16 Januari 2026
Beranda blog Halaman 40249

Kadishub DKI Bantah Pelarangan Motor Sengaja Untungkan Swasta

Jakarta, Aktual.co —Komisi B DPRD DKI panggil Kepala Dinas Perhubungan DKI untuk diminta penjelasan mengenai pelarangan motor melintasi jalan protokol MH Thamrin-Medan Merdeka Barat.
Kadishub DKI M Akbar mengaku belum bisa menanggapi penolakan terhadap kebijakan yang sudah diujicoba sejak 17 Desember tersebut.
“Saya belum tahu. Nanti kita pelajari argumentasi yang dipakai untuk tolak dan nanti coba direspon dan akan sampaikan juga latar belakang larangan ini dilakukan,” kata Akbar, usai temui anggota dewan di pertemuan yang digelar tertutup di DPRD DKI, Kebun Sirih, Jakarta Pusat, Senin (22/12).
Dia membantah tudingan bahwa peraturan sengaja dibuat Pemprov DKI untuk menguntungkan pihak swasta. Dalam hal ini pengusaha parkir. Karena 12 lahan parkir motor yang disediakan Pemprov DKI terkait pelarangan ini adalah milik swasta.  Sehingga tak berpengaruh kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Walau diakui Akbar, memang ada pihak yang diuntungkan dan dirugikan dari penerapan peraturan itu. Tapi dipastikannya itu tidak disengaja.
“Kalau kebetulan ada yang diuntungkan, bukan ‘by design’, tapi konsekuensi. Tapi (pada dasarnya) pembatasan ini (diterapkan) untuk kurangi kecelakaan, demi ketertiban. Kalau ada yang untung, itu di luar (tujuan utama),” tutur dia.
Soal payung hukum, Akbar terang-terangan mengakui kalah hingga saat ini peraturan itu masih berupa Peraturan Gubernur saja. Dan belum ada Peraturan Daerah-nya. 
Namun, kata dia. Pemprov DKI tetap bisa membuat peraturan itu untuk jalan nasional berdasarkan kewenangan otonomi daerah. Hal itu terkait dengan sistem desentralisasi.
“Ini jalan provinsi. Jalan nasional itu (seperti) jalan Perintis, Kali Deres, Gatot Subroto. Kita juga buat (peraturan) di jalan nasional enggak ada problem, kaya di simpang enggak boleh belok kiri/kanan, karena pemrpov punya otonomi,” ujar dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Terkait Tim Sembilan, SOS: Kemenpora Tidak Jelas

Jakarta, Aktual.co — Rencana Tim Sembilan dianggap bakal menjadi bumerang bagi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Hal itu karena Kemenpora tidak mau terbuka dalam penunjukkan anggota tim tersebut.

Dikatakan juru bicara Save Our Soccer (SOS), Apung Widadi, ketidakterbukaan Kemenpora membuat tim tersebut terasa ambigu. Kata dia, jika tidak segera diberitahukan, Tim Sembilan bisa dianggap membawa kepentingan tertentu.

“Kemenpora tidak jelas. Anggotanya siapa, tugasnya apa juga tidak tahu,” sesal Apung ketika dihubungi Aktual.co, Senin (22/12).

Menurut Apung, jika serius mau membentuk Tim Sembilan, Kemenpora bisa meniru Satgas anti Mafia Migas yg dibentuk oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Mereka (Kementerian ESDM) jelas menjabarkan tugas-tugas Satgas anti Mafia Migas. Waktu kerjanya juga jelas,” pungkasnya.

Seperti diketahui, rencana Kemenpora membentuk Tim Sembilan belum ada kejelasan. Sampai sekarang, Kemenpora belum bisa menjelaskan dan mengungkapkan apa-apa saja yang menjadi tugas serta siapa-siapa saja anggota Tim Sembilan.

Saat ini, masyarakat khususnya publik sepakbola tengah menunggu manurver-manuver tim tersebut. Ketidakjelasan Tim Sembilan mulai membuat masyarakat semakin pesimis.

Artikel ini ditulis oleh:

Ismed Sofyan Mengundurkan Diri dari APSNI

Jakarta, Aktual.co — Ismed Sofyan mengundurkan diri dari posisi Ketua Umum Asosiasi Pemain Sepak bola Nasional Indonesia (APSNI), karena ingin fokus membela klubnya yaitu Persija Jakarta pada kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2014/2015.

Pemain berusia 35 tahun itu ingin memberikan kemampuan terbaiknya, karena klub yang berjuluk Macan Kemayoran yang dibelanya saat ini, benar-benar mengincar posisi tertinggi pada kompetisi tertinggi di Tanah Air itu.

“Saya mengundurkan diri dari Ketua Umum APSNI karena ingin fokus ke klub. Persija musim ini sangat ingin juara, makanya saya akan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk tim,” kata Ismed Sofyan di Jakarta, Senin (22/12).

Salah satu pemain senior Persija itu menjadi ketua asosiasi pemain di bawah naungan PSSI sejak Desember 2013. Meski tidak muda lagi, Ismed Sofyan ingin membantu klub asal ibukota yang dibelanya sejak 2003 ingin merengkuh predikat juara ISL musim 2014/2015.

Pria yang akrab dipanggil Wak Haji ini mengaku berterima kasih karena telah diberi kepercayaan untuk memimpin organisasi pemain sepak bola Indonesia. Pihaknya juga meminta maaf, karena tidak bisa menyelesaikan tugasnya di APSNI.

“Secara lisan pengunduran diri saya sudah saya sampaikan ke APSNI. Untuk pengunduran diri secara tertulis akan segera saya kirimkan,” kata salah satu pesepakbola asal Aceh itu.

Ismed menegaskan, pengunduran dirinya sebagai Ketua Umum APSNI juga disampaikan ke manajemen Persija. Hal ini dilakukan karena saat terlibat langsung pada asosiasi pemain sepak bola Indonesia juga mendapatkan dukungan dari manajemen klub yang berjuluk Macan Kemayoran itu.

Persija menghadapi ISL musim depan bisa dibilang sudah siap. Untuk posisi pelatih ada nama Rahmad Darmawan yang sudah dikenal kemampuannya dalam meracik tim. Begitu juga dengan pemain yang direkrut.

Bambang Pamungkas dan Greg Nwokolo yang selama ini mencoba keberuntungan di klub lain kembali dibawa pulang. Selain itu, manajemen Persija mengontrak dua pemain asing yaitu Martin Vunk dan Kabayev dengan kontrak hampir Rp9 miliar.

Pemain yang dinilai dengan skema yang akan diterapkan oleh Rahmad Darmawan dipertahakan. Selain Ismed Sofyan ada nama Ramdani Lestaluhu, Andritany Ardhiyasa, Amarzukih dan pemain muda Firmansyah.

Artikel ini ditulis oleh:

Cerita Sedih Pembebasan Orangutan Sumatera di Argentina, Ini Kisahnya

Jakarta, Aktual.co —  Orangutan yang berada di dalam kebun binatang Argentina, akhirnya bisa dibebaskan dan dipindahkan ke tempat perlindungan satwa setelah pengadilan Argentina, mengakui family satwa kera termasuk dalam golongan ‘Orang non-manusia.’ Orangutan tersebut dirampas kebebasannya secara tidak sah, demikian media lokal Argentina melaporkan pada hari Minggu (21/12) kemarin.

Pegiat dan aktivis pembebasan satwa mengajukan permohonan ‘habeas corpus’, sebuah dokumen yang biasanya digunakan untuk menantang keabsahan penahanan seseorang atau narapidana- pada bulan November atas nama Sandra. Orangutan Sumatera 29 tahun tersebut sekarang masih berada di kebun binatang Buenos Aires.

Dalam keputusan penting pengadilan, bisa membuka jalan bagi lebih banyak tuntutan hukum, Asosiasi Pejabat dan Pengacara untuk Hak Hewan (AFADA) berpendapat, bahwa kera memiliki fungsi kognitif yang cukup dan tidak boleh diperlakukan sebagai obyek.

Pengadilan setempat menyatakan, bahwa Sandra, lahir dalam masa pembuangan di Jerman, sebelum dipindahkan ke Argentina dua dekade lalu. Sandra harus mendapatkan hak-hak dasar sebagai “orang non-manusia.”

“Ini membuka jalan tidak hanya sebatas Kera Besar, tetapi juga bagi makhluk hidup lain yang tidak adil dan sewenang-wenang yang dirampas kebebasannya di kebun binatang, sirkus, taman wisata air dan laboratorium ilmiah,” tulis surat kabar harian Argentina, La Nacion mengutip dari perkataan pengacara AFADA, Paul Buompadre.

Untuk diketahui, Orangutan berasal dari kata dari bahasa Melayu dan Indonesia yang berarti ‘Manusia Hutan’.

Kasus Sandra bukan pertama kalinya bagi para aktivis yang berusaha untuk menggunakan surat perintah ‘habeas corpus’ untuk menjamin pembebasan binatang liar dari dalam penangkaran.

Sebelumnya, pengadilan AS masih bulan ini juga bekerjasama dengan aktivis satwa untuk membebaskan simpanse ‘Tommy’, milik seseorang di negara bagian New York. Dalam kasus tersebut yang berhak berkuasa atas simpanse itu bukan ‘orang’ atas hak-hak dan perlindungan yang diberikan oleh ‘habeas corpus’.

Pada tahun 2011, kelompok hak-hak penyanyang binatang People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) pernah mengajukan gugatan terhadap pegawai taman laut SeaWorld, dengan tuduhan, bahwa lima paus orca yang liar ditangkap serta diperlakukan layaknya seperti budak. Namun, pengadilan San Diego menampik kasus itu.

Dari kasus di atas, Kebon Binatang Buenos Aires memiliki 10 hari (jam kerja, red) untuk mencari banding.

Juru bicara kebun binatang menolak berkomentar kepada Reuters. Kepala kebun binatang biologi, Adrian Sestelo, kepada La Nacion, mengatakan, orangutan memiliki sifat jinak, setiakawan, dan penyanyang anak.

“Ketika Anda tidak tahu tentang spesies biologi satwa, dapat dibenarkan mengklaim satwa menderita pelecehan, stres atau depresi. Itu merupakan salah satu kesalahan yang paling umum terjadi manusia, untuk memanusiakan perilaku hewan,” kata Sestelo kepada harian Argentina.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisatawan Asal Bekasi Tewas Tergulung Ombak di Pulau Tidung

Jakarta, Aktual.co —Seorang wisatawan asal Bekasi, Jawa Barat tewas akibat tergulung ombak saat berenang di perairan Pulau Tidung, Kecamatan Pulau Seribu Selatan, Senin (22/12).
Mohammad Rifki Arsad (14), dinyatakan tewas setelah sempat dirawat di Puskesmas Kecamatan Kepulauan Seribu. Dia tenggelam dan ditemukan tak sadarkan diri di dasar laut perairan Pulau Tidung.
Warga RT 03/27, Kelurahan Babelan, Kecamatan Babelan, Bekasi, itu digulung ombak saat tengah berenang bersama dua temannya pukul 12.30 Wib. Sekitar 10 meter di sisi selatan Jembatan Cinta. Kedua teman korban berhasil diselamatkan warga. Namun Rifki tak beruntung.   
“Awalnya korban berenang bersama kedua rekan. Tapi dua rekan lain bisa diselamatkan oleh warga, sementara korban ditemukan tenggelam,” kata Kanit Reskrim Polres Kepulauan Seribu, AKP Armunanto, seperti dikutip dari Beritajakarta, Senin (22/12).
Dia ditemukan 15 menit kemudian, di jarak sekitar 20 meter dari lokasi kejadian. Korban yang masih bernafas namun dalam kondisi tak sadar itu pun segera dibawa ke puskesmas. 
Satu jam lebih dirawat, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 14.30. Jenazahnya pun langsung dibawa ke RSCM untuk dilakukan otopsi.

Artikel ini ditulis oleh:

Kemenpora Juga Diminta Berantas Mafia Sepakbola

Jakarta, Aktual.co — Pengamat sepakbola Nasional, Anton Sanjoyo menegaskan bahwa, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) juga berkewajiban memberantas mafia sepakbola di Tanah Air.

Kata dia, untuk memberantas mafia sepakbola di Indonesia, Kemenpora harus bekerjasama dengan PSSI, selaku federasi sepakbola Indonesia.

“Kemenpora bisa memfasilitasi PSSI untuk bekerjasama dengan Pihak Kepolisian. Kalau mereka (PSSI) tidak mau, berarti ada masalah di tubuh PSSI sendiri,” papar Anton melalui sambung telepon kepada Aktual.co, Senin (22/12).

Menurut Anton, telah menjamurnya mafia sepakbola di Indonesia merupakan faktor utama yang menyebabkan prestasi Timnas Indonesia terpuruk.

Oleh karena itu, lanjutnya, Kemenpora jangan sampai salah langkah. Dikatakan Anton, jangan seperti rencana pembentukkan Tim Sembilan yang menurutnya hanya memperkeruh suasana.

“PSSI biarkan berkembang. Jangan dipantau dan diawasi seperti apa yang ditugaskan ke Tim Sembilan,” jelasnya.

“Kepentingan Kemenpora adalah mengawal PSSI agar menerapkan peraturan yang mereka bentuk sendiri. Tapi bukan lewat Tim Sembilan,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain