21 April 2026
Beranda blog Halaman 40462

Jelang Tahun Baru, Penjual Terompet Mulai Marak

Pengrajin membuat terompet naga pada salah satu emperan toko yang tutup di kawasan Glodok, Jakarta, Senin (29/12/2014). Para pengrajin yang jumlahnya mencapai puluhan ini umumnya berasal dari Cikarang dan mereka sudah berada di ibukota sejak lima hari lalu. Dalam sehari mereka mampu membuat 100 terompet dengan harga bervariasi antar Rp 5000 hingga Rp 35.000 per buah. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Mabes Polri Bangun Posko TIM DVI di Bandara Juanda

Jakarta, Aktual.co — Upaya pencarian pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang dengan rute perjalanan Surabaya-Singapura, terus dilakukan. Mabes Polri telah menyiapkan posko Tim Disaster Victim Identification (DVI), di Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur.
“Di Jawa Timur kita buat posko tim DVI yang kini diperlukan keluarga penumpang untuk kebutuhan medis,” kata Karo Penmas Mabes Polri Kombes Agus Riyanto di gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (29/12).
Diterjunkannya tim DVI ini, sambung Agus, diperuntukan bagi keluarga penumpang AirAsia QZ8501 yang hilang guna kebutuhan psikologis. “Tidak menutup kemungkinan untuk situasi psikologis,” katanya.
Meskipun hingga kini para penumpang masih dalam pencarian, namun Mabes Polri telah menyiapkan tim DVI Polri, yang berkoordinasi langsung dengan Basarnas. 
“Tim DVI Mabes Polri juga telah berkoordinasi dengan Basarnas, sewaktu-waktu diperlukan,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan sebuah pesawat dikabarkan jatuh di perairan laut Belitung Timur, Bangka Belitung. Pesawat Air Asia QZ-8501. Pesawat ini membawa penumpang pesawat sebanyak 155 orang yang terdiri dari 138 dewasa, 16 anak-anak dan 1 bayi itu hilang kontak pada pukul 06.17 WIB minggu pagi.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Pemukiman di Bantaran Sungai, Salah Satu Penyebab Banjir Jakarta

Jakarta, Aktual.co —Selain persoalan buruknya sistem drainase, banyak beralihnya lahan di bantaran sungai jadi pemukiman padat penduduk dianggap jadi salah satu penyebab banjir di Jakarta. 
Akibatnya, wilayah bantaran sungai jadi titik rawan utama bencana banjir.
“Terutama yang mengalami pendangkalan dan penyempitan karena semakin banyaknya sedimentasi juga sampah,” ujar pengamat perkotaan Yayat Supriatna, ketika dihubungi Senin (29/12).
Padahal kawasan tersebut terlarang untuk dibangun tempat tinggal. Meski dilarang, kenyataannya masih banyak penduduk yang nekat membangun tempat tinggal sekedarnya di kawasan bantaran sungai. Alasannya, faktor ekonomi.
“Lihat saja contohnya seperti di Kampung Pulo itu banjirnya sudah lama terjadi tetapi kali ini semakin parah karena penduduk yang tinggal di situ juga semakin banyak,” kata Yayat.
Daerah rawan banjir lainnya, menurut Yayat, adalah daerah yang memiliki sistem drainase buruk karena turunnya permukaan tanah. Contoh, kasus di perumahan Green Garden.
“Itu menunjukan betapa buruknya sistem drainase Jakarta yang menyebabkan air semakin lama tergenang,” ujarnya.
Kondisi itu diperparah dengan pengambilan air tanah di Jakarta secara berlebihan. Sehingga mempercepat penurunan tanah Jakarta. Akibatnya, wilayah rawan banjir semakin banyak.
Yayat menyarankan perlu dibuat folder sebagai wadah penampung air. “Karena sungai itu atau drainase semakin rendah dibanding permukaan air laut.”
Pemprov DKI juga disarankan untuk berdialog dengan penduduk bantaran sungai agar bersedia dipindah dari bantaran sungai, selain melakukan proyek normalisasi sungai. 
“Normalisasi sungai bisa dilakukan dengan perkiraan lebar sungai 50-70 meter dan kedalaman setidaknya lima meter,” lanjutnya.
Diketahui, Pemprov DKI Jakarta sudah melakukan berbagai upaya untuk mensterilkan kawasan bantaran sungai dari pemukiman penduduk. Namun karena alasan lokasi strategis dekat dengan pasar, membuat penduduk enggan pindah dan memilih tetap tinggal di bantaran kali.

Artikel ini ditulis oleh:

Presiden Minta Pemda Papua Tidak Obral SDA

Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar Pemerintah Daerah Papua tidak mengobral perizinan berusaha untuk eksploitasi sumber daya alam (SDA).
“Jangan mengobral-obral yang namanya lisensi atau izin-izin, kekayaan kita habis, rakyat tidak sejahtera, tidak dapat apa-apa, ini yang saya titip,” kata Presiden saat berdialog dengan para gubernur, bupati, wali kota dan tokoh masyarakat se-Papua Barat di Sorong, Papua Barat, Senin (29/12) pagi.
Pertemuan tersebut mengawali kegiatan Presiden Jokowi di hari ketiga blusukan di tanah Papua, sebelum bertolak kembali ke Jakarta.
Presiden dalam kesempatan itu di dampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo. Tampak hadir sejumlah Menteri Kabinet Kerja diantaranya Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Edhy Tedjopudjianto.
Selain Gubernur Papua Barat Abraham Oktavianus Atururi, juga dihadiri oleh 12 bupati dan wali kota, pimpinan lembaga legislatif dan yudikatif daerah serta para tokoh adat dan agama di Papua Barat.
Presiden mengingatkan, Indonesia pernah terjebak dalam obral lisensi sumber daya alam. Ia mencontohkan pada 70-an-80-an, Indonesia mengalami boom minyak. Namun kini minyaknya habis, namun kesejahteraan masyarakat juga belum tercapai.
Begitu pula dengan boom kayu di tahun 80 an. “Kini diulang lagi batubara,” kata Presiden.
Untuk itu, Presiden mengingatkan perlunya kebijakan yang benar dan tepat agar mampu menyejahterakan.

Artikel ini ditulis oleh:

Pasukan Elit Angkatan Laut Bantu Cari AirAsia QZ8501

Surabaya, Aktual.co — Pasukan elit Angkatan Laut Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) dan pasukan Katak ikut membantu pencarian pesawat AirAsia QZ8501. 
Hal ini dilakukan Untuk mendukung pencarian pesawat yang hilang kontak sejak Minggu (28/12) pagi. Selain itu, juga diterjunkan kapal pemburu ranjau milik TNI-AL.
“Jadi total ada delapan KRI sudah diterjunkan, ditambah  tujuh kapal milik Basarnas. Salah satunya KRI Pulau Rengat, yang memiliki kemampuan daya deteksi sonar hingga kedalaman antara 25 hingga 50 meter. Jadi keselurhan ada 15 kapal,” kata Hernanto, (29/12).
Hernanto menambahkan, untuk pencarian dari Makasar sudah mendekati titik koordinat, hanya tinggal menunggu laporan berikutnya. Sebab, seluruh informasi tentang pencarian masih menunggu informasi dari Basarnas pusat.

Artikel ini ditulis oleh:

Jaksa Cecar Tiga Saksi soal Permintaan Pencairan Uang Rp 1,5 Miliar

Jakarta, Aktual.co — Sidang kasus dugaan suap revisi alih fungsi lahan di Provinsi Riau kepada Kementeria Kehutanan pada 2014 dengan terdakwa Gulat Medali Emas Manurung, kembali dilanjutkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (29/12).
Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi menghadirkan enam saksi. Mereka adalah dua karyawan PT Anugerah Kelola Artha, Mangara Sinaga dan Hendra Siahaan. Hendra juga menjabat Direktur Utama PT Kubu Raya. Kemudian kasir PT Citra Hokiana Triutama,Yulia Rotua Siahaan, Direktur Utama PT Citra Hokiana Triutama Edison Marudut Marsadauli Siahaan, serta dua pegawai gerai jual beli valuta asing PT Ayu Massagung Money Changer, Tety Indrayati dan Tati Rujiati.
Tiga saksi pertama diperiksa adalah Hendra, Mangara, dan Yulia. Jaksa Kresno mencecar ketiganya soal permintaan pencairan uang Rp 1,5 miliar, kuitansi permintaan dan sepuluh surat tanah.
Di persidangan, Yulia mengakui atasannya, Edison, memintanya mengeluarkan uang sebesar Rp 1,5 miliar. Tetapi, perempuan bekerja di perseroan itu sejak 1997 mengaku tidak tahu tujuan pencairan itu.
“Saya enggak tahu uangnya untuk apa. Pak Edison cuma tanya apa ada uang Rp 1,5 miliar. Saya cek ada simpanan. Pak Edison langsung kasih nota isinya cuma tulisan ‘dirut.’ Saya cairkan ceknya ke Bank Mandiri Rp 1,5 miliar,” kata Yulia.
Jaksa Kresno Anto Wibowo mencecar Yulia apakah dia tidak mencatat maksud pengeluaran uang itu. “Kan saudara ada pembukuan. Apa tidak catatan maksud pengeluaran uang di pembukuan?” Tanya Jaksa Anto.
“Tidak pak. Cuma tulisan ‘Dirut’ saja,” ujar Yulia.
Yulia mengatakan, perusahaan tempatnya bekerja bergerak di bidang kontraktor jalan raya dan jalan perkebunan sawit. Dia menambahkan, mereka juga menyediakan jasa pencarian ladang minyak menggunakan metode seismik.
Sementara itu, Hendra mengaku dia sempat diminta Gulat mengambil sepuluh dokumen surat tanah. Tetapi, dia tidak tahu kelanjutannya dan hanya memindahkannya ke kantor.
“Saya cuma lihat ada surat tanah pas sepuluh macam, saya bawa. Saya enggak periksa lagi. Mungkin asli, karena yang saya lihat cuma yang paling atas,” kata Hendra.
Hendra mengaku mengenal Gulat sejak kuliah. Sebab, dia mengatakan Gulat adalah salah satu dosen pembimbingnya di Fakultas Pertanian Universitas Riau. “Dia dosen pembimbing saya. Mata kuliahnya budidaya tanaman kelapa sawit,” kata Hendra.
Hendra mengatakan, saban hari dia mengaku melihat Gulat mengendarai kendaraan Mitsubisihi Strada Triton. Sementara saksi Mangara menjelaskan, dia juga sering melihat Gulat membesut Toyota Kijang Innova berpelat merah.
“Setahu saya itu juga mobil operasional APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Riau). Pak Gulat ini kan Ketua Apkasindo,” kata Mangara.
Namun, Gulat menyangkal menerima pemberian mobil itu dari Pemerintah Provinsi Riau. Menurut dia, kendaraan itu hanya dipinjamkan.
“Itu mobil Dinas Perkebunan Pemprov Riau. Saya pinjam, bukan diberikan ke saya,” kata Gulat.
Sedangkan soal surat tanah, Gulat mengaku memang mengurusnya buat dibalik nama. “Setelah dibalik nama dan beroperasi tiga tahun, nanti kalau ada keuntungan akan dibagi,” sambung Gulat.
Dalam dakwaan Gulat, Edison disebut menjadi penyandang dana suap buat Gubernur Riau, Annas Maamun. Tetapi, duit itu dibawa ke Jakarta oleh Gulat dalam bentuk valuta asing berupa Dolar Amerika Serikat sebesar USD 166,100. Duit itu kemudian ditukarkan ke dalam mata uang Dolar Singapura.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain