17 Januari 2026
Beranda blog Halaman 39664

BI: Masyarakat DIY Belum Terbiasa Gunakan Uang Elektronik

Jakarta, Aktual.co — Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta Arief Budi santoso menyatakan penggunaan uang elektronik di Yogyakarta masih rendah karena masih belum didukung infrastruktur yang memadai.

“Masyarakatnya belum terbiasa (menggunakan uang elektronik) dan kami akui infrastruktur pendukung untuk pemanfaatan “e-money” masih belum banyak,” kata Arief di Yogyakarta, Senin (12/1).

Menurut dia, selain belum didukung dengan infrastruktur yang memadai, jumlah “merchant” atau penjual barang dan jasa yang menerima pembayaran dengan uang elektronik masih sedikit.

“Untuk Yogyakarta memang sudah ada beberapa toko modern yang memiliki fasilitas pembayaran menggunaan uang elektronik, namun jumlahnya masih sedikit,” kata dia.

Selain persoalan infrastruktur, ia mengatakan, kebiasaan masyarakat untuk menggunakan uang fisik atau tunai sebagai alat transaksi sudah membudaya, sehingga bagi masyarakat uang elektronik masih belum dipandang sebagai kebutuhan.

Padahal, kata dia, inisiatif awal dari peluncuran uang elektronik oleh Bank Indonesia (BI) di tengah-tengah masyarakat selain untuk mendukung efisiensi peredaran uang juga bertujuan untuk mengurangi tindak pidana kejahatan.

“Pola pikir pembayaran dengan uang tunai juga masih melekat di kalangan masyarakat,” kata dia.

Meski demikian, pihak KPBI DIY, menurut dia, akan terus mendorong peningkatan penggunaan uang elektronik di daerah setempat, melalui sosialisasi yang akan terus dilakukan di berbagai lapisan masyarakat.

“Untuk 2015 ini sosialisasi uang elektronik masih akan kami lakukan secara perlahan dan terus menerus,” kata Arief.

Dia berharap ke depan kesadaran masyarakat untuk menggunakan uang elektronik dapat semakin meningkat dengan didukung pemenuhan infrastruktur oleh pemerintah yang menerima penggunaan uang elektronik sebagai alat bayar.

Hingga saat ini, kata dia, terdapat empat bank yang menyediakan layanan untuk penukaran uang non-tunai atau uang elektronik , yakni BRI dengan produk uang elektronik “Brizzi”, BNI dengan “Top Cash”, BCA dengan “Flash” dan Bank Mandiri dengan “e-money”

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Niat Perbaiki Lampu, Kakek Tewas Tertimpa Tembok

Jakarta, Aktual.co —  Nasib malang menimpa Sobari Hadi (71) warga Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, Senin (12/1) meninggal dunia setelah tertimpa tembok rumah milik tetangganya. Korban meninggal tertimpa saat tengah memperbaiki penerangan. 

“Ini adalah kasus kecelakaan kerja,” ujar Kapolsek Metro Senen Kompol Kasmono saat ditemui di tempat kejadian perkara, Jalan Paseban Timur, Jakarta Pusat, Senin (12/1).

Dikatakan Kasmono peristiwa naas tersebut terjadi sekitar pukul 17.10, dimana saat itu korban dimintai tolong oleh tetangganya, Siti Aliyah (42), untuk memperbaiki lampu rumah Siti yang padam. Karena tidak cukup tinggi, korban minta diambilkan bangku agar bisa mendekati lampu yang akan diperbaiki.

Namun, kata dia, saat mencoba berdiri di atas bangku, korban terpeleset lalu berpegangan pada tali menjemur pakaian yang terikat pada kusen pintu.

“Karena kondisi rumah yang sudah tua, saat tali jemuran itu tertarik oleh korban, sebagian tembok rumah itupun ambruk dan menimpa kepala bagian kanan korban,” ujarnya.

Akibat banyaknya darah yang keluar karena luka kepala tersebut, nyawa korban tidak dapat tertolong lagi. Korban meninggal sekitar pukul 17.30 WIB.

Kasmono mengatakan selanjutnya jenazah korban akan dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo untuk dilakukan visum et repertum sesuai prosedur yang berlaku.

“Nanti sampai di RS dari pihak keluarga akan dimintai persetujuan apakah mau divisum luar atau secara keseluruhan, semuanya tergantung persetujuan keluarga,” tuturnya.

Korban Sobari dikenal warga sekitar sebagai orang yang baik dan suka membantu. Kejadian petang tersebut cukup mengagetkan warga di sekitar tempat tinggalnya.

“Pak Sobari orangnya baik, dia memang dikenal suka memperbaiki listrik rumah para warga di sini,” kata Rina (25), salah satu tetangga korban.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Mabes Polri Bantah Budi Gunawan Masuk Tim Pemenangan Jokowi-JK

Jakarta, Aktual.co — Mabes Polri membantah keterlibatan Komjen Pol Budi Gunawan dalam tim pemenangan kampanye Jokowi-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014.
“Kami tidak melibatkan diri dalam keterlibatan politik praktis,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divhumas Polri Kombes Agus Rianto di Jakarta, Senin (12/1).
Hal itu menurut dia sesuai amanat Undang-undang Kepolisian yang melarang anggota Polri untuk terlibat dalam politik praktis. “Sejak awal kami berkomitmen untuk tidak melibatkan diri dalam politik praktis,” katanya.
Dalam pelaksanaan Pilpres 2014 lalu, tersiar kabar adanya pertemuan politisi PDI-Perjuangan Trimedya Panjaitan dan timses Jokowi-JK dengan jenderal polisi berinisial BG. Pertemuan dilakukan di sebuah restoran di Menteng, Jakarta Pusat pada Sabtu, 7 Juni 2014.
Pertemuan tersebut diketahui Ketua Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono yang saat itu sedang berada di restoran yang sama untuk mengadakan rapat dengan para pimpinan buruh.
Arief pun sempat beberapa kali mengambil foto pertemuan tersebut secara diam-diam. Meski demikian tidak diketahui apa isi pembicaraan dalam pertemuan tersebut.
Isu ini kembali muncul ke permukaan setelah Presiden Joko Widodo mengirimkan surat kepada pimpinan DPR terkait usulan Komjen Pol Budi Gunawan untuk menjadi Kapolri baru menggantikan Kapolri Jenderal Pol Sutarman.
Surat tertanggal 9 Januari 2014 yang berperihal “Pemberhentian dan Pengangkatan Kapolri” itu ditandatangani langsung oleh Presiden.
Dalam surat tersebut, Presiden Jokowi memandang Budi Gunawan mampu dan memenuhi syarat untuk diangkat menjadi Kapolri.
“Kami berharap DPR dapat memberikan persetujuannya dalam waktu yang tidak terlalu lama,” tertulis dalam surat itu.
Penunjukkan Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri menimbulkan pro dan kontra karena Budi merupakan mantan ajudan presiden di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Beberapa pihak berpendapat bahwa penunjukkan tersebut merupakan campur tangan Megawati dalam pemerintahan Jokowi-JK.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Fligth Data Record AirAsia QZ8501 Tiba di kantor KNKT

Karyawan PT KAI membawa Fligth Data Record (FDR) yang baru tiba di kantor Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Senin (12/1/2015). FDR yang dibawa dari Pangkalan Bun menuju ke Lanud Halim Perdanakusuma menggunakan pesawat TNI AU. AKTUAL/MUNZIR

Dradjad Wibowo: Sebainya, Pemilihan Ketum Partai Aklamasi

Jakarta, Aktual.co —Wakil Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo mengatakan pemilihan ketua umum PAN periode 2015-2010 sebaiknya dilakukan secara aklamasi. “Jika pemilihan ketua umum dilakukan melalui mekanisme pemungutan suara maka akan menimbulkan konflik di antara yang dapat membela partai,” kata Dradjad Wibowo pada diskusi “Trend Aklamasi dan Regenerasi Kepemimpinan Parpol” di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Senin (12/1).

Menurut Dradjad, jika pemilihan ketua umum PAN dilakukan secara aklamasi maka dapat membuat partai tetap solid, sebaliknya jika dilakukan pemungutan suara dan calonnya lebih dari satu maka dapat menimpulkan perbedaan aspirasi sehingga membuat partai dapat terpecah. Beberapa kali pemilihan ketua umum di PAN dilakukan secara aklamasi, kata dia, terbukti PAN tetap solid hingga saat ini.

Dradjad juga melihat, partai-partai politik yang lahir dari sempalan semuanya gagal, kecuali partai politik yang lahir dari sempalan Partai Golkar, seperti partai Gerindra, Hanura, dan NasDem. Pada kesempatan tersebut, Dradjad juga memberikan contoh, partai-partai yang lahir dari sempalan Partai Golkar berhasil masuk parlemen.

Namun, partai yang lahir dari sempalan PDI Perjuangan, seperti, PDP, Pelopor, dan PNI Marhaen semuanya gagal menuju ke parlemen. Demikian juga partai yang lahir dari sempalan PPP, kata dia, juga gagal masuk ke parlemen, seperti PBR dan PBB.

“PKB yang lahir setelah reformasi, juga telah melahirkan paryai baru yakni PNU dan PKNU, serta PAN yang melahirkan PMB juga gagal masuk parlemen. Ini fakta,” katanya. Dradjad menjelaskan, kenapa partai pecahan Partai Golkar bisa masuk parlemen, karena tokoh Paryai Golkar banyak dan mereka tidak terpaku pada satu orang figur seperti partai yang lain. “Artinya, kalangan aktivis partai dihadapkan pada banyak pilihan tokoh, bukan hanya satu tokoh,” katanya.

Menurut Dradjad, menjelang Kongres IV PAN di Bali, pada 28 Februari hingga 2 Maret mendatang, belum dapat dipastikan apakah pemilihan ketua umum akan dilakukan secara aklamasi atau melalui pemungutan suara. Kalau soal regenerasi kepemimpinan, kata dia, hal itu akan berjalan secara alamiah sesuai dengan aturan internal partai masing-masing.

Pemprov Jateng Didorong Antisipasi Bonus Demografi

Jakarta, Aktual.co — Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah mendorong pemerintah provinsi setempat untuk mengantisipasi bonus demografi yang diprediksi terjadi pada 2020-2030, di mana jumlah penduduk usai produktif akan mencapai dua kali lipat dibanding usia non produktif.
“Kalau kualitas usia produktif di luar dari yang diharapkan maka rata-rata bonus demografi akan berubah menjadi musibah karena akan muncul kriminalitas dan penyelewengan yang berhubungan dengan angkatan kerja,” kata Ketua PKBI Jawa Tengah, Widoyono, di Semarang, Senin (12/1).
Dirinya mengaku prihatin dengan adanya prediksi bonus demografi sehingga perlu ada langkah antisipasi supaya usia produktif ini tidak menjadi beban tapi mampu menyumbang untuk kemajuan di Provinsi Jateng.
“Di Jateng ada sekitar 685 ribu pasangan usia subur warga miskin yang belum terlayani oleh program Keluarga Berencana,” ujarnya.
Oleh karena itu, PKBI Jateng berkoordinasi dengan pemprov setempat untuk mendorong dan turun langsung ke daerah-daerah yang masih banyak terdapat warga miskin.
Untuk mengantisipasi bonus demografi, PKBI Jateng juga mempersiapkan generasi muda dengan menjadikan remaja sebagai prioritas dalam agenda pembangunan melalui penyediaan dukungan akses pendidikan serta kesehatan yang merata, berkualitas, dan terjangkau.
Kemudian, menyediakan fasilitas bagi remaja untuk berkreasi dan mengeksprsikan diri melalui seni, budaya, olah raga, serta teknologi, termasuk mendukung upaya remaja untuk berpartisipasi dalam pembangunan mulai dari tingkat desa hingga nasional.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain