8 April 2026
Beranda blog Halaman 41165

Redaktur Senior Aktual Jabat Ketua Organisasi Pers ASEAN

Jakarta, Aktual.co — Mantan Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Eko Maryadi, terpilih menjadi Ketua Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) atau organisasi pers Asia Tenggara dalam pemilihan yang berlangsung di Bangkok, Thailand, Rabu (10/12), kemarin.
“SEAPA sebagai jaringan organisasi jurnalis harus siap memenuhi segala tantangan yang muncul karena perubahan di negara ASEAN. Termasuk membangun kapasitas anggota SEAPA dalam menanggapi penerapan komunitas ekonomi ASEAN tahun 2015 mendatang,” kata Eko Item yang juga menjabat redaktur senior Aktual Network ini.
Kata Item, Asia Tenggara menjelma jadi masyarakat ekonomi regional baru pada awal tahun 2015 mendatang. 
Jadi, lanjutnya, integrasi ekonomi akan menumbuhkan isu-isu baru di negara-negara ASEAN yang tentu saja mensyaratkan pula adanya liputan jurnalistik yang kritis dari masing-masing negara tersebut secara keseluruhan.
Selain itu, Eko juga melihat praktik-praktik politik yang terjadi di negara ASEAN, pada tahun ini, seperti kantong campur-aduk antara kemajuan dan kemunduran.
Pascapemilihan umum Indonesia dan kudeta militer Thailand, terjadi perubahan besar dalam lanskap politik ASEAN. 
“Ini memberi kita harapan, bagi beberapa negara, sekaligus keprihatinan yang mendalam bagi negara-negara lainnya,” kata Eko dalam siaran pers yang diterima redaksi, Jum’at (12/12).
Namun, sambungnya, di negara-negara lainnya, arena politik tetap tak berubah, ada atau tidak ada pemilihan umum.
“Kami sungguh-sungguh prihatin dengan apa yang menimpa kawan-kawan kami di Thailand, khususnya,” paparnya mengingat peristiwa 22 Mei dengan adanya pengerahan junta militer.
Nah, dengan demikian kerja SEAPA untuk kebebasan media dan demi mengakhiri impunitas belum juga mengubah apapun.
“Karenanya, kita harus bekerja sangat keras, menggandeng masyarakat ASEAN lainnya untuk mewujud-nyatakan visi ini,” demikian Eko.

Artikel ini ditulis oleh:

Konflik Golkar, Ujian Netralitas Menkumham

Jakarta, Aktual.co — Direktur Institut Madani Nusantara Prof Nanat Fatah Natsir mengatakan keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasona H Laoly terhadap dualisme Partai Golkar akan menjadi ujian netralitas dan objektivitas menteri tersebut.
“Tak hanya menjadi ujian bagi Menkumham, tetapi juga pemerintah sejauh mana pemerintah netral dan objektif,” kata Nanat Fatah Natsir dihubungi di Jakarta, Kamis (12/12).
Mantan rektor UIN Bandung itu mengatakan bila salah dalam mengambil keputusan, maka citra pemerintah akan buruk dan menyebabkan melemahnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
Nanat mengatakan masyarakat mengetahui mana munas Partai Golkar yang sesuai aturan dan pesertanya betul pengurus partai beringin dengan mana yang melanggar peraturan dan pesertanya bukan pengurus partai sesuai ketentuan.
“Pemerintah harus hati-hati. Bila keputusan yang diambil tepat, maka citra pemerintah akan baik dan kepercayaan publik meningkat,” kata Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu.
Kepengurusan Partai Golkar terpecah menjadi dua sebagai imbas perbedaan pendapat yang ada di dalam partai tersebut. Kedua belah pihak yang bertikai menggelar musyawarah nasional (munas) sendiri dan sama-sama mengklaim pengurus yang sah serta menyerahkan berkas untuk disahkan Kemenkumham.
Munas di Bali diselenggarakan oleh pihak ketua umum Aburizal Bakrie. Munas tersebut kembali memilih Aburizal Bakrie sebagai ketua umum dalam pemilihan secara aklamasi.
Sedangkan munas di Ancol diselenggarakan kelompok penyelamat partai yang dimotori Agung Laksono. Agung Laksono terpilih sebagai ketua umum dalam pemungutan suara mengalahkan kandidat lain Priyo Budi Santoso dan Agus Gumiwang Kartasasmita.
Menanggapi pengajuan berkas dari kedua belah pihak, Menteri Hukum dan HAM Yasona H Laoly menyatakan membentuk tim khusus untuk mengkaji sebelum memberikan pengesahan.

Artikel ini ditulis oleh:

Konflik Golkar, Ujian Netralitas Menkumham

Jakarta, Aktual.co — Direktur Institut Madani Nusantara Prof Nanat Fatah Natsir mengatakan keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasona H Laoly terhadap dualisme Partai Golkar akan menjadi ujian netralitas dan objektivitas menteri tersebut.
“Tak hanya menjadi ujian bagi Menkumham, tetapi juga pemerintah sejauh mana pemerintah netral dan objektif,” kata Nanat Fatah Natsir dihubungi di Jakarta, Kamis (12/12).
Mantan rektor UIN Bandung itu mengatakan bila salah dalam mengambil keputusan, maka citra pemerintah akan buruk dan menyebabkan melemahnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
Nanat mengatakan masyarakat mengetahui mana munas Partai Golkar yang sesuai aturan dan pesertanya betul pengurus partai beringin dengan mana yang melanggar peraturan dan pesertanya bukan pengurus partai sesuai ketentuan.
“Pemerintah harus hati-hati. Bila keputusan yang diambil tepat, maka citra pemerintah akan baik dan kepercayaan publik meningkat,” kata Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu.
Kepengurusan Partai Golkar terpecah menjadi dua sebagai imbas perbedaan pendapat yang ada di dalam partai tersebut. Kedua belah pihak yang bertikai menggelar musyawarah nasional (munas) sendiri dan sama-sama mengklaim pengurus yang sah serta menyerahkan berkas untuk disahkan Kemenkumham.
Munas di Bali diselenggarakan oleh pihak ketua umum Aburizal Bakrie. Munas tersebut kembali memilih Aburizal Bakrie sebagai ketua umum dalam pemilihan secara aklamasi.
Sedangkan munas di Ancol diselenggarakan kelompok penyelamat partai yang dimotori Agung Laksono. Agung Laksono terpilih sebagai ketua umum dalam pemungutan suara mengalahkan kandidat lain Priyo Budi Santoso dan Agus Gumiwang Kartasasmita.
Menanggapi pengajuan berkas dari kedua belah pihak, Menteri Hukum dan HAM Yasona H Laoly menyatakan membentuk tim khusus untuk mengkaji sebelum memberikan pengesahan.

Artikel ini ditulis oleh:

Aksi Bullying di Sekolah, KPAI: Tempat Menakutkan Bagi Anak

Jakarta, Aktual.co —Sekolah merupakan tempat yang seharusnya dapat memberikan perlindungan dan pengetahuan bagi setiap muridnya. Namun dengan adanya aksi kejahatan atau kekerasan pada anak di sekolah yang beberapa waktu belakangan kerap terjadi, kini berganti menjadi tempat yang menakutkan bagi anak.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Susanto mengatakan banyaknya aksi kekerasan di sekolah terjadi saat orientasi siswa baru. 
“Fenomena punishment bermuatan kekerasan masih terjadi. Masa orientasi siswa baru belum steril dari kekerasan,”katanya kepada Aktual.co, Jum’at (12/12).
Dikatakan Susanto bahwa aksi kekerasan yang menimpa siswa dan siswi di sekolah masih menjadi tradisi dibeberapa sekolah. Bahkan perbuatan senior yang melakukan penindasan kepada junior sambung Susanto juga dianggap hak yang biasa oleh pihak sekolah.
“Ini diabaikan oleh sekolah. Seolah ada pembenaran terkait muatan kekerasan itu,”tambahnya.
Titik-titik rawan kejahatan seksual, lanjut Susanto di sekolah antara lain laboratorium komputer, toilet, lokasi sekolah yang tak terekam oleh CCTV, kolam renang.
“Jadi tetap harus berhati-hati saat berada di sekolah. Bagi sekolah harus selalu evaluasi sejauh mana bisa bertindak tanpa kekerasan dalam proses belajar mengajar,”tutup Susanto.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Aksi Bullying di Sekolah, KPAI: Tempat Menakutkan Bagi Anak

Jakarta, Aktual.co —Sekolah merupakan tempat yang seharusnya dapat memberikan perlindungan dan pengetahuan bagi setiap muridnya. Namun dengan adanya aksi kejahatan atau kekerasan pada anak di sekolah yang beberapa waktu belakangan kerap terjadi, kini berganti menjadi tempat yang menakutkan bagi anak.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Susanto mengatakan banyaknya aksi kekerasan di sekolah terjadi saat orientasi siswa baru. 
“Fenomena punishment bermuatan kekerasan masih terjadi. Masa orientasi siswa baru belum steril dari kekerasan,”katanya kepada Aktual.co, Jum’at (12/12).
Dikatakan Susanto bahwa aksi kekerasan yang menimpa siswa dan siswi di sekolah masih menjadi tradisi dibeberapa sekolah. Bahkan perbuatan senior yang melakukan penindasan kepada junior sambung Susanto juga dianggap hak yang biasa oleh pihak sekolah.
“Ini diabaikan oleh sekolah. Seolah ada pembenaran terkait muatan kekerasan itu,”tambahnya.
Titik-titik rawan kejahatan seksual, lanjut Susanto di sekolah antara lain laboratorium komputer, toilet, lokasi sekolah yang tak terekam oleh CCTV, kolam renang.
“Jadi tetap harus berhati-hati saat berada di sekolah. Bagi sekolah harus selalu evaluasi sejauh mana bisa bertindak tanpa kekerasan dalam proses belajar mengajar,”tutup Susanto.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Inilah Sejarah Banjir Jakarta (2)

Jakarta, Aktual.co —Gagasan Van Breen dalam membangun banjir kanal barat (BKB) ternyata gagal. Pada tahun 1918, terjadi banjir yang satu setengah meter lebih tinggi dari banjir-banjir sebelumnya. Van Breen pun tidak menduga akan datang air sebanyak itu. Ternyata, dibangunnya banjir kanal barat tidak memberikan jaminan bahwa Batavia akan terbebas dari banjir.
Banjir tahun 1918, dianggap dewan kota dan penduduk Batavia sebagai banjir terbesar dalam 20 tahun terakhir. Sebagaimana yang ditulis oleh Restu Gunawan dalam bukunya yang berjudul Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa, pada tahun 1878 sempat terjadi hujan dalam curah waktu yang lama yaitu 40 hari. Namun dampaknya tidak sebesar banjir yang terjadi tahun 1918.
Pada banjir tahun 1918, wilayah banjir di Batavia meluas ke arah barat yaitu daerah Kali Angke, Pekojan Pejagalan. Sedangkan tahun 1892 sampai 1918, daerah itu jarang terkena banjir. Artinya, sistem penyaluran di kota lama lebih bagus dan efektif mengendalikan banjir dibandingkan BKB.
Setahun setelahnya, tanggal 5 dan 6 Februari 1919 banjir melanda Weltevreden atau yang sekarang dikenal dengan Gambir. Namun banjir tersebut tidak besar karena ada manfaat dari dibangunnya BKB. Tahun 1923, banjir juga tidak terlalu besar karena hanya sebagian kampung yang dilanda banjir. Kemungkinan manfaat dibangunnya BKB lebih dirasakan kawasan elit seperti di kawasan Menteng dan sekitarnya. Sementara itu di kawasan perkampungan bumiputera tetap terjadi banjir, seperti di Kebun Jeruk dan Tanah Tinggi karena tidak ada kaitan langsung dengan kanal banjir.
(Bersambung…)

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Berita Lain