15 Januari 2026
Beranda blog Halaman 39691

Pemkot Tangsel Didesak Investigasi Klaim Aset oleh Swasta

Jakarta, Aktual.co —Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany dituding lakukan pembiaran terhadap pengusaha dan investor yang tidak taat peraturan. Tudingan dilontarkan Aliansi Masyarakat, Mahasiswa dan Pemuda Peduli Aset Daerah (Linmas Muda). 
Mereka mempertanyakan ‘digarapnya’ jalan milik Pemerintah Kota Tangsel oleh PT Alfa Goldland Realty. Jalan sepanjang 1.900 meter dengan lebar lima meter itu terletak di Jalan Bhayangkara di Kelurahan Pakualam, Serpong Utara, Tangsel. 
Ketua Linmas Muda, Agus Muslim, menyatakan heran dengan sikap Pemkot Tangsel yang seperti lakukan pembiaran atas klaim jalan tersebut. 
Padahal, kata dia, setiap pemda di mana pun biasanya berlomba ingin merawat, memanfaatkan, bahkan mempertahankan asetnya dari klaim sepihak pihak tertentu. 
Pertanyaan pun timbul. Apakah sikap ‘melempem’ Pemkot Tangsel terjadi lantaran yang mengklaim adalah pengembang perumahan besar Alam Sutera?
Agus pun mengaku sudah menyampaikan persoalan ini ke SKPD terkait dan DPRD Kota Tangsel. Tapi hingga kini belum ada langkah konkret.
“Ada apa?” ujar dia heran, Minggu (11/1), seperti dilansir dari Tangerangnews.
Padahal dia telah melihat langsung tanah di jalan tersebut dirusak untuk dibangun si pengembang. 
Karena alasan itulah, Linmas Muda desak Pemda Tangsel pro aktif dan selektif terhadap proses pembangunan di Kota Tangsel. 
Mereka juga mendesak dilakukannya investigasi atas aset Tangsel. Khususnya terkait klaim sepihak oleh pengembang. “Kata mereka telah diruislag, kalau diruislag dimana, kenapa seperti ada yang ditutupi.”

Artikel ini ditulis oleh:

Kota Manado Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana

Jakarta, Aktual.co —Akibat dilanda banjir dan tanah longsor, Pemerintah Kota Manado, Sulawesi Utara, tetapkan status tanggap darurat bencana. Status itu akan diberlakukan selama tujuh hari, mulai Minggu (11/1) hingga 17 Januari 2015.
Wali Kota Manado, Vicky Lumentut, mengatakan sebelum tetapkan status tanggap darurat bencana, pihaknya sudah lakukan pemantauan. 
Berdasarkan hasil pantauan itu, kata Vicky, barulah Pemkot Manado menetapkan tanggap darurat bencana, serta melakukan semua prosedur yang diwajibkan.
“Sehingga warga yang mengungsi akibat bencana tetap mendapatkan pelayanan,” kata dia, di Manado, Minggu (11/1).
Untuk tanggap darurat bencana, kata Vicky, Dinas Sosial sudah mendirikan dapur umum di wilayah terkena bencana. Seperti Paal Dua, Ternate Tanjung, Wanea, Komo Luar, Dendangan Luar dan Taas.
“Kami berharap sekitar 3.000 warga Manado yang mengungsi karena banjir, dapat terlayani dengan baik, sehingga tidak kesulitan meskipun harus mengungsi,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Tidak Cocok dengan Wali Kota Surabaya, Dirut KBS Mundur

Surabaya, Aktual.co —Dianggap tidak jelas dalam mengelola Kebun Binatang Surabaya (KBS), Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) KBS, Ratna Achjuningrum dikabarkan akan mengundurkan diri.
Namun kabar itu belum ditanggapi Pemerintah Kota Surabaya. Kabag Humas Pemkot Surabaya, M. Fikser mengatakan pihaknya belum terima surat pengunduran Ratna. Sehingga pihaknya pun belum bisa tentukan langkah selanjutnya.
“Kami belum tahu, tunggu sajalah nanti,” kata dia, di Surabaya, Minggu (11/1).
Kendati demikian, kata Fikser, pihaknya tak akan menghalangi upaya mundur Ratna. Tapi untuk keputusannya diserahkan ke  Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.
“Sebenarnya Bu Wali sudah tahu dari media. Cuma yang pasti belum ada surat resmi yang masuk ke Pemkot Surabaya atas pengunduran dirut KBS,” kata dia.
Kabar pengunduran diri Ratna mencuat saat rapat dengar pendapat membahas aset KBS beberapa hari lalu. Adalah Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya Edi Rachmat yang menyampaikan kabar itu. 

Artikel ini ditulis oleh:

Kontras: Kasus HAM Dicampur dengan Politik, ‘No Way’

Jakarta, Aktual.co — Kasus Hak Asasi Manusia (HAM) yang belum terselesaikan, jangan dicampur aduk dengan konflik politik yang ada, kata Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS), Hariz Azhar. “Kasus HAM masih tebang pilih, tidak semua terproses dengan baik, jangan ada pengaruh politik,” kata Hariz Azhar di Jakarta, Minggu( 11/1).

Menurut dia ketika kasus tersebut tidak menguntungkan beberapa tokoh atau golongan maka tidak akan kunjung selesai. “Kasus yang tidak terselesaikan sebagian besar terkait dengan golongan tertentu, bahkan pejabat negara atau partai politik,” ujarnya.

Kasus Munir, tragedi Semanggi 1998 dan kasus aktivis lainnya dianggap sudah tertutup dengan kekuasaan politik, kata Hariz. “Isu HAM sekarang hanya menjadi permainan yang menguntungkan secara bisnis atau politik, terutama yang menyangkut penggusuran lahan,” katanya.

Beberapa hal yang akan muncul kembali pada pemerintahan ini menurut pengamatannya adalah pendekatan isu pengadilan HAM dan program pembangunan yang tidak mempunyai perlindungan hukum, terhadap dampak buruknya bagi masyarakat sebagai korban. Ia berpendapat sebaiknya 2015 ini, pemerintah tetap perhatian terhadap isu kemanusiaan. Karena sektor ini berdampak pada kepercayaan masyarakat. “Tahun ini akan ada beberapa pertarungan antara isu HAM, pebisnis, politis dan kelompok pendukung,” tambah Hariz.

Akhirnya, Pengusaha Roti Beralih ke Elpiji 3 Kg

Jakarta, Aktual.co — Ketua Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia (Apebi) Chris Hardijaya mengatakan banyak anggotanya yang kini beralih ke elpiji 3 kilogram menyusul kenaikan harga elpiji nonsubsidi 12 kilogram. “Banyak pengusaha roti, khususnya usaha kecil dan menengah (UKM) itu pindah ke elpiji 3 kilogram karena kenaikan harga elpiji 12 kilogram menambah biaya produksi sekitar 1-2 persen,” kata Chris di Jakarta, Minggu (11/1).

Ia menuturkan, mayoritas pengusaha roti menggunakan elpiji sebagai bahan bahar untuk memanggang roti dengan oven. Oleh karenanya, kenaikan elpiji 12 kg sebesar Rp18.000 per tabung itu tentu berpengaruh siginifikan terhadap bisnis para pengusaha roti. “Dampaknya berbeda-beda tergantung kelompok pelaku usaha. Kalau yang harga jual makanannya sekitar Rp6.000-Rp7.000, mereka tidak beralih ke 3 kg karena tidak kena dampak besar. Yang kasihan justru (pengusaha) yang kecil, yang menjual produknya Rp1.000-Rp2.000,” katanya menjelaskan.

Menurut Chris, pengusaha roti yang menjual produk dengan harga murah mengalami dilema karena mereka tidak mungkin mengurangi ukuran produk atau menaikkan harga jual. “Mereka sebelumnya sudah memperkecil ukuran roti untuk penghematan kenaikan elpiji sebelumnya. Kalau mau menaikkan harga, rasanya tidak mungkin. Akhirnya cara terakhir migrasi ke gas 3 kg,” katanya.

Dengan menggunakan elpiji 3 kg, pengusaha roti bisa berhemat karena bisa menggunakan bahan bakar gas dengan harga yang lebih murah. “Pakai empat tabung elpiji 3 kg hanya menghabiskan paling mahal Rp80.000 sementara dengan muatan yang sama kalau pakai yang 12 kg habis Rp150.000,” katanya.

Menurut Chris yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Makanan Tradisional Kadin Indonesia, migrasi penggunaan elpiji 12 kg ke 3 kg juga dilakukan oleh para pengusaha katering dan makanan tradisional. Ia berharap, fenomena banyaknya pengusaha makanan beralih ke elpiji subsidi 3 kg bisa mendorong pemerintah untuk memperbaiki stabilitas harga dan ketersediaan elpiji nonsubsidi 12 kg.

“Distribusi gas harus ‘continue’, stabil harganya sehingga pengusaha juga punya hitung-hitungan. Bagi kami, naik tidak apa asal ada kemudahan bagi kami,” katanya. Menurut Chris, banyak anggotanya yang mengeluhkan harga eceran gas yang bervariasi sehingga memengaruhi biaya produksi. “Imbasnya, pengusaha sulit maju karena harus menutup biaya produksi yang terus naik,” ujarnya.

Polres Aceh Barat Gagalkan Penyelundupan Landak

Jakarta, Aktual.co —Polres Aceh Barat, berhasil gagalkan upaya penyelundupan 20 satwa dilindungi jenis Landak (Porcupine), Minggu (11/1) dinihari. Landak-landak itu diselundupkan dengan menggunakan mobil.
Tiga orang ditangkap di Desa Mesjid, Kecamatan Kawai XVI, dan jadi tersangka dalam kasus ini.
Tak merasa bersalah, salah seorang tersangka berinisial RZ, mengatakan landak di daerahnya dianggap sebagai hama di perkebunan warga. 
“Landak-landak ini merusak perkebunan sawit warga. Setelah ditangkap dari pada dibunuh warga ya dijual. Jadi saya tampunglah sehingga ada orang dari luar minta beli ya kita kasih,” ujar dia, di Aceh Barat, Minggu (11/1).
RZ yang yang ternyata merupakan tokoh masyarakat setempat, mengatakan kalau dirinya membuat perangkap hanya untuk menampung penjualan landak dari masyarakat.
Bisnis jual beli landak, diakui pria berusia lanjut ini, sudah menjadi sumber pendapatannya dalam setahun terakhir, selain bekerja di bengkel las membuat kandang landak.
Untuk satu ekor landak, RZ biasa membeli seharga Rp200 ribu dari masyarakat. Untuk biaya penyediaan satu perangkap/kandang dihargai Rp300 ribu.
Sementara itu, Kapolres Aceh Barat AKBP Faisal Rivai melalui Kasat Reskrim AKP Haris Kurniawan mengatakan landak yang akan diselundupkan lebih dulu dikumpulkan selama satu minggu.
“Baru selanjutnya jalan untuk dijual. Hasil keterangan masyarakat kita selidiki dan mereka tertangkap saat semua satwa ini di dalam mobil dalam perjalanan,” ujar dia, di Meulaboh, Aceh Barat, Minggu (11/1).
Landak-landak itu rencananya diselundupkan ke luar dan dijual seharga Rp5 juta untuk 20 ekor. “Per ekor sekitar Rp450 ribu,” katanya.
Kata Haris, bisnis jual beli satwa dilindungi undang-undang itu sudah berlangsung satu tahun terakhir di kawasan perkebunan Desa Meutulang Kecamatan Panton Reu. 
Akibat perbuatannya, ketiga tersangka RZ, RM, SP dikenakan pasal 21 Ayat 2 huruf (a), Memperniagakan Satwa Dilindungi dalam kondisi hidup, dengan ancaman hukuman lima tahun penjara atau denda Rp100 juta sesuai Undang-Undang RI Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain