4 Mei 2026
Beranda blog Halaman 39070

Jokowi Terima Presiden JICA Bahas Poros Maritim

Jakarta, Aktual.co —   Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kedatangan Presiden of Japan International Cooperation Agency (JICA) Akihiko Tanaka untuk membicarakan program poros maritim.

“(Kedatangan JICA) Itu dalam rangka mendukung program poros maritim,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago usai mendampingi Preisden Joko Widodo bertemu dengan JICA di Komplek Istana Negara Jakarta, Kamis (12/2).

Andrinof menegaskan bahwa JICA mendukung program prioritas yang sudah dibuat oleh pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Namun, dalam pertemuan ini belum membicarakan anggaran yang akan diiventasikan dalam Program Poros Maritim ini. “Belum bicara anggaran. Belum bicara proyek,” kata Andrinof.

President of JICA Akihiko Tanaka mengatakan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo membicarakan bantuan dan kerja sama yang diberikan JICA akan sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang sudah dicanangkan oleh pemerintah Indonesia.

Akihiko mengungkapkan bahwa Presiden ingin memfokuskan dan menekanan kepada konektivitas antar pulau di Indonesia yang perlu ditingkatkan.
“Mungkin itu inti dari pembicaraan barusan,” ungkapnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tersebut tidak secara spesifik proyek yang akan ditangani oleh JICA.

“Hari ini tidak dibicarakan (proyek), tapi secara global saja untuk proyek-proyek yang baru itu nanti detilnya akan dibicarakan kemudian. Mungkin hanya global itu saja yang dibicarakan,” jelasnya.

Akihiko juga mengungkapkan bahwa JICA tertarik dengan proyek-proyek yang saat ini atau ke depan yang akan dilakukan. “Contohnya itu MRT yang sekarang dibangun dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI, itu kan juga atas kerja sama dengan Jepang, dan proyek-proyek semacam itu kami ingin terus lanjutkan supaya kemacetan yang saat ini parah di jakarta ini bisa diatasi,” kata Akihiko.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

TNI Bisa Turun Atasi Konflik KPK-Polri Asal..

Jakarta, Aktual.co — Mantan panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto menyatakan bahwa TNI dapat dikerahkan untuk mengatasi konflik Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri, saat ini.
“(Pengerahan TNI) asal memang instruksi presiden maka itu yang harus dilakukan, tapi tidak tanpa keputusan presiden,” kata Endriartono di gedung KPK Jakarta, Kamis (12/2).
Endriartono bertemu dengan pimpinan KPK untuk membicarakan mengenai ancaman serius yang dialamatkan kepada penyidik dan struktural KPK serta keluarga mereka.
“Dalam aturan memang tidak dibenarkan (pengerahan), tapi kalau presiden memerintahkan maka itu harus dilakukan dan saya percaya ini situasi belum mengharuskan turunnya TNI,” tambah Endri.
Mantan penasihat tim pembela KPK tersebut menyatakan bahwa ancaman tersebut dapat mengancam keselamtan seluruh warga negara.
“Ternyata memberikan ancaman itu adalah hal yang serius karena ancaman ini bisa juga mengancam keselamatan seluruh warga negara kalau itu terjadi, cuma saya masih punya keyakinan tidaklah kalau itu dilakukan aparat atau institusi yang memberikan keselamatan kepada masyarakat, tapi memberikan ancaman,” tutur Endriartono.
Ia meminta agar Presiden Joko Widodo memberikan keputusan cepat dalam menyelesaikan masalah KPK-Polri tersebut.
“Kita berharap sangat agar presiden segera memberikan keputusan kemudian keputusan itu dapat menenteramkan semua pihak untuk menyelesaikan semua persoalan demi persoalan dengan baik, kedua institusi bis kembali bekerja dengan normal,” jelas Endri.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Cegah Banjir, DKI Berencana Bangun Pompa Air dan Tanggul

Jakarta, Aktual.co —  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana membangun sejumlah pompa air sekaligus memperkuat tanggul sebagai solusi penanggulangan masalah banjir di Ibu Kota.

“Pembangunan sarana dan prasarana banjir diantaranya pemasangan pompa air serta peninggian tanggul laut saat ini masih belum selesai. Makanya, ingin kami percepat,” kata Kepala Dinas Tata Air DKI Agus Priyono di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (12/2).

Menurut dia, master plan penanganan banjir di wilayah ibukota, dari hilir ke hulu, telah dirancang sedemikian rupa oleh Pemprov DKI.

“Di hilir, rencananya adalah memasang enam pompa besar di muara-muara sungai, yakni Pompa Kamal, Pompa Angke, Pompa Marina, Pompa Karang, Pompa Sentiong dan Pompa Sunter Hilir,” ujar Agus.

Dia menuturkan pekerjaan pemasangan enam pompa air besar tersebut akan dimulai pada tahun ini dan diperkirakan akan rampung secara keseluruhan dalam waktu sekitar dua atau tiga tahun.

“Dengan adanya pompa-pompa air tersebut, maka diharapkan banjir rob yang seringkali melanda wilayah pesisir utara Jakarta dapat berkurang,” tutur Agus.

Meskipun demikian, dia mengungkapkan keberadaan pompa-pompa air itu tetap harus diimbangi dengan peninggian tanggul agar semakin optimal dalam mengatasi banjir rob.

“Kalau tidak diimbangi dengan peninggian tanggul-tanggul laut, maka keenam pompa air itu tidak akan mampu mengantisipasi banjir rob. Kalau pompa dan tanggul itu ada, maka penanganan banjir akan semakin efektif,” ungkap Agus.

Lebih lanjut, dia mengatakan pekerjaan peninggian tanggul laut itu rencananya akan dimulai pada tahun ini dan diprioritaskan bagi daerah-daerah dengan tanggul laut yang masih rendah.

Sejumlah tanggul laug yang akan ditinggikan, antara lain tanggul laut di Kamal, Tanjungan, Kali Asin, Luar Batang, RE Martadinata, Cilincing dan Marunda.

Rencananya, tanggul laut di pesisir utara Jakarta itu akan membentang hingga sepanjang 32 kilometer. Akan tetapi, hanya 8 kilometer yang menjadi tanggung jawab pemerintah. Lalu, dari 8 kilometer, Pemprov DKI bertanggung jawab mengerjakan sepanjang 4 kilometer dan 4 kilometer sisanya dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Kabareskrim: Kasus BW Perkara Kecil, Ada Korupsi Besar Yang Belum Dibuka

Jakarta, Aktual.co — Kabareskrim Polri Komjen Budi Waseso menyatakan kasus yang menjerat Bambang Widjojanto adalah perkara kecil. Menurutnya, masih banyak kasus korupsi yang tengah ditangani Bareskrim Polri dan lebih besar ketimbang kasus yang menyeret salah satu Wakil Ketua KPK sebagai tersangka.
“BW (Bambang Widjojanto) itu persoalan kecil, ada perkara korupsi besar yang kita tangani dan berhasil, nanti akan dibuka, semua akan dibuka pada saatnya,” kata Budi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (12/2).
Ditegaskan Budi, bukan dalam kasus yang menjerat jajaran pemimpin KPK ini saja Polri bertindak cepat. Dia mengaku, ada berbagai kasus seperti tindak pidana korupsi yang berhasil diungkap, namun kurang diexpose.
Budi menambahkan, kasus-kasus yang menyeret para petinggi KPK ini menjadi mencuat karena hubungan antara Polri dan lembaga antirasuah itu tengah memburuk.
“Kita sudah merespon semua kasus, masalah pertambangan kita tangani, masalah korupsi juga, adalah banyak hal. Kalau kasus-kasus ketua KPK ini kan enteng saja. Tapi karena menyangkut hubungan KPK Polri, jadi wah gitu kan,” kata Budi.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Pengamat LIPI: Ahok Harusnya Bicara Penyelesaian Masalah, Bukan menyalahkan

Jakarta, Aktual.co —Sikap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang ‘meledak-ledak’ dan cenderung menyalahkan pihak lain saat terjadinya banjir di Jakarta, disayangkan banyak pihak.
Salah satunya, disampaikan peneliti Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI), Firman Noor. Menurut dia, gaya komunikasi Ahok tidak layak untuk seorang pemimpin.
“Itu gaya komunikasi politik yang memang kurang tepat dalam posisi sebagai seorang gubernur,” kata Dosen FISIP Universitas Indonesia itu, saat dihubungi Aktual.co, Kamis (12/2).
Sebagai kepala daerah, ujar Firman, Ahok harusnya lebih banyak berbicara  pemecahan masalah, ataupun mengajak masyarakat untuk saling membantu dan mengawasi, dan bukan malah ‘gemar’ menyalahkan orang lain.
“Lebih ke ‘problem solving’, mengajak, atau bisa langsung menjelaskan apa persoalan yang ada dan memberi opsi penyelesaian,” ujar dia.
Diakuinya, gaya komunikasi Ahok yang ‘meledak-ledak’ justru cocok dipakai Ahok saat masih menjabat Wakil Gubernur. Sebab yang dihadapi Ahok saat itu adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemprov DKI.
“Tidak mengherankan memang dia (Ahok) dulu diplot untuk membenahi masalah internal pemprov yang digambarkan banyak masalah,” bebernya.
Sedangkan saat sudah menjadi Gubernur DKI, menurut dia, persoalan yang ditemui Ahok tidak sesederhana itu lagi. Karena dia harus merangkul banyak pihak agar bisa bersama-sama menyelesaiakan permasalahan di Ibu Kota.
Sebelumnya, Ahok diketahui menuding ada upaya sabotase dan menyalahkan PLN atas banjir di Jakarta yang sampai menyentuh kawasan Istana Negara, Senin (9/2) lalu. Kata dia, air bisa sampai menggenangi Istana karena PLN melakukan pemadaman listrik di Waduk Pluit. Akibatnya, air di waduk itu meluber hingga sampai Istana.

Artikel ini ditulis oleh:

Mantan Panglima TNI Belum Mau Simpulkan Aksi Teror ke KPK

Jakarta, Aktual.co — Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, mantan panglima Tentara Nasional Indonesia mengungkapkan Komisi Pemberantasan Korupsi merupakan lembaga yang masih dibutuhkan.
 jika lembaga ini mengalami kelumpuhan, maka akan berakibat kepada kinerja terhadap pemberantasan korupsi.
“Kalau gelisah maka gak bisa melaksanakan fungsi dengan bagus,” kata Endriartono di gedung KPK, Jakarta, Kamis(12/2)
Menurut Endriartono terkait isu teror yang dialami pejabat struktural, penyidik dan pegawai KPK harus segera diselesaikan jika dibiarkan maka akan mengganggu kinerja lembaga anti rasuah tersebut.
“Kalau itu betul ada, ini harus sesuatu yang serius”, Kata Endriartono
Dia juga menambahkan dirinya saat ini belum dapat mengambil kesimpulan terkait terjadinya teror yang dialami pekerja lembaga anti rasuah tersebut.
 “Saya ingin mendapatkan penjelasan yang lebih,” tambah Endriartono.. 

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Berita Lain