1 Januari 2026
Beranda blog Halaman 40369

Korban Penusukan di Duren Sawit, Mulai Membaik

Jakarta, Aktual.co — Faza Chandikya Dhanadi (16) korban penusukan saat menaiki Metromini 52 pada 10 Desember lalu kondisinya kini mulai membaik.
Ainur Rofiq ayahanda Faza menjelaskan kondisi putranya saat ini masih dipasangi alat bantu asupan makanan di leher serta alat bantu pembuangan kotoran darurat di bagian pinggang, putra sulungnya bisa berkomunikasi secara terbatas.
“Pakai isyarat, soalnya saluran pencernaan bawah diistirahatkan selama enam bulan kedepan,” kata Ainur kepada Aktual.co, Jum’at (19/12).
Faza sempat koma selama beberapa hari, ia juga masih mengalami infeksi di bekas tusukan di bagian perut kanan dan kiri. 
“Waktu sesudah ditusuk, ususnya sempat menyembul keluar, sekarang masih ICU,” tambahnya.
Ayah tiga anak itu lalu menceritakan, saat kejadian putranya baru pulang dari sekolah dan hendak pergi ke Stasiun Buaran. Lantaran memiliki hobi motret, Faza sering ke suatu tempat ramai untuk mengambil gambar.
“Dia juga sekolah di Jurusan Multimedia,” jelasnya.
Ia menyayangkan tindakan polisi yang kurang preventif agar tindak kejahatan seperti itu tidak perlu terjadi lagi. Untuk pelaku sendiri kini sudah diamankan oleh satuan reskrim Polsek Duren Sawit, Jakarta Timur. Akibat perbuatannya, Saparudi dikenakan pasal 351 Junto 365 KUHP dengan ancaman penjara 15 tahun.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Korupsi Diklat Sorong, KPK Panggil Direktur PT Winangkit Karya

Jakarta, Aktual.co — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Direktur PT Winangkit Karya Mulya, Federicus Eka Wahyu untuk dimintai keterangan terkait kasus dugaan korupsi proyek Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pelayaran Kementrian Perhubungan di Sorong, Papua tahun anggaran 2011.
Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha mengatakan, Federicus akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Budi Rahmat Kurniawan.
“Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka BSK,” kata Priharsa ketika di konfirmasi, Jumat (19/12).
Untuk kasus ini, selain Federicus, KPK juga memanggil empat staf PT Hutama karya yakni selain Narwatri Kurniasih, Ikin Sodiqin, Andri Budi Setyawan, M Zaim Susilo. 
“Mereka juga akan menjadi saksi untuk tersangka BRK,” kata Priharsa.
Sebelumnya KPK telah menetapkan mantan General Manager PT Hutama Karya (HK) Persero Budi Rahmat Kurniawan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek Pembangunan Gedung Diklat Pelayaran Kementerian Perhubungan di Sorong, Papua, tahun anggaran 2011.
Budi yang kini duduk sebagai Direktur Pengembangan PT Hutama Karya itu diduga menyalahgunakan kewenangannya dalam proyek tersebut.
Adapun pada kasus proyek di kementerian yang kini dipimpin mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignatius Jonan itu diduga negara mengalami kerugian sebesar Rp 24,2 miliar.
Atas perbuatannya itu, ‎Budi dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPIdana.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Korupsi Diklat Sorong, KPK Panggil Direktur PT Winangkit Karya

Jakarta, Aktual.co — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Direktur PT Winangkit Karya Mulya, Federicus Eka Wahyu untuk dimintai keterangan terkait kasus dugaan korupsi proyek Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pelayaran Kementrian Perhubungan di Sorong, Papua tahun anggaran 2011.
Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha mengatakan, Federicus akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Budi Rahmat Kurniawan.
“Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka BSK,” kata Priharsa ketika di konfirmasi, Jumat (19/12).
Untuk kasus ini, selain Federicus, KPK juga memanggil empat staf PT Hutama karya yakni selain Narwatri Kurniasih, Ikin Sodiqin, Andri Budi Setyawan, M Zaim Susilo. 
“Mereka juga akan menjadi saksi untuk tersangka BRK,” kata Priharsa.
Sebelumnya KPK telah menetapkan mantan General Manager PT Hutama Karya (HK) Persero Budi Rahmat Kurniawan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek Pembangunan Gedung Diklat Pelayaran Kementerian Perhubungan di Sorong, Papua, tahun anggaran 2011.
Budi yang kini duduk sebagai Direktur Pengembangan PT Hutama Karya itu diduga menyalahgunakan kewenangannya dalam proyek tersebut.
Adapun pada kasus proyek di kementerian yang kini dipimpin mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignatius Jonan itu diduga negara mengalami kerugian sebesar Rp 24,2 miliar.
Atas perbuatannya itu, ‎Budi dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPIdana.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Masyarakat Diharap Dukung Proses Investigasi Paniai

Jakarta, Aktual.co — Anggota DPR RI Willem Wandik mengharapkan semua pihak di Papua, terutama masyarakat di Enarotali, Kabupaten Paniai, mendukung tim investigasi mengumpulkan data dan bukti terkait kekerasan di daerah itu pada pekan lalu.
“Saya harapkan aparat TNI dan Polri dan masyarakat ikut ambil peran dalam mendukung proses penyidikan atau tim investigasi, agar hal itu berjalan dengan baik,” kata Wandik di Jayapura, Papua, Jumat (19/12).
Indonesia merupakan negara hukum, sehingga dalam setiap persoalan atau permasalahan lebih diutamakan penegakan hukum daripada sikap-sikap yang tidak terpuji dan tidak manusiawi.
“Karena Indonesia ini negara hukum, bagaimana pun hukum harus dijadikan panglima,” kata dia.
Wandik berpesan kepada masyarakat di Papua jika terusik dengan kehadiran aparat keamanan TNI-Polri di suatu daerah, ada mekanismenya yang harus ditempuh yakni dengan cara mengadu kepada wakil rakyat setempat dan pimpinan daerah, bukan dengan cara yang anarkis dan melawan aparat hingga akhirnya bertentangan dengan hukum.
“Saya juga pesan kepada TNI-Polri agar tidak bertindak represif, militeristik, karena Papua bukan DOM. Dekatilah dengan cara yang humanis dan simpatik.”

Artikel ini ditulis oleh:

Masyarakat Diharap Dukung Proses Investigasi Paniai

Jakarta, Aktual.co — Anggota DPR RI Willem Wandik mengharapkan semua pihak di Papua, terutama masyarakat di Enarotali, Kabupaten Paniai, mendukung tim investigasi mengumpulkan data dan bukti terkait kekerasan di daerah itu pada pekan lalu.
“Saya harapkan aparat TNI dan Polri dan masyarakat ikut ambil peran dalam mendukung proses penyidikan atau tim investigasi, agar hal itu berjalan dengan baik,” kata Wandik di Jayapura, Papua, Jumat (19/12).
Indonesia merupakan negara hukum, sehingga dalam setiap persoalan atau permasalahan lebih diutamakan penegakan hukum daripada sikap-sikap yang tidak terpuji dan tidak manusiawi.
“Karena Indonesia ini negara hukum, bagaimana pun hukum harus dijadikan panglima,” kata dia.
Wandik berpesan kepada masyarakat di Papua jika terusik dengan kehadiran aparat keamanan TNI-Polri di suatu daerah, ada mekanismenya yang harus ditempuh yakni dengan cara mengadu kepada wakil rakyat setempat dan pimpinan daerah, bukan dengan cara yang anarkis dan melawan aparat hingga akhirnya bertentangan dengan hukum.
“Saya juga pesan kepada TNI-Polri agar tidak bertindak represif, militeristik, karena Papua bukan DOM. Dekatilah dengan cara yang humanis dan simpatik.”

Artikel ini ditulis oleh:

Museum Tsunami Aceh Jadi Tempat Belajar dan Mengingat Sejarah

Jakarta, Aktual.co — “Gulungan air laut yang menjulang tinggi dan gelap” adalah gambaran yang sering diungkapkan oleh para penyintas tsunami Aceh. Bagaimana sebenarnya gambaran itu bila diwujudkan bentuknya?

Pengalaman tersebut kini bisa dirasakan bila kita mengunjungi Museum Tsunami Aceh dengan menyusuri lorong sempit dan gelap dengan dinding air yang sesekali memercikkan air ke kepala dan tubuh. Lorong tersebut adalah pintu utama menuju ke dalam Museum Tsunami Aceh yang terletak di Jalan Iskandar Muda, Kota Banda Aceh.

Samar-samar terdengar rekaman suara perempuan menyanyikan lagu dalam bahasa Aceh, mengiringi langkah para pengunjung di jalan menurun yang landai.

Gelap, hening, suara dan percikan air akan membawa pengunjung yang baru masuk dari ruang terbuka menuju bagian dalam museum, memasuki lorong kenangan.

Masih ada penyintas atau keluarga korban yang “enggan” memasuki museum tersebut, karena kenangan pedih yang mereka alami.

Namun hari itu, seorang ibu yang kehilangan dua anak remajanya dalam bencana tersebut, untuk pertamakalinya mencoba mengunjungi museum tsunami itu.

Jalan landai di lorong itu berakhir pada ruang yang luas dengan atap tinggi dan jajaran podium-podium yang menampilkan rangkaian foto Banda Aceh sesaat setelah hempasan air laut setinggi 30-an meter menyapu tepi kota hingga ke pedalaman.

Petaka yang juga disebut “Christmas Tsunami” karena terjadi pada 26 Desember 2004, sehari setelah Natal, dikenang sebagai tsunami terdahsyat abad ini, merenggut 230.000 nyawa di 11 negara, sebagian besar di antaranya adalah warga Aceh, sebagian Sumatera Utara dan Nias.

Di depan tiang-tiang penyangga foto terlihat beberapa pengunjung, anak sekolah dan rombongan keluarga sedang menyaksikan rangkaian foto yang ditampilkan dalam gerak otomatis, mengganti sejumlah gambar.

Foto-foto Banda Aceh yang luluh lantak, para penyintas yang tengah menyelamatkan diri, kapal-kapal menyangkut di atap rumah menjadi tontonan yang bisa memberi gambaran pada pengunjung.

Dari ruang besar itu, kembali terdapat jalan sempit menanjak yang di bagian kirinya terdapat pintu masuk ke ruang berbentuk kerucut, “sumur doa”.

Pada dinding ruang tersebut tertera ribuan nama korban jiwa dan di puncak kerucut terdapat penutup tembus cahaya dengan tulisan huruf Arab “Allah”.

“ini melambangkan bahwa para korban yang tidak dapat selamat dari tsunami kini sudah kembali kepada Allah,” ujar pemandu museum.

Pengunjug acapkali berdoa di ruang tersebut.

Perempuan yang kehilangan putra-putrinya itu terlihat tercenung dan matanya berkaca-kaca saat ia melangkah keluar dari ruang tersebut.

Ridwan Kamil, kini Wali Kota Bandung, Jawa Barat, adalah arsitek yang merancang museum itu setelah memenangkan lomba desainnya.

Bangunan museum dari bawah terlihat menyerupai kapal, alat transportasi yang banyak dikaitkan dengan bencana tsunami, mengingat banyak kapal yang terdampar jauh ke pedalaman dan beberapa di antaranya bagikan “perahu Nabi Nuh” menyelamatkan para penumpangnya.

Keluar dari ruang kerucut, jalan menanjak berlanjut, mengitari kerucut itu, sebagai lambang bagi para penyintas yang masih harus berjuang untuk menyelamatkan diri, keluar dari pusaran air.

Di ujungnya terpampang ruang yang terang dan luas, atap gantung di langit-langit tembus pandang, berbentuk menyerupai kapal, tempat bendera-bendera dari sejumlah negara tergantung dengan tulisan “damai” dalam berbagai bahasa.

Di bagian bawahnya terdapat “jembatan harapan” melambangkan harapan hidup bagi para penyintas dan membawa pengunjung berjalan menuju lantai berikutnya dari bangunan berlantai empat di museum tersebut.

Setelah melintasi jembatan, pengunjung akan diarahkan menuju ruang pamer berisi gambar dan diorama, juga ada ruang simulasi gempa dan tempat pengunjung dapat mempelajari sains terkait gempa dan tsunami.

“Namun saat ini tidak bisa dioperasikan karena alatnya rusak,” kata petugas museum.

Di tempat itu biasanya pengunjung akan bisa merasakan “getaran gempa”, mempelajari gempa dan tsunami dan berbagai peralatan perekam gempa serta sistem kerjanya.

Perjalanan berakhir pada ruang teater semi terbuka dengan tribun dan panggung tanpa dinding dan di seberangnya dikelilingi kolam ikan.

Tempat tersebut biasa dimanfaatkan oleh pengunjung untuk merenung kembali bencana alam yang mengubah wajah politik, sosial dan ekonomi Aceh menjadi provinsi yang lebih terbuka dan damai.

Bangunan museum bila dilihat dari atas, seperti yang terlihat pada maket, merupakan gambaran gelombang laut dan sekaligus sebagai dataran tinggi untuk penyelamatan.
“Sampai dengan 10 tahun lalu kata tsunami tidak saya kenal, demikian pula kebanyakan orang Aceh lainnya. Kini kata tsunami mempunyai makna bagi kami,” kata Dr. Edi Darmawan, penyintas yang kehilangan kedua orang tuanya saat tsunami menyapu kampung halamannya.

Kehadiran Museum Tsunami Aceh penting untuk mengenang dan juga menjadi sarana edukasi.

Meskipun ada loket tempat pembelian tiket, tidak ada petugas penjaganya dan pengunjung dapat masuk bebas tanpa membayar. Para petugas akan memandu dengan sukarela.

“Akhirnya saya bisa mengunjungi museum ini, setelah 10 tahun bencana itu berlalu,” bisik ibu yang tidak bersedia disebut namanya.

Banyak kenangan pedih, banyak orang kehilangan anggota keluarga seperti perempuan itu.

Monumen hidup bertebaran di Banda Aceh dan sekitarnya sehingga kota di belahan barat Indonesia itu pun kini menjadi daerah kunjungan wisata sejarah, terutama wisatawan domestik dan dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand juga India.

Bus-bus pariwisata hilir mudik dari satu lokasi ke lokasi lain, seperti museum ini, lokasi kapal PLN Apung terdampar di Punge Blang Cut, Masjid Raya, Kapal “Nuh” di Gampong Lampulo dan banyak lainnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain