16 Januari 2026
Beranda blog Halaman 41133

Penumpang Muntah-muntah, Pesawat Ini Harus Mendarat Darurat

Jakarta, Aktual.co — Pesawat milik Maskapai US Airlines rute Tel Aviv, Israel, menuju Philadephia, AS, terpaksa harus mendarat darurat di Bandara Fiumicino, Roma, Italia, karena 16 penumpangnya mengalami muntah-muntah.
Insiden tersebut, penumpang diduga disebabkan kerusakan ventilasi, yang mengakibatkan bau busuk di dalam kabin. Namun, beruntung kondisi tak berubah makin buruk, lantaran gerak cepat yang dilakukan petugas bandara terhadap seluruh penumpang.
“Kami terpaksa mendarat darurat di Roma, karena ada 16 orang yang mengalami sakit,” kata juru bicara maskapai tersebut, seperti dikutip dari dailymail, Minggu (7/12).
Dia mengatakan, dari 16 penumpang dua di antaranya serta seorang kru terpaksa ikut dirawat intensif. Atas insiden tersebut, pihaknya masih menyelidiki penyebab pasti muntahnya penumpang. 
Untuk sementara pesawat masih berada di Roma, adapun seluruh penumpang telah melanjutkan perjalanannya dengan penerbangan lain. “Kami masih melakukan penyelidikan guna menguak kasus ini,” katanya. 

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Pertamina Dipimpin Akuntan, Pengamat: Pikirannya Untung Rugi Saja

Jakarta, Aktual.co —Pengamat ekonomi dari Koalisi Anti Utang, Dani Setiawan, menilai cara pemerintah mengelola Pertamina sudah sejak lama tidak berlandaskan pada ideologi. Padahal Pertamina harusnya bisa diandalkan pemerintah untuk mengamanahkan UUD 1945, sekaligus mengemban visi misi daulat energi. 
Seperti tercantum dalam Pasal 33 bagaimana Negara bisa memanfaatkan sebesar-besarnya kekayaan alam tanah air untuk kesejahteraan rakyat dan bangsa. 
Padahal, menurutnya orang yang memimpin sektor energi harusnya orang yang memenuhi kualifikasi ideologi sesuai UUD 45. “Untuk mengemban ideologi di BUMN termasuk Pertamina,” ujarnya, dalam diskusi terbuka di Jakarta, Minggu (7/12).
Sementara saat ini, ujarnya, yang memimpin Pertamina ataupun perusahaan-perusahaan energi mayoritas adalah orang-prang yang hanya memiliki kemampuan manajerial saja. 
Seperti Dirut Pertamina saat ini, Dwi Soetjipto, yang merupakan mantan Direktur Utama Semen Indonesia yang berlatar belakang akuntan. “Menteri ESDM Sudirman Said juga akuntan sampai Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi juga akuntan,” tambahnya.
Dia khawatir hal itu akan berpengaruh pada operasional perusahaan plat merah. “Jadi pikirannya untung rugi aja, nasionalisme sih urusan nomor dua ratus. Bukan saya menghina profesi akuntan. Tapi ilmu akuntansi itu kan ada ideologinya dalam teori kapitalisme,” ungkapnya.
Padahal, sambungnya, posisi-posisi tersebut penting dan perlu untuk diisi oleh orang-orang yang kredibel dan menguasai teknis lapangan. Serta memahami atau menghayati betul ideologi yang diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945 itu.
Namun Dani menilai kenyataan seperti itu karena sampai sekarang memang tidak ada penataran terhadap para pemimpin sektor energi di Indonesia tentang ideologi UUD 1945. 
“Jangankan Dirutnya, Komisarisnya aja ga ditatar kok. Bahkan Menterinya juga. Sejak awal rekruitment di tubuh BUMN apalagi Menterinya sudah menghindari bicara soal Pasal 33 dan amanat konstitusi.”
Ia menceritakan bagaimana pada tahun 2008 keruntuhan ekonomi Eropa dan AS yang disebabkan para akuntan yang merekayasa data dalam akuntansi dan sebagainya.
“Saya pikir ini juga soal mahzab atau paham ketika menempatkan seseorang di perusahaan milik negara. Persoalannya mereka terbungkus dalam profesionalisme dan kemampuan manajerial, padahal menggeser kepentingan ideologi negara. Menghindari Pasal 33 tadi,” tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Pertamina Dipimpin Akuntan, Pengamat: Pikirannya Untung Rugi Saja

Jakarta, Aktual.co —Pengamat ekonomi dari Koalisi Anti Utang, Dani Setiawan, menilai cara pemerintah mengelola Pertamina sudah sejak lama tidak berlandaskan pada ideologi. Padahal Pertamina harusnya bisa diandalkan pemerintah untuk mengamanahkan UUD 1945, sekaligus mengemban visi misi daulat energi. 
Seperti tercantum dalam Pasal 33 bagaimana Negara bisa memanfaatkan sebesar-besarnya kekayaan alam tanah air untuk kesejahteraan rakyat dan bangsa. 
Padahal, menurutnya orang yang memimpin sektor energi harusnya orang yang memenuhi kualifikasi ideologi sesuai UUD 45. “Untuk mengemban ideologi di BUMN termasuk Pertamina,” ujarnya, dalam diskusi terbuka di Jakarta, Minggu (7/12).
Sementara saat ini, ujarnya, yang memimpin Pertamina ataupun perusahaan-perusahaan energi mayoritas adalah orang-prang yang hanya memiliki kemampuan manajerial saja. 
Seperti Dirut Pertamina saat ini, Dwi Soetjipto, yang merupakan mantan Direktur Utama Semen Indonesia yang berlatar belakang akuntan. “Menteri ESDM Sudirman Said juga akuntan sampai Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi juga akuntan,” tambahnya.
Dia khawatir hal itu akan berpengaruh pada operasional perusahaan plat merah. “Jadi pikirannya untung rugi aja, nasionalisme sih urusan nomor dua ratus. Bukan saya menghina profesi akuntan. Tapi ilmu akuntansi itu kan ada ideologinya dalam teori kapitalisme,” ungkapnya.
Padahal, sambungnya, posisi-posisi tersebut penting dan perlu untuk diisi oleh orang-orang yang kredibel dan menguasai teknis lapangan. Serta memahami atau menghayati betul ideologi yang diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945 itu.
Namun Dani menilai kenyataan seperti itu karena sampai sekarang memang tidak ada penataran terhadap para pemimpin sektor energi di Indonesia tentang ideologi UUD 1945. 
“Jangankan Dirutnya, Komisarisnya aja ga ditatar kok. Bahkan Menterinya juga. Sejak awal rekruitment di tubuh BUMN apalagi Menterinya sudah menghindari bicara soal Pasal 33 dan amanat konstitusi.”
Ia menceritakan bagaimana pada tahun 2008 keruntuhan ekonomi Eropa dan AS yang disebabkan para akuntan yang merekayasa data dalam akuntansi dan sebagainya.
“Saya pikir ini juga soal mahzab atau paham ketika menempatkan seseorang di perusahaan milik negara. Persoalannya mereka terbungkus dalam profesionalisme dan kemampuan manajerial, padahal menggeser kepentingan ideologi negara. Menghindari Pasal 33 tadi,” tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Keluarga Anggap Penangkapan Eks Bupati Bangkalan Arogan

Jakarta, Aktual.co — Keluarga menilai, penangkapan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap bekas Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron pada 2 Desember 2014 itu terkesan arogan.
“Kami sangat menghormati hukum di negara ini, namun yang dilakukan KPK sangat arogan, seharusnya lebih santun dalam menegakkan hukum,” kata juru bicara keluarga Fuad Amin Imron dari Bani Cholil Syarifudin Damanhuri, di Bangkalan, Minggu (7/12).
Penilaian sikap arogan terhadap tim penyidik KPK dalam melakukan penangkapan terhadap tersangka kasus suap pasokan migas di Kabupaten Bangkalan itu, karena Fuad dikenal sebagai tokoh masyarakat dan kiai terkemuka di Pulau Madura, yakni keturunan ulama kharismatik Syaikhona M Cholil, Bangkalan.
Syarifudin Damanhuri yang juga Ketua MUI Bangkalan itu tidak menjelaskan secara terinci kepada media, apakah memang harus ada perbedaan perlakuan apabila ada tokoh terjerat kasus hukum.
Syaichona Cholil merupakan kakek buyut Fuad Amin Imron, mantan Bupati Bangkalan yang kini menjadi tersangka kasus suap pasokan migas yang telah ditahan oleh KPK.
Sementara itu, Syaichona Cholil merupakan guru dari pendiri organisasi Nahdlatul Ulama Hasyim Asy’ari, sehingga sudah selayaknya penegak hukum mengedepankan sikap santun dan etika dalam melakukan penindakan.
Syarifudin Damanhuri merupakan salah satu keluarga Fuad Amin Imron yang bersedia diwawancarai media sejak kasus penangkapan Fuad dilakukan dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK pada 2 Desember 2014 di rumah mewahnya di Jalan Raya Saksak, Kelurahan Kraton, Bangkalan.
Selain Damanhuri, keluarga Fuad lainnya yang juga bersedia diwawancarai media terkait penangkapan tokoh kuat dan memiliki banyak pendukung di Kabupaten Bangkalan adalah Wakil Bupati Bangkalan Mondir Rofii.
Ulama lainnya adalah Faishal Anwar, pengasuh pesantren An-Nuraniyah Al-Choliliyah, yang juga kerabat Fuad Amin Imron dari Bani Cholil.
Sementara itu, anaknya Moh Makmun Ibnu Fuad yang juga Bupati Bangkalan saat ini, tampak bungkam dan hingga kini belum bersedia dikonfirmasi terkait kasus yang menjerat ayahnya itu, apalagi dirinya disebut-sebut terlibat dalam kasus itu.
Ketua DPRD Bangkalan Fuad Amin Imron ditangkap tim KPK dalam operasi tangkap tangan di rumahnya di Jalan Raya Saksak, Kelurahan Kraton, Bangkalan, Selasa (2/12) sekitar pukul 00.30 WIB.
Saat itu, tim KPK juga menyita uang senilai Rp700 juta, tiga koper berisi uang, serta beberapa dokumen penting di rumah Ketua DPRD yang juga tokoh kiai itu di Kabupaten Bangkalan.
Selain menangkap Fuad Amin, tim KPK pada saat itu juga menangkap seorang oknum anggota TNI AL, serta seorang pegawai BUMD yang juga terlibat dalam kasus pasokan migas itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Keluarga Anggap Penangkapan Eks Bupati Bangkalan Arogan

Jakarta, Aktual.co — Keluarga menilai, penangkapan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap bekas Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron pada 2 Desember 2014 itu terkesan arogan.
“Kami sangat menghormati hukum di negara ini, namun yang dilakukan KPK sangat arogan, seharusnya lebih santun dalam menegakkan hukum,” kata juru bicara keluarga Fuad Amin Imron dari Bani Cholil Syarifudin Damanhuri, di Bangkalan, Minggu (7/12).
Penilaian sikap arogan terhadap tim penyidik KPK dalam melakukan penangkapan terhadap tersangka kasus suap pasokan migas di Kabupaten Bangkalan itu, karena Fuad dikenal sebagai tokoh masyarakat dan kiai terkemuka di Pulau Madura, yakni keturunan ulama kharismatik Syaikhona M Cholil, Bangkalan.
Syarifudin Damanhuri yang juga Ketua MUI Bangkalan itu tidak menjelaskan secara terinci kepada media, apakah memang harus ada perbedaan perlakuan apabila ada tokoh terjerat kasus hukum.
Syaichona Cholil merupakan kakek buyut Fuad Amin Imron, mantan Bupati Bangkalan yang kini menjadi tersangka kasus suap pasokan migas yang telah ditahan oleh KPK.
Sementara itu, Syaichona Cholil merupakan guru dari pendiri organisasi Nahdlatul Ulama Hasyim Asy’ari, sehingga sudah selayaknya penegak hukum mengedepankan sikap santun dan etika dalam melakukan penindakan.
Syarifudin Damanhuri merupakan salah satu keluarga Fuad Amin Imron yang bersedia diwawancarai media sejak kasus penangkapan Fuad dilakukan dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK pada 2 Desember 2014 di rumah mewahnya di Jalan Raya Saksak, Kelurahan Kraton, Bangkalan.
Selain Damanhuri, keluarga Fuad lainnya yang juga bersedia diwawancarai media terkait penangkapan tokoh kuat dan memiliki banyak pendukung di Kabupaten Bangkalan adalah Wakil Bupati Bangkalan Mondir Rofii.
Ulama lainnya adalah Faishal Anwar, pengasuh pesantren An-Nuraniyah Al-Choliliyah, yang juga kerabat Fuad Amin Imron dari Bani Cholil.
Sementara itu, anaknya Moh Makmun Ibnu Fuad yang juga Bupati Bangkalan saat ini, tampak bungkam dan hingga kini belum bersedia dikonfirmasi terkait kasus yang menjerat ayahnya itu, apalagi dirinya disebut-sebut terlibat dalam kasus itu.
Ketua DPRD Bangkalan Fuad Amin Imron ditangkap tim KPK dalam operasi tangkap tangan di rumahnya di Jalan Raya Saksak, Kelurahan Kraton, Bangkalan, Selasa (2/12) sekitar pukul 00.30 WIB.
Saat itu, tim KPK juga menyita uang senilai Rp700 juta, tiga koper berisi uang, serta beberapa dokumen penting di rumah Ketua DPRD yang juga tokoh kiai itu di Kabupaten Bangkalan.
Selain menangkap Fuad Amin, tim KPK pada saat itu juga menangkap seorang oknum anggota TNI AL, serta seorang pegawai BUMD yang juga terlibat dalam kasus pasokan migas itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Munas Golkar di Jakarta Dianggap Ilegal

Jakarta, Aktual.co — Pelaksana tugas Ketua Umum Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia Hakim Kamaruddin menilai, pelaksanaan Musyawarah Nasional IX Partai Golkar di Ancol, Jakarta Utara ilegal. 
“Kegiatan yang diklaim Munas di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, tidak sah, atau oplosan. Baik segi mekanisme prosedur dan kepanitiaan, apalagi kepesertaan yang tidak dihadiri ketua DPP. Munas itu ilegal,” kata Kamaruddin, dalam di Senayan, Jakarta, Minggu (7/12). 
Kamaruddin menilai beberapa syarat dilaksanakannya Munas tidak sesuai dan tidak terpenuhi. Kamaruddin pun mengelaborasi pernyataannya tersebut. Pertama, Munas yang diselenggarakan sebelumnya, pada 30 November, merupakan hasil putusan Rapat Pimpinan Nasional ke-7 Golkar, yang merupakan forum pengambilan putusan yang lebih tinggi dr DPP. Sedangkan, Munas di Jakarta, hanya berdasarkan rapat pleno di DPP Partai Golkar. 
Kedua, Munas di Bali telah dihadiri seluruh ketua dan sekretaris DPD Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia. Selain itu, peserta Munas membawa surat mandat yang ditandatangani ketua DPD yang sah. 
Ketiga, Munas di Bali ditandatangi oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Partai Golkar yang sah. Menurut dia, apabila ada Munas yang ditandatangani selain Ketua Umun dan Sekjen, maka Munas tersebut dinyatakan tidak sah. 
“Aburizal Bakrie dan Idrus Marham tidak pernah diberhentikan dengan aturan yang sah. Tidak ada institusi lain yang sah menyelenggarakan Munas, apalagi presidium yang tidak dikenal dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga partai,” kata Kamaruddin. 
Munas IX Partai Golkar yang digelar di Jakarta, merupakan bentuk perlawanan sejumlah kader partai yang berseberangan dengan Aburizal Bakrie. Dalam Munas IX Golkar yang dilaksanakan di Bali, pada 30 November-3 Desember 2014 lalu,  Aburizal secara aklamasi terpilih kembali sebagai Ketua Umum Golkar.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain