17 Januari 2026
Beranda blog Halaman 38823

Opini Jokowi Keluar dari PDIP?, Pengamat: Ini Kode Jokowi Coba Tunjukkan Dirinya Bisa Pindah

Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo sedang dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang sangat sulit. Hal tersebut juga tidak terlepas dari intervensi dan lobi-lobi politik baik dari internal partai pengusung Jokowi atau pun eksternal partainya. Sehingga mencuat opini-opini publik yang menginginkan agar Jokowi menarik diri dari partai pengusungnya, dalam hal ini PDI Perjuangan (PDI-P).
“Tidak akan ada yang tidak mungkin dalam politik. Pendapat publik itu bebas saja. Tapi harus diketahui juga, Jokowi itu bukan Gusdur, Jokowi bukan Ahok,” kata pengamat politik Hanta Yudha di Jakarta, Sabtu (7/2).
Namun demikian, ia kembali menegaskan, bukan hal yang mustahil seorang Jokowi keluar dari partai mengingat ini adalah politik.
“Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik,” ujarnya.
Hanta menilai justru sinyal-sinyal yang sejauh ini telah ditunjukan Jokowi adalah kode bahwa dirinya juga bisa memilih jalannya sendiri.
“Poinnya itu bukan Jokowi akan pindah, tapi kode. Ini kode kalau jokowi mencoba menunjukan kalau dirinya juga bisa pindah, bisa manuver, bisa bermain catur, bisa bersilat lidah dengan pak Prabowo. Seperti itu. Kode itu sangat jelas,” terangnya lagi. 

Artikel ini ditulis oleh:

Stigma ‘Presiden Boneka’, PDIP: Jokowi Tak Pernah Ditekan Ibu Megawati

Jakarta, Aktual.co — Stigma negatif soal langkah Presiden Jokowi yang selalu diatur dalam mengelola pemerintahan kembali menguat. Apalagi sikap Presiden yang terkesan ‘lamban’ dalam mengambil keputusan perihal kisruh Polri-KPK menguatkan sinyal Jokowi hanyalah ‘Presiden Boneka’.
Namun hal tersebut dibantah oleh Politisi PDIP, Masinton Pasaribu. Anggota DPR Komisi III itu justru marah dengan anggapan Presiden Jokowi disetir Megawati selaku Ketua Umum PDIP, Partai utama pengusung Jokowi di Pilpres 2014 lalu.
“Pak Jokowi itu tidak pernah ditekan-tekan Bu Mega, partai, janganlah seperti itulah, beliau ini kan Kepala Negara” keluh Masinton, dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat (7/2).
Masinton menegaskan, Jokowi bukan hanya anggota partai biasa di PDIP, tapi kata Masinton, Jokowi punya tempat tersendiri di dalam partai yang sepuluh tahun menjadi oposisi.
“Pak Jokowi itu kader utama dipartai. Nggak ada itu dibilang pak Jokowi kayak anak tiri di partai, Justru Jokowi itu jadi sangat terhormat, pernah jadi Gubernur, Walikota,” bebernya.
Oleh karena itu, Masinton berharap agar publik sabar menunggu keputusan dari Jokowi soal kisruh Polri-KPK. Meskipun Masinton tidak mau memberi tenggat waktu kapan presiden akan mengambil langkah tegas soal nasib dua lembaga hukum yang sedang beradu. 
Sekedar informasi, saat ini Presiden Jokowi sedang melakukan kunjungan luar negeri dan dijadwalkan kembali ke tanah air pada minggu depan.

Artikel ini ditulis oleh:

Lantik Tersangka Gratifikasi, DPR: Etika Jonan Tidak Bener

Jakarta, Aktual.co —  Fauzi H Amro anggota Komisi V DPR dari Fraksi Hanura mengecam keras tindakan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang melantik seorang tersangka gratifikasi menjadi pejabat di Kemenhub.
“Secara etika sudah enggak bener ini yang dilakukan Jonan,” ungkapnya kepada wartawan, di Jakarta, Sabtu (7/2).
Fauzi sebagai legislator yang juga punya hak pengawasan akan mempertanyakan masalah ini ke Menteri Perhubungan Jonan.
“Saya akan mempertanyakan,” ungkapnya.
Seperti diketahui, Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya, Eddi yang akan dilantik Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menjadi Direktur Angkutan Lalu Lintas Jalan ternyata tersangka kasus gratifikasi ponten UPTD Terminal Bungurasih pada tahun 2009.

Artikel ini ditulis oleh:

Politisi Nasdem: Elit Politik Kuasai Persepsi Publik

Jakarta, Aktual.co — Politisi Partai Nasdem Taufiqulhadi mengatakan elit politik akan memenangkan narasi pemberitaan mengenai pemerintahan Presiden Joko Widodo. Pasalnya agenda ditentukan oleh elite politik sebagai puncak penguasaan persepsi.
“Dalam skema segitiga, dipuncak adalah elit, kedua kelas menengah dan dibawah adalah rakyat. biasanaya agenda di tentukan oleh elite, yg mengklaiam apa yang dipikirkannya adalah yang dipikirkan rakyat,” ujar Taufiqulhadi pada diskusi perspekti Indonesia, Jakarta, Sabtu (7/2).
Menurutnya pemberitaan media yang terus-menerus membahas problem KPK dan Polri, khususnya menyoroti pelantikan Budi Gunawan sebagai Kapolri memberikan efek ‘mendadak politik’ kepada publik. Sehingga publik bersuara dan berharap presiden untuk segera mengambil keputusan mengenai hal tersebut.
“Menurut saya langkah formal yang harus diambil presiden agar bisa menjanjikan kepastian, secara hukum harus melantik meskipun nanti dimundurkan,” katanya

Artikel ini ditulis oleh:

Soal Pelantikan Eddi, Jonan: Mungkin Risma Lupa

Jakarta, Aktual.co — Menteri Perhubungan dengan santainya menjawab permasalahan pelantikan Kadishub Eddi menjadi Direktur Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Ditjen Perhubungan Darat yang dipersoalkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
“Mungkin dia (Risma) lupa dengan surat persetujuan yang ditandatanganinya,” kata Jonan, di Jakarta, Jumat (6/2).
Sebelumnya, Risma mempersoalkan jabatan yang ditinggalkan Eddi masih aktif serta tidak ada pemberitahuan sehingga terjadi jabatan ganda. “Saya belum kalau itu (pelantikan). Dia (Eddi) kemarin minta (persetujuan) daftar. Tapi Kalau dilantik aku tidak tahu,” kata Risma.
Mantan Kepala Bappeko Kota Surabaya ini juga menyatakan hingga saat ini dia belum menerima pemberitahuan pelantikan Eddi.
“Untuk pelantikan Kadishub Kota Surabaya sebagai Direktur LLAJ Kemenhub tanpa pemberitahuan ke pemerintah kota adalah tindakan salah,” kata Risma.

Artikel ini ditulis oleh:

Mensos Siapkan Tambahan 2,2 Juta Kartu Sakti

Jakarta, Aktual.co — Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyiapkan tambahan biaya untuk program Kartu Sakti bagi 2,2 juta warga baik untuk Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, maupun Kartu Keluarga Sejahtera.
“Data warga miskin sebagai acuan pembuatan kartu sakti itu kan pendataan dari 2011 sehingga bisa saja ada perubuhan dan ada yang tidak tersisir, makanya kami siapkan buffer karena berdasarkan pengamatan, masih banyak warga yang belum tersisir,” katanya di Samarinda, Sabtu (7/2).
Kehadiran Khofifah ke Samarinda dalam rangkaian kunjungan kerja dan membuka Rakornis Muslimat Nadlatul Ulama sejak dua hari lalu. Sedangkan kunjungan kerja Sabtu ini antara lain, melakukan penanaman pohon, mengujungi sejumlah panti asuhan dan panti jompo di Samarinda.
Pada 2015 lanjut dia, Kementerian Sosial menyiapkan buffer bagi 2,2 juta keluarga miskin, yakni untuk program KIS, KKS, dan KIP yang masing-masing akan menerima senilai Rp500 ribu.
Ini berarti total nilai buffer pada 2015 sama dengan Rp1,1 triliun, yakni dari masing-masing calon penerima senilai Rp500 ribu dikali 2,2 juta buffer (tambahan).
“Hadirnya buffer disebabkan karena data yang digunakan masih mengacu dari hasil pendataan tahun 2011, sehingga masih ada warga miskin yang belum tersisir untuk mendapatkan perlindungan sosial,” katanya.
Dia menilai buffer penting, karena berdasar pantauan di lapangan, masih banyak rumah tangga yang sebenarnya berhak mendapat bantuan, tetapi belum tercatat meskipun diakuinya proses validasi berdasarkan dari usulan pemerintah daerah.
Dia juga mengatakan pemerintah memberikan perlindungan kesehatan bagi warga melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), yakni berdasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PP PBI JK).
Dalam PP tersebut belum mencakup layanan perlindungan sosial, misalnya untuk rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba agar mendapatkan layanan medis, narapidana miskin, penderita gangguan piskotik, anak terlantar, lanjut usia dan anak terlantar, penyandang disabilitas, serta fakir miskin.
“Mengingat belum tercakupnya mereka dalam layanan BPJS tersebut, maka perlindungan sosial bisa mereka dapatkan melalui program kartu sakti,” kata Khofifah.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain