahwa masyarakat terdampak bencana masih banyak kekurangan untuk diselesaikan, dan membutuhkan perhatian serta bantuan berkelanjutan dari berbagai pihak.

Seiring penyaluran bantuan, lanjut Zul Hafiyan, PW Pemuda Muhammadiyah Aceh juga melakukan assessment lapangan untuk mendata kebutuhan terkini.

Hasilnya, menunjukkan bahwa kebutuhan saat ini tidak hanya sebatas sembako, tetapi juga mencakup perlengkapan kesehatan, kebersihan, kebutuhan ibadah, serta dukungan pemulihan ekonomi.

“Hasil assessment ini juga kita jadikan dasar penyaluran bantuan lanjutan agar lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan para penyintas di lapangan,” ujarnya.

Dirinya berharap, sinergi dan solidaritas kemanusiaan dapat terus diperkuat, agar proses pemulihan di Aceh dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.

Karena, jika kondisi ini dibiarkan berlangsung lama, bukan hanya masyarakat tertimpa musibah saja menderita, melainkan ikut berimbas pada warga tidak terkena bencana secara langsung.

“Bencana bukan hanya merenggut diri dan harta benda yang mereka miliki, tapi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia juga hilang, maka diperlukan solidaritas bersama, buka hanya dari pemerintah semata,” demikian Zul Hafiyan.

Sebelumnya, PWPM Aceh telah menyalurkan bantuan sembako kepada para kader angkatan muda Muhammadiyah yang terdampak bencana hingga keterpurukan sosial ekonomi pascabencana di berbagai daerah se-Aceh sejak Selasa (23/12).

Bantuan tersebut sebagai bentuk kepedulian organisasi dan solidaritas antar-kader dalam menghadapi masa sulit. Paket yang dibagikan berupa kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, ikan kaleng, dan bahan pangan lainnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Banggar DPR Ingatkan Merchant Wajib Terima Pembayaran Tunai Rupiah, Penolakan Bisa Berujung Pidana

Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah. (ANTARA/HO-Banggar DPR RI)
Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah. (ANTARA/HO-Banggar DPR RI)

Jakarta, aktual.com – Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (Banggar DPR) RI mengingatkan apabila ada merchant atau penjual yang menolak pembeli memberikan pembayaran tunai memakai rupiah, maka bisa dikenakan sanksi pidana maksimal 1 tahun dan denda maksimal Rp200 juta.

Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah mengatakan rupiah merupakan pembayaran yang sah dan kedudukannya diatur di dalam Undang Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

“Sesuai UU tersebut, rupiah merupakan alat pembayaran yang sah dan berlaku di seluruh wilayah Indonesia. Oleh sebab itu, tidak diperkenankan bagi pihak manapun menolak penggunaan mata uang rupiah di dalam negeri,” kata Said dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (27/12).

Pernyataan Said disampaikan merespons viralnya sebuah video di media sosial. Akun Instagram @arli_alcatraz mengunggah sebuah video terkait seorang konsumen lansia ditolak pembayaran tunai oleh sebuah toko roti pada Kamis (18/12) di halte Transjakarta yang berlokasi di Monas.

Dalam video dimaksud terlihat seorang pria memprotes toko roti tersebut karena menolak pembayaran dengan uang tunai. Toko roti itu disebut mengharuskan pembayaran menggunakan QRIS.

Oleh karena itu, ia menilai pemerintah dan DPR perlu mengedukasi masyarakat agar jangan sembarangan menolak pembayaran memakai rupiah, sebab bisa berkonsekuensi pidana.

Dirinya pun berharap Bank Indonesia (BI) juga harus ikut mengedukasi masyarakat bahwa rupiah masih menjadi mata uang nasional dan menjadi alat pembayaran yang sah.

Dengan demikian, kata dia, jangan hanya karena penggunaan layanan pembayaran digital, lalu pihak penjual tidak memberikan opsi bagi pembayaran memakai rupiah secara tunai.

Apalagi, dia menyebutkan pemerintah dan DPR belum merevisi pembayaran dengan uang tunai rupiah, sehingga wajib bagi siapa pun di Indonesia untuk menerimanya.

Sebagai perbandingan, lanjut Said, Singapura, negara maju dengan layanan cashless (nontunai) paling baik saja masih memberikan layanan pembayaran tunai hingga 3.000 dolar Singapura dan di banyak negara maju lainnya yang masih melayani pembayaran tunai.

“Kami tidak melarang, bahkan mendukung pihak merchant menggunakan pembayaran nontunai, akan tetapi jangan menutup pihak pembeli atau rekanan membayar dengan tunai. Opsi itu harus tetap diberikan layanannya,” tuturnya.

Apalagi di wilayah Indonesia, dirinya menyampaikan tidak semua terlayani jaringan internet, sehingga tidak semua wilayah bisa menggunakan layanan nontunai.

Pada saat yang sama, kata Said, sudah menjadi rahasia umum bahwa literasi keuangan di Tamah Air masih rendah.

Oleh karenanya, dia kembali berharap agar BI menekankan hal tersebut kepada para pelaku usaha di Indonesia serta menindak pihak yang menolak penggunaan mata uang nasional rupiah.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Trump Tegas Tolak Akui Somaliland, Meski Israel Resmi Buka Hubungan Diplomatik

Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/py
Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/py

Jakarta, aktual.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan memberikan pengakuan atas kedaulatan Somaliland, meskipun Israel telah lebih dulu menyatakan pengakuan resmi terhadap wilayah tersebut.

Penegasan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan New York Post yang terbit Jumat (26/12) waktu setempat, menyusul pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengumumkan Israel sebagai negara pertama yang mengakui Somaliland.

“Tidak,” kata presiden ketika ditanya oleh New York Post tentang pengakuan AS terhadap Somaliland. Dia menambahkan: “Apakah ada yang benar-benar tahu apa itu Somaliland?” tanya Trump, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (27/12/2025).

Sikap Trump tersebut berseberangan dengan langkah Israel yang secara resmi telah mengakui Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat, sekaligus menandatangani kesepakatan untuk menjalin hubungan diplomatik. Somaliland menyambut keputusan itu sebagai pengakuan internasional pertama sejak memproklamasikan kemerdekaannya.

Menurut laporan AFP, Sabtu (27/12/2025), Somaliland memisahkan diri dari Somalia pada 1991 dan sejak itu terus mengupayakan pengakuan global. Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi, yang mulai menjabat tahun lalu, menjadikan pengakuan internasional sebagai agenda utama pemerintahannya.

Pengakuan resmi Israel diumumkan langsung oleh Netanyahu dan menempatkan Tel Aviv sebagai negara pertama yang mengambil langkah tersebut.

“Israel kini menjadi negara pertama yang mengakui Republik Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat,” kata kantor Netanyahu.

“Pengumuman ini sejalan dengan semangat Perjanjian Abraham,” tambahnya, merujuk pada kesepakatan normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab yang difasilitasi oleh Presiden AS Donald Trump.

Langkah Israel itu disambut positif oleh Presiden Somaliland. Abdullahi menilai pengakuan tersebut sebagai pintu awal menuju kemitraan strategis dengan Israel.

“Ini momen bersejarah… kami menyambut pengakuan Perdana Menteri Israel terhadap Republik Somaliland dan menegaskan kesiapan Somaliland bergabung dengan Abraham Accords,” tulis Abdullahi di media sosial X.

Selain pernyataan resmi, kantor Netanyahu juga merilis video percakapan telepon antara Netanyahu dan Abdullahi. Dalam percakapan tersebut, Netanyahu menyampaikan bahwa pengakuan Israel dilakukan secara langsung dan menilai hubungan baru ini berpotensi membuka peluang ekonomi bagi kedua pihak.

“Saya ingin Anda tahu bahwa saya sedang menandatangani pengakuan resmi Israel terhadap Somaliland saat kita berbicara sekarang,” kata Netanyahu kepada Abdullahi.

“Saya sangat, sangat senang dan bangga pada hari ini, dan saya ingin mendoakan Anda dan rakyat Somaliland yang terbaik,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

PBNU Gelar Doa untuk Negeri di Jakarta, Serukan Persatuan dan Kepedulian bagi Penyintas Bencana

PBNU menggelar doa bersama untuk negeri sebagai langkah memberikan dukungan moral bagi para korban terdampak bencana. ANTARA/HO-PBNU
PBNU menggelar doa bersama untuk negeri sebagai langkah memberikan dukungan moral bagi para korban terdampak bencana. ANTARA/HO-PBNU

Jakarta, aktual.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui PWNU DKI Jakarta menggelar Doa untuk Negeri “Satu NU Satu Bangsa” di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari Jakarta dan mengajak masyarakat bersatu membantu para penyintas bencana.

“Jadi istighatsah ini kita upayakan sebelum berakhir tahun karena kita tahu bencana cukup banyak di Sumatera, di Jawa, dan katanya juga ke depan tantangan iklim juga luar biasa,” ujar inisiator acara Irfan Asy’ari Sudirman Wahid dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (27/12).

Acara diawali Shalat Maghrib berjamaah dan diisi tausiyah serta istighatsah. Doa untuk Negeri NU digelar sebagai wujud nyata NU membantu masyarakat terdampak bencana alam yang sebelumnya sudah melalui tenaga, logistik, dan sumbangan lainnya.

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Menteri Sosial yang juga petinggi PBNU Saifullah Yusuf serta pengurus PWNU dan PCNU turut hadir dalam doa bersama tersebut.

Irfan mengatakan NU kerap membuat doa bersama dan istighatsah ketika terjadi bencana dan pada tahun ini bencana terjadi di wilayah Sumatera serta Jawa termasuk tantangan iklim yang juga menjadi perhatian bersama.

Menurut pria yang biasa dipanggil Gus Ipang itu, agenda Doa untuk Negeri yang dipersiapkan secara mendadak dan cepat ini merupakan aksi nyata atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang meminta para ulama untuk turut mendoakan negeri ini agar lekas pulih pascabencana.

“Jadi mudah-mudahan kita bisa siap menghadapi ke depannya. Presiden juga sudah melakukan aksi yang sangat luar biasa, Kemensos juga. Karena kebetulan kami juga ikutan bolak-balik ke Aceh, ke Sumatera, melihat bahwa rehabilitasi ini kelihatan konkret. Kita songsong bareng-bareng kita berzikir dan kita berdoa bersama,” kata dia.

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan kegiatan tersebut bertujuan baik, yaitu mendoakan masyarakat yang terdampak bencana.

“Saya bersyukur malam ini banyak sekali para tokoh, para ulama, para kiai, jamaah, dan masyarakat yang mau bersama-sama memanfaatkan akhir tahun ini untuk peduli sesama lewat doa-doa yang dipanjatkan. Mudah-mudahan dengan doa bersama ini Allah memakmurkan Indonesia di masa yang akan datang,” kata Gus Ipul.

Gus Ipul berharap melalui doa untuk negeri dapat memperkuat kerukunan dan persatuan di Indonesia khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Kita berharap di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia akan mengalami kemajuan-kemajuan secara terukur, bertahap, dan akhirnya tujuan untuk membuat Indonesia makin makmur bisa terwujud,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Tafsir Reflektif Surat Al-Quraisy: Dari Jaminan Ekonomi Menuju Kesadaran Penghambaan

Jakarta, aktual.com – Surat Al-Quraisy merupakan surat pendek yang sarat dengan pesan tauhid, kesadaran penghambaan, serta relasi antara jaminan sosial-ekonomi dan ketaatan spiritual. Surat ini menegur, mengingatkan, sekaligus mengarahkan manusia agar tidak terjebak pada sebab-sebab lahiriah, tetapi kembali menyandarkan hidup sepenuhnya kepada Allah sebagai Rabb semesta alam.

Allah berfirman:

لِاِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ ۝١

Disebabkan oleh kebiasaan orang-orang Quraisy,

اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ ۝٢

(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.

Teguran atas Kenikmatan yang Dilupakan

Ayat pertama dan kedua ini merupakan teguran halus dari Allah kepada kaum Quraisy. Mereka hidup dalam jaminan keamanan dan kelancaran ekonomi melalui tradisi dagang musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam. Namun, kenikmatan itu justru membuat mereka lalai dari sumber utama segala jaminan: Allah sendiri.

Para mufasir menjelaskan bahwa kaum Quraisy mendapatkan keistimewaan besar: aman dalam perjalanan, dihormati oleh kabilah-kabilah Arab, serta dicukupi kebutuhan hidupnya. Sayangnya, nikmat tersebut tidak mengantarkan mereka pada kesadaran penghambaan yang sejati.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dalam tafsir isyari-nya, dikenal memiliki kedalaman pemahaman terhadap rahasia ayat-ayat Al-Qur’an. Bahkan dalam penafsiran basmalah, beliau tidak memahaminya secara seragam di setiap surat, melainkan menyesuaikan dengan konteks dan pesan spiritual masing-masing surat. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks, tetapi samudra makna yang hidup.

Dari Jaminan Dunia Menuju Kewajiban Ibadah

Allah kemudian menegaskan tujuan dari semua jaminan tersebut:

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ ۝٣

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (Pemilik) rumah ini (Ka‘bah).

Maknanya jelas: ketika keamanan dan kebutuhan hidup telah dijamin, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk lalai dari ibadah. Kesuksesan sosial dan ekonomi sejatinya memiliki korelasi erat dengan kesuksesan spiritual. Ibadah yang benar dan tulus akan melahirkan keberkahan hidup, meskipun tidak selalu dalam bentuk materi yang kasat mata.

Musim Dingin dan Panas: Simbol Perjalanan Ruhani

Dalam tafsir Syekh Ibnu ‘Ajibah, kata:

  • الشِّتَاءِ dimaknai sebagai kesempitan dan kesusahan,
  • الصَّيْفِ dimaknai sebagai kelapangan dan kemudahan.

Makna ini membuka dimensi isyari bahwa kehidupan manusia—termasuk perjalanan ruhani—tidak pernah lepas dari fase sempit dan lapang. Ada masa-masa sulit yang menghimpit, dan ada masa-masa kelapangan yang menenangkan.

Pesannya tegas: kesempitan bukan keadaan abadi. Jika hari ini seseorang berada dalam beban hidup dan kesulitan, maka dengan konsistensi ibadah dan keteguhan hati, Allah akan menghadirkan kelapangan pada waktunya.

Rumah Allah dan Rumah Hati

Secara tafsir isyari, frasa هٰذَا الْبَيْتِ tidak semata dimaknai sebagai Ka‘bah secara fisik, melainkan juga melambangkan bait al-qalb (rumah hati) para pencari Allah. Banyak manusia hidup tanpa arah karena rumah hatinya belum “aktif”—belum sadar sepenuhnya akan posisinya sebagai hamba.

Mengaktifkan rumah hati berarti menghidupkan makna Bismillāhirraḥmānirraḥīm secara nyata: menyandarkan diri kepada Allah secara total, beribadah dengan keikhlasan, dan menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidup.

Jaminan dari Rasa Lapar dan Takut

Allah menutup surat ini dengan penegasan jaminan-Nya:

الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ 

Yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.

Dua ketakutan terbesar manusia adalah kelaparan dan ketidakamanan. Ayat ini menegaskan bahwa siapa pun yang benar-benar menyembah Allah, mengaktifkan hati dengan penghambaan total, maka Allah akan menjamin kecukupan hidup dan keamanan batinnya.

Seorang sālik sejati adalah ibn al-zamān: hamba yang fokus menjalankan tugas penghambaan hari ini, tanpa dikuasai kecemasan berlebihan terhadap masa depan.

Sebagaimana firman Allah:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2–3)

Jangan Terjebak pada Sebab

Suku Quraisy disebut secara khusus karena pengaruh sosial dan ekonominya yang besar di Jazirah Arab. Dahulu, mereka menggantungkan kelangsungan hidup pada perdagangan dan simbol-simbol berhala. Kini, pelajaran itu relevan: manusia modern sering kali menyandarkan hidup sepenuhnya pada usaha, jabatan, dan sistem, lalu lupa kepada Allah sebagai Penjamin hakiki.

Padahal tujuan penciptaan manusia telah ditegaskan:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۝٥٦

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Surat Al-Quraisy mengajarkan agar manusia tidak berhenti pada sebab-sebab duniawi, melainkan melampauinya menuju penghambaan total. Aktivasi hati tidak selalu instan. Cepat atau lambatnya adalah hak Allah.

Tugas hamba adalah memperbaiki kualitas ibadah: memperkuat dzikir, menambah amal sunnah dan sosial, meluruskan niat, serta—bagi yang menempuh jalan ruhani—berada dalam bimbingan guru yang sanadnya tersambung hingga Rasulullah ﷺ.

Ujian sering datang justru ketika ibadah mulai konsisten. Itu bukan tanda ditinggalkan, melainkan isyarat bahwa koneksi dengan Allah sedang diperkuat.

Ketika hidup terasa sempit dan rasa aman terguncang, bacalah Surat Al-Quraisy dengan perenungan dan hati yang hadir. Di sana terdapat janji Allah tentang kecukupan rezeki dan perlindungan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menyembah-Nya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

OKI Kutuk Pengakuan Israel atas Wilayah Somaliland

Ilustrasi - Organisasi Konferensi negara-negara Islam (OKI) (istimewa)
Ilustrasi - Organisasi Konferensi negara-negara Islam (OKI) (istimewa)

Jeddah, aktual.com – Sekretariat Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Sabtu (27/12), mengutuk pengakuan Israel atas wilayah Somaliland sebagai negara merdeka, dan menggambarkannya sebagai pelanggaran kedaulatan, persatuan nasional, dan integritas teritorial Republik Federal Somalia.

Sekretariat Jenderal OKI menegaskan kembali solidaritas penuhnya dengan Somalia, dukungan teguhnya terhadap kedaulatan dan integritas teritorial negara tersebut, serta dukungannya terhadap lembaga-lembaga negara yang sah.

Sekretariat Jenderal menekankan perlunya menjunjung tinggi Piagam OKI dan PBB, serta hukum internasional, mengenai kedaulatan dan integritas teritorial negara-negara anggota.

Sekretariat Jenderal juga menekankan pentingnya menjaga keamanan, perdamaian, dan stabilitas di Tanduk Afrika, dan menolak tindakan apa pun yang dapat merusak stabilitas regional.

Pada Jumat (26/12), Israel menjadi negara pertama di dunia yang mengakui Somaliland, yang memisahkan diri dari Somalia pada 1991, sebagai negara yang berdaulat.

Pada hari yang sama, Liga Arab dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) telah mengecam pengakuan Israel terhadap Somaliland tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain