15 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38524

Kritik UAE, Pimpinan IM Dipenjarakan Yordania

Jakarta, Aktual.co —Pengadilan Yordania memutus bersalah dan memenjarakan ketua Ikhwanul Muslimin di Yordania pada Ahad (14/2), kerena telah mengkritik Uni Emirat Arab (UAE) di depan publik. Pengadilan militer memvonis Zaki Bani Rushaid hukuman penjara 18 bulan setelah mendakwanya atas kritik dan keterkaitan dengan negara asing, kata seorang sumber pengadilan kepada Reuters.

Pengacara Bani menyebut tuduhan itu ilegal dan ancaman terhadap kebebasan berpendapat. Bani adalah tokoh politik yang paling terkenal yang dipenjara di Yordania setelah bertahun-tahun. Bani Rushaid, tokoh dari Ikhwanul Muslimin yang menjadi oposisi terbesar Yordania, ditangkap pada November lalu setelah mengkritik UAE di media sosial, menyebutnya teroris dan melayani kepentingan Israel. Penangkapannya itu dikecam oleh kelompok hak asasi manusia.

UAE adalah salah satu pendukung utama keuangan Yordania dan kedua negara adalah sekutu dekat politik dan sama-sama berpartisipasi dalam serangan udara pimpinan AS terhadap ISIS di Suriah dan Irak. Pengacara Bani Rushaid, Saleh Armouti, mengatakan pengadilan itu ilegal dan putusannya bermuatan politik, bertujuan untuk menghambat gerakan Islam. “Ini adalah kematian kebebasan berbicara dan sebuah pedang yang mengancam siapa saja yang berani mengekspresikan pandangan pribadinya.” Namun pejabat pemerintah Yordania membantah bahwa putusan itu bermotif politik dan mengatakan Bani Rushaid diberi pengadilan yang adil.

Ikhwanul Muslimin Yordania, yang memiliki dukungan akar rumput yang cukup besar, mengatakan dalam sebuah pernyataan putusan itu ”merepresi kebebasan dan menyita hak-hak individu dan bukti mundur rezim dari (politik) reformasi.” Organisasi ini memiliki hubungan ideologis dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir, yang dilarang di Mesir sejak Desember 2013. Meski begitu, kedua kelompok tidak secara langsung berafiliasi.

Bani Rushaid adalah politisi paling menonjol yang ditangkap setelah tokoh oposisi Laith Shubailat, seorang oposisi yang menentang perjanjian perdamaian antara Yordania dan Israel pada 1994, yang ditahan pada tahun 1995. Sejak penangkapan Bani Rushaid, beberapa menteri dalam pemerintahan Yordania telah menyerukan agar kelompok Ikhwanul MUslimin dilarang beroperasi sebagai partai politik.

Obama Bicara, Sistem Komputer Mendadak Rusak

Jakarta, Aktual.co —Entah ini pembajakan atau bukan, namun sistem komputer sebuah hotel di San Fransisco, dimana Presiden AS Barack Obama menginap, mendadak tak bisa digunakan. Padahal presiden Obama dijadwalkan akan berbicara tentang keamanan dunia maya. Obama tiba di San Fransisco pada Kamis (12/2), untuk menjadi pembicara tentang pentingnya menjaga keamanan penggunaan internet dan keuntungannya bagi perusahaan. Namun, dua hari sejak kedatangannya, jaringan internet di Hotel The Fairmont, mendadak tak bisa digunakan.

“Tentu saja tak bisa dipastikan apakah ini peretasan atau bukan. Belum ada bukti yang bisa kami sampaikan,” kaya Thomas Klein, manajer umum hotel tersebut, saat mengomentari kasus ironi ini. “Ini semua hanya kebetulan saja,” katanya menegaskan. Sejak kedatangan, tim kepresidenan sudah tak bisa menggunakan kartu kredit untuk melakukan pembayaran. Selembar kertas terpaksa harus mereka isi untuk proses administrasi. Sistem operasi komputer masih bermasalah saat presiden mengakhiri kunjungan, Sabtu pagi (14/2).

ISIS Eksekusi Warga Nasrani Mesir, El-Sisi: Saya akan Balas

Jakarta, Aktual.co —Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi mengatakan mereka akan menuntut balas pada ISIS yang telah menculik dan mengeksekusi 21 warga Kristen Koptik Mesir. Pembunuhan itu ditayangkan dalam video dan dirilis pada Ahad (15/2). Diberitakan Reuters, berbicara beberapa jam setelah video tersebut dirilis, Sisi mengatakan bahwa Kairo akan “mencari cara dan waktu yang tepat untuk membalas dendam atas pembunuhan tersebut.”

Mantan jenderal Mesir itu juga telah bertemu dengan para komandan tinggi militer untuk membahas eksekusi tersebut. Sisi juga menetapkan tujuh hari masa berkabung. Gereja Koptik Mesir percaya bahwa pemerintah bisa menegakkan keadilan atas kelompok teroris tersebut. Sementara itu, institusi pembelajaran Islam terbesar di Mesir, Al Azhar, mengecam eksekusi itu dan mengatakan bahwa tidak ada agama yang mendukung tindakan barbar tersebut.

Video pemenggalan 21 warga Mesir dirilis oleh sayap media ISIS, Al Hayat Media Center, Minggu kemarin. Seperti yang sudah-sudah, video ISIS itu dikoreografi dengan apik, para tereksekusi mengenakan pakaian oranye, dibelakang mereka para militan memegang belati. Warga Mesir ini diculik saat bekerja di Libya. Keluarga korban telah mendesak Kairo untuk berusaha keras membebaskan mereka. Di daerah miskin Minya di Mesir, keluarga korban berteriak dan pingsan saat mendengar berita tersebut.

Mesir, negara paling padat populasi di Arab, tidak terlibat secara langsung dalam koalisi penggempur ISIS yang dipimpin Amerika Serikat. Mesir hanya mengambil peranan memberangus pergerakan militer di perbatasan negaranya. Sisi mengatakan dia telah memberikan perintah bagi pemerintah Mesir untuk menyediakan dukungan penuh bagi keluarga korban dan memperketat larangan perjalanan bagi warganya ke Libya.

Dia juga telah memerintahkan Menteri Luar Negeri Sameh Shoukri untuk pergi ke New York dan melakukan pembicaraan dengan pejabat PBB serta anggota Dewan Keamanan untuk “menempatkan komunitas internasional sesuai dengan tanggung jawabnya dan melakukan prosedur yang sesuai dengan konvensi PBB serta menyatakan bahwa apa yang terjadi di Libya telah mengancam keamanan dan perdamaian internasional.”

Kelompok bersenjata di negara tetangga sebelah barat Mesir, Libya, tumbuh subur setelah tergulingnya Moammar Gaddafi pada 2011. Beberapa di antara kelompok militan itu menyatakan berbaiat terhadap ISIS. Khawatir konflik Libya akan merambat hingga Mesir, pemerintahan Sisi meningkatkan kemampuan militernya. Dari Perancis, Mesir akan memesan 24 jet tempur Rafale, kapal fregat dan perangkat militer lainnya sanilai lebih dari US$5,7 miliar.

Presiden Perempuan Pertama Kroasia Dilantik

Jakarta, Aktual.co —Presiden perempuan pertama Kroasia, Kolinda Grabar-Kitarovic, diambil sumpah, Ahad (15/2/). Grabar-Kitarovic pun bertekad akan membantu mengangkat perekonomian negaranya yang bermasalah. “Saya akan menjadi diplomat tertinggi ekonomi negara kita,” katanya dalam pidato peresmiannya sebagai presiden di Ibu Kota Zagreb, seperti dilansir AFP, Senin (16/2/2015). Grabar-Kitarovic menyatakan tekad untuk melakukan langkah terbaik untuk membuat Kroasia menjadi bangsa yang sejahtera. Mantan Menteri Luar Negeri berhaluan konservatif ini mengalahkan pendahulunya yang beraliran sayap kiri, Ivo Josipovic, dalam pemilihan ulang pada Januari.

Grabar-Kitarovic pun menghidupkan harapan keanggotaan Kroasia di Uni Eropa. Sebab, harapan ekonomi negara kecil di Adriatik berpenduduk 4,2 juta orang itu selama ini telah memudar. “Hampir dua tahun dalam keanggotaan (Uni Eropa), saya ingin kita semua memulai kehidupan sebagai anggota Uni Eropa,” imbuh dia. Perekonomian Kroasia, yang diterpa resesi selama enam tahun, masih menjadi yang paling lemah di antara 28 negara anggota Uni Eropa. Pengangguran berada di angka 20 persen dan pemerintah memperkirakan pertumbuhan tahun ini hanya akan mencapai 0,5 persen.

Grabar-Kitarovic pernah menjadi menteri luar negeri dan hubungan Eropa dari 2003 hingga 2008. Ia pernah menjabat sebagai duta besar Kroasia untuk Amerika Serikat hingga 2011 sampai ia ditunjuk sebagai asisten sekretaris jenderal NATO.

SKK Migas: Penyerapan LNG Domestik Terkendala Infrastruktur

Jakarta, Aktual.co — Penyerapan gas dalam bentuk LNG untuk domestik belum optimal karena terhambat ketersediaan infrastruktur dan belum maksimalnya penyerapan oleh fasilitas yang sudah dibangun.

“Pasar domestik seharusnya dapat mengoptimalkan penyerapan kelebihan kargo LNG,” kata Kepala Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudianto Rimbono di Jakarta, Senin (16/2).

Ia mengatakan, dari alokasi LNG sebanyak 38 kargo tahun lalu hanya terserap sekitar 94,74 persen. Dia mengakui ada beberapa sebab sehingga alokasi tersebut tidak dapat diserap, seperti kurangnya infrastruktur dan tidak optimalnya penyerapan fasilitas penerima LNG di dalam negeri.

Target penyerapan LNG oleh pasar domestik tahun lalu masih belum terpenuhi. “Kalau melihat komitmen awal pembelian, FSRU Lampung yang seharusnya dapat menyerap lima kargo, masih belum optimal karena baru terealisasi tiga kargo,” katanya.

Untuk fasilitas lain, seperti Arun masih dalam proses persiapan sedangkan Nusantara Regas sudah sesuai komitmen 100 persen, kata Rudianto.

Untuk tahun ini, pemerintah dan SKK Migas mematok kenaikan jumlah kargo LNG yang dapat disalurkan ke domestik.

Peningkatan tersebut setelah melihat adanya potensi peningkatan permintaan setelah Regasifikasi Arun selesai dan beroperasi dan potensi pengalihan pasokan untuk PGN yang tahun lalu belum terserap ditambahkan pada tahun ini.

“Sehingga kami berharap infrastruktur yang sudah beroperasi di tahun ini dapat mengoptimalkan alokasi yang sudah kami siapkan. Hal ini penting karena tidak optimalnya penyerapan LNG oleh pasar domestik akan berdampak pada penerimaan negara,” tegasnya.

Pengamat migas, Marwan Batubara mengatakan, penyerapan gas domestik yang tidak sesuai dengan komitmen tentu saja menyebabkan selain kehilangan potensi penerimaan Negara juga potensi ekonomi yang dapat diciptakan apabila LNG itu dapat diserap.

Dia juga menyayangkan FSRU Lampung mengalami kerusakan hingga dua kali sehingga mengganggu penyerapan LNG.

“Ini tentu saja menyebabkan Negara rugi dua kali. Penerimaan tidak dapat, dan di sisi lain dampak positif multiplier effect dari pasokan LNG apabila terserap dengan baik pun tidak terjadi,” katanya.

Marwan juga mengusulkan agar pemerintah tetap memberikan prioritas kepada pasar domestik untuk LNG yang tidak terserap oleh konsumen yang sudah terkontrak.

“Kalau ternyata pasar domestik memang belum mampu menyerap, baru ekspor dapat dilakukan yang tentu saja dengan syarat-syarat yang ketat,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Warga Yahudi di Denmark Makin Khawatir

Jakarta, Aktual.co —Anat Taboul duduk di lantai di sebuah ruangan pengamanan di sebuah sinagoga di Kopenhagen, Denmark, pada Sabtu (14/2) malam. Di sebelahnya, duduk pula anaknya yang berusia 13 tahun, Noah. Mereka adalah korban selamat dari serangan oleh seorang pria yang menewaskan satu warga di sinagoga tersebut. Taboul mengerahkan segala daya untuk mencegah anak-anak di sekitarnya agar tidak merasa ketakutan di tengah kegentingan.

“Semua orang dewasa melihat mata orang lain dan kami berpikir bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Kami takut ada teroris di dalam bangunan, tapi kami tidak bisa mendiskusikannya karena kami mau melindungi anak-anak,” tutur Taboul seperti dikutip The Independent pada Ahad (15/2).

Taboul kemudian mengisahkan awal mula malam mencekam tersebut. Kala itu, pesta disko dalam rangka merayakan Bar Mitzvah dari seorang anak baru saja dimulai ketika Tobias, salah satu dari dua penjaga sukarelawan, tiba-tiba mematikan musik dan menyuruh semua orang lari ke ruang bawah tanah. “Ia mengatakan bahwa polisi telah memberikan informasi kepadanya bahwa kami harus berada di sini (ruang bawah tanah) dan itu hanya sebuah prosedur keselamatan,” ujar Taboul. Namun, para orang dewasa menganggap ini hanyalah cerita yang diciptakan untuk menghindari kepanikan anak-anak.

Dentum musik disko ternyata meredam suara tembakan yang akhirnya menewaskan rekan Tobias, Dan Uzan, dan melukai lima petugas kepolisian lainnya. “Kami tidak mendengar apapun, tapi kami bisa melihat dari sorot matanya bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi,” ucap suami Taboul, Yoav. Saking tebalnya dinding ruang bawah tanah, hingga hanya satu orang yang dapat menerima sinyal telepon. Namun, para orang dewasa cukup mengerti bahwa seluruh Kopenhagen sedang dijaga ketat oleh polisi.

“Kami berdiam di dalam ruang kecil selama dua jam. Kami sangat kepanasan tanpa apapun di dalam. Kami hanya duduk di sana dan anak-anak menangis, kami menjaga kami,” kata Yoav. Setiap anak yang datang tanpa teman didampingi oleh seorang dewasa. Setelah dua jam, Tobias akhirnya mengevakuasi mereka dengan aman. Di luar, pasukan khusus Denmark telah bersiaga untuk mengantar mereka ke kantor polisi di luar Kopenhagen.

Di kantor polisi, mereka ditempatkan bersama warga lain yang dievakuasi dari serangan di salah satu kafe di Kopenhagen yang terjadi sepuluh jam sebelum baku tembak di sinagoga. Serangan itu terjadi ketika kartunis penggambar Nabi Muhammad, Lars Vilks, tengah menjadi pembicara dalam diskusi kebebasan berpendapat di kafe tersebut. “Di sana ada psikolog untuk membantu para anak. Saat itu situasi sangat krisis. Orang yang sama melakukan (penembakan) dua penembakan ini dalam satu hari. Ia berkata bahwa ini adalah hari terburuk dalam hidupnya,” papar Yoav.

Menghadapi perkembangan anti-Semit yang pesat, umat Yahudi di Kopenhagen memang telah meningkatkan kewaspadaan. Taboul mengaku tidak lagi memakai kalung bintang Daud setelah ada ancaman berupa coretan  graffiti di tembok sekolah anaknya. “Kami biasanya merasa aman datang ke sinagoga. Namun, kami selalu berpikir, ‘Mungkin sesuatu akan terjadi suatu saat,’ karena tidak pernah ada polisi di sini.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengajak umat Yahudi Eropa untuk mengungsi ke Israel. “Yahudi layak mendapatkan pengamanan di semua negara, tapi kami berkata kepada umat Yahudi, kepada saudara-saudari kami, Israel adalah rumah kalian. Kami menyiapkan dan menyerukan penyerapan imigrasi besar dari Eropa,” kata Netanyahu. Kendati keamanan mereka terancam, namun masyarakat Yahudi di Denmark menolak ajakan Netanyahu tersebut. “Kami menghargai undangan tersebut, tapi kami warga Denmark, ini adalah negara kami,” kata Dan Rosenberg Asmussen, kepala Perhimpunan Yahudi di Denmark, usai menyampaikan belasungkawa di sinagoga tempat penembakan.

Seorang fotografer dan mantan sukarelawan penjaga Sinagoga Kopenhagen kemudian menjabarkan alasan pribadinya. Menurutnya, perlakuan umat Yahudi di manapun akan tetap sama. “Kami akan mendapatkan serangan lain di sinagoga atau sekolah Yahudi. Anak saya berada di sana (Israel), tapi Anda tidak bisa melarang anak saya pergi ke sekolah Yahudi karena itu berarti Anda memotong kehidupan Yahudi.

Anak saya tahu bahwa jika ia mendengar suara tembakan, mereka harus segera tiarap. Itu hanya bagian hidup seorang Yahudi. Warga Denmark lain hidup di dunia yang sangat berbeda. Saya bersimpati (dengan apa yang ditawarkan Netanyahu), tapi tentu saja kami memilih untuk tidak hidup di sana,” paparnya.

Berita Lain