13 April 2026
Beranda blog Halaman 41185

Inilah Sejarah Banjir Jakarta (2)

Jakarta, Aktual.co —Gagasan Van Breen dalam membangun banjir kanal barat (BKB) ternyata gagal. Pada tahun 1918, terjadi banjir yang satu setengah meter lebih tinggi dari banjir-banjir sebelumnya. Van Breen pun tidak menduga akan datang air sebanyak itu. Ternyata, dibangunnya banjir kanal barat tidak memberikan jaminan bahwa Batavia akan terbebas dari banjir.
Banjir tahun 1918, dianggap dewan kota dan penduduk Batavia sebagai banjir terbesar dalam 20 tahun terakhir. Sebagaimana yang ditulis oleh Restu Gunawan dalam bukunya yang berjudul Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa, pada tahun 1878 sempat terjadi hujan dalam curah waktu yang lama yaitu 40 hari. Namun dampaknya tidak sebesar banjir yang terjadi tahun 1918.
Pada banjir tahun 1918, wilayah banjir di Batavia meluas ke arah barat yaitu daerah Kali Angke, Pekojan Pejagalan. Sedangkan tahun 1892 sampai 1918, daerah itu jarang terkena banjir. Artinya, sistem penyaluran di kota lama lebih bagus dan efektif mengendalikan banjir dibandingkan BKB.
Setahun setelahnya, tanggal 5 dan 6 Februari 1919 banjir melanda Weltevreden atau yang sekarang dikenal dengan Gambir. Namun banjir tersebut tidak besar karena ada manfaat dari dibangunnya BKB. Tahun 1923, banjir juga tidak terlalu besar karena hanya sebagian kampung yang dilanda banjir. Kemungkinan manfaat dibangunnya BKB lebih dirasakan kawasan elit seperti di kawasan Menteng dan sekitarnya. Sementara itu di kawasan perkampungan bumiputera tetap terjadi banjir, seperti di Kebun Jeruk dan Tanah Tinggi karena tidak ada kaitan langsung dengan kanal banjir.
(Bersambung…)

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Fadli Zon: Koalisi Merah Putih Tidak Bubar

Jakarta, Aktual.co — Wakil Ketua Umum DPP Gerindra, Fadli Zon membantah jika umur koalisi merah putih (KMP) ketika mendukung penyelenggraan pemilukada secara langsung tidak akan bertahan lama.
Hal itu menyusul pernyataan Ketua DPP Gerindra Desmon J Mahesa tidak akan bertahan lama yang diprediksi tidak sampai 3 tahun.
“Saya kira tidak seperti itu. itu pendapat pribadi (Desmon,red), Kita lihat perkembangannya sebab representasinya itu di presidium (KMP),” kata Fadli, ketikaa dikonfirmasi, di Jakarta, Jumat (12/12).
Ia pun juga tidak membenarkan ketika dikatakan bahwa KMP yang menggabungkan sejumlah partai politik, seperti Gerindra, Golkar, PAN, PKS, PPP bukan berlandaskan pada perjanjian ideologi.
“Itu salah besar. coba baca pakta pendirian KMP yang kita tandatangani,” pungkas wakil ketua DPR RI itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Fadli Zon: Koalisi Merah Putih Tidak Bubar

Jakarta, Aktual.co — Wakil Ketua Umum DPP Gerindra, Fadli Zon membantah jika umur koalisi merah putih (KMP) ketika mendukung penyelenggraan pemilukada secara langsung tidak akan bertahan lama.
Hal itu menyusul pernyataan Ketua DPP Gerindra Desmon J Mahesa tidak akan bertahan lama yang diprediksi tidak sampai 3 tahun.
“Saya kira tidak seperti itu. itu pendapat pribadi (Desmon,red), Kita lihat perkembangannya sebab representasinya itu di presidium (KMP),” kata Fadli, ketikaa dikonfirmasi, di Jakarta, Jumat (12/12).
Ia pun juga tidak membenarkan ketika dikatakan bahwa KMP yang menggabungkan sejumlah partai politik, seperti Gerindra, Golkar, PAN, PKS, PPP bukan berlandaskan pada perjanjian ideologi.
“Itu salah besar. coba baca pakta pendirian KMP yang kita tandatangani,” pungkas wakil ketua DPR RI itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Pengamat: Pertemuan SBY-Jokowi Banyak Makna Politisnya

Jakarta, Aktual.co — Kunjungan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Presiden Jokowi pada Senin (8/12) kemarin terus menimbulkan tafsiran politik dari sejumlah kalangan akademisi.
Pasalnya, tidak mungkin kedatangannya hanya sebatas sebagai Chairman Global Green Growth Institute (GGGI) dan hanya membahas perppu pilkada langsung saja.
Pengamat Politik dari UIN Syarief Hidayatullah, Pangi Syarwi Chaniago (Ipang) mengatakan pembicaraan politik itu mengenai siapa?, dapat apa?, dimana dan bagaimana?
“Artinya kedatangan SBY ke istana bisa diterjemahkan banyak kesan dan makna politis,” ucap dia ketika dikonfirmasi, di Jakarta, Jumat (12/12).
Ia pun tidak menampik bila dalam pertemuan kedua tokoh besar itu, salah satunya perihal permintaan perlindungan hukum dalam kasus yang tengah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). SBY menjadikan posisinya selaku ketua umum di partai berlambang bintang mercy itu sebagai bargaining politk kepada Jokowi.
“Jokowi bisa saja bongkar kasus Century dan kasus Hambalang. Namun SBY punya bergaining position yaitu sebagai ketua umum parpol Demokrat. Sehingga, SBY dan keluarganya pasti ingin aman dan tak ada kasus yang menyanderanya dikemudian hari,” ujarnya.
“Posisi demokrat sebagai partai penyeimbang itu bergaining SBY. Misalnya SBY mendukung perppu pilkada langsung, kalau SBY terancam ia pasti akan merapat ke koalisi pemerintah,” imbuh dia.
Lebih lanjut, Ipang menganalogikan, dimana posisi untuk saling “mengamankan” dengan bargaining politik dilakukan. Misalnya, kata dia, Aburizal Bakrie (Ical) yang punya kasus Lumpur Lapindo, kasus Lapindo jadi ancaman dan bisa menyanderanya setelah rezim berganti. Dulu Ical aman karena di rezim SBY. SBY membutuhkan Ical karena koalisi Golkar dengan demokrat.
“Sehingga mengapa Ical begitu ngotot dan ambisius memaksa menjadi ketua umum, karena itu tadi Ical tak aman kalau tak lagi punya bergaining position,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Pengamat: Pertemuan SBY-Jokowi Banyak Makna Politisnya

Jakarta, Aktual.co — Kunjungan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Presiden Jokowi pada Senin (8/12) kemarin terus menimbulkan tafsiran politik dari sejumlah kalangan akademisi.
Pasalnya, tidak mungkin kedatangannya hanya sebatas sebagai Chairman Global Green Growth Institute (GGGI) dan hanya membahas perppu pilkada langsung saja.
Pengamat Politik dari UIN Syarief Hidayatullah, Pangi Syarwi Chaniago (Ipang) mengatakan pembicaraan politik itu mengenai siapa?, dapat apa?, dimana dan bagaimana?
“Artinya kedatangan SBY ke istana bisa diterjemahkan banyak kesan dan makna politis,” ucap dia ketika dikonfirmasi, di Jakarta, Jumat (12/12).
Ia pun tidak menampik bila dalam pertemuan kedua tokoh besar itu, salah satunya perihal permintaan perlindungan hukum dalam kasus yang tengah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). SBY menjadikan posisinya selaku ketua umum di partai berlambang bintang mercy itu sebagai bargaining politk kepada Jokowi.
“Jokowi bisa saja bongkar kasus Century dan kasus Hambalang. Namun SBY punya bergaining position yaitu sebagai ketua umum parpol Demokrat. Sehingga, SBY dan keluarganya pasti ingin aman dan tak ada kasus yang menyanderanya dikemudian hari,” ujarnya.
“Posisi demokrat sebagai partai penyeimbang itu bergaining SBY. Misalnya SBY mendukung perppu pilkada langsung, kalau SBY terancam ia pasti akan merapat ke koalisi pemerintah,” imbuh dia.
Lebih lanjut, Ipang menganalogikan, dimana posisi untuk saling “mengamankan” dengan bargaining politik dilakukan. Misalnya, kata dia, Aburizal Bakrie (Ical) yang punya kasus Lumpur Lapindo, kasus Lapindo jadi ancaman dan bisa menyanderanya setelah rezim berganti. Dulu Ical aman karena di rezim SBY. SBY membutuhkan Ical karena koalisi Golkar dengan demokrat.
“Sehingga mengapa Ical begitu ngotot dan ambisius memaksa menjadi ketua umum, karena itu tadi Ical tak aman kalau tak lagi punya bergaining position,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Presiden Korsel: Indonesia Mitra Dagang Penting

Jakarta, Aktual.co — Presiden Korea Selatan Park Geun Hye menyambut baik kedatangan Presiden RI Joko Widodo dan menyebut Indonesia sebagai mitra dagang yang penting dan strategis.
“Sekarang datang sebagai presiden. Dengan kedekatan ini, kerjasama bisa dilanjutkan,” kata dia, dilansir dari laman Setkab RI, Kamis (11/12).
Sementara itu, Jokowi menyebut bahwa hubungan bilateral yang baik  dengan Korsel harus ditindaklanjuti dengan pertemuan antar menteri.
“Untuk hubungan yang lebih kuat, kami menyarankan ada pertemuan antar menlu dalam bentuk join commision,” kata Jokowi.
Jokowi berkunjung ke Busan, Korsel, dalam rangka menghadiri KTT perayaan 25 tahun dialog ASEAN-Korsel, 11-12 Desember 2014.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain