18 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38307

Pernyataan BW Jadi Sandaran SDA Ajukan Gugatan

Jakarta, Aktual.co — Penetapan status tersangka kepada mantan Menteri Agama (Menag), Suryadharma Ali (SDA) dinilai cacat hukum. Hal itu karena Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum bisa mentaksir kerugian negara akibat dari korupsi yang diduga dilakukan SDA.
Pengacara SDA, Andreas Nahot Silitongan mengklaim bahwa pernyataan mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Wijojanto terkait kerugian negara akibat korupsi SDA dijadikan dasar mengapa dirinya berani menganggap kliennya tidak bersalah.
“Pada 14 Januari 2015 pak BW (Bambang Widjojanto) menyebutkan kerugian negara belum dihitung. Jadi yang membedakan itu kasus korupsi dengan lainnya adalah kerugian negaranya,” papar Andreas, di gedung KPK, Selasa (24/2).
“Bagaimana orang ditetapkan sebagai tersangka, tapi kita belum tahu kerugian negaranya berapa,” jelasnya.
Untuk menguatkan pandangannya itu, Andreas juga mengkritik proses penyelidikan yang dilakukan lembaga anti rasuah. Dia mengatakan, meski sudah hampir 50 saksi yang dipanggil, Abraham Samad Cs masih tidak bisa membuktikan bahwa SDA memang bersalah.
“Pada 22 Mei pak SDA ditetapkan sebagai tersangka. Dan semenjak itu penyidik itu maraton. Panggil saksi sampai 50 saksi dan beberapa keterangan KPK kasus masih 50 persen,” tandasnya.
Seperti diketahui, mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu diduga telah menyalahgunakan wewenang sebagai Menag dengan melakukan upaya untuk memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi. SDA pun mengajukan Praperadilan terhadap kasusnya.
Dia disangkakan telah melanggar Pasal 2 ayat 1 dan atau Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tiptikor) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana juncto Pasal 65 KUHPidana.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Kedaulatan Hukum dan Politik Luar Negeri Indonesia sedang Diuji

Jakarta, Aktual.co — Anggota Komisi I DPR Ahmad Zainuddin mengatakan, bahwa saat ini martabat kedaulatan hukum dan politik luar negeri Republik Indonesia di mata internasional tengah diuji.
Hal itu menyusul sejumlah negara hingga Sekjen PBB menekan pemerintah Indonesia untuk membatalkan kebijakan hukuman mati, dalam kasus kejahatan narkoba.
Karena itu, Zainuddin berpadangan  pemerintah Jokowi harus kuat dan tidak melemah menghadapi tekanan-tekanan tersebut.
“Protes Brasil dan negara lainnya itu bisa dipahami karena pemerintahan lalu mudah memberi grasi dalam kasus narkoba. Pemerintah harus kuat, jangan lemah. Jangan beri peluang,” kata Zainuddin dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (24/2).
Zainuddin melanjutkan, sikap pemerintah Brasil yang menolak untuk menerima Duta Besar RI Toto Riyanto harus ditanggapi dengan tegas dan hati-hati. 
Sikap Presiden Brasil Dilma Rousseff jelas-jelas melecehkan Indonesia sebagai negara. Sikap politik pemerintah Brasil dapat dipahami sebagai sikap diplomatik yang menekan dan memprotes kebijakan politik hukum negara lain. 
Masih kata dia, dalam pergaulan internasional, pasang surut hubungan bilateral adalah hal yang biasa. Pemerintah RI harus hati-hati dalam mengelola konflik dalam hubungan ini.
Ketua DPP PKS ini memprediksi, penundaan penerimaan mandat duta besar RI akan terus dilakukan Brasil sampai eksekusi mati gelombang kedua terhadap gembong narkoba.
“Salah seorang  gembong narkoba yang akan dieksekusi mati nanti kan juga dari Brasil. Gelombang yang pertama juga ada warga mereka,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Hikmahanto: Presiden Brasil Harus Minta Maaf ke Indonesia

Jakarta, Aktual.co — Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana mengatakan Presiden Brasil Dilma Rousseff dan pemerintahannnya harus meminta maaf kepada Indonesia atas insiden penolakan surat kepercayaan Duta Besar Indonesia Toto Riyanto.
“Dalam posisi sekarang ini pemerintah Indonesia sebaiknya tidak mengembalikan Dubes Toto Riyanto ke Brasil sebelum adanya permohonan maaf dari presiden dan pemerintah Brasil,” ujar Hikmahanto, di Jakarta, Selasa (24/2).
Indonesia lebih baik mengosongkan posisi Dubes di Brasil bila Brasil belum juga menyampaikan permintaan maaf. Harga diri negara dan bangsa harus menjadi keutamaan.
Dia memandang Presiden Brasil Dilma Rousseff ketika menunda penerimaan surat kepercayaan telah mencampuradukkan antara perasaan pribadi dengan kapasitas sebagai presiden.
“Tidak seharusnya kemarahan atau kekecewaan Presiden Dilma sebagai pribadi terhadap pelaksanaan hukuman mati di Indonesia dicerminkan dalam kedudukannya sebagai Presiden Brazil,” ujar dia.
Pemerintah Indonesia bukan tidak mungkin mengambil tindakan tegas sebagai respons dan tuntutan masyarakat dan politisi yang tidak bisa menerima pelecehan diplomatik yang dilakukan oleh Presiden Dilma.

Artikel ini ditulis oleh:

Lion Air Diduga Gelapkan Asuransi Delay Lebih Dari Rp1 Triliun

Jakarta, Aktual.co —  Direktur Executive Institute for Strategic and Indonesian Studies (ISIS) Kisman Latumakulita menduga maskapai Lion Air telah menggelapkan uang asuransi keterlambatan penerbangan (delay) sebesar Rp 15.000 per penumpang. Dana delay tersebut disetor dan disatukan dengan harga tiket yang dibayar oleh penumpang saat membeli tiket.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011 Tentang Tanggungjawab Pengangkut Angkutan Udara, terutama pada Pasal 1 dan 2, mewajibkan setiap maskapai penerbangan untuk mengasuransikan keterlambatan penerbangan (delay).

Dijelaskan oleh Kisman, sejak periode 2011 – 2014 Lion Air mengangkut penumpang rata-rata 25 juta setiap tahun. Dalam tiga tahun terakhir Lion Air mengangkut sekitar 75 juta penumpang.

“Jika Lion Air memungut Rp. 15.000 saja dari setiap penumpang, maka total dana delay yang dipungut oleh Lion Air sebesar Rp 1,125 triliun, “ujar Kisman Latumakulita yang juga fungsionaris Partai NasDem dalam siaran pers yang diterima Aktual.co, Selasa (24/2).

Harga asuransi delay bervariasi antara Rp 10.000 – Rp 25.000 setiap penumpang. Harga tengahnya Rp 15.000 per penumpang. Lazimnya disatukan dengan harga tiket, sehingga setiap keterlambatan sudah ada jaminan asuransinya. Tidak perlu lagi ditalangi oleh PT Angkasa Pura seperti yang terjadi sekarang.

“Jika kekacauan penerbangan Lion Air selama tiga hari minggu kemarin, yang mengakitbatkan ribuan penumpang Lion Air tidak terangkut karena delay, maka bisa langsung dibayar oleh perusahaan asuransi. Namun bila tidak dibayar oleh perusahaan asuransi, maka patut diduga manejemen Lion Air tidak menyetorkan asuransi delay sekitar Rp 1,125 Triliun ke perusahaan asuransi, “ujar Kisman

“Bila terbukti Lion tidak menyetorkan asuransi delay ke perusahaan asuransi, maka ada dua langkah yang bisa dilakukan masyarakat. Pertama, menggugat secara perdata Lion Air ke pengadilan, termasuk laporan pidana penggelapan ke polisi. Kedua mendesak Menteri Perhubungan untuk mencabut sementara izin operasional Lion Air satu sampai tiga bulan, ” ujar mantan wartawan beberapa media massa nasional tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Subhanallah! Hijab Bunda Maria Bertuliskan Lafaz “Laa Ilaaha Illallah”

Jakarta, Aktual.co — Sepintas, tak ada yang aneh dan istimewa dengan lukisan Bunda Maria ini. Seperti lukisan pada umumnya, sosok Sang Perawan Suci dalam agama Kristiani ini  memang terlihat begitu anggun dengan baju kebesarannya, pun dengan hijab yang selalu bergelayut di kepalanya.

Namun coba perhatikan dengan seksama, sekejap Anda akan dibuat terperangah hebat oleh inskripsi arab yang terdapat di tepian hijab yang dikenakan Bunda Maria dalam lukisan yang satu itu.

Seperti halnya kami dan Anda, Hanum Salsabila Rais, puteri dari Amien Rais sekaligus penulis buku 99 Cahaya Dilangit Eropa sempat dibuat tercengang ketika mengetahui bahwa inskripsi arab yang mengukir di tepian kain hijab yang dikenakan Bunda Maria itu adalah lafaz tahlil ‘Laa Ilaaha Illallah”

Dalam buku yang kemudian difilmkan dan menjadi salah satu film layar lebar terlaris, Hanum memaparkan kisah perjalanannya menjelajahi jejak peradaban Islam yang ada di Eropa. Ia bersama suaminya, Rangga Almahendra membelah peradaban Islam dari Eropa Barat hingga Eropa Timur. Sesampainya di Paris, Hanum pun dibuat tercengang oleh beberapa peninggalan dari peradaban Islam di kota ini dulunya.

Museum Louvre, adalah tempat penyimpanan berbagai benda berharga milik Perancis. Di Museum inilah, lukisan Monalisa yang terpopuler itu berada. Dan disini pula lukisan menakjubkan yang dimaksud Hanum itu berada.

Adalah lukisan karya Ugolino berjudul “The Virgin and The Child” dimana dalam lukisan itu nampak sosok Bunda Maria sedang menggendong Yesus bayi. Yang mencengangkan, di hijab Bunda Maria dalam lukisan itu terdapat tulisan Arab Pseudo Kufic. Yang setelah diteliti oleh peneliti Arab World Institute, ternyata tulisannya adalah “Laa Ilaaha Illallah”.

Hanum juga mendapati banyak tulisan Arab Kufic di lukisan artefak umat Khatolik. Termasuk tulisan Arab Kufic di jubah seorang raja Katolik taat yaitu Raja Roger II of Sicily dari Austria.

Marion, sahabat Hanum  yang juga seorang  peneliti peradaban Islam Abad Pertengahan yang ahli membaca tulisan Arab Kufic menjelaskan bahwa dulu Timur Tengah dikenal dengan ilmu pengetahuan, seni dan budayanya. Sehingga banyak orang Eropa bepergian ke Timur Tengah dan membeli kain, permadani, lukisan dan lain sebagainya. Dalam barang-barang yang diperdagangkan itu seringkali terdapat tulisan tauhid seperti di atas dan akhirnya ditiru oleh orang-orang Eropa.

Tak hanya soal hijab Bunda Maria yang bertuliskan lafaz “Laa Ilaaha Illallah” Hanum dan Marion membeberkan fakta tentang Axe Historique atau Voie Triomphale yang bermakna ‘Jalan Kemenangan’ yang mereka kaitkan dengan keberadaan bangunan bersejarah di kota Paris itu dengan Mekkah. 

Bangunan-bangunan dan lokasi bersejarah di Paris yaitu Monumen le Defense, Arc du Triomphe de l’Etoile, jalan Champ Elysees, Tugu Obelisk, Arc du Triomphe de Carrousel dan Museum Louvre disebut berada pada satu garis lurus dan garis tersebut mengarah ke Ka’bah (Makkah), Arab Saudi.

Jika  ditarik garis lurus Axe Historique ke timur, terus keluar kota Paris dan terus menembus benua lain, ternyata bisa menembus Mekkah. Tepatnya Negara pertama di timur tenggara Paris adalah Swiss, di bawahnya adalah Italia, kemudian Yunani. Menyeberangi Laut Mediterania, ada Mesir, lalu Arab Saudi dan Mekkah. Dan itulah jalan kemenangan yang dimaksud yaitu Mekkah, Kiblatnya umat Islam.

“Maha suci Engkau. Dunia ini bagaikan samudera tempat banyak ciptaan-ciptaan-Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah SWT. Jadikan ketakutanmu pada Allah SWT sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nakhoda perjalannanmu dan sabar sebagai jangkar dalam setiap badai dan cobaan” (Ali bin Abi Thalib RA)

(Laporan: Tri Harniangsih/ Sumber: Novel dan Film Layar Lebar 99 Cahaya Dilangit Eropa)

Artikel ini ditulis oleh:

Eksekusi Mati, Indonesia Diminta Tak Lemah Hadapi Tekanan Asing

Jakarta, Aktual.co — Anggota Komisi I DPR Ahmad Zainuddin meminta pemerintah Indonesia tidak lemah menghadapi tekanan negara asing dan PBB yang mendesak Indonesia membatalkan kebijakan hukuman mati.
“Sejumlah negara hingga Sekjen PBB (Ban Ki-moon) menekan pemerintah Indonesia untuk membatalkan kebijakan hukuman mati. Pemerintah Jokowi harus kuat dan tidak melemah menghadapi tekanan tersebut,” kata Ahmad Zainuddin di Jakarta, Selasa (24/2).
Menurut Zainuddin, protes Brasil dan negara lainnya itu bisa dipahami karena pemerintahan sebelumnya mudah memberi grasi dalam kasus narkoba. Martabat kedaulatan hukum dan politik luar negeri RI saat ini tengah diuji. “Pemerintah harus kuat, jangan lemah. Jangan beri peluang,” ujarnya.
Ketua DPP PKS itu menjelaskan, sikap pemerintah Brasil yang menolak untuk menerima Duta Besar RI Toto Riyanto harus ditanggapi dengan tegas dan hati-hati. Menurutnya, sikap Presiden Brasil Dilma Rousseff, melecehkan Indonesia.
“Sikap politik pemerintah Brazil dapat dipahami sebagai sikap diplomatik yang menekan dan memprotes kebijakan politik hukum negara lain.”
Dalam pergaulan internasional, pasang surut hubungan bilateral adalah hal yang biasa dan pemerintah RI harus hati-hati dalam mengelola konflik dalam hubungan ini.
Diperkirakan penundaan penerimaan mandat duta besar RI akan terus dilakukan Brasil sampai eksekusi mati gelombang kedua terhadap gembong narkoba.
Sikap diplomatik yang ditunjukkan Kementerian Luar Negeri dengan memanggil pulang sebagai protes dan menyampaikan nota protes atau diplomatik sejauh ini sudah cukup baik.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain