7 April 2026
Beranda blog Halaman 37884

Waspada! Harga Pembelian Blok Mahakam Bisa Jadi Sasaran “Begal” Uang Negara

Jakarta, Aktual.co — Dibalik penyerahan seluruhnya blok Mahakam kepada Pertamina, hingga saat ini pemerintah masih bungkam soal harga pembelian Blok Mahakam. Pasalnya, Blok Mahakam yang saat ini dikuasai oleh Total E&P dan INPEX mengaku telah menginvestasikan dana senilai  USD27 miliar atau setara Rp351 triliun (Kurs Rp13.000).

Menurut perjanjian Billateral Investment Treaty (BIT) Indonesia dengan Perancis, nasionalisasi harus memberikan kompensasi harga layak. Jika tidak maka Indonesia dapat digugat ke Arbitrase internasional. Demikian juga menurut UU 27 tahun 2007 tentang Penanaman Modal menyatakan bahwa nasionalisasi harus melalui pembelian.

“Keengganan pemerintah mengumumkan harga Blok Mahakam wajib diwaspadai. Mengingat hal ini rawan sekali dibegal oleh penguasa. Pengalaman Freeport dan Newmont yang memperoleh perpanjangan kontrak secara ilegal melanggar UU Minerba harus menjadi pelajaran,” ujar pengamat energi dari Asosiasi Ekonomi Politik (AEPI) Salamudding Daeng di Jakarta, Kamis (19/3).

Sebagai catatan, Total dan INPEX selama 48 tahun mengaku telah menyumbangkan pendapatan negara senilai Rp750 triliun, atau Rp15 triliun per tahun. Perkiraan pendapatan yang diterima TOTAL dan INPEX bisa mencapai Rp2.250 triliun berdasarkan perhitungan bagi hasil minyak dan cost recovery yang dibayar oleh negara.  

“Jokowi instruksikan penyelesaian Blok Mahakam paling lama satu (1) bulan. Jika kurs sampai akhir April bergerak ke Rp16.000/USD sebagaimana strest test Bank Indonesia (BI) maka harga pembelian Blok Mahakam bisa mencapai Rp432 triliun,” lanjutnya.

Lalu, lanjutnya, bagaimana Pertamina mendapatkan uang sebesar itu. Pemerintah akan meminta perusahaan ini kembali mencetak utang. Padahal Global Bond Pertamina telah mencapai lebih dari Rp100 triliun.

“Sadis juga ya… kalau kekayaan alam kita sendiri harus kita beli dengan harga semahal itu. Ada apa? Mengapa harganya tidak segera diumumkan? Jangan jangan ini akan menjadi sasaran “begal” uang negara,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Dalam Waktu Dekat Bareskrim Periksa Vendor ‘Payment Gateway’

Jakarta, Aktual.co — Mabes Polri tengah membidik vendor dari unsur swasta terkait penyelidikan kasus dugaan korupsi payment gateway di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia tahun 2014.
Polri memastikan akan mendalami siapa saja yang berperan dalam kasus yang diduga merugikan keuangan negara sebesar Rp 32 miliar dan terjadi pungutan liar Rp 605 juta lebih itu.
Termasuk menelisik peran bekas Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana yang diduga kuat terlibat dalam kasus tersebut. “Kita akan dalami semua,” kata Kadiv Humas Polri Brigjen Anton Charliyan di Mabes Polri, Kamis (19/3).
Anton menjelaskan, modus dugaan korupsi dalam kasus ini juga sudah ditemukan. Salah satu modusnya pembukaan rekening. Seharusnya, kata Anton, kalau rekening resmi itu hanya untuk penerimaan dan pengeluaran negara saja.
“Tapi, di sini dibuka rekening terkait keuangan negara yang mengendap di salah satu pihak swasta,” kata Anton.
Meski begitu, Jenderal bintang satu itu enggan membeberkan siapa pembuka rekening, bank yang digunakan,  maupun motif pembukaannya. “Ini masih rahasia, kita belum bisa buka.”
Untuk mendalami perkara tersebut, dalam waktu dekat penyidik Bareskrim akan memanggil vendor-vendor terkait. Hal ini dilakukan untuk memastikan adanya pembukaan rekening.
“Sesegera mungkin (dipanggil). Nanti kita beritahukan. Apakah penunjukan langsung atau tidak langsung, harus diperiksa dulu vendornya,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Terkait Penyerangan Museum, Tunisia Nyatakan Perang Terhadap Terorisme

Jakarta, Aktual.co — Pemerintah Tunisia bersumpah untuk memerangi terorisme, setelah peristiwa serangan bersenjata di Museum Bardo, yang telah menewaskan 19 orang.

Dilansir dari BBC News, pada kejadian tersebut sebanyak 17 turis asal Jepang, Italia, Kolombia, Australia, Prancis, Polandia dan Spanyol, dinyatakan tewas.

Selain itu, dua warga Tunisia, serta satu di antaranya petugas Kepolisian juga tewas dalam serangan yang berlangsung pada Rabu waktu setempat.

Setelah itu, aparat keamanan juga menewaskan dua penyerang, dan terus memburu pelaku lainnya.

Pejabat berwenang menyebutkan, bahwa lebih dari 40 orang terluka, termasuk turis dan warga Tunisia. (Laporan: Karel Ratulangi).

Artikel ini ditulis oleh:

Ahok Stop Berkata Kasar

Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Golkar, Tantowi Yahya memberikan pernyataan terkait polemik Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) versus DPRD DKI Jakarta di Pressroom DPR RI, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (19/3/2015). Menurut Tantowi sebagai pejabat publik, Ahok harus bisa membawa diri dengan tidak bersikap atau mengeluarkan kata-kata yang kasar dan memperbaiki cara berkomunikasi politik yang dinilai buruk terhadap DPRD dan birokrat dibawahnya. AKTUAL/JUNAIDI MAHBUB

Militer Indonesia Siap Perangi ISIS

Militer Indonesia dan Amerika Serikat sepakat perangi ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) hal ini ditegaskan oleh Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko saat menerima kunjungan Duta Besar (Dubes) Amerika Serikat Mr. Robert O. Blake beserta Staf, di ruang tamu Panglima TNI Jl. Merdeka Barat No. 2 Jakarta Pusat, Rabu (18/3/2015). Serta peningkatan kerjasama militer kedua negara yang selama ini telah berjalan dengan baik. AKTUAL/PUSPEN TNI

Cegah WNI Gabung ISIS, BNPT Berharap Agen ‘Tour’ Punya SOP Baru

Jakarta, Aktual.co — Juru bicara Badan Nasional Penanggulang Teroris (BNPT) Irfan Idris meminta pihak agen tour travel harus memiliki standar operasional prosedur baru untuk mencegah perekrutan anggota terorisme.
“Agen tour harus memiliki SOP. Jangan yang diberangkat 70, pulang 30, kalau berangkat 15 ya harus pulang 15,” ujar Irfan di Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (19/3).
Irfan menambahkan banyak agen tour yang tidak mengerti apa yang belakangan ini terjadi. “Dia (agen tour) tidak mengerti apa yang selanjutnya terjadi.”
Sebelumnya salah satu agen tour luar negeri smiling, memberangkatkan 16 WNI untuk berwisata di Turki. Namun demikian hingga saat ini WNI tersebut di tahan pihak Pemerintah Irak. Namun pihak berwenang belum memberitahukan status WNI apakah bergabung dengan ISIS atau karena suatu hal lain.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain