8 April 2026
Beranda blog Halaman 40311

Perwira KRI Bung Tomo: Hanya Cuaca Buruk Hentikan Evakuasi Korban AirAsia

Pangkalanbun, Aktual.co — Perwira Pelaksana KRI Bung Tomo, Ashari Alamsyah mengatakan, baru tujuh jenazah korban AirAsia QZ 8501 yang berhasil ditemukan oleh tim evakuasi dari KRI Bung Tomo pada Selasa (30/12), KRI Yos Sudarso, Sultan Hasanuddin Rabu (31/12) di lautan Pangkalan Bun.
Kemudian, lanjut dia, pada Kamis, (1/1) dua kapal perang Malaysia, KD Lekiu dan KD Pahang juga menemukan jenazah penumpang pesawat.
“3 di KRI Bung Tomo, 1 di KRI Yos Sudarso dan Sultan Hasanuddin, dan hari ini (Kamis) 1 di KD Lekiu dan 1 KD Pahang,” paparnya.
Selain jenazah, tambah Ashari, juga ditemukan sejumlah benda, di antaranya emergency exit floating dan koper kecil warna biru.
“Koper kecil warna biru kondisi luarnya rusak atau pegangannya terlepas,” tambah dia.
Ashari memastikan, saat ini pencarian menggunakan jalur laut masih terus dilakukan. Sementara, evakuasi akan dilakukan ke Pangkalan Bun bila kondisi cuaca mendukung.
“Untuk evakuasi biasanya terhenti sementara bila cuacanya buruk. Sedangkan pencarian terus dilakukan tanpa henti selama 1X24 jam,” tutupnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, enam jenazah sudah dievakuasi ke RS Bhayangkara, Surabaya, untuk diidentifikasi oleh tim DVI Mabes Polri. Sementara, satu jenazah sudah dibawa ke RSUD Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Salah Satu Korban AirAsia Berulangtahun Hari Ini

Jakarta, Aktual.co — Seorang korban pesawat Air Asia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata pada Minggu (28/12) William Wijaya berulang tahun pada hari ini.
“Selamat ulang tahun ke-9 keponakanku tercinta di surga. Saya tahu, kamu dan keluargamu mempunyai pesta (perayaan) yang fantastis di sana bersama Tuhan. Saya akan selalu mengingat senyum manismu dan koleksi mobil-mobilanmu. Kami semua mencintai kalian,” demikian tulis paman korban, Adi Kwok Handojo, dalam Bahasa Inggris di akun Facebooknya, Kamis (1/1).
William Wijaya dan empat anggota keluarganya berangkat ke Singapura untuk liburan akhir tahun.
Empat anggota keluarga lainnya yakni kedua orang tuanya Eko Wijaya dan Susandhini Liman dan dua kakaknya Marilyn Wijaya dan Alfred Wijaya.
William Wijaya duduk di kelas tiga SD Bina Bangsa River Side Malang. Sementara, kedua kakaknya duduk di kelas VIII SMP dan X SMA di sekolah yang sama.
Sejumlah teman Adi di jejaring sosial itu memberikan komentar keprihatinannya atas peristiwa yang menimpa keluarga tersebut.
Bagi Adi, kakaknya Eko Wijaya merupakan panutan. Eko membimbing Adi untuk mengenal Tuhannya secara lebih dekat. Hal itu tertuang dalam statusnya pada 30 Desember.
Adi juga menyebut Eko merupakan gurunya dan selalu berusaha melindunginya.
Ibu dari Eko Wijaya, Sumargasari, mengatakan Natal 2014 merupakan pertemuan terakhirnya dengan anaknya itu.
“Saya masih berharap anak saya dan keluarganya kembali ke Surabaya dengan selamat,” harap Sumargasari.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Kasudin Kebersihan Jaktim Sayangkan Lemahnya Pengawasan Keamanan

Jakarta, Aktual.co —Lemahnya sistem pengamanan malam pergantian tahun, disayangkan oleh Kepala Suku Dinas Kebersihan Jakarta Timur, Apul Silalahi.
Pasalnya, akibat ketidakhadiran petugas keamanan, salah satu anak buahnya yang tengah bekerja membersihkan sampah sisa perayaan tahun baru di Jalan TMII Raya, Jakarta Timur, justru menjadi korban kebrutalan aksi geng motor, dini hari tadi pukul 03.00Wib.
Akibat tidak adanya petugas pula, si pelaku berhasil melarikan diri tanpa diketahui identitasnya.
Apul menyayangkan kejadian itu. Dia mengaku tak tahu motif apa yang membuat pelaku tegas melakukan tindakan brutal seperti itu pada anak buahnya yang justru sedang membantu kebersihan. Dia pun berharap polisi segera mengusut dan menangkap pelaku.
“Ini sangat disayangkan, kok petugas yang sedang membersihkan sampah diserang dan pelakunya berhasil kabur. Padahal pengamanan tahun baru kan berlapis-lapis,” ujar dia, Kamis (1/1).
Korban yang bernama Mumuh Maulana, mengalami luka bacok di punggung dan kepala bagian belakang akibat dibacok celurit. Dia mendapat belasan jahitan. Saat ini dia sudah pulang ke rumahnya di kawasan Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur.
Seluruh biaya perawatan korban ditanggung oleh Sudin Kebersihan Jakarta Timur. Bantuan biaya perawatan ini akan diberikan sampai korban sembuh dan dapat beraktifitas kembali.

Artikel ini ditulis oleh:

Berikut Kronologi Pencarian Pesawat AirAsia dari Hilang Hingga Hari ke 4

Jakarta, Aktual.co — Jumlah penumpang pesawat Air Asia QZ 8501 tipe Airbus 320-200 adalah 162 orang. Terdiri dari 138 orang dewasa, 16 anak-anak dan seorang bayi. Selain itu, diawaki 2 orang pilot dan 5 crew kabin pesawat.
Inilah kronologi pencarian pesawat oleh armada udara TNI AU mulai hari pertama kejadian hingga hari keempat, sebagaimana dituturkan Marsekal Pertama TNI, Hadi Tjahjanto.
Operasi tim SAR pada hari pertama, minggu, 28 Desember 2014.
Pukul 05.36 WIB. Pesawat AirAsia jenis Airbus A 320-200 dengan nomor penerbangan QZ 8501 lepas landas dari bandar udara Juanda, Surabaya menuju Singapura.
Kemudian pada Pukul 06.12 WIB, pesawat meminta izin naik ke ketinggian 38 ribu kaki. Selanjutnya, pada pukul 06.16 WIB, Pesawat AirAsia masih terlihat di layar radar.
Pada pukul 06.17 WIB, pesawat hanya tampak sinyal ADS-B di layar radar ATC. Pukul 06.18 WIB Pesawat hilang dari radar.
Pukul 07.08 WIB, ATC menyatakan INCERFA (tahap awal pesawat hilang kontak). Badan SAR Nasional (Basarnas) segera dihubungi.
Pukul 07.28 WIB. ATC menyatakan ALERFA (tahap lanjutan pesawat hilang kontak). Selanjutnya, Pukul 07.55 WIB ATC menyatakan DISTRESFA (pesawat resmi hilang).
Pukul 09.30, informasi ada kecelakaan masuk, Lanud Halim menyiagakan pesawat dan crew C-130 dan CN-295 untuk SAR di area Bangka Belitung.
Pukul 10.30, semua Crew sudah lengkap dan mulai menyiapkan pesawat C-130 Hercules A-1323 Skadron Udara 31. Pesawat diterbangkan Captain Pilot Mayor Pnb.Akal Juang, Copilot Lettu.Pnb.Galang dan Lettu.Pnb.Aris, dengan navigator May.Nav Joko Purwanto dan Lettu.Nav Redolfo.
Pukul 11.45. Perintah terbang diberikan dengan perkiraan koordinat lokasi Airbus 320 hilang di koodinat S 03° 22” 15’ , E 109° 41” 28’, namun bahan bakar harus ditambah dari 33.000 lbs jadi 45.000 lbs agar bisa terbang hingga sembilan jam.
Pukul 12.00. Posko SAR Udara TNI AU di Base Ops Lanud Halim dibentuk dengan diawaki penerbang muda Lanud Halim. Pukul 12.30. Pengisian bahan bakar selesai, pesawat start engine.
Pukul 12.50 . Pesawat tinggal landas dari Halim dengan ketinggian 15.000 ft dan mendekati sasaran turun ke 2.000 ft (700 mtr) diatas permukaan laut.
Pukul 13.40. Pesawat tiba di lokasi titik pesawat Air Asia hilang (lost contact) dan langsung melaksanakan pencarian dengan pola square sampai dengan radius 60 Nm (110 km) dari sasaran.
Dua hari kemudian serpihan pesawat dan jasad korban kecelakaan Air Asia ditemukan dalam area radius lingkaran pencarian hari pertama, saat itu tidak ditemukan jejak apapun di lokasi.
Pukul 16.30. Pesawat melanjutkan pencarian menelusuri rute penerbangan yang dilalui pesawat Air Asia QZ8501 ke arah utara pulau Belitung, dan selat Karimata di sebelah timur pulau Belitung selanjutnya mengikuti jalur yang sama kembali lagi ke titik área lost contact (hilangnya) pesawat di sebelah selatan Kalimantan, namun jejak pesawat masih belum diketemukan.
Pukul 17.10. Cuaca di área lokasi kecelakaan makin memburuk, maka pesawat A-1323 kembali ke Lanud Halim Perdanakusuma dan mendarat pukul 17.52.( 5 jam). Pencarian dihentikan karena cuaca buruk dan mustahil mencari di malam hari di área yang sudah disisir habis bolak balik selama lima jam tanpa hasil.
Berlanjut pada Senin, 29 Desember 2014.
Operasi tim SAR hari kedua, TNI AU mengerahkan enam buah pesawat yaitu pesawat Boeing 737 Intai dari Skadron Udara 5 Lanud Makasar, dua pesawat C-130 Hercules dari Skadron Udara 31, sebuah pesawat CN-295 dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma serta dua helikopter Puma/ Super Puma dari Skadron Udara 8 Lanud Atang Sanjaya, Bogor.
Pada pukul 05.00. Briefing pagi di Posko SAR Base Ops Lanud Halim Perdana Kusuma pada pukul 05.00 WIB dipimpin Komandan Lanud Halim Marsma TNI Sri Pulung. Diikuti para penerbang dan 120 wartawan media nasional/internasional. Lokasi pencarian dilakukan sepanjang jalur lintasan terbang pesawat Air Asia.
Pukul 06.00. Pesawat C-130 Hercules A-1319 dipimpin Captain Pilot Letkol.Pnb. Putu Setiadarma dan Mayor Anjoe Manik dengan Copilot Lettu.Pnb Galang tinggal landas menuju area Sektor II Utara Belitung hingga pantai Kalimantan Barat.
Setelah terbang sepuluh jam mendarat kembali di Halim pada pukul 16.00.(10 jam). Sebanyak 60 wartawan mengikuti penerbangan ini.
Pukul 06.20. Pesawat C-130 Hercules A-1323 dengan Captain Pilot Mayor.Pnb. Akal Juang dengan Copilot Lettu.Pnb. tinggal landas pada pukul 06.20 WIB menuju Sektor I ( Barat laut Belitung ke utara hingga 300 km) dan sepuluh jam kemudian mendarat kembali pada pukul 16.10. (9 jam 50 menit). Sebanyak 60 wartawan mengikuti penerbangan ini.
Kedua pesawat C-130 Hercules TNI AU dilengkapi Drop Tank sehingga mampu terbang lebih dari dua belas jam, namun hanya digunakan selama 10 jam.
Pukul 06.55. Pesawat Boeng 737 Intai Maritim dengan Captain Pilot Mayor Pnb Andre dan Copilot Lettu.Pnb.Dentabella tinggal landas dari lanud Supadio Pontianak menuju Sektor III (timur Belitung hingga Pantai Kalimantan Barat) termasuk titik lost contact dan mendarat kembali di Pontianak pada pukul 12.30 (5 jam 35 menit).
Pukul 11.32. Helikopter NAS-332 Super Puma nomer H-3214 dengan Captain Pilot Mayor Pnb Suryo dan Copilot Lettu Pnb.Ravi Rakasiwi tinggal landas dari Tanjung Pandan menuju titik lost contact pesawat dan melakukan penyisiran di sekitarnya pada ketinggian 1000 fwt (300 mtr) serta kembali mendarat di Tanjung Pandan pukul 14.35 (3 jam).
Pukul 11.55. Helikopter SA-330 Puma Nomer HT-3310 dengan Captain Pilot Kapten Pnb Tatag dan Copilot Lettu.Pnb Rizky Randiguna tinggal landas dari Pangkalan Bun menuju titik lost contact pesawat dan sekitarnya pada ketinggian 1500 kaki (500 mtr) kemudian kembali mendarat di Pangkalan Bun pada pukul 14.00 (2 jam 5 menit).
Selama pencarian ada informasi tentang adanya sinyal ELT (Emergency Locator Transmiter) pada dua lokasi berbeda serta adanya tumpahan minyak di sekitar Pulau Belitung, namun setelah diperiksa dengan pesawat Helikopter, Hercules dan CN-295 ternyata informasi tersebut tidak terbukti sebagai jejak dari pesawat Airbus yang hilang.
Pencarian hari kedua berjalan baik, akibat cuaca yang bersahabat dan manajemen pengaturan sektor pencarian yang baik.
Selasa, 30 Desember 2014.
Operasi SAR hari ketiga, TNI AU mengerahkan enam buah pesawat yaitu pesawat Boeing 737 Intai maritim, dua pesawat C-130 Hercules, sebuah pesawat CN-295 serta dua helikopter Puma/ Super Puma.
Pukul 05.00. Briefing pagi di Posko SAR Base Ops Lanud Halim Perdana Kusuma pada pukul 05.00 WIB. Diikuti para penerbang dan 50 wartawan media nasional dan internasional.
Lokasi pencarian tetap dilakukan sepanjang jalur lintasan terbang pesawat Air Asia dan titik lost contact dan diperlebar dalam tujuh sektor untuk mengantisipasi kemungkinan pesawat jatuh di luar lintasan terbang dan antisipasi arus laut yang bisa menggeser jejak Airbus yang tercecer.
Pukul 06.20. pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan Captain Pilot Mayor Pnb. Akal Juang dan Copilot Lettu Pnb Aris Febrianto dan Lettu Pnb.Erwin Tri Wibowo tinggal landas dari lanud Halim menuju Sektor V (Selatan Pangkalan Bun).
Pukul 06.25. Pesawat CN-295 bernomor A-2906 dengan Captain Pilot Kapten Pnb. Mohamad Reza Pahlevi dan Copilot Lettu Pnb Ary Purba Kesuma tinggal landas dari lanud Halim menuju Sektor XII (Timur pangkalan Bun).
Pukul 09.52. Pesawat CN-295 A-2906 pesawat pertama menemukan jejak Airbus berupa tiga obyek besar berwarna putih dan kuning mengapung di perairan pada posisi radial 227 dan jarak 95 Nm (175 km) dari Pangkalan Bun. Pesawat terbang pada ketinggian 500 kaki (150 meter) dari permukaan laut berhasil menemukan.
Pukul 10.12. Pesawat CN-295 yang juga membawa Pangkoopsau I Marsda TNI Agus Dwi Putranto dan beberapa reporter media menemukan makin banyak obyek-obyek terapung di sekitar lokasi penemuan, selanjutnya pesawat mendarat Pangkalan Bun pada pukul 10.30 (4 jam) setelah mengumpulkan foto yang dibutuhkan.
Pukul 10.18. Hercules A-1320 dengan Captain Pilot Kapten Pnb.Irwanda dan Copilot Lettu Pnb.Kresna Hendrawibawa serta Lettu.Pnb.Galang Mulkar Kasai segera tinggal landas dari Halim untuk membantu pencarian.
Pukul 11.30. Hercules A-1319 adalah pesawat kedua menemukan lokasi serpihan reruntuhan Air Bus 320 dengan terbang pada ketinggian 500 kaki (150 mtr) melihat jejak serpihan-serpihan putih dan merah oranye serta sesosok tubuh terapung bercelana pendek warna hitam diperairan pada koordinat dekat dengan temuan pesawat CN-295 sebelumnya. Setelah mengambil foto-foto yang dibutuhkan pesawat ini selanjutnya menuju Pangkalan Bun untuk melaporkan foto temuan.
Pukul 12.15. Hercules A-1320 pesawat ketiga menemukan serpihan di lokasi yang berdekatan dengan temuan-temuan sebelumnya pada ketinggian 500 kaki (150 mtr). Pesawat mengabadikan antara lain live vest penumpang kuning, serpihan cargo berwarna merah putih dengan jaring cargo.
Pukul 13.58. Helikopter SAR HR-3601 Basarnas tiba di lokasi dan membuktikan temuan pesawat TNI AU dengan menemukan lebih banyak banyak serpihan dan tubuh terapung di perairan tersebut, disusul kehadiran KRI Bung Tomo di lokasi penemuan reruntuhan, selanjutnya kapal perang tersebut seterusnya berada di situ sebagai kapal pertama yang mulai melakukan evakuasi korban.
Pukul 14.10. Hercules A-1319 mengudara kembali dari Pangkalan Bun menuju lokasi pada ketinggian 500 kaki berputar putar di atas lokasi melaporkan melihat delapan jenasah mengapung di laut dan berkoordinasi dengan KRI Bung Tomo lewat radio komunikasi. Penerbang melihat empat jenasah berangkulan, dan ada yang mengenakan celana hitam dan biru serta nampak seperti mengenakan pelampung.
Pesawat pun melihat sebuah kapal tongkang dengan awak kapal yang melambaikan tangan menunjukkan sebuah serpihan kepada Hercules yang melintas pada ketinggian 150 meter di sebelahnya. KRI Bung Tomo melaporkan sudah mengetahui identitas kapal tongkang yang membantu mengevakuasi serpihan berwarna putih.
Pukul 15.50. Pesawat VIP C-130 Hercules A-1341 Skadron Udara 17 dengan Capt.Pilot Letkol.Pnb Putu Setiadarma dan Mayor Pnb.Noto Casnoto membawa Presiden RI Joko Widodo dan rombongan tinggal landas menuju perairan lokasi reruntuhan pesawat Airbus 320 Air Asia QZ-8501.
Setelah berputar meninjau lokasi dari udara dan melihat serakan, pesawat menuju Juanda untuk mengantar Presiden menemui keluarga korban di Crisis Center Bandara Juanda.
Rabu, 31 Desember 2014.
Operasi SAR hari keempat, TNI AU mengerahkan enam buah pesawat yaitu pesawat Boeing 737 Intai, dua pesawat C-130 Hercules, sebuah pesawat CN-295 serta dua helikopter Puma/ Super Puma.
Pukul.05.22. Hercules A-1319 Captain Pilot Mayor Penerbang Fata Patria dengan Copilot Kapt.Pnb.Adhe Irmansyah dan Lettu.Pnb.Putut Satrio tinggal landas dari Lanud Halim menuju Pangkalan Bun dengan membawa Pangkoosau I Marsda TNI Agus Dwi Putranto, 32 orang wartawan, 21 personil marinir, 14 personil denjaka, 12 personil penyelam, 11 personil PMI dan dua personil Dispenau serta sebuah mobil liputan TV.
Namun pesawat kembali ke halim kerusakan pada radar cuaca dan kembali berangkat dari halim pukul 08.18. Pesawat mencoba melihat área lokasi jatuhnya pesawat namun cuaca buruk membuat jarak pandang terbatas dan mendarat di Pangkalan Bun pukul 09.57.
Pukul.10.05. Helikopter Puma HT-3310 take off dari Pangkalan Bun menuju sasaran dan pukul 10.46 mendarat lagi karena cuaca buruk di sasaran.
Pukul.10.33. Helikopter Super Puma HT-3214 berangkat dari Tanjung Pandan menuju sasaran namun terhalang cuaca buruk dan mendarat di pangkalan Bun pukul 12.30.
Pukul 11.03. Helikopter Dauphin HR-3601 basarnas berangkat dari Pangkalan Bun dan mengevakuasi dua jenasah dari KRI Banda Aceh dan mendarat di pangkalan Bun pukul 12.24.
Pukul 13.00. Hercules A-1320 berangkat dari lanud Halim menuju Pangkalan Bun melewati lokasi jatuhnya pesawat dan landing pukul 14.15 membawa 56 wartawan dan sebuah mobil liputan TV.
Pukul 14.46. Boeing 737 Intai Maritim Skadron Udara 5 TNI AU berangkat dari pangkalan Bun membawa dua jenasah menuju Juanda dan mendarat pukul 15.53. TNI Angkatan Udara selalu berusaha dengan cepat merespon situasi krisis dan menyiagakan personil dan pesawat untuk mendukung langkah-langkah evakuasi selanjutnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Beberapa Catatan Akhir Tahun Buat BPJS Kesehatan

Jakarta, Aktual.co — Pusat Studi Nusantara (Pustara) mengingatkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan agar kembali pada khittah, yakni memberikan perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi rakyat, sebagaimana mandat UU No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Sebab, dalam implementasi di lapangan, masih banyak ditemukan keluhan baik dari pasien, pihak rumah sakit, LSM, politisi DPR, maupun kelompok lain.

“Perjalanan setahun BPJS Kesehatan masih jauh dari harapan masyarakat,” ujar Direktur Eksekutif Pustara, Imam Ghazali dalam rilis catatan akhir tahunnya di Jakarta, (30/12).

Menurut Imam, catatan pertama, Peraturan Direksi BPJS Kesehatan No 211 Tahun 2014 yang mengharuskan bayi baru lahir dari orangtua kelas 3 harus mendapatkan surat rekomendasi Dinas Sosial sangat menyulitkan masyarakat. “Aturan ini diskriminatif, karena hanya berlaku untuk pasien kelas 3. Seharusnya, pasien kelas 2 dan 1 juga bisa mendapatkan rekomendasi karena pada dasarnya tidak ada warga negara kelas 1, kelas 2 maupun kelas 3,” ujarnya.

Kedua, Peraturan BPJS Kesehatan yang menetapkan masa tunggu kartu aktif selama 7 (tujuh) hari untuk peserta mandiri menyebabkan masyarakat tidak bisa langsung mendapatkan akses fasilitas kesehatan meskipun dalam keadaan sakit parah. “Padahal, asuransi swasta sendiri memberlakukan masa tunggu (waiting period) itu hanya untuk penyakit-penyakit tertentu saja,” tegasnya.

Catatan ketiga, pemberlakuan pengurusan kartu 3×24 jam kepada peserta menyebabkan pihak RS dengan masyarakat terjadi konflik. Pasalnya, peserta dari PNS dan pegawai swasta yang notabene melahirkan di RS harus mengurus kartu bayinya dalam waktu 3×24 jam. Jika tidak, maka tidak akan dijamin BPJS. “Aturan ini kurang disosialisasikan pihak BPJS ke PNS dan perusahan, akibatnya petugas RS selalu terlibat konflik dengan peserta yang merasa sudah dipotong gajinya tiap bulan untuk premi,” ujarnya.

Keempat, adanya aturan dan kebijakan yang berbeda-beda di tiap wilayah, misalnya, BPJS cabang Jakarta Pusat dengan BPJS cabang Jakarta Barat. Untuk pengurusan kartu peserta bayi baru lahir di Jakarta Pusat tidak memerlukan NIK dan dapat dimaklumi, sementara untuk wilayah Jakarta Barat harus ada jika ingin kartu keluar. “Pengurusan NIK sendiri di tiap-tiap wilayah juga berbeda-beda,” ucapnya.

Kelima, BPJS Kesehatan tidak ada sosialisasi ke masyarakat atas manfaat apa saja yang akan diperoleh dengan menjadi peserta, khususnya peserta mandiri. Akibatnya, ekspektasi masyarakat yang sangat tinggi seringkali jadi masalah, dimana peserta datang langsung ke RS tanpa rujukan puskesmas/ klinik pratama. “Jika dilayani pihak RS, klaimnya tidak dijamin BPJS, sementara jika ditolak pasien seringkali mengancam, seperti akan masukan ke media, akan lapor pejabat tinggi,” ujarnya.

Keenam, petugas BPJS Kesehatan yang tidak standby di RS menyebabkan terhambatnya pasien jika harus dirujuk ke RS yang lebih tinggi. Dimana untuk surat rujukan harus ditandatangani dan stempel dari petugas BPJS. “Padahal, hari kerja pegawai BPJS hanya Senin- Jumat, sementara operasional RS itu 24 jam selama 7 hari penuh,” ujarnya.

Ketujuh, meminta Direksi BPJS Kesehatan untuk membatalkan Peraturan Direksi BPJS No 211 Tahun 2014 dan juga aturan tentang masa tunggu kartu aktif 7 hari. “Peraturan itu menimbulkan banyak masalah di masyarakat, maka sudah selayaknya Peraturan BPJS Kesehatan dan Peraturan Direksi BPJS Kesehatan tersebut dicabut,” kata Imam.

Kedelapan, kualitas direksi BPJS Kesehatan yang rendah, hal ini menyebabkan produk peraturan yang dibuatnya justru menyulitkan masyarakat. “Direksi BPJS Kesehatan mindset-nya bukan bagaimana memperbanyak jumlah iuran, tapi bagaimana agar masyarakaat yang membutuhkan itu bisa tertolong dengan segera,” ujarnya.

Kesembilan, BPJS diperuntukkan untuk WNI agar bisa menjaga kesehatannya supaya tidak jatuh miskin ketika sakit. Banyaknya masalah BPJS, seharusnya Direksi BPJS melakukan blusukan ke lapangan agar tahu langsung permasalahan masyarakat. “Kalau Presiden Jokowi saja blusukan untuk mengetahui fakta yang terjadi di lapangan, kenapa Direksi BPJS tidak blusukan juga?” cetusnya.

Kesepuluh, atas dasar itulah, Pustara meminta Presiden Jokowi mengevaluasi kinerja Direksi BPJS Kesehatan. Bila perlu, ganti Direksi yang dinilai gagal tunaikan mandatnya. “Jokowi harus buktikan bahwa program pelayanan kesehatan itu diperuntukkan untuk rakyat,” tukas Imam.

Artikel ini ditulis oleh:

Penurunan Penyelam dari Bell 412 ke KRI Bung Tomo

Suasana saat penurunan penyelam TNI AL dari Helikopter Bell 412 ke KRI Bung Tomo di perairan Teluk Kumai, Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, Kamis (1/1/2015) Tim penyelam TNI AL ini rencananya akan melakukan pencarian AirAsia QZ8501 di bawah laut jika cuaca mulai membaik. AKTUAL/Ist

Berita Lain