17 Januari 2026
Beranda blog Halaman 39662

REI: 70 Persen Pengembang Riau Bermodal Kecil

Jakarta, Aktual.co — Asosiasi pengembang perumahan (Real Estate Indonesia – REI) menyatakan sekitar 70 persen anggotanya merupakan pengusaha pemodal kecil yang membutuhkan dukungan pemerintah dan perbankan agar dapat bertumbuh menjadi besar.

“Media juga berperan untuk membesarkan kalangan developer tersebut. Namun tetap harus mengerti aturan dan jangan sampai ada yang dilanggar,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) REI Riau, Amran Tambi di Pekanbaru, Senin (12/1).

Ia menjelaskan bahwa saat ini ada 177 pengembang perumahan yang menjadi anggota REI Riau.

Mereka umumnya pengembang kecil dan lahan yang digarap untuk perumahan tidak lebih dari lima hektare. Kebanyakan developer tersebut rentan “terjatuh” hingga mengalami gagal keuangan.

Menurut Tambi, banyak faktor yang menyebabkan kalangan pengembang Riau “menderita”, salah satunya adalah tidak paham aturan secara utuh dan tidak mengetahui celah atau jalan mendapatkan anggaran subsidi dari pemerintah pusat, salah satunya mengenai izin.

Menurut dia, kerap kali kalangan developer pemula tidak mengerti, padahal kewajiban mereka hanya memberikan laporan secara berkala.

“Karena tidak memberikan laporan atau kadang terlambat, kemudian justru dikenakan sanksi berupa denda. Itu masih salah satu contoh hambatan developer bermodal kecil yang kerap terjatuh hingga gagal meraih sukses,” katanya.

Untuk mengurangi potensi gagal sukses tersebut, Tambi menyatakan pihaknya akan memberikan pembekalan kepada developer pemula, termasuk bagaimana cara mengefisiensikan anggaran.

“Semisal untuk mendapatkan anggaran pusat di Kemenpera, tidak perlu pergi secara sendiri-sendiri. Cukup satu orang perwakilan namun demi kepentingan bersama,” katanya.

Menurut dia, di Kemenpera itu banyak sumber anggaran yang harusnya dapat ditarik ke daerah untuk kepentingan masyarakat dan para pengembang rumah sangat sederhana (RSS).

Dengan demikian, lanjut dia, rumah RSS yang seharusnya hanya sampai pada tahap pengerasan jalan, dapat disemenisasi sehingga menguntungkan bagi pengembang maupun masyarakat yang tinggal di lingkungan itu.

“Maka menjadi harapan bersama, berbagai persoalan yang muncul selama ini antara masyarakat dengan pengembang perumahan RSS dapat diminimalisasi,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Tim Sembilan Akan Undang Intelkam Polri dan Imigrasi

Jakarta, Aktual.co — Tim Sembilan bentukan Kemenpora yang salah satu tugasnya mengawasi kinerja PSSI, akan mengundang pihak Intelijen Keamanan (Intelkam) Polri dan Imigrasi, terkait izin pertandingan dan pemain asing.

“Besok (Selasa, 13/1), kami akan menggelar rapat ketiga. Kami mengundang pihak Intelkam Polri, Imigrasi dan PPATK. Kami akan menjadi pendengar di sini,” kata anggota Tim Sembilan, Gatot Dewa Broto di Jakarta, Senin (12/1).

Menurut dia, saat bertemu dengan pihak Intelkam Polri pihaknya akan mendengar penjelasan terkait dengan proses periizin pertandingan. Selama ini banyak terdengar pertandingan batal digelar, karena belum mendapatkan izin.

“Sebagai contoh bagaimana sebelum pertandingan itu tidak mendapatkan izin. Kami ingin tahu bagaimana prosesnya,” katanya menambahkan.

Untuk pembicaraan dengan Imigrasi, kata dia, pihaknya ingin mengetahui kepatuhan pemain asing dalam mengurus sistem keimigrasian termasuk proses bagaimana sang agen pemain mengurus administrasinya.

“Kami ingin melindungi klub. Jangan sampai mereka dirugikan terutama dari sektor keimigrasian. Untuk PPATK kami ingin mengetahui seluk beluk perputaran uang,” kata pria yang juga Deputi V Kemenpora Bidang Harmonisasi itu.

Sebelumnya, Tim Sembilan yang dikoordinatori oleh Oegroseno itu telah melakukan audiensi dengan beberapa pihak mulai dari KONI, KOI, Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) serta Komite Informasi Publik (KIP).

Selain itu, pihaknya juga akan terus melakukan koordinasi dengan pihak yang mengetahui dengan persepakbolaan nasional. Hanya saja, pihaknya akan lebih selektif dalam menentukan pihak yang akan melakukan audiensi.

“Kalau diizinkan PSSI kami juga akan menerima pihak Asosiasi Provinsi PSSI. Tapi PSSI aja gak mau? Tunggu saja,” kata Gatot menegaskan.

Terkait dengan penggantian satu personel Tim Sembilan yaitu Budiarto Shambazy, pihaknya menegaskan saat ini masih dalam proses. Untuk menggantikan wartawan Kompas ini dipastikan bukan dari kalangan media.

Artikel ini ditulis oleh:

Besok, Komisi V akan Panggil Menhub

Jakarta, Aktual.co — Ketua Komisi V DPR RI, Fahri Djemi Francis mengatakan, dari hasil rapat pleno internal komisi, pihaknya tetap akan memanggil Menteri Perhubungan (Menteri Perhubungan), Ignasius Jonan. “Kami rapat kerja komisi V DPR, secara internal yang dihadiri seluruh fraksi termasuk teman-teman PDIP itu bersepakat mengagendakan dalam masa sidang ke II ini, salah satu yang diputuskan berkaitan dengan Raker, RDP dan RDPU dengan MenHub, Basarnas, BMKG, Angkasapura, maskapai penerbangan AirAsia. Besok, jam 9.30 WIB,” kata Fahri kepada wartawan, di Jakarta, Senin (12/1).

Menurut dia, dalam rapat kerja dengan menteri perhubungan dan stacholder lainnya, akan menyoroti persoalan sejumlah isu, terutama terkait musibah kecelakaan AirAsia, yang hingga saat ini proses evakuasi masih dilakukan tim sar gabungan. “Untuk membahas beberapa isu-isu terkait musibah kecelakaan AirAsia, dan juga kita akan mendalami berkaitan dengan persoalan langkah-langkah penaganan pencarian dan pertolongan evakuasi, dan perkembangan terakhir menyangkut black box,” ucap politisi dari Partai Gerindra tersebut.

Pun demikian, ketika ditanyakan, apakah menhub sudah pasti akan hadir? Fahri mengatakan pihaknya sudah mengirimkan surat sejak rabu (8/1) kemarin. “Kita sudah mengirim surat sejak rabu dan sebenarnya pak menteri mengirim surat kepada kami untuk menyarankan agar pertemuan ditanggal 15 Januari, dengan alasan sedang fokus perkembangan terakhir ini, tetapi kita tetap mengagendakan,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Kapolri Baru Diharapkan Sudah Konflik Polri dengan TNI

Jakarta, Aktual.co — Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) baru akan menghadapi sejumlah tantangan yang harus dibenahi mulai dari manajerial di tubuh institusi itu hingga mengatasi konflik TNI-Polri.
Demikian disampaikan Direktur Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto di Jakarta, Senin (12/1).
“Kapolri baru memiliki banyak tantangan di tubuh kepolisian ke depannya, karena itu diharapkan Kapolri yang baru memiliki figur manajerial dan teknik komunikasi yang baik pada anak buah,” kata dia.
Kapolri baru harus mampu mengelola anak buah dengan menggunakan teknik komunikasi yang tidak berjarak dengan bawahan. “Kapolri baru kita harapkan memiliki kemampuan manajerial, kontrol terhadap anak buah,” ujarnya.
Menurut dia, permasalahan di tubuh Polri berada di level bawah. “Persoalan citra kepolisian ini masih buruk di mata masyarakat. Kita lihat dengan masih ada oknum-oknum nakal yang mengambil pungli (pungutan liar) di masyarakat,” kata Hari.
Selain itu, Hari juga mengatakan polisi masih menjaga jarak dengan publik. Pelayanan yang sifatnya birokratif juga dinilai sebagai hal yang harus diperbaiki.
Hari berpendapat, figur Kapolri baru diharapkan mampu memberikan sanksi tegas kepada oknum-oknum yang masih “bermain” di luar tugas kepolisian.
Menyinggung konflik yang terkadang terjadi antara TNI dan Polri, Hari mengatakan persoalan tersebut hanya terselesaikan di kalangan atas atau perwira. “Konflik TNI-Polri itu hanya selesai di level atas, tapi di bawah-bawahnya masih berselisih,” kata dia.
Untuk itu, lanjut dia, Kapolri baru harus bisa menyambung komunikasi yang tidak berjarak dengan bawahannya.
Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah memilih Komisaris Jenderal (Komjen) Budi Gunawan sebagai calon Kapolri baru yang akan menggantikan Jenderal Polisi Sutarman. Pengajuan calon Kapolri baru akan diteruskan pada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi III untuk disahkan.
Komjen Budi Gunawan saat ini menjabat sebagai Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian (Lemdikpol). Budi merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1983.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

PKB Klaim Mendapat Jatah Lima Wakil Ketua

Jakarta, Aktual.co —Setelah pembahasan revisi Undang-Undang MPR DPR DPD dan DPRD yang mengubah jumlah pimpinan alat kelengkapan dewan (AKD), secara keseluruhan pembagiannya hampir rampung. Seperti diketahui sebelumnya, pimpinan AKD berjumlah empat: satu ketua dan tiga wakil ketua.

Pasca-revisi UU MD3, pimpinan bertambah menjadi lima, wakil ketua yang tadinya empat jadi lima. Fraksi-fraksi dari Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang asalnya tak satupun duduk di kursi pimpinan kini terakomodasi. Dari penambahan itu, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengklaim pihaknya sudah mendapat beberapa kursi strategis di komisi dan AKD lainnya.

“PKB empat sampai lima wakil ketua komisi. Sudah diserahkan ke Sekjen (DPR). Minggu ini tuntas,” kata Ketua Fraksi PKB Helmy Faishal Zaini di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (12/1). Merasa fokus pada persoalan keagamaan, PKB pun sudah menentukan salah satu komisi yang akan diduduki. “PKB karena concern pendidikan keagamaan, kita ambil Komisi VIII,” tambahnya.

Pembagian jatah, kata Helmy, dilakukan secara musyawarah. Sayangnya, Helmy belum tahu pasti dengan fraksi-fraksi KIH lainnya. “Belum bisa beri kepastian karena masih (bergantung) kondisi psikologis kawan-kawan,” terangnya. Menurut Helmy, hingga saat ini, hanya satu hingga dua fraksi yang belum menyerahkan nama anggotanya ke Sekjen DPR.

PBNU Mengajak Muslim Lebih Matang Sikapi Kritik

Jakarta, Aktual.co —Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak kaum Muslim untuk bersikap lebih dewasa dalam menyikapi kritik dan aksi-aksi tidak simpatik lainnya yang ditujukan kepada Islam. “Prinsip dasar dakwah adalah untuk kebaikan, dan untuk mencapai itu harus dengan cara-cara yang baik juga.

Kalau ada yang mengkritik kita, balaslah dengan kritik, jangan dibalas dengan kekerasan,” kata Sekretaris Jenderal PBNU Marsudi Syuhud di Jakarta, Senin (12/1). PBNU tidak setuju dan mengutuk serangan bersenjata terhadap media satire Charlie Hebdo di Paris, erancis, pada Rabu (7/1) yang menewaskan 12 orang. “Pada dasarnya segala macam kekerasan, apalagi dilakukan atas nama agama, itu tidak dibenarkan,” kata Marsudi.

Namun, kata Marsudi, PBNU juga menyayangkan pemanfaatan kebebasan secara berlebihan, seperti yang dilakukan Charlie Hebdo, yang akhirnya justru menunjukkan sikap intoleransi. “PBNU juga mengutuk keras pemicunya, yaitu sikap intoleransi,” kata Marsudi. Marsudi menilai aksi serangan ke Charlie Hebdo dipicu oleh kegemaran redaksi media satire tersebut memuat karya jurnalistik yang tidak mengindahkan kaidah toleransi.

Menurut dia, tidak hanya menayangkan karikatur Nabi Muhammad sebagai ikon Islam, di beberapa edisi lainnya Charlie Hebdo juga menjadikan Paus yang merupakan pemimpin tertinggi umat Katolik sebagai muatan medianya dengan nada ejekan. “Di sana itu kan sangat bebas. Itu yang tidak benar, karena sebebas apa pun kebebasan masih ada batasnya, yaitu kebebasan orang lain,” katanya.

Berita Lain