14 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38033

Petani: Operasi Pasar Justru Turunkan Pendapatan Petani

Jakarta, Aktual.co — Petani Desa Tanjungharjo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berharap pemerintah pusat tidak menggelar operasi pasar secara terus menerus untuk menekan harga beras di pasaran.

Salah satu petani Tanjungharjo Tukimin di Kulon Progo, Rabu (4/3), mengatakan, operasi beras akan menurunkan pendapatan petani. “Saat ini, harga beras melonjak hingga Rp10 ribu per kilogram. Menurut kami sebagai petani, harga ini sangat wajar. Kalau pemerintah berusaha menekan harga, kami tidak setuju,” kata Tukimin.

Menurut dia, kalau pemerintah ingin mengangkat kesejahteraan petani, harga beras Rp10 ribu per kg di pasaran harus dipertahankan. Kalau harga beras di pasaran di bawah Rp10 ribu, petani tidak mendapat keuntungan. “Harga beras di pasaran diimbangi dengan naiknya harga gabah di tingkat petani. Kami berharap, pemerintah mempertahankan harga beras ini,” katanya.

Hal senada dikatakan anggota Kelompok Tani Amrih Makmur Nanggulan Suryono, bahwa harga gabah ditingkat petani cukup membanggakan, sehingga bisa menyisihkan sebagian hasilnya untuk ditabung.

Saat ini, harga gabah kering giling (gkg) di tingkat petani sebesar Rp530 ribu per kuintal atau Rp5.300 per kg. Harga beras di tingkat pengecer Rp10 ribu – Rp11 ribu per kg. “Harga ini masih wajar. Hal ini, sebanding dengan biaya tanam hingga panen yang dikeluarkan petani. Berdasarkan perhitungan petani, ongkos kerja naik yakni 1/1000 meter awalnya Rp90 ribu naik menjadi Rp120 ribu. Biaya ini harus dikeluarkan untuk membayar traktor atau buruh tanam,” katanya.

Ia mengatakan harga gabah dan beras bisa turun, setelah petani Purworejo (Jawa Tengah) memasuki masa panen. Petani disana, menjual harga gabah dan beras murah. Selain lahannya yang luas, biaya produksi masih murah. “Harga gabah dan beras di Kulon Progo tidak bisa bersaing dengan Purworejo. Kami berharap, harga gabah dan beras bertahan tinggi,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Masyarakat Indonesia Jangan Terpancing dengan Aksi Pelemparan Cairan di KJRI

Jakarta, Aktual.co — Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana menyampaikan, pascakejadian pelemparan cairan merah ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Sydney, publik di Indonesia hendaknya tidak terpancing.
Publik di Indonesia harus memaklumi protes sebagian publik di Australia atas pelaksanaan hukuman mati dua anggota “Bali Nine”.
“Protes sudah dilakukan mulai dari demo yang legal hingga tindakan ilegal melempar cat merah ke KJRI di Sydney,” jelas dia.
Yang terpenting, kata Hikmahanto, apapun tindakan tersebut, termasuk teror yang ditujukan, pemerintah tidak goyah dalam kebijakan pelaksanaan hukuman mati yang diperkirakan akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
“Pemerintah sudah tepat yang menyesalkan kejadian pelemparan cat merah dalam balon. Pemerintah harus menyerahkan investigasi atas kejadian tersebut kepada otoritas lokal. Investigasi harus dilakukan secara tuntas karena merupakan tindakan kriminal yang menjurus pada teror,” jelas dia.
Sebelumnya, KJRI di Sydney menjadi target aksi pelemparan sebuah balon berisi cairan merah. Aksi itu diduga kuat terkait rencana pelaksanaan hukuman mati terhadap dua warga Australia (anggota “Bali Nine”) yang terjerat kasus narkoba di Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh:

Lulung Tuding Sekda DKI Pernah Lakukan ‘Serangan Fajar’

Jakarta, Aktual.co —Nama Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Saefullah disebut-sebut sebagai orang Pemprov DKI yang jadi ‘aktor’ percobaan suap ke DPRD DKI sebesar Rp12,7 triliun.
Tudingan dilontarkan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Abraham Lunggana (Lulung). Jika sebelumnya hanya disebut angka ‘sogokan’ Rp12,7 triliun dalam bentuk program, keterangan Lulung ikut menambahi.
Kata Lulung, di suatu hari, Saefullah pernah subuh-subuh sambangi rumah Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetio Edi Marsudi. ‘Serangan fajar’ dilakukan agar dewan meloloskan anggaran yang dibuat Pemprov DKI di Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2015.
“‎Datanglah Sekda ke rumahnya Prasetio. Kasihlah sebundel anggaran sebesar Rp12,7 triliun. Kata ketua (Prasetyo) “Untuk apa?”, kata Sekda (Saefullah) ‘Ini ada tanah, ada ini, ada ini, untuk DPRD,” tutur Lulung, di DPRD DKI, Selasa (3/3) kemarin.
Namun, ujar Lulung, program-program yang diminta Saefullah agar diloloskan, saat rapat keesokan harinya yang dipimpin Pras, ternyata ditolak dewan. Salah satunya penyebabnya karena khawatir akan timbul masalah di kemudian hari. “Semua nolak,” ‎ujar Lulung.
‎Kasus ini, sambung Lulung, juga sudah disampaikan ke Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo. 

Artikel ini ditulis oleh:

Pakar: Australia Harus Jamin Keamanan Diplomat RI

Jakarta, Aktual.co — Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana menegaskan Australia harus menjamin keamanan diplomat RI di negaranya, menjelang pelaksanaan hukuman mati terhadap dua anggota “Bali Nine”.
“Pemerintah Indonesia perlu meminta Pemerintah Australia dan kepolisiannya untuk memberi jaminan keamanan bagi semua kantor perwakilan Indonesia di Australia menjelang pelaksanaan hukuman mati,” katanya di Jakarta, Rabu (4/3).
Dia mengatakan dalam hubungan diplomasi antarnegara, negara penerima perwakilan suatu negara wajib menjamin keamanan dari perwakilan suatu negara, tidak saja para diplomatnya, tetapi juga wilayah kantor perwakilan.
Indonesia, menurut dia, telah melakukan kewajiban ini dengan menempatkan sejumlah anggota Polri baik di kedutaan perwakilan negara sahabat maupun kediaman kepala perwakilan.
“Hal yang sama perlu dilakukan oleh otoritas Australia menjelang pelaksanaan hukuman mati,” ujar dia.
Dia menegaskan pemerintah Australia akan dipersalahkan dan bertanggung jawab secara hukum internasional bila gagal menjamin keselamatan para diplomat Indonesia dan keamanan di kantor perwakilan.

Artikel ini ditulis oleh:

Jaksa Agung: Keluarga Duo Bali Nine Masih Bisa Besuk

Jakarta, Aktual.co — Pagi tadi terpidana mati kasus narkoba Myuran Sukumaran dan Andrew Chan dipindahkan ke Lapasan Nusakambangan. Sebelumnya kedunya menghuni Lapas Kerobokan, Bali.
Namun demikian, Jaksa Agung HM Prasetyo tak akan mempersulit bagi keluarga duo Bali Nine itu untuk membesuk keduanya di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
“Selama belum diisolasi, keluarga masih boleh menjenguk. Biasanya isolasi itu beberapa jam sebelum eksekusi,” kata Prasetyo di Istana Negara Jakarta, Rabu (4/3).
Mantan Politikus asal Partai Nasdem itu pun mengatakan, kedua terpidana mati tersebut masih bisa meminta apapun, sebelum eksekusi dilaksanakan. “Termasuk akan kita tanyakan apa permintaan terakhir mereka.”
Kejagung masih terus melakukan evaluasi meski persiapan eksekusi sudah mencapai 95 persen. Masing-masing terpidana mati akan berhadapan dengan 13 orang penembak. “Kita evaluasi lagi mengenai jumlahnya karena ini menyangkut nyawa orang,” kata Prasetyo.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

INAPlas: Usulan Penurunan BM Impor Harus Majukan Industri

Jakarta, Aktual.co — Sekjen Indonesian Olefin & Plastic Industry Association (INAPlas) Fajar Budiyono mengatakan Inaplas mendukung kebijakan Menteri Perindustrian yang akan membahas usulan penurunan bea masuk impor bahan baku plastik dengan semua pihak yang terkait sepanjang mendorong kemajuan industri hulu dan hilir petrokimia nasional.

“Penurunan bea masuk impor bahan baku plastik dari 10 persen menjadi lima persen tanpa pembahasan yang komprehensif dan melibatkan semua pihak, dapat mengganggu keberadaan industri plastik hulu nasional,” kata Fajar saat dihubungi, Rabu (4/3).

Terkait usulan penurunan bea masuk impor bahan baku plastik seperti yang diajukan produsen plastik hilir, Fajar menjelaskan bahwa saat ini bea masuk impor bahan baku plastik dari negara anggota ASEAN sebenarnya sudah tidak ada alias nol persen. Sehingga, produsen plastik hilir bisa mendapatkan bahan baku impor dengan harga yang tidak jauh berbeda dengan produsen bahan baku plastik domestik. Thailand dan sejumlah negara anggota ASEAN lainnya mengalami surplus produksi polypropyelene (PP) dan polyethylene (PE) karena ada penurunan permintaan dari Tiongkok. Bahan baku tersebut dapat diimpor dengan bea masuk nol persen. Seharusnya sudah dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, ujar Fajar.

Fajar menambahkan, impor bahan baku plastik seperti PP dan PE saat ini mencapai 600 ribu ton dari total kebutuhan nasional yang mencapai 1,4 juta ton per tahun. Tingginya impor bahan baku plastik tersebut lantaran kapasitas produsen bahan baku plastik domestik masih di bawah kebutuhan nasional, sebesar 800 ribu ton per tahun.

Mengenai pengenaan bea masuk 10 persen yang ditetapkan pemerintah, kebijakan itu terutama ditujukan kepada negara produsen PP dan PE di luar ASEAN, terutama berasal dari Timur Tengah. Hal itu karena, harga bahan baku plastik dari kawasan tersebut jauh lebih murah dibanding negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. Namun, jika permintaan penurunan bea masuk tersebut dikabulkan, tentunya akan mengganggu industri hulu domestik yang saat ini telah berinvestasi sangat besar dalam meningkatkan kapasitas produksinya.

Fajar mengatakan bahwa saat ini Pemerintah telah memberikan banyak kemudahan untuk industri hilir petrokimia dalam negeri seperti fasilitas tax allowance, tax holiday dan bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP). Inaplas mendukung rencana Menteri Perindustrian untuk mengkaji bersama dalam mengatasi masalah pasokan bahan baku plastik dengan industri hulu dan hilir, sebelum membahas penurunan bea masuk. “Apabila ada jenis bahan baku yang belum tersedia atau belum mencukupi, bisa diusahakan melalui BMDTP sepanjang digunakan untuk produksi dan tidak disalah gunakan,” ujar Fajar.

Fajar menegaskan, sebenarnya yang perlu dikhawatirkan saat ini justru membanjirnya impor produk plastik dalam bentuk jadi ke pasar Indonesia. Sehingga tidak hanya mengancam industri hilir tetapi juga industri hulu. Pemerintah sudah memberlakukan perlindungan dengan memberikan SNI, tetapi banyak beredar produk plastik terutama melamine yang tidak memiliki SNI. Bahkan, kendati pemerintah telah mengeluarkan safeguard dengan bea masuk anti dumping, tetapi produk-produk plastik impor tersebut sampai saat ini masih membanjiri pasar Indonesia.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Cokro Gunawan meminta pemerintah menurunkan bea masuk impor bahan baku plastik dari sepuluh persen menjadi lima persen. Penurunan bea masuk impor tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri hilir plastik karena pasokan di dalam negeri masih kurang. Menurut Cokro, bea masuk impor 5 persen, dapat membuat industri hilir bertahan ditengah gempuran impor produk plastik luar negeri.

Menanggapi usulan penurunan bea masuk tersebut, Menteri Perindustrian Saleh Husin menyatakan akan membahas hal tersebut dengan seluruh pemangku kepentingan, terutama industri plastik hulu. Sebab, pemerintah menginginkan industri hulu dan hilir dapat tumbuh bersama. “Saya tidak dapat langsung memutuskan menurunkan bea masuk impor bahan baku plastik menjadi lima persen. Kita perlu duduk bersama untuk membicarakannya. Karena, kami ingin industri hulu dan hilir sama-sama baik dan berkembang,” kata Menperin Saleh Husin belum lama ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain