20 April 2026
Beranda blog Halaman 40465

Pengamat: Persepsi Publik akan Negatif Jika SBY tetap Ketua Umum Demokrat

Jakarta, Aktual.co — Majunya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam bursa calon ketua umum (Caltum) partai Demokrat dinilai akan menimbulkan persepsi negatif pada publik.
Pengamat politik Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, di Jakarta, Senin (29/12) mengatakan, akan timbul persepsi publik jika partai berlambang bintang mercy itu adalah milik keluarga mantan presiden RI tersebut.
“Publik sudah semakin sadar, selama ini hanya partai Demokrat lah yang dinilai paling mencolok, kental dengan politik dinasti, dimana bapak dan anak menjabat ketua umum dan sekretaris jenderal,” ucap Karyono dalam siaran persnya, Senin (29/12).
Oleh karena itu, sambung dia, kedepan partai demokrat perlu mengevaluasi sistem partai agar lebih terbuka. Dengan sistem kaderisasi perlu dilakukan secara sistematis dan sustainable, sehingga melahirkan kader-kader partai yang kelak bisa menjadi pemimpin yang berkualitas dan berintegritas.
Selain itu, untuk memulihkan kepercayaan publik, Demokrat perlu menjaga konsistensi dalam menjalankan platform partai.
“Pun demikian, partai yang menonjolkan figur di negeri ini tidak hanya Demokrat. Pada umumnya, partai-partai di Indonesia masih mengandalkan aspek figuritas seperti PDI Perjuangan mengandalkan figur Megawati. PAN juga menonjolkan Amien Rais, Hanura menonjolkan Wiranto, Gerindra menonjolkan Prabowo Subianto,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Bakal Dieksekusi Mati Diakhir Tahun, Gunawan Santoso Ajukan PK Lagi

Jakarta, Aktual.co — Rencana eksekusi mati terhadap Gunawan Santoso sudah semerbak sejak tahun 2008 silam. Namun hingga kini dia masih menikmati udara segar di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Jawa Tengah.
Kejaksaan Agung dalam hal ini akan melaksanakan eksekusi mati kepada Gunawan dan terpidana mati lainnya sebelum terbit matahari 2015. Namun, terpidana mati buru-buru mengajukan peninjauan kembali (PK).
Gunawan yang biasa dipanggil si belut karena kerap kabur berkali-kali dari penjara hingga operasi wajah itu buru-buru mengajukan PK. “Kami akan PK lagi,” kata pengacara Gunawan Santoso, Alamsyah Hanafiah kepada wartawan, Senin (29/12).
Gunawan Santosa adalah terpidana bos pembunuhan bos Asaba, yang tak lain adalah ayah mertuanya. Gunawan dikenal licin, karena dia beberapa kali lolos dari tahanan. Berikut catatan kejahatan Gunawan:
Pada tanggal 16 Januari 2003, Gunawan alias Acin melarikan diri dari LP Kuningan. Dia dipidana penjara 28 bulan dalam perkara penggelapan miliaran rupiah di PT Aneka Sakti Bhakti (Asaba), milik mertuanya, Boedyharto Angsono
Kemudian pada tanggal 6 Juni 2003, dua penjahat berkendara motor Honda Astrea menembak Direktur Keuangan PT Asaba Paulus Teja Kusuma, di Jalan Angkasa, Jakarta Pusat, persis di depan Hotel Golden. Dua proyektil bersarang di leher dan dada korban. Tapi Paulus lolos dari maut
Selanjutnya pada tanggal 19 Juli 2003, Direktur Utama PT Aneka Sakti Bhakti Boedyharto Angsono dan anggota Kopassus Serda Edy Siyep, ditembak sekitar pukul 05.30 WIB di depan lapangan basket Gelanggang Olahraga Sasana Krida Pluit, Jakarta Utara. Gunawan yang masih dalam status pencarian polisi dituduh sebagai dalang dalam kasus ini, termasuk dalam penembakan Paulus Teja Kusuma
Pada tanggal 31 Juli 2003, Polisi Militer TNI AL menahan empat anggota Marinir terkait dengan dugaan pembunuhan Boedyharto. Mereka adalah Kopda (Mar) Suud Rusli, Kopda (Mar) Fidel Husni, Letda (Mar) Syam Ahmad Sanusi, dan Pratu (Mar) Santoso Subianto, merupakan pengawal pribadi Gunawan. Mereka telah menghilangkan dua nyawa orang lain atas suruhan Gunawan dengan imbalan keseluruhan ‘hanya’ Rp 4 juta
Dilanjut pada tanggal 14 Agustus 2003, Gunawan orang yang paling dicari AL. 12 September 2003Gunawan ditangkap pukul 04.00 WIB dini hari oleh anggota Reserse Polda Metro Jaya di lantai bawah area parkir Griya Kemayoran, Jalan Industri, Jakarta Pusat. 
Dia diketahui telah melakukan operasi ‘face off’ ringan. Dia mengubah bentuk mata, hidung, dan bibir, sehingga berbeda dengan wajah aslinya di sebuah salon. Identitasnya juga berubah. Setidaknya dia memiliki 3 KTP dan 2 SIM dengan nama yang berbeda-beda. Satu-satunya ciri khas yang bisa mengungkap identitas Gunawan adalah tahi lalat di pinggul kiri. 
Gunawan berusaha mencongkel tanda lahir itu. Yang bisa mengenali tanda lahir itu hanyalah mantan istrinya, Alice, dan ibu Gunawan. Di Griya Kemayoran, Gunawan kos di sebuah kamar bertarif Rp 1,8 juta/bulan. Ke mana-mana dia mengendarai BMW seri 7 warna perak metalik dengan nopol B 19 LV. Uang Gunawan di pelarian masih melimpah.
Kemudian pada tanggal 11 Februari 2004, Gunawan mulai disidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara. Jaksa Andi Herman mengancamnya dengan hukuman mati. Pada 9 Maret 2004, “Saya tahu terdakwa Gunawan adalah otak pembunuhan ayah saya karena saya tahu sifat Gunawan mau mengorbankan apa saja untuk mencapai keinginannya,” kata Alice saat menjadi saksi dalam persidangan mantan suaminya itu.
Masuk pad tanggal 30 Maret 2004 Gunawan mencoba kabur saat dibawa dari Rutan Salemba menuju Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Dia kabur saat lalu lintas sedang macet di Johar Baru, Jakarta Pusat. 
Namun dia berhasil ditangkap lagi di Cempaka Putih dan menderita luka tembak di pinggangnya akibat letusan pistol yang dibawanya sendiri. Gunawan mencoba kabur dengan mengantongi satu senjata genggam bareta, empat peluru, tiga borgol, uang Rp 35,992 juta, dan satu telepon genggam.
Gunawan, pada tanggal 24 Juni 2004 dihukum mati oleh majelis hakim. Gunawan terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja membujuk orang lain melakukan pembunuhan berencana. 
Empat orang yang dibujuk dan bertindak sebagai eksekutor semuanya anggota Marinir. Hal-hal yang memberatkannya adalah, Gunawan tidak mengakui perbuatannya, terdakwa juga berbelit-belit dalam memberikan keterangan, terdakwa juga telah memperalat aparat negara dari anggota TNI untuk melakukan tidak pidana.
Pada tahun 2004 sampai 2006, kemudin Gunawan melakukan banding. Namun Pengadilan Tinggi Jakarta menguatkan putusan PN Jakarta Utara. Gunawan lalu kasasi Mahkamah Agung. Lagi-lagi permohonnya ditolak.
Masuk pada tanggal 5 Mei 2006, Gunawan malah kabur dari selnya di LP Narkotika Cipinang, Jakarta Timur. Petugas memergoki selnya kosong sekitar pukul 07.00 WIB. Tidak ada kerusakan apa pun di selnya. Diduga dia menyuap petugas LP untuk mendapatkan kunci duplikat. Sebelum kabur, dia sempat menggembok kembali pintu selnya. Gunawan kabur dengan melewati 6 pintu dan 3 pos penjagaan.
Pada tanggal 20 Juli 2007, Gunawan kembali ditangkap polisi di lobi Plaza Senayan. Dia dijebloskan ke LP Nusakambangan hingga saat ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Mantan Jubir Presiden SBY ke KPK Besuk Andi Mallarangeng

Jakarta, Aktual.co — Bekas Juru Bicara Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Julian Aldrin Pasha bertandang ke Komisi Pemberantasan Korupsi. 
Kedatangan Julian ke lembaga yang dikomandoi oleh Abraham Samad itu untuk membesuk bekas Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alvian Mallarangeng yang kini masih ditahan di Rutan Guntur.
“Mau jenguk saja, ini sama istri,” kata Julian di KPK, Senin (29/12).
Julian tiba di KPK sekitar pukul 10.30 WIB mengenakan baju batik warna ungu. Sekitar 10 menit Julian berada di KPK untuk meminta izin besuk.
Saat ditanya soal alasan membesuk Andi, Julian tak memberikan jawaban. Padahal, Andi yang juga pernah menjadi Jubir Presiden SBY itu sudah lebih dari satu tahun mendekam di tahanan.
Andi Mallarangeng telah dihukum 4 tahun penjara terkait kasus korupsi pembangunan wisma atlet Hambalang. Andi yang pernah berkarir sebagai Jubir presiden itu dianggap telah lalai saat menjabat sebagai Menpora sehingga mengakibatkan kerugian keuangan negara.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Kapolres Belitung Timur Bantah Air Asia Mendarat Darurat

Jakarta, Aktual.co — Kapolres Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, AKBP Nugraha membantah informasi pesawat Air Asia jenis air bus A320-200 yang hilang kontak pada Minggu (28/12) pukul 06.17 WIB telah mendarat darurat di wilayah setempat.
“Berkembangnya informasi tentang pesan singkat yang diterima oleh pihak keluarga penumpang Air Asia bahwa pesawat tersebut mendarat darurat di wilayah Kabupaten Belitung Timur adalah tidak benar. Tidak ada pesawat yang mendarat darurat di sini,” kata dia di Belitung Timur, Senin (29/12).
Dia mengaku, tidak menemukan adanya pesawat yang mendarat darurat di wilayahnya itu. Namun demikian, dia mengaku masih terus melakukan pencarian ke titik koordinat hilangnya kontak terakhir pesawat itu.
“Hari ini, kami melakukan pencarian dengan mengerah empat kapal dari Polair, Pemda dan Kapal milik nelayan, sedangkan untuk kapal Basarnas saat ini sudah di perairan.”
Selain menggunakan kapal, kata dia juga melakukan pencarian melalui udara dengan menggunakan tiga helikopter dan dua pesawat Cassa. Untuk masing-masing kapal akan membawa 15 personel.
“Selain menggunakan empat kapal, pencarian juga kami lakukan menggunakan tiga helikopter dan dua pesawat Cassa. Pencarian direncanakan hingga pukul 18.00 WIB.”
Air Asia dengan nomor penerbangan QZ 8501 itu hilang kontak di perairan Pulau Belitung pada Minggu (28/12) dengan titik koordinat 03.22.46 LS dan 108.50.07 BT. Pesawat membawa sebanyak 155 orang penumpang, dengan 16 orang di antaranya adalah anak-anak dan seorang bayi.
Pesawat berangkat dari Bandara Juanda Surabaya pada pukul 05.12 WIB dan sejak itu terus mengikuti jalur penerbangan yang sebelumnya telah ditetapkan. Pada pukul 06.12 WIB pesawat masih terlacak di ATC Jakarta dengan ketinggian 38.000 kaki dan pada pukul 06.18 WIB hilang pantauan dari radar dan dinyatakan hilang.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Pencarian AirAsia QZ8501, Cuaca Perairan di Belitung Cerah

Jakarta, Aktual.co — Kepala Badan SAR Daerah Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung, Joni superiadi menyatakan bahwa cuaca di sekitar perairan Belitung Timur cerah dan cukup mendukung proses pencarian pesawat AirAsia QZ8501.
“Perairan Belitung Timur pagi ini cukup cerah, gelombang normal dan berdasarkan informasi dari BMKG Pangkalpinang hari ini prakiraan cuaca juga cerah. Kami berharap kondisi seperti ini terus berlangsung sepanjang hari untuk memudahkan penyisiran,” ujar Kepala Badan SAR Daerah (Basarda) Kepulauan Bangka Belitung, Joni Superiadi, di perairan Belitung Timur, Senin (29/12).
Tim SAR Babel hari ini akan fokus menyisir sekitar Pulau Nangka, Belitung Timur yang berada di koordinat 108’32’00 SE-02’29’00 S, atau sekitar 30 mil dari Manggar, ibu kota Kabupaten Belitung Timur.
“Kami akan membagi tim menjadi dua untuk menyisir dari arah berbeda pulau tersebut,” kata dia.
Dia menambahkan, Tim SAR Babel yang berangkat dari Pangkalpinang, beranggotakan 45 personel yang terdiri atas anggota Brimob, Polair, Basarnas, dan relawan.
Tim tersebut akan segera bergabung dengan tim SAR dari Belitung dan Belitung Timur di Manggar dan melakukan penyisiran bersama di sekitar Pulau Nangka.
“Hari ini kami akan fokus di perairan sekitar Pulau Nangka karena berdasarkan informasi yang dihimpun tim ada nelayan yang mendengar suara ledakan di sekitar pulau tersebut. Kami berharap petunjuk itu akurat,” kata dia.
Selain menggunakan kapal, Tim SAR Babel juga akan mengerahkan helikopter untuk menyisir melalui udara.

Artikel ini ditulis oleh:

Pelaku Pembunuh Karyawati Ekspesidi Ditangkap di Batam

Jakarta, Aktual.co — Tersangka pembunuh Eka Wahyuni (29), karyawati sebuah perusahaan ekspedisi yang berkantor di kawasan Mall Mangga Dua Square, Jakarta Utara, Sabtu (27/12) akhirnya ditangkap.
Tim gabungan dari jajaran Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Pademangan dan Jatanras Kepolisian Resor Jakut, mencokok Juandi alias Andi alias Cun Hwa, di Batam, Kepulauan Riau, Minggu (28/12).
“Telah dilakukan penangkapan terhadap tersangka Juandi alias Andi alias Cun Hwa di Batam dalam tindak pidana pembunuhan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, Senin  (29/12).
Tersangka awalnya merupakan orang yang paling dicurigai terkait tewasnya Eka. Korban tewas dengan beberapa luka tusuk pada tengkuk bagian belakang, punggung dan sobek pipi serta wajah. Polisi kemudian melakukan perburuan.
Pada Minggu (28/12) pukul 4.00, anggota gabungan dari Jatanras Polres Jakut dan anggota Reskrim Polsek Pademangan yang dipimpin Kasat Reskrim berangkat ke Batam untuk melakukan upaya penangkapan terhadap tersangka.
“Sekitar pukul 7.45 tersangka Juandi benar mendarat di Batam, (setelah melakukan) penerbangan dari Jakarta.”
Tersangka kemudian dibawa ke Polres Jakut untuk proses penyidikan lebih lanjut. Rikwanto menjelaskan, antara korban dan tersangka merupakan hubungan atasan dengan bawahan. “Korban atasan tersangka di perusahaan ekspedisi.”
Rikwanto menuturkan, motif pembunuhan ini karena tersangka sering diomeli terkait persoalan pekerjaan. Selain itu, tersangka juga punya hutang ke kantor Rp 5 juta dan belum dilunasi walau sering ditagih korban.
“Jadi, terjadinya pembunuhan lebih disebabkan akumulasi kekesalan tersangka kepada korban.”
Sebelumnya diberitakan, Eka tewas dengan 15 luka tusuk di sekujur tubuhnya. Kondisi tubuh korban penuh sayatan di wajah dan lehernya.Peristiwa berawal saat kakak korban, Sardi (37), yang juga pemilik perusahaan itu curiga karena Eka tak kunjung pulang. Saat dihubungi lewat telepon seluler juga tidak diangkat.
Sardi kemudian mendatangi kantor. Saat itu didapati sepeda motor milik korban masih berada di area parkir. Sardi kemudian menyambangi kantor. Saat itu posisi pintu dalam keadaan terkunci. Sardi langsung melapor ke pihak keamanan Mall Mangga Dua Square. Saat diintip oleh mereka dari celah rooling door, korban terlihat sudah terkapar bersimbah darah.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain