2 Januari 2026
Beranda blog Halaman 39743

Rupiah Melemah, Indef Sarankan Pemerintah Beri Stimulus

Jakarta, Aktual.co — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini seharusnya mendorong pemerintah dan pelaku usaha untuk lebih serius membangun industri bahan baku pengganti impor, kata peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

Pemerintah dapat mengambil sisi positif dari pelemahan rupiah ini dengan menggelontorkan insentif fiskal dan non-fiskal untuk menarik pengusaha dan investor agar menggencarkan pembangunan industri substitusi impor.

“Pelemahan rupiah sudah terjadi cukup lama. Pemerintah perlu dorong stimulus dengan insentif fiskal dan non fiskal untuk membangun industri substitusi impor,” ujar Direktur INDEF Enny Sri Hartati saat dihubungi di Jakarta, Rabu (7/1).

Kurs rupiah antarbank pada Rabu sore kembali melemah 82 poin menjadi Rp12.727 dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp12.645 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS, menurut Enny, tentu akan membuat biaya impor akan ikut naik, sehingga dapat menurunkan permintaan impor.

Meskipun di sisi lain kegiatan impor masih dibutuhkan untuk mengekspansi aktivitas bisnis dan ekonomi, Enny meminta secara bersamaan, pemerintah harus bergerak cepat untuk mendorong industri domestik memproduksi bahan baku pengganti impor.

Enny mengatakan gebrakan Presiden Joko Widodo dan jajarannya, dalam mereformasi perizinan usaha dan investasi telah menjadi permulaan yang baik sebagai insentif non-fiskal bagi dunia bisnis.

Reformasi perizinan itu, ujar dia, perlu diarahkan juga ke sektor industri penunjang yang memproduksi bahan baku pengganti impor. Selain itu, pemerintah daerah juga harus mereformasi perizinan dan birokrasi usaha dan investasi.

Dari sisi insentif fiskal, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro pernah menyatakan akan memperkuat insentif “tax holiday” dan “tax allowance”, –selain tawaran fasilitas pajak lainnya–, bagi pengusaha dan investor yang membangun industri perantara, yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku.

Industri substitusi impor sebenarnya sudah berjalan namun dianggap belum maksimal, karena komposisi impor bahan baku masih dianggap terlalu besar dibandingkan impor barang modal.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Hasil Ekspor Konsentrat Newmont Capai Rp4,7 Triliun

Jakarta, Aktual.co — Dinas Pertambangan dan Energi Nusa Tenggara Barat menyebutkan sejak diperbolehkan kembali melakukan ekspor konsentrat PT Newmont Nusa Tenggara sudah mampu menghasilkan USD 394.143 juta dolar atau setara Rp4,7 triliun lebih.

“Itu dari laporan yang kita terima dari September sampai dengan November 2014,” kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB Muh Husni di Mataram, Rabu (7/1).

Semenjak pemerintah memperbolehkan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) melakukan pengiriman konsentrat akhir September, perusahaan asal Amerika itu, telah mengirim sebanyak lima kali, yakni pada tanggal 11 Januari 2014, 29 September, 9 Oktober, 16 Oktober, dan 1 Nopember 2014.

Jumlah ini, berdasarkan hasil pengiriman konsentrat basah sebanyak 244.428,912 metrik ton dengan nilai USD 394.143.453,560 juta dolar atau Rp4.729.721.442.720 (USD 1 dihitung Rp12.000).

“Ini baru data sementara yang kita terima sampai dengan November 2015. Untuk bulan Desember kita belum terima. Tetapi, kita perkirakan akan bertambah,” ucapnya.

Ia menambahkan, sejak diberlakukannya Undang-Undang (UU) Mineral dan Batu Bara (Minerba) Nomor 4 Tahun 2009 per 12 Januari 2014, kegiatan Newmont mengekspor konsentrat dibatasi sembari smelter dirampungkan. Bahkan, PT NNT juga diberikan izin mengekspor konsentrat hingga Maret 2015 atau selama enam bulan.

“Kalau tidak mengurus izinnya, perusahaan kembali harus mengurus izin ekspor di Kementerian Perdagangan,” jelasnya.

Lebih jauh, Husni mengatakan, PT NNT hanya diizinkan mengekspor konsentrat basah hingga 304.515 metrik ton hingga Maret 2016. Sementara yang baru diekspor dari total 244.428,912 metrik ton yang dihasilkan sebesar 124.362,593 metrik ton.

“Sisanya dikirim ke smelter (pengolahan konsentrat) di Gresik untuk di olah,” ujarnya.

Adapun negara tujuan ekspor, sebut Husni, yakni Korea Selatan, Jepang, dan China. Terbanyak, dikirim ke Jepang.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

HD Capital: “Sang Banteng Telah Kembali”

Jakarta, Aktual.co — Pada perdagangan hari ini (8/1), HD Capital memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak di kisaran support 5.195-5.165-5.090, dan resisten 5.251-5.350.

“Sang banteng telah kembali,” kata Periset Senior HD Capital Yuganur Wijanarko dalam riset hariannya, Kamis (8/1).

Menurutnya, pemulihan kenaikan IHSG pascakoreksi sebelumnya akibat tekanan regional dan mata uang rupiah, masih akan berlanjut untuk mencoba resisten all time high di 5.251 dalam waktu dekat ini.

Lebih lanjut, ia merekomendasikan empat saham yang dapat dipertimbangkan pada perdagangan hari ini, yakni PT Surya Semesta (SSIA), PT Alam Sutera (ASRI), PT Bank Tabungan Negara (BBTN) dan PT Astra Internasional (ASII). 

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Mahfud MD: Gus Dur Proyeksikan Kebijakannya Tentang Laut

Jakarta, Aktual.co — Mantan Menteri Pertahanan di era pemerintahan Gus Dur, Mahfud MD menilai Gus Dur memanfaatkan sumber daya laut secara geologis sebagai sumber kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Dia mengatakan era pemerintahan Gus Dur sudah memproyeksikan kebijakannya menghadap laut namun hal itu belum terwujud karena kondisi pemerintahan tidak stabil saat itu.
“Dulu Gus Dur sudah meletakkan dasar-dasar kebijakan di sektor kelautan, saat ini di era Menteri Susi langkahnya tidak bertele-tele,” ujarnya, Rabu (7/1) malam.
Mahfud mengatakan Gus Dur membuat kelembagaan sektor kelautan sehingga sampai saat ini masih ada, dan langkah yang telah dilakukan Menteri Susi perlu dicontoh.

Artikel ini ditulis oleh:

Rokhmin Dahuri: Gus Dur Ingin Laut Jadi Sumber Kemakmuran

Jakarta, Aktual.co — Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan era Presiden Abdurahman Wahid, Rokhmin Dahuri, mengatakan, Gus Dur pada masanya telah menginginkan kelautan menjadi sumber kemakmuran sehingga sektor itu dibuat kelembagaan.
Hal itu diungkapkan Rokhmin pada acara Sarasehan dalam rangka Haul ke-5 KH. Abdurrahman Wahid, dengan tema “Menggali Konsep dan Kebijakan Kemaritiman Presiden Abdurrahman Wahid” di kantor MMD Initiative, di Jakarta, Rabu (7/1) malam.
“Dari bidang kelembagaan, Gus Dur melembagaan sektor kelautan dengan membuat kementerian khusus yaitu Departemen Eksplorasi Laut,” kata Rokhmin di Jakarta, Rabu (7/1) malam.
Dia mengatakan di era pemerintahan Gus Dur memunculkan konsep bahwa sektor kelautan tidak hanya terkait nelayan dan perikanan tangkap saja. Namun menurut dia, perikanan budi daya juga dikembangkan karena potensinya yang besar.
“Perikanan tangkap potensinya 7,3 juta ton namun perikanan budi daya sebesar 55 juta ton. Memang saat itu perikanan tangkap harus dikendalikan, ada daerah dengan musim tertentu,” ujarnya.
Selain itu teknologi perikanan dikembangkan karena kemampuan nelayan Indonesia masih kurang karena tidak berdaya dan harus dilakukan modernisasi teknologi. Selain itu menurut dia, di era pemerintahan Gus Dur dari visi pertahanan, ekonomi negara harus diperkuat sehingga mampu membeli kapal untuk patroli laut.
“Dari visi ekonomi, beliau (Gus Dur) meningkatkan anggaran untuk sektor kelautan dari Rp600 miliar menjadi Rp17 triliun,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Penguatan Bursa Global Berpotensi Dorong Penguatan IHSG

Jakarta, Aktual.co —  Pada perdagangan hari ini (8/1), Tim Riset Equity Retail Mandiri Sekuritas memperkirakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak pada kisaran 5.167-5.247.

“Indeks berpotensi melanjutkan penguatannya pada hari ini,” paparnya dalam riset Kamis (8/1/2015).

Dalam risetnya, Tim Riset Equity Retail Mandiri Sekuritas itu juga mengatakan, sentimen positif Indeks adalah pergerakan bursa global yang menguat.

“Serta dari dalam negeri Bank Indonesia (BI) juga terus memantau kondisi nilai tukar rupiah dan akan mengintervensi jika sudah terlalu tinggi dan jauh dari fundamentalnya,” jelas Tim ini.

Adapun sejumlah saham yang patut dicermati pada perdagangan hari ini, yaitu: BBRI, CPIN, ERAA, INTP, dan ASRI.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Berita Lain