21 April 2026
Beranda blog Halaman 39403

Polda Papua Amankan Pengebom Ikan di Raja Ampat

Papua, Aktual.co — Satuan Polisi Perairan Polda Papua Barat saat ini mengamankan dua kapal penangkap ikan yang diduga menggunakan bahan peledak di Pulau Sayang Barat, Distrik Waigio Barat Daya, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

“Penangkapan dua kapal nelayan yang diduga menangkap ikan dengan menggunakan bom rakitan itu dilakukan Rabu (28/1) sekitar pukul 11.00 WIT bom) beserta 21 anak buah kapal (ABK),” kata Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Paulus Waterpauw kepada wartawan, Sabtu (31/1).

Ia mengakui dari laporan yang diterima ke dua kapal beserta 21 ABK saat ini sudah dibawa ke Waisai untuk diperiksa di Mapolres Raja Ampat.

Dikatakan bahwa kedua kapal itu masing-masing KM Jabal Nur dengan nahkoda Alfing (36 th) membawa sembilan ABK, KM Dua Putra dengan nahkoda Karno (25 th) membawa 10 ABK.

Dari kedua kapal itu ditemukan tiga karung pupuk urea,62 botol bir ukuran 800 ml, 36 botol air mineral ukuran 800 ml dan 104 sumbu.

“Barang bukti itu diduga akan dijadikan bom rakitan yang akan d digunakan untuk menangkap ikan,” kata Brigjen Pol Waterpauw.

Mantan Waka Polda Papua itu mengaku Perairan Raja Ampat memang rawan pencurian ikan termasuk dengan menggunakan bahan peledak.

“Walaupun sarana masih terbatas namun kami berupaya semaksimal mungkin menangkap para pelaku pencurian ikan termasuk pelaku yang menggunakan bahan peledak,” tegas Brigjen Pol Waterpauw.

Polda Papua Barat merupakan polda baru yang berasal dari pemekaran Polda Papua.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Penetapan Budi Gunawan Tidak Sah dan Tidak Masuk Akal

Jakarta, Aktual.co — Salah satu Kuasa Hukum Polri Fredrich Yunadi mengatakan ada yang janggal dari penatapan Budi Gunawan sebagai tersangka. Pasalnya dalam penetapan itu hanya empat dari lima pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang memutuskan penetapan tersebut.

“Penetapan BG tidak sah karena hanya ditetapkan 4 orang dari 5 pimpinan KPK,” ujar Fredrich pada diskusi ‘Menanti Ketegasan Jokowi’ di warung Daun, Jakarta, Sabtu (31/1).

Fredrich juga menjelaskan ketidakhadiran Budi Gunawan (BG) atas pemanggilan penyidikan KPK dikarenakan surat pemanggilannya ditandatangani oleh mantan Polri tahun 1999.

“Melihat surat pemanggilan BG, ternyata ditandatangani mantan Polri, apakah itu sah?,” tegasnya.

Dirinya menyatakan bahwa ada oknum KPK yang mengaku sebagai penyidik, dalam waktu dekat Polri akan tindak tegas oknum yang mengaku penyidik KPK tersebut.

“Supaya rakyat tahu ada tidaknya kriminalisasi, Polri akan tindak tegas oknum yang mengaku penyidik KPK tersebut,” tegasnya.

Fredrich menambahkan dalam hal penetapan tersangka Budi Gunawan surat perintah penyidikan oleh KPK pada tanggal 12 Januari 2015, kemudian penetapan 13 Januari,  dirasa kurang sah.

“Penetapan BG kurang dari 24 jam, penetapan BW 4 hari kemudian. Hal tersebut dianggap terlalu cepat, itu lebih tidak masuk akal,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Obama Naikkan Anggaran Militer Tujuh Persen

Jakarta, Aktual.co — Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan meminta kenaikan 7 persen pada pengeluaran domestik dan militer di anggaran keuangan Negara. Pemerintah pada Senin (2/2) berencana mengumumkan anggaran fiskal 2016 untuk mendanai sejumlah program.

“Kita pastikan akan mendanai hal-hal yang membantu kesuksesan warga Amerika,” Ujar Obama, seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (31/1).

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Obama akan melakukan pemangkasan program belanja yang tidak efisien dan menghilangkan pajak dari anggaran dokumen politik sebagai peta jalan fiskal.

Pada kongres Partai Demokrat di Philadelphia, Obama berjanji untuk tetap berupaya mendesak anggota parlemen tidak melakukan kebijakan progresif.

Gedung Putih berharap dapat menemukan kesamaan dengan Partai Republik untuk mencegah pemotongan anggaran dan kembali ke kekuatan penuh pada tahun fiskal berikutnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Polemik KPK-Polri, Ujian Kewibawaan Jokowi Sebagai Simbol Negara

Jakarta, Aktual.co —  Pengamat komunikasi politik Gun Gun Heryanto mengatakan polemik KPK vs Polri merupakan tantangan Presiden Joko Widodo dalam mengambil ketegasan sebagai kepala negara.

“Polemik ini merupakan ujian besar di 100 hari Pemerintahan Jokowi, nampaknya ada turbulensi lebih dini. Dalam kasus KPK-Polri ada ujian kewibawaan Presiden. Keputusan yang diambil akan menunjukkan ketegasan dan kewibawaan Jokowi sebagai Kepala negara yang akan dilihat negara lain,” ujar Gun Gun Heryanto di Jakarta, Sabtu (31/1).

Menurutnya, saat ini banyak opini publik yang sengaja dibentuk untuk menggiring Presiden Jokowi mengambil langkah sesuai keinginan publik melalui media massa. Menghadapi langkah tersebut, lanjutnya, Jokowi mengambil empat langkah strategis.

“Pertama, Jokowi melakukan buying time strategy atau mengulur waktu. Ini terjadi karena DPR telah menyetujui Budi Gunawan sebagai Kapolri terpilih. Jokowi menunda pelantikan sebagai strategi untuk mengulur waktu,” tegasnya.

Kedua, lanjutnya, Jokowi melakukan pra kondiisi untuk menetralisasi beragam macam kondisi publik di masyarakat. Hal ini akan membuat polemik KPK-Polri tersebar dalam berbagai macam posisi, bukan lagi terfokus pada Jokowi, misalnya, tim sembilan.

“Ketiga, Jokowi melakukan ‘political high’. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan media besar untuk memasok pandangan Istana sesuai apa yang dikehendaki presiden, sehingga opini menjadi terkanalisasi,” terangnya.

Keempat, Jokowi melakukan strategi Manufer  zone of possible agreement (ZOPA). Jokowi melakukan pendekatan ke Prabowo untuk mendukung pemerintah. Hal ini tentunya akan menimbulkan streesing kepada lawan politik. Jokowi bisa memberikan pesan untuk memberikan tekanan kepada parpol-parpol yang bersebarangan dengan menggandeng Prabowo.

“Namun, apakah Jokowi benar-benar memiliki ketegasan? karena strategi ini hanya masalah waktu saja. Pada akhirnya Jokowi harus mengambil ketegasan dalam konteks melantik atau tidak melantik Kapolri Budi Gunawan,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Dua Wartawan Rusia Ditangkap di Ukraina

Kiev, Aktual.co — Dua wartawan televisi Rusia bekerja untuk saluran pro-Kremlin Life News telah ditangkap di Ukraina dan akan diusir, kata Juru Bicara Dinas Keamanan Ukraina (SBU) Markiyan Lubkivskiy Jumat.

“SBU menahan dua warga Rusia yang bekerja sebagai wartawan untuk Life News. Izin tinggal mereka telah dibatalkan dan mereka akan diusir dari negara kita dan dilarang kembali ke Ukraina selama tiga tahun,” kata Lubkivskiy menulis di halaman Facebook-nya.

“Warga Rusia ini bekerja ‘tidak ada hubungannya dengan jurnalisme dan merugikan keamanan dan kepentingan Ukraina,” tulisnya.

Life News mengatakan bahwa dua wartawannya, Yelizaveta Khramtsova dan Natalia Kalysheva, telah ditangkap dengan “dalih palsu” karena telah memfilmkan markas keamanan Ukraina di Kiev.

Pasukan Ukraina menangkap dua wartawan Life News lainnya di sebelah timur negara itu Mei, yang membuat kemarahan Moskow, yang dituduh mendukung pemberontakan separatis dalam konflik berdarah di Ukraina timur.

Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan Oleg Sidyakin dan Marat Saichenko medali setelah pembebasan mereka sepekan kemudian.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Arab Saudi Temukan Dua Kasus Baru Mers

Jakarta, Aktual.co — Dua kasus baru koronavirus Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) dilaporkan di Arab Saudi dalam 24 jam belakangan, kata Kementerian Kesehatan Arab Saudi pada Jumat (29/1).

Kedua kasus baru itu dilaporkan di Riyadh dan Hafof, sehingga sejumlah jumlah kasus penyakit virus tersebut jadi 845 sejak kasus pertama pada 2012, kata Xinhua , Sabtu pagi. Ada enam kasus yang menerima pengobatan, sementara 475 kasus pasien sudah sembuh dan 364 meninggal.

Kementerian itu pekan sebelumnya mengumumkan penunjukan ahli AS untuk menghentikan penyebaran penyakit menular dan tak menular, termasuk koronavirus MERS.

Para ahli tersebut berasal dari Pusat Pemantauan dan Pencegahan Penyakit (CDC), yang berpusat di Atlanta, Amerika Serikat.

Keputusan untuk membentuk tim itu belum lama ini menandatangani kesepakatan antara pusat pemantauan dan komando di kementerian tersebut dan CDC serta meliputi pelatihan dan dukungan buat ahli Arab Saudi di bawah Program Pelatihan Epidemiologi Lapangan

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Berita Lain