6 April 2026
Beranda blog Halaman 39486

Rencana Bangun Smelter di Gresik, Tapi Freeport Belum Hubungi Pemda

Jakarta, Aktual.co — Kementerian ESDM menyampaikan bahwa PT Freeport Indonesia telah berencana akan membangun pabrik pemurnian (smelter) di Gresik, Jawa Timur. Bahkan untuk itu, Freeport dikabarkan telah menyiapkan dana hingga Rp30 triliun.

Akan tetapi, anggota Komisi VII, Eni Maulani Saragih mengatakan bahwa pihak Freeport hingga saat ini belum juga menjalin komunikasi dengan Pemerintah Daerah setempat dalam hal ini pihak Kabupaten Gresik.

“Saya dengar Freeport mau bangun smelter di Gresik, saya langsung telepon Bupati Gresik. Beliau jawab Freeport tidak ada komunikasi dengan pihaknya (Kabupaten Gresik),” kata Eni  dalam rapat kerja Komisi VIII dengan Kementerian ESDM di DPR, Jakarta, Senin malam (26/1).

Maka dari itu, Eni menegaskan bahwa seharusnya Pemerintah tidak lagi memberi kelonggaran kepada Freeport untuk membangun smelter di Gresik. Dikatakannya, hal itu akan berdampak buruk terhadap kelestarian alam di Gresik.

“Memang kalau itu dibangun akan membangun ekonomi Gresik, sekarang saja sedang dibangun pembangunan pelabuhan internasional. Itu akan berdampak buruk terhadap kelestarian alam di Gresik,” ujarnya.

“Saya setuju, Freeport akan membangun di Papua, bukan di Gresik,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, di hadapan para anggota komisi VII DPR RI, Menteri ESDM Sudirman Said mengaku bahwa pihaknya tidak bisa memaksa PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk membangun pabrik pemurnian mineral (smelter) di Papua.

Seperti diketahui, Freeport telah menyetujui untuk segera membangun pabrik pemurnian tersebut di wilayah Gresik. Sejauh ini progres pembangunannya pun terbilang ‘molor’ lantaran sejak dibuatnya nota kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah pada Juli 2014 dan berakhir pada 25 Januari 2015, perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu belum juga menunjukan progresnya membangun Smelter.

“Kalau kita paksa bangun (smelter) di Papua, maka itu sama saja kita memberi kesempatan Freeport untuk ‘molor’ lagi, karena bangun sarana pendukung perlu waktu lama. Maka itu harus dibangun di tempat yang siap,” terang Sudirman.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Polda Metro Bentuk Tim Khusus Pemburu Begal Motor

Jakarta, Aktual.co — Aksi perampokan yang beberapa waktu belakangan menghantui warga khususnya DKI Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi, membuat jajaran kepolisian Polda Metro Jaya membentuk tim khusus pemburu begal motor.
Demikian disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Martinus Sitompul kepada wartawan, Selasa (27/1).
“Kapolda telah memerintahkan ke seluruh jajaran untuk membentuk tim khusus guna mengantisipasi pencurian kendaraan bermotor,” ujarnya.
Dikatakan Martinus pihaknya juga akan menindak tegas terhadap para pelaku rampok motor yang tak segan-segan melukai, bahkan menghabisi nyawa korban untuk mendapatkan sepeda motor yang diincar olehnya.
“Tim pemburu begal motor dibentuk oleh masing-masing Polres,” katanya. 
Untuk Polda Metro Jaya sendiri, kata Martinus akan membentuk dua tim khusus dari Subdit Jatanras dan Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Film “American Sniper” Membahayakan Umat Muslim di Amerika

Jakarta, Aktual.co —Sebuah kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pemerhati hak-hak sipil Amerika Serikat-Arab Saudi, mengatakan film American Sniper yang baru dirilis ke publik akhir-akhir ini telah meningkatkan ancaman terhadap umat muslim di Amerika. Komite Anti Diskriminasi Amerika-Arab Saudi (ADC) telah bersurat kepada aktor pemeran utama film American Sniper, Bradley Cooper dan sutradara film itu, Clint Eastwood, untuk berbicara ke publik guna membantu mengurangi retorika penuh kebencian yang timbul pascapemutaran film itu’.

Menurut ADC, kebencian itu muncul akibat dari penggambaran Arab dan Muslim dalam Film itu. Mereka telah mengumpulkan ratusan pesan penuh kebencian yang menargetkan Arab dan Muslim Amerika Serikat dari para penonton fim dari Facebook dan Twitter. Dalam sebuah pernyataan, Presiden ADC, Samer Khalaf mendesak Eastwood dan Cooper untuk menanggapi ancaman-ancaman tersebut.

‘Visibilitas anda, pengaruh, dan koneksi anda ke film itu akan menjadi kekuatan yang luar biasa dalam menarik perhatian dan mengurangi bahaya serius yang dihadapi masyarakat masing-masing negara,” ujarnya seperti dikutip dari Metro.co.uk, Senin (26/1). Namun, Jack Horner, juru bicara Warner Bros studio film, yang melepas film itu mengatakan bahwa pihak studio mengecam setiap kekerasan, retorika anti-Muslim, termasuk yang telah dikaitkan dengan para penonton film itu.

Film itu juga menuai kecaman keras dari para kritikus film, karena mengumbar adegan kekerasan dan penuh dengan agenda propaganda AS. Film American Sniper, menceritakan kisah seorang tentara US Marine, Chris Kyle, yang dinobatkan menjadi sniper yang paling mematikan dalam sejarah militer AS. Hanya dalam sepekan setelah kemunculannya, film itu berhasil meraup keuntungan sebesar 90 juta US Dollar.

HD Capital: Koreksi Selesai, Sang Banteng Siap Melaju Lagi

Jakarta, Aktual.co — Pada perdagangan hari ini, Selasa (26/1), HD Capital memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di kisaran support 5.200-5.115-5.080-5.040, resisten 5.385-5.451.

“Koreksi selesai, sang banteng siap melaju lagi,” kata Periset Senior HD Capital Yuganur Wijanarko dalam risetnya, Selasa (26/1).

Secara teknikal, lanjutnya, koreksi untuk meredakan keadaan jenuh beli di IHSG sudah selesai. “Tinggal melihat sang banteng melaju lagi dalam pattern strong medium uptrend menuju 5.385,” ujarnya.

Dalam risetnya, HD Capital mengemukakan ada empat saham yang dapat dipertimbangkan pada perdagangan hari ini, yaitu PTPP, ASII, BSDE dan ASRI.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Suku Dayak Meratus Gelar Pesta Budaya

Jakarta, Aktual.co —Masyarakat Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, menggelar pesta budaya adat Dayak Meratus di Kampung Wisata Desa Kapul, Kecamatan Halong, dengan menampilkan aneka seni budaya adat setempat.
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Balangan Mandan mengatakan pesta budaya ini dihadiri utusan suku Dayak dari Kabupaten Balangan, Tabalong, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tanah Bumbu, Banjarmasin, dan Banjarbaru, 
Tujuan dari digelarnya aruh adat suku dayak Meratus ini, ujar dia, agar masyarakat mengenal lebih dalam mengenai kehidupan masyarakat dayak Meratus. Yakni penghuni hutan Meratus yang merupakan salah satu hutan yang menjadi penyangga paru-paru dunia.
“Selama ini mungkin kita sudah cukup dikenal baik di wilayah Kalimantan dan sebagian pulau di Indonesia karena itu untuk lebih memperkenalkan budaya adat dayak kita gelar pesta budaya adat ini kami berharap lebih banyak masyarakat yang mengenal kami, bahkan hingga internasional,” ujar dia, di Paringin, Selasa (27/1).
Berbagai keahlian suku dayak juga dipertunjukkan dalam Gelar Pesta Budaya Adat Dayak Meratus di Balangan. Seperti  keahlian mereka dalam menggunakan sumpit, membuat tato, mandau dan kerajinan tangan lainnya, termasuk tari-tarian.
Mahdan menambahkan aruh adat ini akan menjadi agenda tahunan yang digelar dengan waktu yang sudah ditentukan, sehingga masyarakat umum bisa menjadwalkan kunjungan wisatanya jauh-jauh hari untuk melihat secara langsung aruh adat dayak Meratus.

Artikel ini ditulis oleh:

IndoStratregi: Insiden “Charlie Hebdo” Merupakan Kegagalan Perancis

Jakarta, Aktual.co —Direktur Eksekutif IndoStratregi Andar Nubowo mengatakan insiden Charlie Hebdo tak bisa lepas dari kegagalan Perancis mengatasi krisis ekonominya sejak 2007 lalu. Menurut dia, tewasnya belasan orang karena insiden itu bisa dilihat dari sisi membeludaknya jumlah imigran. Khususnya yang berasal dari daerah bekas jajahan Perancis dan mayoritas muslim di negeri Eropa Barat.

Mereka merasa sudah mengalami diskriminasi dalam hal sosial, ekonomi dan politik. Menurut Andar persoalan penghinaan Islam dan media satiris sebetulnya di Perancis banyak dan sudah lama. Kaum imigran tersebut masih tidak bereaksi apa-apa karena mereka sadar Perancis negara sekuler.

Tapi, keresahan kaum muslim bermula ketika tahun 1986 sampai akhirnya pada tahun 2004 yang secara tegas Perancis melarang burkah, hijab dan segala atribut Islam di Perancis. Di saat itulah, kaum ekstrimis yang banyak berasal dari imigran merasa pemerintah Perancis sudah tidak bisa lagi memberikan mereka pekerjaan, pendidikan dan hak politik dan sosial lainnya.

“Akhirnya isu ini dipakai kaum radikal untuk melawan Perancis. Muncul Charlie Hebdo, momentum ini digunakan. Tapi, isu ini tak bisa lepas dari gagalnya Perancis tangani kaum imigran dan minoritas serta meredam gerakan radikal,” kata Andar di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (26/1).

Berita Lain