12 Januari 2026
Beranda blog Halaman 41080

Pukat UGM Kritisi Agenda Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi Jokowi-JK

Yogyakarta, Aktual.co — Menyambut peringatan Hari Anti Korupsi se-dunia, yang jatuh pada 9 Desember, Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM dan Masyarakat Anti Korupsi DIY Mendesak pemerintah Jokowi-JK membuat dan menjelaskan secara konkrit pada publik tentang agenda dan jaminan penegakan hukum anti korupsi yang dijalankan.
Hal itu perlu dilakukan mengingat upaya reformasi birokrasi yang didengungkan selama ini dinilai masih belum nampak, sehingga membuat agenda penegakan hukum anti korupsi jalan ditempat. 
Berdasarkan indikator indeks persepsi korupsi (IPK), Indonesia masih mengecewakan. selain itu, menempatkan sejumlah politisi dalam pos-pos penting seperti Menkumham dan Jaksa Agung.
Target IPK 5,0 pada tahun 2014, nyatanya hanya mencapai 3,4 atau tidak meningkat signifikan dari IPK tahun sebelumnya sebesar 2,8.
“Dilihat dari indikator itu, reformasi birokrasi pemerintah dinilai masih gagal. Apalagi hal itu hanya dilakukan di pusat dan tidak terjadi di daerah. Mestinya reformasi birokrasi tidak hanya sebatas pada ubi dan singkong di rapat-rapat kabinet,” ujar peneliti senior Pukat UGM, Hifdzil Alim, Senin (8/12).
Pukat UGM dan Masyarakat Anti Korupsi DIY juga mendesak penegak hukum di daerah seperti kejaksaan dan kepolisian serta institusi eksekutif terkait yakni inspektorat dan BPKP, agar bekerja secara serius serta tidak takut dengan kelompok politik tertentu dalam memberantas korupsi. 
“Kita juga meminta DPR agar mengakhiri perseteruan politik di parlemen dan mulai fokus melaksanakan tugas dan kewenangannya, sehingga tidak hanya makan gaji buta. DPR juga harus membuat inisiatif perbaikan partai politik yang mendukung upaya pencegahan dan pembrrantasan korupsi.”

Artikel ini ditulis oleh:

Pukat UGM Kritisi Agenda Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi Jokowi-JK

Yogyakarta, Aktual.co — Menyambut peringatan Hari Anti Korupsi se-dunia, yang jatuh pada 9 Desember, Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM dan Masyarakat Anti Korupsi DIY Mendesak pemerintah Jokowi-JK membuat dan menjelaskan secara konkrit pada publik tentang agenda dan jaminan penegakan hukum anti korupsi yang dijalankan.
Hal itu perlu dilakukan mengingat upaya reformasi birokrasi yang didengungkan selama ini dinilai masih belum nampak, sehingga membuat agenda penegakan hukum anti korupsi jalan ditempat. 
Berdasarkan indikator indeks persepsi korupsi (IPK), Indonesia masih mengecewakan. selain itu, menempatkan sejumlah politisi dalam pos-pos penting seperti Menkumham dan Jaksa Agung.
Target IPK 5,0 pada tahun 2014, nyatanya hanya mencapai 3,4 atau tidak meningkat signifikan dari IPK tahun sebelumnya sebesar 2,8.
“Dilihat dari indikator itu, reformasi birokrasi pemerintah dinilai masih gagal. Apalagi hal itu hanya dilakukan di pusat dan tidak terjadi di daerah. Mestinya reformasi birokrasi tidak hanya sebatas pada ubi dan singkong di rapat-rapat kabinet,” ujar peneliti senior Pukat UGM, Hifdzil Alim, Senin (8/12).
Pukat UGM dan Masyarakat Anti Korupsi DIY juga mendesak penegak hukum di daerah seperti kejaksaan dan kepolisian serta institusi eksekutif terkait yakni inspektorat dan BPKP, agar bekerja secara serius serta tidak takut dengan kelompok politik tertentu dalam memberantas korupsi. 
“Kita juga meminta DPR agar mengakhiri perseteruan politik di parlemen dan mulai fokus melaksanakan tugas dan kewenangannya, sehingga tidak hanya makan gaji buta. DPR juga harus membuat inisiatif perbaikan partai politik yang mendukung upaya pencegahan dan pembrrantasan korupsi.”

Artikel ini ditulis oleh:

Bertemu Jokowi, SBY Keluhkan Macet Jakarta

Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo menerima mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta, Senin  (8/12) siang sekitar pukul 13.00 WIB.
Pertemuan itu merupakan yang pertama kalinya semenjak pisah sambut pada 20 Okotober 2014 lalu, seusai pelantikan Joko Widodo sebagai Presiden menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono.
Pada pertemuan kali ini, SBY sebagai Ketua Global Green Growth Institute yang berkedudukan di Korea Selatan. Ia didampingi Mantan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.
Sedangkan Presiden Jokowi didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto.
Presiden Jokowi dalam pertemuan tersebut sempat menanyakan SBY berangkat dari mana. “Dari Cikeas. Macetnya tadi mulai TMII sampai semanggi, hampir 40-50 menit,” kata SBY.

Artikel ini ditulis oleh:

Bertemu Jokowi, SBY Keluhkan Macet Jakarta

Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo menerima mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta, Senin  (8/12) siang sekitar pukul 13.00 WIB.
Pertemuan itu merupakan yang pertama kalinya semenjak pisah sambut pada 20 Okotober 2014 lalu, seusai pelantikan Joko Widodo sebagai Presiden menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono.
Pada pertemuan kali ini, SBY sebagai Ketua Global Green Growth Institute yang berkedudukan di Korea Selatan. Ia didampingi Mantan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.
Sedangkan Presiden Jokowi didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto.
Presiden Jokowi dalam pertemuan tersebut sempat menanyakan SBY berangkat dari mana. “Dari Cikeas. Macetnya tadi mulai TMII sampai semanggi, hampir 40-50 menit,” kata SBY.

Artikel ini ditulis oleh:

Inilah Alasan Pemprov DKI Setuju Penghentian Kurikulum 2013

Jakarta, Aktual.co —Kepala Dinas Pendidikan DKI Lasro Marbun menyatakan dukungannya terhadap penghentian Kurikulum 2013 yang dilakukan oleh Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan.
“Dari awal saya memang mengkritisi bahwa kurikulum ini perlu dievaluasi,” ujar Lasro di Balai Kota, Senin (8/12).
Ada beberapa alasan Lasro menolak kurikulum tersebut. Pertama, Lasro mengatakan, cara pengambilan keputusan kebijakan pelaksanaan kurikulum tersebut tidak konseptual. Kedua, ada fakta bahwa sarana dan prasarana tidak siap untuk pelaksanaan kurikulum tersebut.
“Contohnya guru dilatih itu masih banyak yang bingung. Di Jakarta baru 15 persen dari 26 ribu guru. Berarti sekitar 8400 yang baru paham,” ujarnya.
Ketiga, buku kurikulum 2013 yang terlambat datang dan jumlahnya tidak tepat. Keempat, terkait dengan substansi.
“Banyak buku yang pakai bahasa murahan seperti di buku Penjaskes ada bahasa ‘pacaran’. Harusnya pergaulan remaja saja,” tambahnya.
Kelima, mengenai uji coba dan evaluasi. “Apakah evaluasi kurikulum tahun 2006 itu ada? Mana yang yang diperbaiki dan mana yang tidak? Pola evaluasi juga belum dibuat. Sekarang baru terakhir-terakhir Pak Menteri baru diterbitkan evaluasi. Dari berbagai aspek harus dievaluasi,” ujarnya.
Dengan alasan tersebut, ia mengatakan pelaksanaan Kurikulum 2013 tidak efektif yang memberikan beban bagi sekolah dan murid.
“Penilaiannya pusing, jadi gak fokus. Kurikulum 2013 itu bikin pelajar banyak tahu tapi sedikit-sedikit. Indonesia itu butuh yang sedikit tahu tapi tuntas,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Inilah Alasan Pemprov DKI Setuju Penghentian Kurikulum 2013

Jakarta, Aktual.co —Kepala Dinas Pendidikan DKI Lasro Marbun menyatakan dukungannya terhadap penghentian Kurikulum 2013 yang dilakukan oleh Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan.
“Dari awal saya memang mengkritisi bahwa kurikulum ini perlu dievaluasi,” ujar Lasro di Balai Kota, Senin (8/12).
Ada beberapa alasan Lasro menolak kurikulum tersebut. Pertama, Lasro mengatakan, cara pengambilan keputusan kebijakan pelaksanaan kurikulum tersebut tidak konseptual. Kedua, ada fakta bahwa sarana dan prasarana tidak siap untuk pelaksanaan kurikulum tersebut.
“Contohnya guru dilatih itu masih banyak yang bingung. Di Jakarta baru 15 persen dari 26 ribu guru. Berarti sekitar 8400 yang baru paham,” ujarnya.
Ketiga, buku kurikulum 2013 yang terlambat datang dan jumlahnya tidak tepat. Keempat, terkait dengan substansi.
“Banyak buku yang pakai bahasa murahan seperti di buku Penjaskes ada bahasa ‘pacaran’. Harusnya pergaulan remaja saja,” tambahnya.
Kelima, mengenai uji coba dan evaluasi. “Apakah evaluasi kurikulum tahun 2006 itu ada? Mana yang yang diperbaiki dan mana yang tidak? Pola evaluasi juga belum dibuat. Sekarang baru terakhir-terakhir Pak Menteri baru diterbitkan evaluasi. Dari berbagai aspek harus dievaluasi,” ujarnya.
Dengan alasan tersebut, ia mengatakan pelaksanaan Kurikulum 2013 tidak efektif yang memberikan beban bagi sekolah dan murid.
“Penilaiannya pusing, jadi gak fokus. Kurikulum 2013 itu bikin pelajar banyak tahu tapi sedikit-sedikit. Indonesia itu butuh yang sedikit tahu tapi tuntas,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Berita Lain