Pendeta AS Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual, Diekstradisi ke Brasil
Semarang, Aktual.co — Penangkapan Victor Arden Barbard (53), seorang pendeta Amerika yang menjadi buron karena dituduh melakukan pelecehan seksual membutuhkan waktu selama lima bulan. Polisi Brasil telah bekerja keras mencari seorang pendeta yang melakukan tindakan kriminal seksualitas dengan beberapa wanita di Negara Bagian Minnesota.
“Barnard ditangkap pada Jumat lalu di sebuah rumah,” ungkap Sekretariat Keamanan Publik Rio Grande do Norte.
Banard ditangkap di sebuah rumahnya dekat lembaga pemasyarakatan (LP) bersama seorang wanita berusia 33 tahun. Keduanya dibawa ke penjara Federal di Lagoa, Natal. Kini, keduanya masih menunggu ekstradisi ke AS.
“Barnard diduga melakukan 59 tuduhan penyerangan seksual di Minnesota. Dia dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap dua gadis muda yang menjadi anggota Gereja,” terang US Marshals Service.
CNN melaporkan, hingga sekarang AS terus mencari keberadaan Barnard sejak tahun lalu. Dia menjadi buronan dalam segmen berita CNN “The Hunt Dengan John Walsh” tahun 2014 dan pekan lalu.
Barnard merupakan salah satu sosok dari 15 daftar orang yang dicari oleh pemerintah AS. Bahkan, Kepolisian setempat memberikan sayembara kepada setiap orang yang memberikan informasi keberadaan Benard, akan diberikan hadiah 25.000 USD.
Selain tuduhan kekerasan seksual, Benard juga melanggar hukum untuk menghindari penuntutan.
Pemimpin karismatik
Untuk diketahui, sebagai seorang pendeta, Barnard terinspirasi jemaat dengan karisma dan pengabdian jelas dengan ajaran Yesus Kristus.
“Saya belum pernah bertemu siapa pun, namun yang saya pikir mencintai firman Allah sebanyak Victor Barnard lakukan,” kata Ruth Johnson, mantan anggota Barnard River Road Fellowship.
Barnard mendirikan wadah apa yang disebut “kamp gembala” pada pertengahan 1990-an silam di Pine County. Beberapa jemaat pindah ke kawasan pedesaan tersebut sekitar 100 km sebelah utara dari Minneapolis untuk menjadi bagian dari anggota kamp.
Pada bulan Juni 2000, pendeta itu diduga meyakinkan beberapa anggota jemaatnya untuk menyerahkan putri sulung mereka untuk tinggal bersamanya di sebuah perkemahan terpencil.
Nama Lindsay Tornambe yang disebut, dan orang tuanya mengizinkan putri mereka 13 tahun untuk bergabung dengan sekelompok gadis-gadis di kamp, yang disebut “The Maidens,” di bawah pengawasan Barnard. Jemaat lain mengatakan, bahwa gadis-gadis itu selalu bangun pagi, menjahit, memasak dan bersih-bersih.
“Segala sesuatu yang seorang istri akan lakukan, mereka lakukan untuk dia,” kata Johnson.
Barnard kembali menyatakan, bahwa dirinya adalah Kristus di Bumi.
“Dia mengajarkan bahwa dalam Alkitab, gereja adalah mempelai Kristus dan karena ia Kristus dalam daging, Gereja seharusnya menikah dengan dia,” kata Tornambe.
“Pada waktu itu, saya tidak benar-benar memahami tentang arti dan makna tersebut.”
Keluhan yang diajukan di Minnesota, kata Tornambe, dirinya mengalami pelecehan seksual oleh Barnard dari usia 13-22 tahun. Sementara itu, dia bersama orang tuanya adalah anggota ‘River Road Fellowship’.
Dia mengatakan, kepada penyidik , bahwa kelompok yang terdiri dari sepuluh gadis-gadis muda dan perempuan cantik yang dikenal sebagai ‘Alamoths’, atau gadis. Kelompok tersebut dikirim ke sebuah kamp musim panas, demikian lapor dokumen rahasia tersebut.
Artikel ini ditulis oleh:
















