4 April 2026
Beranda blog Halaman 37827

Jika DKI Pakai APBD-P 2014, Enam Lembaga Ini Diuntungkan

Jakarta, Aktual.co —Direktur Centre of Budget Analysis (CBA)Uchok Sky Khadafi sudah menduga proses pembahasan APBD 2015 Jakarta tidak akan menemui jalan keluar. 
Tanda-tanda ke arah situ menurutnya sudah terlihat dengan tidak adanya saling percaya antara eksekutif dan legislatif.
“Malahan saling curiga mencurigai antara dua lembaga ini,” kata Uchok dalam siaran persnya yang diterima Aktual.co, Sabtu (21/3).
Seperti soal molornya penyerahan print-out rincian data RAPBD yang sudah diinput Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) DKI ke DPRD. Yang membuat Badan Anggaran DPRD menolak lakukan pembahasan. Sehingga, bakal berujung pada dipakainya  pagu anggaran APBD-Perubahan 2014.
Dampaknya, kata Uchok, ada beberapa pos anggaran yang lebih besar dibanding rencana 2015.
CBA coba mencatat beberapa lembaga-lembaga yang beruntung karena pagu tahun 2014 lebih besar dibandingkan tahun 2015. Berikut daftarnya:
1. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DKI Jakarta. Pada tahun 2014 dapat anggaran sebesar Rp19,2 miliar. Sedangkan di APBD 2015 hanya dapat alokasi sebesar Rp17,4 miliar.
2. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi DKI Jakarta. Di tahun 2014 dapat anggaran sebesar Rp300 miliar, sedang di APBD 2015 hanya sebesar Rp239,5 miliar.
3. Lembaga Pembinaan Keagamaan Budha (LPKB) Provinsi DKI. Di tahun 2014 dapat anggaran sebesar Rp1 miliar, sedang dalam APBD 2015 hanya sebesar Rp700 juta.
4. Institut Al Qur’an (IIQ) Jakarta, tahun 2014 mendapat anggaran Rp3 miliar, sedangkan pada APBD 2015 hanya sebesar Rp1 miliar.
5. PMI di 6 kota/kabupaten administrasi, pada tahun 2014 mendapat anggaran sebesar Rp21,4 miliar, dan di APBD 2015 hanya mendapat Rp10 miliar.
6. Badan Pusat Statistik Provinsi Jakarta, pada tahun 2014 mendapat anggaran sebesar Rp3,3 miliar, sedangkan di APBD 2015 hanya mendapat Rp775 juta.

Artikel ini ditulis oleh:

Golkar Sulsel Masih Solid ke Ical?

Makasar, Aktual.co — Kisruh kepengurusan DPP Partai Golkar tidak berimbas kepada kepengurusan DPD yang ada di Sulsel.
Seluruh pengurus tingkat DPD I dan II se- Sulsel masih menyatakan solid mengikuti hasil keputusan Rapimda beberapa waktu yang lalu dan saat ini hanya fokus melakukan persiapan jelang Pilkada yang akan digelar secara bersamaan di beberapa daerah di Sulsel.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua DPD I Golkar Sulsel Syahrul Yasin Limpo saat memimpin rapat konsolidasi internal pengurus DPD I dan DPD II yang  di Kantor Golkar Sulsel Jl Bontolempangeng, Makassar, Jumat malam (20/3).
Sebelumnya beberapa politisi dan pengurus DPD Golkar Sulsel enggan berkomentar banyak menyoal kisruh di DPP Golkar. Mereka semua menyatakan mengembalikan sepenuhnya ke Ketua DPD I Sulsel, Syahrul Yasin Limpo yang juga Gubernur Sulsel.
Namun, sikap dan ketegasan Syahrul sebagai Ketua DPD I Sulsel yang menyatakan tetap mengacu pada hasil Rapimda yang digelar beberapa waktu lalu mengindikasikan jika Golkar Sulsel masih berpihak pada kubu ARB.
“Kita masih solid sesuai hasil Rapimda beberapa waktu yang lalu,” katanya.
Menurut Syahrul, hasil Rapimda memutuskan bahwa Golkar di Sulsel tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi pusat dan menyatakan bahwa Golkar di Sulsel masih solid.
Mengenai  kisruh yang terjadi di DPP Syahrul menyatakan biarlah pengurus  DPP yang menyelesaikannya. Ia menyatakan hanya akan fokus mengurus Golkar di daerah.
“Saat ini kita hanya fokus mempersiapkan Pilkada 11 kabupaten dengan  memperkuat konsolidasi struktural harus ditingkatkan lagi,” tambahnya.
Dalam melakukan persiapan menghadapi proses Pilkada tersebut, Syahrul menegaskan dirinya dan pengurus DPD Golkar sendiri yang akan langsung bergerak mempersiapkan kadernya sebagai calon bupati setelah terbitnya PKPU Pilkada.
Disinggung mengenai wacana tentang penggantian dirinya sebagai ketua DPD. Golkar Sulsel, Syahrul juga menyebut wacana tersebut tidak mempengaruhi kesolidan dan konstalasi di tingkat pengurus DPD Sulsel. Bahkan ia menantang siapa yang berani menggantikan dirinya.
“Mana yang mau gantikan saya, munculkan dihadapan saya,” ucapnya dengan tegas.

Artikel ini ditulis oleh:

Jelang Kompetisi ISL, Arema Terus Berbenah

Jakarta, Aktual.co — Meski sudah menjuarai beberapa kompetisi pra musim, tim Arema Cronus perlu membenahi diri untuk tampil lebih siap di pertandingan Indonesian Super League (ISL) mendatang.
Asisten pelatih, Arema Cronus, Joko Susilo, mengatakan, beberapa aspek seperti kordinasi antar lini masih harus menjadi perhatian serius, Ahmad Bustomi, dkk. “Kami terus melakukan evaluasi kordinasi pada tiap lini, hal ini penting agar permainan lebih baik,” kata Joko Susilo, Sabtu (21/3) di Malang, Jawa Timur.
Gethuk, sapaan akrab pria ini menambahkan, masih belum puas dengan teamwork punggawa Singo Edan, walau hal itu sudah ditunjukkan dengan baik saat melakoni ajang Bali Island Cup. “Kondisi para pemain masih bisa diperbaiki kembali dengan beberapa latihan khusus. Kami tim pelatih sudah merancang program tersebut,” paparnya.
Mantan pemain Arema itu membekali para pemainnya sebelum mereka melakukan tur lagi ke Jawa Tengah dengan latihan fisik berupa fitnes dan latihan lapangan.
Terkait tur Jawa Tengah, Gethuk mengaku akan memboyong dua dua pemain tambahan yang selama ini berada di bangku cadangan. Pada laga melawan Persip Pekalongan dan PSIS Semarang, tim pelatih akan memasukkan nama pemain Arema U-21 masing-masing Wahyu Pambudi dan Ahmad Syaifuddin.
“Kami sudah koordinasi dengan pelatih mereka, dua nama itu yang direkomendasikan untuk bergabung dalam tur Jateng,” terangnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Harga Bawang Merah di Malang Alami Penaikan

Jakarta, Aktual.co — Harga bawang merah di sejumlah pasar tradisional Kota Malang selama sepekan terakhir ini terus mengalami penaikan, bahkan hingga Sabtu mencapai Rp32 ribu per kilogram atau naik lebih dari 100 persen dari harga sebelumnya Rp15 ribu/kg.
Tengkulak bawang merah Muryati, warga Lowokwaru Kota Malang, mengemukakan bahwa pasokan bawang merah dari berbagai daerah sentra produksi dalam beberapa hari terakhir ini agak seret sehingga stok di pasaran berkurang.
Kondisi itu, kata Muryati, memicu harga bawang merah di pasaran naik relatif cukup signifikan. Semula harganya antara Rp13 ribu–Rp15 ribu/kg.
“Selama sepekan terakhir ini harga bawang merah naik sangat drastis, bahkan sekarang sudah mencapai Rp32 ribu/kg dan itu pun kondsisi bawangnya bukan bawang yang kering, melainkan agak basah dan kecil-kecil. Kalau yang agak besar, harganya beda lagi,” kata perempuan yang menekuni dunia perdagangan lebih dari 35 tahun itu, Sabtu (21/3).
Ia mengatakan bahwa harga bawang merah dari petani masih lebih murah daripada yang sudah beredar di pasaran. Namun, bawang yang dari petani masih benar-benar basah dan berdaun sehingga pembeli (tengkulak) masih harus mengeluarkan dana untuk pengeringan dan membersihkan daunnya.
Namun, lanjut dia, harga pembelian bawang merah di Pasar Induk Gadang (PIG) juga masih lebih murah daripada harga di pasaran (eceran) karena pembeliannya bersifat borongan.
“Kalau pas dapat bagus, ya, dapat untung lebih besar. Akan tetapi, kalau pas dapat yang kondisi bagus dan jelek berimbang, ya, tidak dapat apa-apa, bahkan bisa rugi,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Kejati Bantah SP3 Kasus Korupsi Hibah Klenteng

Semarang, Aktual.co — Penanganan kasus dugaan penyelewengan dana bantuan sosial Klenteng Sampo Kong senilai Rp14,5 miliar sejak 6 November 2013 lalu belum ada kejelasan hingga sekarang.
Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah Hartadi berkilah akan menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) karena belum ditemukan kerugian negara dan dua alat bukti sah.
Meski begitu, dirinya tetap meneruskan proses penyidikan sampai saat ini. “Prosesnya tetap berjalan, kita terus berusaha selesaikan. Kita perlu mengetahui dokumen administrasi dana-dana sumbangan dari luar itu bagaimana?. Pihak Sampokong belum memberi kejelasan pembukuan itu,” terang dia di Semarang, Sabtu (21/3).
Hartadi mengatakan, untuk kasus hibah Sampokong saat pertama dilakukan penyelidikan seolah-olah ada penyimpangan, namun setelah ditelusuri sudah dikerjakan lagi. 
“Waktu proyek dana hibah turun, proyek itu sudah dikerjakan Rp.4 miliar, akan tetapi dibayar Rp6 miliar. Pemikiran kita selisih itu dianggap kerugian negara, ternyata mereka malah mengerjakannya lagi,” katanya.
Hartadi mengatakan kendala proses penyidikan pembangunan Klenteng Sampo Kong di gabung dengan dana hibah dari masyarakat. “Jadi kita susah untuk menentukan kerugian negaranya, karena bercampur dananya,” ucapnya.
Pihaknya megaku sudah menelusuri untuk mengetahui kerugian negaranya. Faktanya, susah menghitung kerugian negaranya. “Cara menghitung jumlah kerugian, kayaknya susah. Satu-satunya cara untuk mengetahui kerugian negara dengan menyesuaikan dana sumbangan masyarakat dan dana hibah dengan banguanan yang ada. Artinya, kalau bangunan itu lebih besar dari dana hibah berarti tidak ada kerugian dan sebaliknya bila dana hibah lebih besar dari bangunan berarti ada kerugian negaranya,” ungkapnya.
Diketahui, penyidik Kejati Jateng menetapkan pelaksana pembangunan Sam Poo Kong, Tutuk Kurniawan berdasarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) nomor Print-36/0.3/Fd.1/11/2013, tertanggal 6 November 2013. Diketahui, pada kurun waktu 2011-2012.
Panitia pelaksana telah menerima dana hibah dua tahun secara berturut-burut senilai total Rp14,5 miliar. Bos New Atlas Taxi Semarang itu dicekal untuk bepergian keluar negeri selama enam bulan.
Dugaan penyelewengan dana hibah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah untuk Yayasan Kelenteng Sam Poo Kong Semarang 2011-2012, dengan tersangka Tutuk Kurniawan yang ditangani Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng mandek (berhenti) atau tanpa perkembangan.

Artikel ini ditulis oleh:

Raibnya Uang Pemkot Semarang Temui Titik Terang

Semarang, Aktual.co — Kasus hilangnya dana deposito milik Pemkot Kota Semarang sebesar Rp 22 miliar di Bank BTPN mulai menemui titik terang, setelah kasus sejak Februari 2015 lalu mulai ditangani penyidik Kejaksaan Tinggi Jateng.
Saat ini, penyidik masih melakukan pengumpulan data dan pengumpulan bahan keterangan terhadap mantan karyawan BTPN berinisial DAK yang mendatangi kantor Kejati Jateng di jalan Pahlawan Semarang, Kamis (19/3).
Kedatangannya untuk memaparkan semua kronologi dari awal bagaimana dia mendapatkan klien Pemkot Semarang dan proses penyimpanan dana. Dia juga membeberkan sejumlah nama oknum Pemkot yang terlibat raibnya dana deposito Rp22 miliar itu.
“Kita mulai 2 Februari sudah pull data dan pull paket terkait kasus deposito Pemkot. Sudah diketemukan indikasi korupsi karena itu uang negara. Kemudian DAK kemarin datang, langsung kita periksa. Sejak kemarin (Kamis) kita langsung buat sprin penyelidikan,” kata Kajati Jateng, Hartadi dihubungi, Sabtu (21/3).
Pihaknya saat ini masih pengumpulan data dan bukti, dan tim penyidik sudah memperoleh beberapa bukti-bukti terkait. Bukti tersebut sudah berada di Kejati. Selain itu, tim penyidik juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.
Hanya saja, saksi yang diperiksa baru sebatas dari pihak Bank. Sementara dari Pemkot Semarang belum dilakukan pemanggilan.
Dari pemeriksaan sementara sejumlah saksi, diketahui DAK merupakan orang yang bertugas melakukan pengurusan terkait deposito dana Pemkot. Hanya saja, DAK kemudian sudah tidak bekerja di bank BTPN lagi dan pindah ke Bank swasta di Kelapa Gading, Jakarta.
Berdasarkan data dari BTPN, DAK sudah keluar sejak 2011 lalu. Namun, dari data Kejati Jawa Tengah, DAK bekerja di BTPN sampai 2012 lalu, hingga akhirnya pindah ke Jakarta. 
Atas pengusutan yang dilakukan penyidik Kejati, Hartadi memastikan dalam waktu dekat akan menaikan status dari penyelidikan menjadi penyidikan. Pasalnya, selain bukti sudah diperoleh, penyidik juga sudah mempunyai pandangan calon tersangka.”Sebetulnya secara kasat mata sudah ketahuan itu uang Pemda, berarti perkara korupsi. 
Sementara memang masih saksi, tapi nantinya saya pastikan dia (DAK) menjadi tersangka. Paling lama pekan depan lah kita naikan jadi penyidikan,” ungkapnya.
Sebagai karyawan yang mengurusi dana deposito Pemkot Semarang, DAK selalu membuat tanda penyetoran. 
Oleh DAK, hal itu terus dilakukan meskipun dirinya sudah tidak bekerja di BTPN lagi sejak 2012 sampai sesaat sebelum mencuatnya kasus lenyapnya dana deposito itu.Hartadi meyakini, dalam melakukan aksinya, dirinya tidak bekerja sendirian. 
Sebagai petugas penyetoran, DAK tidak mungkin melakukan sendiri tanpa ada perintah dari orang lain, entah itu dari oknum Pemkot atau pun oknum BTPN sendiri.
“Sebenarnya bukan itu saja, masih ada perkara terkait. Panjang ini kasusnya. Dia ini kalau tidak diperintah, juga tidak mungkin bisa melakukannya. Pasti ada yang menyuruhnya,” jelas Hartadi.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain