13 April 2026
Beranda blog Halaman 38069

DBS Prediksi Neraca Perdagangan Indonesia Surplus di Februari 2015

Jakarta, Aktual.co —  DBS Research Group memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2015 bakal surplus sekitar 400 juta dolar Amerika Serikat, meskipun laju ekspor masih melemah dan belum tertolong depresiasi rupiah.

“Pertumbuhan ekspor masih lemah untuk saat ini,” kata Gundy Cahyadi, ekonom Bank asal Singapura tersebut, melalui pesan elektronik di Jakarta, Jumat (13/3).

Perkiraan surplus Februari tersebut lebih rendah dari surplus neraca perdagangan pada Januari yang sebesar 709,3 juta dolar AS.

“Kami sekali lagi melihat bertumbuhnya impor dengan indikasi masih kuatnya permintaan dari domestik saat ini,” ujarnya.

Penurunan surplus itu dilihat dari perkiraaan DBS bahwa ekspor Februari 2015 turun 9,4 persen dan impor Februari 2015 turun 6,8 persen. Surplus neraca perdagangan pada Januari 2015 didorong dengan raihan ekspor 13,30 miliar dolar AS, sedangkan impor sebesar 12,59 miliar dolar AS. Tingkat ekspor Januari 2015 turun 8,09 persen dibanding periode yang sama tahun lalu atau jika dibandingkan Desember 2014 turun 9,03 persen. Sedangkan impor Januari 2015 turun 15,59 persen dibanding periode sama tahun lalu atau jika dibandingkan Desember 2014 turun 12,77 persen.

Sementara, secara komposisi neraca perdagangan sektor nonmigas mencatat surplus kurang lebih sebesar 740 juta dolar AS, sementara neraca perdagangan sektor migas defisit kurang lebih sebesar 30 juta dolar AS.

Secara terpisah, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati berpendapat ekspansi belanja fiskal pemerintah dan juga belanja BUMN untuk infrastruktur akan mendorong impor barang modal dan bahan baku yang akan berkontribusi untuk defisit neraca perdagangan pada Februari 2015.

“Ekspornya juga masih melemah karena masih anjloknya harga komoditas,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Menteri Anies: Minta Masyarakat Laporkan Jembatan Rusak Untuk Jalur Sekolah

Jakarta, Aktual.co — Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meminta bantuan kepada para kepala sekolah, guru, orangtua dan masyarakat umum untuk melaporkan lintasan-lintasan berbahaya, penuh risiko yang harus diperbaiki.

“Pemerintah siap menampung laporan masyarakat terkait jembatan rusak agar bisa segera diperbaiki,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Jumat (13/3).

Ia mengharapkan masyarakat juga melaporkan lintasan-lintasan yang telah rusak dan bisa mencelakakan anak-anak saat menempuh perjalanan pergi dan pulang dari sekolah.

“Kemdikbud menyadari pentingnya keselamatan anak-anak kita, baik di sekolah maupun di perjalanan menuju ke sekolah dan pulang ke rumah. Banyak lintasan berisiko tinggi yang ditempuh anak-anak kita menuju ke sekolah,” ucapnya.

Untuk itu, kata Anies, laporan dari masyarakat bisa disampaikan melalui kanal sahabat.kemdikbud.go.id.

Anies meminta masyarakat berkenan untuk menyebarkan kabar ini sebagai sikap untuk sama-sama bertanggung jawab atas keselamatan saudara-saudara muda kita yang sedang bersekolah di berbagai pelosok tanah air.

Kemdikbud menyadari bahwa lingkup tanggung jawab yang ada terbatas pada wilayah satuan pendidikan.

“Karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) dan masyarakat akan bergandengan tangan melakukan ikhtiar bersama,” tegasnya.

Kemdikbud dan Kemen-PUPR akan segera merespons dan melakukan langkah-langkah nyata di lapangan untuk melindungi anak-anak kita dari risiko kecelakaan.

“Kemdikbud merasa negara perlu hadir. Sekali lagi, saya ulangi, negara harus hadir,” tutur dia.

Anies memandang tekad ini adalah pengejawantahan dari Nawacita Jokowi-JK poin pertama, yaitu bertekad menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara.

Demikian juga janji kemerdekaan pertama dalam pembukaan UUD 1945 adalah melindungi segenap tumpah darah Indonesia.

Melindungi segenap warga negara, termasuk melindungi siswa-siswa yang akan belajar adalah bagian dari janji kemerdekaan. Pemerintah berniat menjalankan nawacita ini, katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Tanah Kosong Jakarta Bakal Dikenai Pajak Progresif

Jakarta, Aktual.co — Menteri Agraria dan Tata Ruang atau Badan Pertanahan Nasional Ferry Mursyidan Baldan mengatakan akan mengenakan biaya pajak lebih atau progresif untuk tanah atau lahan kosong yang berada di lokasi strategis di Jakarta.

“Jadi kalau ada lahan-lahan di lokasi strategis tapi tidak dimanfaatkan, kita sedang menyiapkan usulan untuk menghadirkan pajak progresif,” kata Ferry di Palangka Raya, Jumat (13/3).

Ferry menjelaskan, Kementerian ATR akan mengusulkan hal tersebut ke Direktorat Jenderal Pajak untuk diterapkan dalam pemungutan pajak bumi. Menteri Ferry berpendapat, penerapan pajak progresif untuk lahan kosong di wilayah strategis diberlakukan karena pemilik tanah dianggap menyia-nyiakan lahan tersebut.

“Tujuannya adalah jika dia menyia-nyiakan lahan dia kena PBB yang berlipat, progresif,” ujar Ferry.

Ferry menilai, apabila lahan kosong tersebut dimanfaatkan dengan pembangunan kantor atau gedung lainnya bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Mengenai jumlah kelipatan pajak, Ferry mengatakan Kementerian ATR masih memperhitungkan angka yang cocok.

“Ya nanti kita hitung, tapi yang pasti lebih dari dua kali lipat. Supaya orang jangan menyia-nyiakan lahan yang ada di tempat strategis,” kata Ferry.

Namun demikian, penerapan pajak progresif untuk lahan kosong di tempat strategis baru bisa dilakukan pada tahun anggaran baru yakni 2016 mendatang.

Ferry mengatakan, perencanaan penerapan pajak berlebih ini tidak hanya dilakukan di Jakarta saja namun juga diterapkan di daerah.

“Termasuk juga nanti perkebunan di wilayah-wilayah produktif akan kena pajak progresif,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Belasan Preman di Tangerang Terjaring Razia

Jakarta, Aktual.co — Aparat Polresta Tangerang, Banten, mengamankan belasan preman yang terjaring operasi penertiban dengan melibatkan aparat Polsek setempat.
“Para preman itu didata dan kemudian dilepaskan berharap tidak berbuat onar,” kata Kapolresta Tangerang Kombes Pol Irfing Jaya di Tangerang, Jumat (13/3).
Menurut dia, para preman yang terjaring operasi di berada di Kecamatan Curug, Cikupa dan Balaraja.
Operasi penertiban itu merupakan tindak lanjut dari perintah Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Unggung Cahyono pada lokasi yang rawan tindak kriminalitas.
Namun para preman yang terjaring itu tidak melakukan tindak kriminal melainkan hanya sedang berada di pinggir jalan dan di terminal bayangan di Bitung, Kecamatan Curug.
Irfing mengatakan razia tersebut merupakan tindakan kepolisian sebagai antisipasi maraknya preman serta aksi pelaku pencurian dengan kekerasan mengunakan sepeda motor (begal).
Pihaknya menghimbau agar masyarakat yang mengetahui adanya tindakan yang mencurigai apalagi mengarah ke pelanggaran hukum agar secepatnya melaporkan ke polisi terdekat.
Dia mengatakan operasi itu juga untuk menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi pengendara selama di jalan raya.
Dalam operasi tersebut Polresta Tangerang menerjunkan sekitar 80 petugas dan mereka disebar pada lokasi publik seperti terminal bus, pasar dan tempat keramaian warga lainnya.
Petugas memeriksa KTP dan identitas lain dari preman dan calo yang berada di terminal dan perempatan lampu merah.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Kejati Aceh Tangkap DPO Kejati Yogyakarta

Jakarta, Aktual.co — Kejaksaan Tinggi Aceh menangkap terpidana korupsi, Djunaedi Muhammad Syaf’i, yang juga masuk daftar pencarian orang (DPO) Kejati DI Yogyakarta.
Kepala Kejati Aceh Tarmizi melalui Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejari Aceh Amir Hamzah di Banda Aceh, Jumat (13/3) mengatakan, terpidana korupsi itu ditangkap di rumah di Simpang Tiga, Kabupaten Bener Meriah.
“Terpidana korupsi itu ditangkap oleh tim Kejaksaan Negeri Redelong, Kabupaten Bener Meriah,” ujar Amir Hamzah.
Penangkapan DPO terpidana korupsi, kata dia, atas permintaan Kejaksaan Negeri Yogyakarta melalui Kejati DI Yogyakarta kepada Kejaksaan Agung dan disampaikan ke seluruh kejaksaan di Indonesia. Dari data Kejaksaan Agung, yang bersangkutan tinggal di kawasan Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah.
Atas informasi tersebut, kata dia, Kejaksaan Negeri Redelong, Bener Meriah, melacak keberadaan DPO. Setelah memastikan alamat dan terpidana, tim kejaksaan menangkap Djunaedi di rumahnya, Kamis (12/3) sekitar pukul 13.00 WIB.
“Setelah menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Redelong, terpidana langsung dibawa ke Kejati Aceh dan selanjutnya diserahkan kepada tim Kejaksaan Negeri Yogyakarta yang datang khusus menjemput terpidana,” kata Amir Hamzah.
Serah terima terpidana berlangsung di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blangbintang, Aceh Besar. Serah terima terpidana dari Kepala Seksi Eksekusi dan Eksaminasi Pidsus Kejati Aceh Mhd Alinafiah Saragih kepada Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Yogyakarta Ajie Prasetya.
Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Yogyakarta Ajie Prasetya mengatakan Djunaedi masuk DPO kejaksaan sejak 2008. Djunaedi merupakan terpidana korupsi dua tahun penjara. Selain itu, ia juga dihukum denda Rp200 juta dan membayar uang pengganti Rp60 juta.
Djunaedi merupakan pegawai Kantor Pelelangan Negara di Yogyakarta. Kasus korupsi Djunaedi mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Pengadilan negeri memvonis Djunaedi satu tahun enam bulan penjara. Selama persidangan yang bersangkutan tidak ditahan.
“Atas putusan PN Yogyakarta, yang bersangkutan mengajukan banding. Namun, bandingnya ditolak dan pengadilan tinggi memperberat hukumannya menjadi dua tahun, membayar uang pengganti Rp200 juta dan mengembalikan kerugian negara Rp60 juta,” kata dia.
Lalu, sebut Ajie Prasetya, Djunaedi mengajukan kasasi. Namun, kasasinya ditolak dan Mahkamah Agung menguatkan putusan Pengadilan Tinggi Yogyakarta pada 2008.
“Sejak putusan kasasi diterima, jaksa tidak bisa mengeksekusinya karena Djunaedi tidak berada di alamat semula. Oleh Kejaksaan Negeri Yogyakarta memasukan yang bersangkutan sebagai DPO ke Kejaksaan Agung,” kata Ajie Prasetya.
Sementara itu, Djunaedi mengatakan dirinya tidak melarikan diri. Ia dan keluarganya pindah ke Aceh karena tidak mempunyai rumah di Yogyakarta.
“Ketika saya terjerat korupsi, saya mengajukan pensiun dini. Di Yogya saya tidak punya rumah. Karena itu, mertua saya menawari tinggal di kebunnya di Bener Meriah. Dari itulah saya pindah ke Aceh sambil menunggu putusan hukum tetap atas kasus yang menimpanya,” kata dia.
Djunaedi menceritakan, kasus korupsi yang menjeratnya ketika ada pelelangan aset bermotor milik Kantor Wilayah Koperasi dan UKM Yogyakarta pada 2004. Saat itu, ia menjadi pejabat lelangnya. Sedangkan pembeli, adalah pegawai di kantor tersebut.
“Kesalahan saya karena tidak teliti soal harga lelang aset. Yang membuat harga adalah pegawai kantor tersebut. Mereka juga yang membelinya. Ternyata, harga yang mereka buat lebih rendah dari perhitungan rillnya, sehingga dianggap ada kerugian negara,” kata dia.
Djunaedi mengakui dirinya bersalah dan siap menjalankan hukuman tersebut. Namun begitu, ia juga berharap penahanannya bisa dipindahkan ke Aceh.
“Nanti, saya akan mengajukan pemindahan tempat penahanan dari Yogyakarta ke Aceh. Apalagi semua keluarga saya di Aceh. Termasuk ada anak saya yang kuliah di Unsyiah, Banda Aceh,” kata Djunaedi Muhammad Syaf’i.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Setelah Beras, Giliran Harga Cabai dan Bawang Merah Melonjak

Jakarta, Aktual.co —  Harga bawang dan cabai merah di pasar tradisional di Kota Sukabumi, Jawa Barat melonjak drastis dalam sepekan terakhir ini dengan kenaikan dari Rp8.000 hingga Rp10.000 setiap kilogramnya.

“Kami belum tahu penyebab kenaikan harga cabai dan bawang merah ini,” kata salah seorang pedagang sayuran, Deni di Pasar Pelita Kota Sukabumi, Jumat (13/3).

Adapun harga bawang merah saat ini Rp26.000/kg yang awalnya hanya Rp16.000/kg, kemudian harga cabai merah dari Rp18.000 menjadi Rp24.000 hingga Rp26.000 /kg. Akibat naiknya harga kedua komoditi bumbu dapur tersebut omset jualannya turun drastis hingga 50 peren, karena banyak pelanggannya mengeluh.

Senada dengan Deni, di Pasar Gudang, Asep Mulyana yang juga merupakan penjual sayuran mengeluh dengan naiknya harga cabai dan bawang merah ini karena biasanya sehari bisa menjual 300 kg, karena kenaikan harga ini paling banyak hanya 150 kg. Sebab banyak pembeli yang biasa membeli satu kilogram, dengan naiknya harga ini menjadi berkurang permintaannya.

“Saya belum tahu apa penyebab utama naiknya harga kedua komoditi ini, tapi informasinya karena dipengaruhi oleh cuaca dan banyak petani yang beralih menanam padi,” tambahnya.

Sementara, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Sukabumi, Ayep Supriatna mengatakan kenaikan harga kedua komiditi bumbu dapur ini disebabkan berkurangnya pasokan, tetapi untuk persediaan masih terpenuhi. Kenaikan ini juga karena cuaca yang tidak menentu sehingga petani pemasok cabai dan bawang merah kerap gagal panen.

“Kami terus memantau pergerakan harga ini, khawatir terjadi lonjakan seperti beberapa bulan lalu yang harga cabai menembus angka Rp100.000/kg,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Berita Lain