20 April 2026
Beranda blog Halaman 39172

Sosok Tawanan ISIS Asal AS, Sang Humanis

Jakarta, Aktual.co — Serangan udara yang dilakukan oleh militer Yordania ke basis pertahananankelompok teroris yang menamakan diri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), padaJumat (6/2) siang, dikabarkan menewaskan tawanan perempuan asal AmerikaSerikat. Informasi ini masih simpang siur, karena kabar kematian tawanan ituhanya dirilis oleh ISIS, seperti yang dikutip Kompas.com.

Dalam sebuah pernyataan di internet, ISIS mengatakan perempuan AS ituterkubur reruntuhan bangunan akibat serangan yang dilancarkan ke kota Raqa.ISIS hanya memperlihatkan sebuah gambar reruntuhan bangunan, tanpamemperlihatkan jenazah korban.

Mengutip Washington Post, Sabtu (7/2), perempuan AS yangditawan itu diidentifikasi oleh ISIS sebagai Kayla Jean Mueller. Perempuan asalPrescott, Arizona, itu merupakan pekerja kemanusiaan asal AS yang bekerja untuklembaga Support to Life dan masuk ke Suriah pada akhir 2012. Mueller diperkirakandiculik ISIS pada 4 Agustus 2013 di kota Aleppo, usai bekerja di sebuah rumahsakit yang dikelola lembaga Doctors Without Borders asal Spanyol.

 

Derita pengungsi

Sebuah media lokal di Arizona, Daily Courier, pernah menulis profilKayla Mueller. Ketika itu, perempuan berusia 26 tahun itu mengaku hatinuraninya makin tersentak dengan penderitaan masyarakat Suriah ketika menjadirelawan di kamp pengungsian warga Suriah di Turki.

Kayla mengenang hal yang menjadi titik balik dalam hidupnya berawal ketikamembantu seorang pria Suriah menemukan dua anak perempuannya yang berusia 6tahun di pengungsian tempatnya bekerja. Pria Suriah itu mengaku telahkehilangan istrinya yang tewas di Suriah, tapi dia belum juga bisa menemukananak laki-laki dan anak perempuannya yang berusia 11 tahun, yang masih hilangsaat berusaha kabur dari Suriah.

Beruntung, pria itu kemudian menemukan anak perempuannya yang berusia 11tahun itu, yang baru saja menyelesaikan operasi di sebuah rumah sakit di Turki.Tapi, pria Suriah itu tetap merindukan anak laki-lakinya. Kepada Kayla, priaitu pun memperlihatkan foto anak laki-lakinya yang hilang.

“Ini bukan kisah yang asing di Suriah. Ini adalah realita untukmasyarakat Suriah selama dua tahun terakhir,” ucap Mueller kepada DailyCourier, dalam sebuah acara amal saat pulang ke kampung halamannya diPrescott, Arizona pada 31 Mei 2013. “Saat para warga Suriah itu tahu sayaorang Amerika, mereka bertanya. ‘Di mana (tindakan) masyarakat dunia?’ Saat itusaya hanya bisa menangis, karena saya memang tidak tahu,” ucap KaylaMueller.

Kayla pun semakin larut dalam kesedihan yang dimiliki pengungsi Suriah,sehingga dia merasa yang dilakukannya tak pernah cukup. Setiap hari, Kaylamendengar cerita tentang anak-anak yang terluka akibat bom, perempuan yangdipaksa menikah di usia sangat muda, dan anak-anak yang dipaksa untuk salingbunuh oleh pihak yang bertempur. Anak-anak tentu saja juga tak bisa sekolahkarena tempat mereka belajar itu menjadi sasaran bom. “Selama saya hidup, saya tidak akan membiarkan penderitaan ini dianggapnormal, dianggap hal yang bisa kita terima,” ucap Kayla.

 

Fokuskan anak-anak

Karena sadar kemampuannya terbatas, Kayla Mueller pun membantu dari halterkecil yang bisa dilakukan. Misalnya, dia mengajak anak-anak untuk bersenang-senangdengan menggambar, melukis dan bermain. Salah satu kegiatan yang tidak akan dilupakannya adalah saat para bocahSuriah itu diminta untuk menggambar tempat yang dianggap paling nyaman, palingmenyenangkan, paling diinginkan. Ternyata, anak-anak itu mengaku menggambarrumah sendiri, rumah yang sudah ditinggalkan dan mungkin kini sudah rata dengantanah. “Mereka bercerita apa saja tentang rumahnya. Mereka bilang, ‘Ada pohondi depan rumah yang biasa dipanjat’. Atau, ‘Ada pintu berdecit karena tidak pernahdiperbaiki ayah’,” tuturnya.

 

Ironi

Mengutip Mashable, keluarga menyebut Kayla sudah mengabdikankehidupannya untuk membantu orang lain di negara mana pun yang membutuhkan.Karena itu ketika lulus dari Universitas Arizona pada tahun 2009, jenjang karirbukan dianggapnya sebagai pilihan hidup yang dipertimbangkan.

Bahkan, Kayla pernah membuat video yang diunggah di YouTube, sebagai bagiandari solidaritas media sosial dalam proyek bernama “Syria Sit In”.Dalam video yang diunggah pada 2 Oktober 2011 itu, Kayla mengutuk kekerasanyang terjadi di Suriah. Saat itu, Kayla juga terang-terangan menuduh PemerintahSuriah di bawah pimpinan Bashar al-Assad sebagai pihak yang paling bertanggungjawa.

“Saya dalam solidaritas dengan masyarakat Suriah. Saya menolak brutalitasdan pembunuhan yang dilakukan otoritas Suriah kepada rakyatnya,” ucapMueller dalam video itu. “Karena diam berarti ikut berpartisipasi dalamkejahatan itu, saya mendeklarasikan partisipasi saya dalam ‘Syrian Sit In’ diYouTube,” lanjutnya.

Ironisnya, nasib Kayla Mueller kini masih tidak jelas setelah ditawan olehISIS, kelompok yang juga memerangi Bashar al-Assad. Nasib Kayla belum diketahuisejak diculik ISIS di Aleppo pada 4 Agustus 2014. Pemerintah AS sendiri masihenggan memberikan komentar dan belum bisa memastikan tewasnya Kayla Mueller.

“Saya masih belum bisa memberikan konfirmasi apa pun. Saya tidak akanmemberikan informasi spesifik mengenai tawanan AS di luar negeri,” ujarjuru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Marie Harf.

Tali Eksekusi Saddam Hussein Ditawar Rp88 Miliar

Jakarta, Aktual.co —Sepotong tali yang digunakan untuk mengeksekusi mantan penguasa Irak, Saddam Hussein disiapkan untuk lelang dengan tawaran terbaru senilai US$ 7 juta, atau sekitar Rp 88,2 miliar. Pemilik tiang gantung tersebut saat ini adalah politisi Irak, Dr. Mawaffak al-Rubaie, yang memimpin ekseskusi mati Saddam Hussein.

Dilaporkan media Timur Tengah, Al-Araby al-Jadeed tali gantung yang meregang nyawa diktator Irak tersebut diminati oleh banyak kalangan, termasuk sebuah keluarga Israel papan atas, organisasi keagamaan di Iran dan dua pengusaha Kuwait. Meskipun demikian, media Timur Tengah lainnya, Middle East Eye, melaporkan bahwa Rubaie belum mau melepaskan tali gantung miliknya tersebut di harga US$ 7 juta.

Rubaie sendiri pernah mengalami siksaan dari pasukan bekerja untuk Saddam karena keyakinan politiknya. Rubaie percaya bahwa Saddam layak untuk dieksekusi mati. Dalam wawancara dengan media Inggris, The Independent pada tahun 2013 silam, Rubaie menyatakan bahwa dia tak memiliki perasaan apa pun kecuali rasa sakit hati ketika dia membawa Saddam menunju tiang gantungan.

“Saya berharap melihat dia menunjukkan rasa penyesalan atas kejahatan yang mengerikan, yaitu ratusan ribu warganya sendiri tewas ditangannya dan kaki tangannya. Namun, (rasa penyesalan) itu tidak ada,” kata Rubaie. Meskipun demikian, lelang tali gantung tersebut memicu kecaman dari berbagai kelompok hak asasi manusia. Seorang aktivis, Ahmeed Saheed, mengatakan kepada Al-Araby-Al-Jadeed bahwa hasil lelang tali gantung tersebut seharusnya diberikan kepada kas negara Irak.

Saddam Hussein, mantan Presiden Irak yang berkuasa selama lebih dari 23 tahun dimakzulkan dari kekuasaannya oleh invasi yang dipimpin Amerika Serikat pada tahun 2003. Tercatat, sebanyak 206 ribu orang tewas sejak invasi AS pada tahun 2003. Saddam dianggap bertanggung jawab terhadap kematian ratusan ribu orang, sebagian besar merupakan etnis Kurdi dan penganut Syiah, yang memiliki pandangan politik dan agama yang berbeda dengan sang diktator.

Saddam dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Pengadilan Khusus Irak pada tahun 2004, meskipun banyak kelompok hak asasi, termasuk Amnesty Internationa, menyakini bahwa persidangan dilakukan dengan tidak adil. Irak saat ini masih dibekap peperangan kelompok militan, utamanya dari ISIS, yang telah menguasai wilayah utara dan barat Irak. Akhir Januari lalu, ISIS dilaporkan menyerang kota Kirkuk yang merupakan salah satu penghasil minyak terbesar di Irak.

Inilah Penyebab Jatuhnya Pesawat TransAsia

Jakarta, Aktual.co —Para penyidik kecelakaan dari kasus TransAsia Airways yang jatuh ke sebuah sungai di Taipei, Taiwan, dan menewaskan 35 penumpang mengatakan, kegagalan mesin merupakan penyebab utama tragedi tersebut., seperti yang dikutip Kompas.com. Berdasarkan temuan awal dari kotak hitam, satu mesin pesawat ATR 72-600 itu gagal bekerja tak lama setelah lepas landas, dan kemungkinan besar pilot tanpa sengaja mematikan mesin lainnya.

Badan Penerbangan Sipil (CAA) juga mengungkapkan bahwa TransAsia Airways gagal memenuhi sepertiga persyaratan yang dibebankan CAA setelah kecelakaan tujuh bulan lalu di kepulauan Penghu, wilayah barat Taiwan. Rabu lalu, pesawat ATR 72-600 buatan Perancis yang dilengkapi mesin turboprop Pratt & Whitney jatuh ke sebuah sungai setelah sebelumnya menabrak sebuah jalan layang.

Dewan Keselamatan Penerbangan Taiwan mengatakan, mesin kanan pesawat itu gagal bekerja sekitar dua menit setelah lepas landas dari sebuah bandara di wilayah utara Taiwan. Lampu tanda bahaya menyala di dalam kokpit, dan mesin sebelah kiri kemudian dimatikan secara manual oleh kru pesawat karena sebab yang belum diketahui. Demikian disampaikan Direktur Dewan Keselamatan Penerbangan Taiwan Thomas Wang.

“Pilot mencoba untuk menyalakan ulang mesin, tetapi gagal. Artinya, di saat-saat terakhir penerbangan, tak satu pun mesin bekerja. Kami mendengar panggilan ‘mayday’ pada pukul 10.54.35,” ujar Thomas. Thomas melanjutkan, sejauh ini belum diketahui mengapa pilot secara manual mematikan mesin sebelah kiri. “Kami belum mengambil kesimpulan apa pun,” kata dia.

Namun, sejumlah analis penerbangan menduga, pilot telah melakukan sebuah kesalahan, yang bisa jadi dilakukan tanpa sengaja. “Tampanya mereka mematikan mesin yang salah. Mesin sebelah kanan mati, tetapi hal itu belum cukup untuk membuat pesawat itu jatuh karena ATR dirancang untuk tetap terbang sekalipun dengan satu mesin,” kata Greg Waldron, redaktur pelaksana majalah penerbangan Flightglobal yang berbasis di Singapura.

Hipotesis semacam ini mengingatkan pada kecelakaan sebuah Boeing 737-400 milik maskapai British Midland pada 1989. Pesawat itu jatuh di sebuah jalur tol di wilayah tengah Inggris ketika pilot mematikan mesin yang masih berfungsi, dan bukan mematikan mesin yang rusak.

Akibatnya, 47 orang tewas. Seorang analis penerbangan yang berbasis di Jakarta, Gerry Soejatman, mengatakan bahwa tragedi di Taiwan bisa jadi merupakan akibat sebuah kesalahan yang tak disengaja. “Kemungkinan, layout instrumen mesin (yang berbeda dibanding dengan versi ATR 72 yang lebih tua) bisa menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan,” ujar Gerry.

Bantai ISIS, AS Pasok Senjata ke Yordania

Jakarta, Aktual.co —Pemerintah Amerika Serikat (AS) siap menyediakan senjata lagi buat Pemerintah Yordania guna memerangi habis kelompok fanatik Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). “Kami benar-benar sedang meneliti setiap permintaan yang mereka sampaikan bagi bantuan militer dan kami akan terus bekerjasama dengan mereka mengenai perang bersama. Ini adalah komitmen kami,” kata Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Marie Harf, dalam wawancara dengan CNN, seperti dilansir Antara, Sabtu (7/2).

Dalam wawancara CNN itu, Ketua Komite Urusan Angkatan Senjata Senator John McCain, mengeritik Departemen Luar Negeri AS karena menciptakan pengekangan besar birokrasi bagi Pemerintah Yordania untuk memperoleh senjata. Namun, Harfa tak bersedia menanggapi apakah Yordania akan memperoleh setiap jenis senjata yang mereka perlukan.

Pada Oktober lalu, Pemerintah Presiden Barack Obama dilaporkan menolak permintaan dari seorang kontraktor utama pertahanan AS bagi pemberian izin untuk menjual pesawat tanpa awak Predatornya ke Yordania dengan alasan keamanan nasional. Permintaan Yordania bagi tambahan senjata canggih buatan AS dipandang sebagai mendesak, setelah seorang pilot Yordania yang sebelumnya ditawan ISIS tewas dibakar hidup-hidup. Jordania berikrar akan membalas setelah peristiwa itu dan telah meningkatkan serangan udaranya terhadap sasaran ISIS di Suriah.

Pengemis Merupakan Kriminal di Norwegia

Jakarta, Aktual.co —Parlemen Norwegia mengusulkan undang-undang yang terbilang kontroversial, yaitu dengan menetapkan bahwa mengemis di jalanan merupakan tindakan kriminal. Para pengemis, yang meminta makanan maupun perlindungan, dapat dikenakan tuntutan enam bulan hingga satu tahun penjara. Hukuman akan lebih berat jika ditemukan bahwa aktivitas mengemis tersebut terorganisir. Bukan hanya pengemis, tuntutan hukum yang sama juga dapat dikenakan bagi mereka yang membantu pengemis, yaitu dengan memberi makan, uang, atau tempat berteduh.

Dilaporkan media Inggris, The Independent, peraturan baru yang akan diberlakukan sebelum musim panas tahun 2015 ini kabarnya membuat gempar pemerintah kota Oslo, yang menyatakan bahwa parlemen terlalu terburu-buru menetapkan keputusan yang berlaku secara nasional tersebut. Pasalnya, parlemen hanya memberikan waktu sosialisasi untuk peraturan tersebut selama tiga pekan, yaitu pada Februari 2015.

Namun, peraturan ini didukung Menteri Kehakiman Anders Anundsen, yang menyatakan bahwa kerangka hukum diperlukan untuk membasmi para pelaku yang menjadikan aktivitas mengemis sebagai “bisnis yang terorganisir”. “Kita harus memberikan polisi wewenang hukum untuk menindak orang-orang yang mengorganisir pengemis di jalan-jalan, bahkan sering kali dalam kelompok besar,” kata Anundsen, dikutip The Independent, Jumat (6/2). Peraturan pelarangan mengemis ini sebenarnya bukanlah hal baru. Parlemen Norwegia telah memperdebatkan pelarangan mengemis di Oslo sejak tahun lalu, karena jumlah pengemis jalanan di ibu kota Norwegia itu kian lama kian meningkat secara signifikan.

“Beberapa tahun belakangan, kita telah melihat bahwa aktivitas mengemis di jalanan menjadi kian subur. Polisi menghadapi tantangan yang besar terhadap sejumlah organisasi kriminal yang terkait dengan kelompok pengemis,” kata juru bicara Partai Progresif (FrP), Ulf Leirstein, dilansir dari The Norway Post. Menurut Leirstein, larangan mengemis di jalanan telah diberlakukan di beberapa daerah di negara itu sejak tahun 2014 lalu. Namun, kali ini, parlemen Norwegia akan membuat peraturan tersebut berlaku secara nasional.

Peraturan ini juga menuai kritik dari warga Norwegia. Inger Husby, warga yang berasal dari daerah Boler di pinggiran kota Oslo, mengaku sering mengajak tunawisma ke rumahnya. Husby menyatakan bahwa niat baik memberi tunawisma tempat berteduh adalah niat yang mulia, dan bukan tindakan kriminal. “Mereka tinggal di sini beberapa kali. Saya mengemis makan siang mereka, mengisi cangkir dengan cokelat panas, mencuci pakaian mereka ketika mereka membutuhkannya, dan tak jarang mengundang mereka makan malam,” kata Husby, dikutip dari The Independent.

Kritik juga datang dari aktivis Kesetaraan Gender dan Anti-Diskriminasi, Sunniva Orstavik. “Sudah jelas bahwa larangan ini ditujukan kepada orang-orang Roma yang datang ke Norwegia. Ini adalah bentuk diskriminasi terhadap etnis,” kata Orstavik. Pendapat serupa juga dilontarkan Karin Andersen, anggota parlemen dari Partai Sosialis yang merupakan partai oposisi. Dalam cuitannya di Twitter, Andersen menyatakan bahwa pemerintah Norwegia tengah berusaha mengkriminalisasi kemiskinan. “Negara terkaya di Eropa tengah mengkriminilisasi warga termiskin di Eropa,” cuit Andersen di akun Twitter resmi miliknya.

Wartawan Malaysia Dilarang Meliput Kunjungan Presiden RI

Jakarta, Aktual.co —Wartawan Malaysia dari media Malaysiakini dilarang untuk meliput kunjungan Presiden Joko Widodo ke negeri jiran tersebut yang berlangsung di kantor Perdana Menteri Najib Razak di Putrajaya. Dalam siaran pers yang dirilis oleh Himpunan Gerakan Media Marah, atau Geramm, larangan peliputan tersebut ditujukan kepada wartawan Malaysiakini, Anne Muhammad.

Padahal, media tersebut telah mendapatkan surat ijin peliputan dari kementerian informasi negara tersebut, atau yang dikenal juga dengan Jabatan Penerangan Malaysia. Dalam surat izin peliputan nomor MD024 yang ditandatangani oleh kepala keamanan kantor perdana menteri, disebutkan bahwa surat ini dapat digunakan untuk meliput acara resmi selama tiga hari.

Geramm, mengecam pelarangan tersebut. Menurut laporan Malaysiakini, petugas keamanan kantor perdana menteri menyatakan bahwa wartawan dari Malaysiakini dilarang memasuki lingkungan kantor. Petugas menyebutkan, perintah tersebut merupakan “arahan dari atasan”.

Geramm menyatakan kekecewaan atas peraturan yang tak membolehkan seluruh wartawan mengajukan pertanyaan kepada Najib maupun Jokowi. “Di Indonesia, Jokowi terkenal sebagai pemimpin yang tak pernah mengabaikan pertanyaan dari media, yang sejalan dengan komitmen RI untuk menerapkan kebebasan media,” bunyi pernyataan Geramm, yang diterima CNN Indonesia, Sabtu (7/2).

Geramm, perhimpunan wartawan yang berjuang untuk kebebasan pers, menyatakan bahwa pelarangan peliputan bagi media tertentu hanya akan merusak citra Malaysia yang sudah dikenal tidak ramah terhadap awak media.

“Meskipun Malaysia mungkin mengabaikan kebebasan media, seharusnya pemerintah menghormati sikap Presiden Indonesia yang menghargai media,” lanjut bunyi pernyataan tersebut. Dalam kunjungannya ke Malaysia, Jokowi dan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak sepakat menciptakan satu jalur penyaluran dan perekruitan tenaga kerja Indonesia, TKI, untuk sektor rumah tangga.

Menurut Najib, cara ini perlu dilakukan untuk menjaga keamanan warga Indonesia yang bekerja di Malaysia, sekaligus memastikan TKI mendapatkan pelatihan yang cukup serta perlindungan yang memadai di negara tersebut. Saat ini hanya sekitar 4.000 pekerja domestik dari Indonesia yang masuk ke Malaysia melalui jalur resmi. Sementara sekitar 105 ribu lainnya bekerja melalui jalur tidak resmi.

Berita Lain