3 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38556

IPW: Polisi Surati Presiden Soal Status Tersangka BW

Jakarta, Aktual.co — Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menyebutkan mendapat informasi bahwa Polri sudah mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo terkait penetapan tersangka Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto.
“Kemarin kita dapat informasi Mabes Polri sudah mengirim surat ke presiden bahwa penetapan Bambang Widjojanto (BW) sebaga tersangka itu sudah sah,” kata Neta di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (13/2).
Oleh karena itu menurut Neta presiden haru mengeluarkan keputusan presiden (keppres) untuk memberhentikan sementara Bambang Widjojanto.
“Sehingga tidak ada pilihan lain lagi kepada presiden untuk tidak mengeluarkan keppres untuk menonaktifkan sementara Bambang Widjojanto sebaga pimpinan KPK,” ucap dia.
Neta juga mengatakan presiden seharusnya segera mengeluarkan keppres tersebut.
“Dan itu harus dilakukan segera saya kira. Kita berharap sore ini kepres itu keluar,” ujar dia, berharap.
Sebelumnya pada sidang praperadilan Budi Gunawan, Rabu (11/2), saksi ahli pihak pemohon Romli Astasasmita mengatakan seharusnya KPK menyurati presiden terkait komisionernya yang menjadi tersangka untuk memberhentikan sementara pimpinan yang bersangkutan.
“Presiden tak serta merta melakukan itu (pemberhentian sementara) tanpa ada surat dari KPK,” kata Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Pengamat: Akses Rahasia Bank Berpotensi Bencana Ekonomi

Jakarta, Aktual.co — Pengamat ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Agus Tony Poputra mengatakan kemudahan yang diberikan pemerintah untuk akses fiskus rahasia bank, berpotensi menimbulkan bencana ekonomi di Indonesia.

“Pemerintah agar membatalkan niat mendapatkan kemudahan akses fiskus terhadap rahasia bank lewat otoritas jasa keuangan (OJK),” kata Agus, di Manado, Jumat (13/2).

Dia mengatakan kemudahan tersebut akan mendorong “capital flight” sehingga berpotensi menimbulkan bencana ekonomi nasional lewat sektor perbankan.

Agus menjelaskan, saat ini saja likuiditas perbankan sudah ‘lampu kuning’, ditandai dengan posisi loan to deposit ratio (rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) perbankan sudah di atas 90 persen, akhir Desember 2014 bahkan mencapai 92,35 persen.

Kondisi ini disebabkan pertumbuhan kredit selama ini (kecuali tahun 2014) selalu jauh di atas pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), yaitu di atas 20 persen. Sementara pertumbuhan DPK berada di bawah 20 persen dan terus melambat bahkan pada 2014 hanya sebesar 12,1 persen.

Apabila Bank Indonesia (BI) tidak mengerem pertumbuhan kredit pada tahun 2014 lewat BI Rate yang tinggi (yang juga untuk mengendalikan inflasi) maka bukan tidak mungkin LDR perbankan pada akhir 2014 sudah berada pada kisaran 99 persen.

Namun katanya, kebijakan mengerem kredit bukan tanpa pengorbanan. Pengorbannya adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 dimana hanya sebesar 5,02 persen. Angka tersebut merupakan pertumbuhan terendah selama lima tahun terakhir.

Dia mengatakan bahwa untuk meningkatkan LDR seharusnya pemerintah serta otoritas keuangan dan moneter melakukan kebijakan untuk meningkatkan DPK bukannya mengerem kredit.

“Dengan adanya niat pemerintah agar fiskus memperoleh kemudahan mengakses data nasabah di perbankan justru sangat bertolak belakang dengan upaya meningkatkan DPK,” jelasnya.

Kemudahan akses tersebut akan mendorong capital flight dari para pemilik dana besar sehingga pertumbuhan DPK perbankan akan semakin melambat bahkan bisa terjadi pertumbuhan negatif. Akibatnya perbankan nasional berpotensi mengalami krisis likuiditas dan bisa menuju pada gangguan operasional perbankan dan eksistensi bank-bank nasional secara sistemik.

Apabila perbankan mengalami permasalahan sistemik maka akan menular pada sektor riil. Konsekuensinya, krisis ekonomi dan moneter pada tahun 1998 bukan tidak mungkin terjadi kembali. Dan proses recovery-nya jauh lebih berat dan lama sebab menyangkut ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah atas kerahasian dana mereka di perbankan.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ketaatan pajak (tax compliance) wajib pajak di Indonesia masih rendah dan perlu ditingkatkan untuk memperkuat anggara negara untuk pembangunan. Akan tetapi, apabila kebijakan yang ditempuh kurang tepat justru akan menghancurkan sumber penerimaan pajak itu sendiri karena krisis ekonomi dan moneter yang ditimbukan. Dengan kata lain, penerimaan pajak jangka pendek mengorbankan penerimaan pajak jangka pajak.

Agus menganjurkan agar pemerintah menggunakan makna filosofis dari pepatah China kuno yang mengatakan ‘jika ingin menangkap anak macan, jangan mengobrak-abrik sarangnya agar tidak diterkam induknya.’ Untuk meningkatkan ketaatan pajak, masih banyak cara lain yang dapat dipakai.

Dia menyarankan untuk tujuan tersebut fiskus dapat melakukan beberapa kebijakan, yakni meningkatkan probabilitas audit, menambah lapisan supervisi atas pekerjaan auditor pajak untuk mengurangi kerjasama sama auditor pajak dengan wajib pajak nakal, dan memperbesar tarif denda dan hukuman badan. Kebijakan-kebijakan tersebut jauh lebih halus, efektif, dan menimbulkan dampak negatif yang minimal.

Sementara akses data nasabah hanya dapat dilakukan untuk wajib pajak yang telah bermasalah dengan hukum pajak dan akses tersebut harus lewat pengadilan sebagaimana diatur selama ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Soal Banjir, Dirjen Kemenpupera: Drainase di Jakarta Tak Memadai

Jakarta, Aktual.co —  Banjir dan banyaknya genangan yang terjadi di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya karena kapasitas drainase yang terdapat di kawasan ibu kota tidak memadai dalam menampung curah hujan berintensitas tinggi.

“Fakta-faktanya adalah hujan yang turun Minggu (8/2) malam sampai Senin (9/2) sore adalah curah hujan yang sangat tinggi,” kata Plt Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Mudjiadi dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (13/2).

Menurut dia, tingkat curah hujan yang paling tinggi tercatat di kawasan Jakarta Utara seperti di Tanjung Priok yang konsentrasi curah hujan hingga di atas 360 mm.

Sedangkan di tempat lain tercatat seperti di Setiabudi sebesar 220 mm dan di Krukuthulu sebesar 190 mm. Sementara hujan yang jatuh di sekitar Katulampa hanya 77 mm dan di Bogor 60 mm.

Mudjiadi mengungkapkan, kapasitas drainase Jakarta diperkirakan hanya bisa menanggulangi hujan 80-100 mm.

“Meski dalam keadaan bagus, drainase tidak akan mampu menampung itu, pasti akan ada genangan,” katanya.

Ia juga menyorot masih banyaknya daerah resapan yang sekarang telah menjadi pembangunan gedung seperti kawasan perkantoran dan mal atau pusat perbelanjaan.

Karena sekarang semua daerah resapan tertutup atau menjadi beton, ujar dia, maka air akan terjatuh ke jalan yang lebih rendah sehingga banyak genangan di jalan. “Fenomena ini berbeda dengan tahun-tahun dulu karena masalahnya berbeda, bukan karena meluapnya kali Ciliwung,” katanya.

Namun, menurut Mudjiadi, berbagai pelaksanaan infrastruktur meski belum 100 persen selesai, tetapi dinilai telah mampu menghasilkan perubahan.

Plt Dirjen SDA Kemenpupera menyebutkan bahwa ke depannya, pembangunan infrastruktur tidak akan hanya berdasarkan struktural agar bisa lebih berkelanjutan.

Ia memaparkan, untuk daerah hulu yang penting untuk konservasi akan direboisasi dan membuat waduk, sedangkan di tengah kota akan meningkatkan kapasitas sungai, dan di hilir bakal diperkuat tanggul laut yang ada.

Berdasarkan perintah Presiden Joko Widodo, maka Mudjiadi mengemukakan bahwa sudetan ciliwung ke kanal banjir timur diperkirakan bakal selesai sebelum musim hujan mendatang atau sekitar Oktober-November 2015.

Sebelumnya, Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta mengungkapkan, persoalan infrastruktur yang masih minim di berbagai daerah mesti menjadi perhatian serius dari pemerintah.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Inilah Titik Genangan Air di Jakarta

Jakarta, Aktual.co — Berdasarkan data BPBD DKI, genangan air paling banyak terjadi di wilayah Jakarta Utara, yaitu sebanyak empat titik. Ketinggian air yang merendam setiap wilayah berbeda-beda. Lokasi genangan itu, antara lain: 
Jakarta Utara: 
1. Kelurahan Kali Baru, Kecamatan Cilincing RW 08 (RT 06, 07 dan 08) dan RW 012 (RT 05, 06, 07, 08, 011, 012 dan 013) ketinggian 10-30 cm.

2. Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing RW 03 RT 08,12 dan 014 ketinggian 5cm.

3. Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan RW 05 RT 09 ketinggian 20-30 cm.

4. Kelurahan Tanjung Priok, Kecamatan Tanjung Priok RW 06 dan RW 011 ketinggian 30-40 cm.

Jakarta Barat: 
1. Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng RW 01 RT 01 dan 02 ketinggian 10-20 cm.

2. Kelurahan Grogol, Kecamatan Grogol Petamburan RW 03 RT 01 hingga RT 015 ketinggian 10-15 cm.

3. Kelurahan Tegal, Alur Kecamatan Kalideres RW 02 RT 02 hingga RT 07 dan 012 ketinggian 20-50 cm.

Jakarta Timur: 
1. Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung RW 07 RT 04, 014 dan 017 ketinggian 20-30 cm.

2. Kelurahan Rawa Terate, Kecamatan Cakung RW 05 RT 04 ketinggian 60 cm.

3. Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara RW 01 hingga RW 08 ketinggian 20-100 cm. (

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Tidak Hanya KPK, BG dan Pengacaranya Juga Mengaku Kena Teror

Jakarta, Aktual.co — Ternyata tidak hanya pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengklaim mendapatkan teror. Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Budi Gunawan (BG) dan pengacaranya, Razman Nasution mengaku dirinya juga mengalami teror.
“Saya katakan persoalan teror meneror, tekan menekan, kami mengalami itu. Selama dua hari ini saya mengalami itu, pak BG juga diteror,” ungkap Razman di gedung KPK, Jumat (13/2). 
Ia mengungkapkan, cara mengancam yang diterimanya hampir sama dengan apa yang dialami pejabat KPK. Peneror tersebut juga mengancam akan membunuhnya.
Meski begitu, baik BG maupun dirinya belum memutuskan untuk melaporkan ancaman tersebut. Karena menurutnya, hal itu lumrah terjadi.
“Kami tidak laporkan ke Bareskrim. Tapi, kalau kami anggap teror ini masih datang, ya kita akan laporkan ke Bareskrim. Tapi sekarang belum ada laporan, saya pun tidak melaopr,” jelasnya.
Namun, jika dianggap teror itu sudah benar-benar mengacam, Razman pun tidak menutup kemungkinan untuk melapor ke polisi. 
“Kalau memang sudah merasa tidak aman, laporkan kepada pihak berwajib. Jangan diumumkan ke publik,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

BPBD DKI: Sepuluh Genangan Air Terjadi di Jakarta

Jakarta, Aktual.co — Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sebanyak sepuluh titik genangan muncul akibat hujan yang mengguyur sejumlah wilayah ibukota Jumat pagi.

“Pagi ini, kami mencatat ada sebanyak sepuluh titik genangan yang tersebar di tiga wilayah Jakarta,” kata petugas piket Pusdalops BPBD DKI Tri Indrawan di Jakarta, Jumat (13/2).

Berdasarkan data BPBD DKI, genangan air paling banyak terjadi di wilayah Jakarta Utara, yaitu sebanyak empat titik. Ketinggian air yang merendam setiap wilayah berbeda-beda. 

“Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Jakarta Timur,” tambahnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Berita Lain