6 Mei 2026
Beranda blog Halaman 38900

Perayaan Imlek, Ahok: Tidak Ada “Open House”

Jakarta, Aktual.co —  Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku tidak akan menggelar “open house” saat perayaan tahun baru China (Imlek) yang jatuh pada 19 Februari 2015.

“Saya memang tidak pernah mengadakan open house untuk merayakan Imlek. Jadi, ya tidak ada open house,” kata Basuki di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (18/2).

Pria yang akrab disapa Ahok itu mengatakan pada saat perayaan imlek, kegiatan yang biasa dilakukan adalah mengunjungi rumah orang tua atau saudara-saudara yang usianya lebih tua.

“Paling-paling besok hanya pergi ke rumah orang tua yang merayakan Imlek. Kemudian ke rumah om, tante dan lain-lain yang juga merayakan Imlek. Tetapi tidak sampai mudik lah,” ujar Ahok.

Mantan Bupati Belitung timur itu menuturkan ibunya merupakan anggota keluarga yang paling tua jika dibandingkan dengan anggota yang lainnya, sehingga seluruh keluarga akan datang mengunjunginya.

“Kalau di keluarga saya, ibu saya kan yang paling tua, jadi nanti paling kita hanya tinggal menunggu keluarga yang lain pada datang ke rumah,” tutur Ahok.

Sementara itu, mengenai tradisi bagi-bagi “angpao” (amplop berisi uang yang dibagi-bagikan saat perayaan tahun baru China), dia mengaku tidak pernah melakukannya.

“Saya tidak ada tradisi bagi-bagi angpao. Lagipula, kalau pejabat kan tidak boleh terima angpao, takut nanti malah dianggap gratifikasi,” ungkap Ahok. 

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

PDIP Kecewa Jokowi Tak Lantik BG

Jakarta, Aktual.co — Sikap Presiden Jokowi yang memutuskan untuk menujuk Wakapolri Komjen Badrodin Haiti sebagai nama baru calon kapolri pengganti Komjen pol Budi Gunawan, mendapatkan tanggapan dari politisi Senayan.
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP, Dwi Ria Latifa mengaku kecewa dengan keputusan yang diambil oleh presiden tersebut.
“PDIP pastinya kecewa. Tapi satu hal bahwa ketika mengusulkan Komjen Pol Budi Gunawan, kemudian langsung disetujui dan mengusulkan nama baru mekanisme perlu dicermati, itu pertanyaan resmi yang perlu ditanyakan nanti (setelah reses),” kata dia kepada wartawan, di Komplek Parlemen, Senayan, Rabu (18/2).
Pun demikian, dirinya mengembalikan semua keputusan yang diambil presiden sebagai hak yang diatur dalam konstitusi. Akan tetapi, dengan sikap presiden yang langsung mengusulkan nama calon kapolri baru tentu itu menjadi keputusan yang kurang pas.
“Apalagi sekarang dengan mengusulkan nama baru seperti ada strategi khusus dimasukan saat DPR sewaktu reses. Dicermatilah, feeling saya ini akan jadi persoalan tersendiri nantinya,” ucap dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Syahrir: Yang Lebih Suka Diplomasi

Jakarta, Aktual.co —Saat ini di Indonesia, dalam perdebatan wacana tentang pembangunan ekonomi nasional, sering muncul tudingan-tudingan bahwa pemerintah telah menjalankan kebijakan yang neo-liberal. Kebijakan ini dianggap lebih mementingkan akomodasi terhadap kepentingan modal asing ketimbang kepentingan rakyat Indonesia sendiri. Nah, jika kita telusuri ke sejarah, pola-pola pendekatan semacam itu tampak pada tokoh Partai Sosialis, Syahrir.
Selain Soekarno dan Mohamad Hatta, tokoh pergerakan Indonesia yang cukup menonjol pasca proklamasi kemerdekaan adalah Syahrir. Ia dipandang sebagai tokoh penting pada minggu-minggu pertama revolusi. Syahrir, dengan dukungan pemuda-pemuda di sekitarnya, berhasil banyak mempegaruhi jalannya politik yang akhirnya menempatkan dirinya di kursi Perdana Menteri pada 14 November 1945.
Lahirnya sistem Kabinet Perdana Menteri ini sebenarnya secara konstitusional menyimpang dari ketentuan UUD ’45, walaupun secara politis pada waktu itu dibenarkan oleh suasana darurat revolusioner. Garis politik Syahrir ini tercermin dalam brosurnya “Perjuangan Kita,” yang penerbitannya diumumkan oleh Kementerian Penerangan pada 10 November 1945.  
Di situ Syahrir mengemukakan idenya tentang revolusi demokratis yang menekankan pentingnya arti demokrasi buat melawan kecenderungan fasisme yang masih membekas, terutama di kalangan generasi muda, akibat pengaruh pendudukan militer Jepang.
Banyak orang mengatakan, Syahrir itu figur politisi yang lebih suka berdiplomasi ketimbang berperang melawan penjajah Belanda. Syahrir memang tidak menginginkan semangat revolusi yang meluap-luap, yang bisa berubah menjadi “terorisme” yang tidak bertanggungjawab terhadap orang-orang Belanda, Indo, dan kelompok-kelompok minoritas yang dianggap pro-Belanda, seperti Cina, Ambon, dan Manado.
Dari situ dapat dilihat benih-benih sosialisme kemanusiaan atau demokrasi sosial, yang ingin ditebarkan Syahrir di kalangan kaum muda. Tetapi sebenarnya hal itu juga berkaitan erat dengan pandangan Syahrir tentang kedudukan Indonesia yang sangat lemah pada waktu itu, yang menurutnya masih berada di bawah pengaruh kekuatan kapitalis Amerika Serikat dan Inggris.
Oleh karena itu, menurut pandangan Syahrir, adalah tidak bijaksana bagi negara muda yang masih rapuh ini untuk memusuhi mereka. Cara pandang Syahrir yang terkesan “lembek” dan “akomodatif pada penjajah” ini jelas tidak akan klop dengan politisi atau aktivis pergerakan dari kubu nasionalis dan kubu komunis, yang berapi-api menyatakan permusuhan pada kekuatan kapitalis.
Syahrir bahkan melihat, nasib Indonesia amat tergantung pada kebijaksanaan politik yang akan diambil oleh kekuatan-kekuatan imperialis itu. Dari situlah, Syahrir menyimpulkan, satu-satunya jalan untuk menjamin kemerdekaan Indonesia adalah dengan melalui “diplomasi yang lihai dan fleksibel, agar Amerika dan Inggeris tidak terundang buat mendukung Belanda secara penuh.”
Selanjutnya, secara logis, sikap yang menolak konflik terbuka dengan kekuatan imperialis itu menuntut lahirnya kebijaksanaan politik yang liberal terhadap modal asing, pengakhiran kekerasan corak/pemuda, terutama terhadap orang-orang kulit putih, mendirikan lembaga-lembaga politik yang dapat diterima Barat, dan sebagainya.
Itu semua serasi dengan kecenderungan politik Syahrir yang liberal-demokratis. Sulit disangkal bahwa Syahrir memang mengutamakan diplomasi daripada menggunakan kekuatan/kekerasan senjata dalam revolusi Indonesia. Hal itu sesuai dengan jalan pemikiran Syahrir tentang demokrasi sosial yang humanis.
Pendekatan Syahrir ini sangat kontras bahkan bertolak belakang dengan pendekatan tokoh seperti Tan Malaka, misalnya, yang revolusioner. Warisan pendekatan a’la Syahrir ini tampaknya masih bisa kita lihat dalam era pemerintahan sekarang. Tarik-menarik antara kubu “neolib” dan kubu yang lebih radikal-nasionalis, masih terus berlangsung. ***

Dikutip dari buku “Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum dan Sesudah Revolusi” dengan Penyunting William H. Frederick dan Soeri Soeroto (Jakarta, LP3ES:1991).

Artikel ini ditulis oleh:

Jokowi Head to head dengan DPR

Jakarta, Aktual.co — Anggota Komisi III DPR RI, Dwi Ria Latifa menegaskan, Presiden Jokowi telah menciptakan polemik dalam sistem ketatanegaraan.
“Presiden akan head to head dengan DPR RI,” kata Dwi Ria Latifa di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu.
Ia juga mempertanyakan sikap Jokowi yang dinilai tidak melaksanakan aturan dan perundang-undangan yang berlaku.
Katanya, ketika Presiden mengusulkan Komjen Pol Budi Gunawan ke DPR, kemudian langsung disetujui dan Jokowi kemudia mengusulkan nama baru, maka mekanisme perlu dicermati.
“Itu pertanyaan resmi yang perlu ditanyakan nanti. Saya tidak ingin mengatakan seperti itu (pelecehan kepada DPR RI). Bahwa ada suatu proses dimana presiden usulkan nama calon Kapolri yang cuma satu dan melalui proses bertingkat dan disetujui di paripurna DPR RI, Kemudian presiden mengusulkan lagi nama baru, sedangkan yang sudah diketok di parlemen sendiri tidak dilantik. Ini akan jadi pertanyaan bagi anggota dewan,” kata Dwi Ria Latifa.
Ia mencurigai, keputusan Jokowi mengumumkan pembatalan Budi Gunawan dan menunjuk nama baru di saat DPR RI reses adalah strategi Jokowi agar tidak dipermasalahkan DPR.
“Kenapa pada saat reses Jokowi mengambil keputusan? Disaat anggota DPR RI tidak ada kegiatan,” kata dia.
PDIP sendirinya, ujarnya, sangat kecewa dengan keputusan Jokowi tersebut.
“Kalau ditanya apa PDIP kecewa atau tidak, saya tidak  suka jadi orang yang malu-malu kucing atau basa basi, pasti kecewa. Tapi sikap resmi PDIP belum dan tidak elok saya sampailkan sebelum ada rapat internal partai. Kita menunggu dari rapat di PDIP,” katanya

Artikel ini ditulis oleh:

Ditunjuk Kapolri, Badrodin: Presiden Pertimbangkan Pro dan Kontra Praperadilan BG

Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo resmi menunjuk Komjen Pol Badrodin Haiti sebagai calon Kapolri tunggal menggantikan calon sebelumnya, Komjen Pol Budi Gunawan.
Badrodin yang kini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kapolri, mengaku bersyukur atas keputusan Presiden Joko Widodo tersebut.
“Tentu saya bersyukur atas kepercayaan ini. Tentu ini  bukan satu proses yang sudah selesai, karena harus kita jalani fit and proper test di DPR,” ujar Badrodin dalam wawancara di sebuah stasiun televisi nasional, Rabu (18/2).
Badrodin mengaku memang dirinya belakangan ini kerap bertemu dengan Presiden, namun ia menyangkal hal tersebut membahas soal calon Kapolri.
Presiden sebelumnya sempat menyatakan bahwa akan menentukan nasib Budi Gunawan pasca sidang Praperadilan. Meski demikian, ketika putusan Praperadilan memenangakan Budi Gunawan, keputusan Presiden berbeda, yakni tidak melantik. 
“Tentu Presiden mempertimbangkan setelah putusan praperadilan ada opini yang berkembang, ada yang setuju ada yang tidak setuju, pro dan kontra, ini tentu jadi bahan pertimbangan Presiden,” kata dia. 

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Fuad Bawazier: SBY Aja Mampu Atasi Konflik KPK-Polri, Jokowi?

Jakarta, Aktual.co — Baru kali ini dalam sejarah RI pengangkatan Kapolri sekacau balau ini.  Demikian disampaikan oleh politisi senior Fuad Bawazier dalam pesan pendeknya yang diterima redaksi, Rabu (18/2).  “Zaman SBY juga ada konflik KPK-Polri tapi SBY punya kemampuan mengatasinya,” ungkapnya.  
Kata dia, sekarang Jokowi belum menunjukkan kelasnya sebagai presiden. Perintahnya kepada kepolisian juga tidak efektif. 
“Jokowi terlalu banyak minta second opinion kesana kemari tapi karena beliaunya sendiri tidak punya opininya sendiri (first opinion), maka tdk mampu membuat keputusan alias “nanti nanti” melulu. Sampai kapan? Rakyat sudah capai melihatnya,” tukasnya.
“Rasanya sudah saatnya pimpinan TNI perlu datang ke Presiden mengatakan apa yang harus dilakukan agar tdk keburu dijuluki “Mr. Wait and Wait”,” demikian Fuad Bawazier.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Berita Lain