13 April 2026
Beranda blog Halaman 41211

Menyikapi Fenomena Politik Tandingan di Masyarakat dengan Cara Bijak

Jakarta, Aktual.co — Beberapa hari terakhir, fenomena politik tandingan berhembus di kalangan masyarakat kita. Fenomena tandingan ini tampaknya menarik dicermati karena tak hanya terjadi pada ormas dan partai politik, melainkan telah merambah pada lembaga-lembaga negara. Sudah ada pimpinan dewan tandingan, Gubernur tandingan, dan kita tak ingin nantinya akan ada tandingan-tandingan lain pada lembaga negara kita, apalagi sampai ada Presiden tandingan.

Dalam konteks demokrasi, adanya tandingan-tandingan seperti itu, bisa jadi sebuah dinamika. Tajamnya perbedaan yang mengkristal yang sulit dipertemukan sehingga ‘terpaksa’ membentuk tandingan. Jika hal itu hanya terjadi pada ormas, termasuk partai politik, kita masih bisa pahami karena jika mereka tak bisa melakukan rekonsiliasi, maka konsekwensi yang bakal muncul adalah salah satu diantaranya bakal dieliminir, baik disebabkan pengakuan pemerintah (UU) atau pun masyarakat.

Bisa jadi yang diakui pemerintah, ternyata tak sepaham dengan masyarakat, seperti halnya PDI Soerjadi vs PDI pro Mega. Pada era orde baru, pemerintah mengakui PDI Soerjadi, namun yang “diakui” masyarakat justru PDI pro Mega yang sekarang menjadi PDIP.

Namun ketika tandingan-tandingan tersebut telah merambah pada lembaga negara, hal ini tak bisa lagi diklasifikasikan sebagai sebuah dinamika berdemokrasi. Bisa dibayangkan, jika kita tak setuju dengan presiden terpilih, lantas kita menunjuk presiden tandingan. Dalam praktek penyelenggaraan negara tentu hal ini sangat berbahaya.

Ini bisa saja diklasifikasikan sebagai tindakan makar karena  melawan hukum, sebab dengan menunjuk tandingan sama artinya tidak ada pengakuan terhadap pejabat yang sah sesuai aturan perundang-undangan.

Pemerintah yang sah harus tegas menindak perbuatan hukum tersebut. Jika tindakan tegas itu tak dilakukan, pemerintah dan lembaga terkait akan terus terombang-ambing oleh perilaku inskonstitusional yang ujungnya hilangnya kewibawaan pemerintahan yang sah.

Beda halnya dengan ormas dan partai politik, selain ditentukan oleh peraturan dan perundang-undangan yang berlaku (aspek juridis), ‘pasar’ juga sangat menentukan. ‘Pasar’ di sini adalah masyarakat itu sendiri. Jika secara juridis mendapat pengakuan, namun masyarakatnya. “tak mengakui”, maka dengan sendirinya ormas/partai politik tersebut akan lebur dengan sendirinya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjhaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur baru pengganti Jokowi pun menuai banyak reaksi dari berbagai pihak dari mulai ormas, FPI dan ormas-ormas lain dengan berbagai asumsi,maka karena alasan itu lah mereka pun menggagas untuk mengangkat gubernur tandingan sebagai wujud protes bahwa dengan jelas dan lantang mereka menolak Ahok sebagai Guberenur baru, lagi-lagi pemimpin tandingan.

Kemudian dari kubu partai golkar tentang ada nya Munas tandingan alasan nya pun sama sebagai wujud protes, jika kita telaah jelas ini bukan perilaku yang baik yang patut dicontoh sebagai petinggi dan juga kata nya wakil rakyat,menuai perpecahan dari satu kubu ke kubu yang lain,mengecam. Bahkan, menolak dengan cara yang tidak pantas di lakukan sebagai warga negara indonesia,terima lah dengan lapang dada.

Menjadikan politik sebagai jalan untuk melayani rakyat. Melainkan yang ada dan dominan nampak di permukaan adalah atas nama tujuan melayani rakyat sebagai jalan memperoleh kekuasaan untuk kepentingan kelompok. Sistem koalisi antar parpol yang dibangun baik KIH maupun KMP dipenuhi dengan semangat dan syahwat politik kekuasaan.

Benar adanya sebuah statement yang dilontarkan oleh seorang pakar hukum tata Negara-yang namanya tidak mau disebutkan-bahwa para politisi itu jika sudah masuk ke gelanggang legislatif DPR maka baju parpolnya akan dilepas semua diganti dengan baju kepentingan komisi proyek. Sementara kepentingan politik koalisi parpol pemenang Pilpres akan mendominasi seluruh struktur kabinet meski mau disebut dengan nama apapun. Apakah kabinet Indonesia hebat. Kabinet profesional. Ataupun kabinet kerja, kerja dan kerja.

Secara sederhana yang nampak sekarang adalah KMP mendominasi rekayasa politik DPR. Dan KIH mendominasi rekayasa politik Kabinet. Seberapa jauh rekayasa politik antar koalisi itu didedikasikan untuk kepentingan rakyat. Sangat tergantung pada basis ideologi negara apa yang dipakai acuan. Sistem politik dan sistem ekonomi apa sebagai pilar penting penentu kebijakan negara yang diterapkan di atas basis ideologi negara.

Sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalis liberalis adalah sistem yang dibangun di atas bangunan ideologi negara kapitalis sekuler. Indonesia secara faktual dalam banyak kebijakan negara mengadopsi sistem ini. Perdebatan politik oleh para politisi maupun pengambil kebijakan negara kemudian hanyalah di seputar persoalan siapa memperoleh apa dengan cara apa.

Bukan bagaimana seharusnya kebijakan negara diterapkan sesuai dengan aturan dari Yang Maha Kuasa untuk kemaslahatan manusia. Dalam kondisi seperti itu maka proses politik baik di tubuh parlemen maupun kabinet niscaya akan sarat dengan kepentingan politik para politisi, penguasa dan pemilik modal yang memback upnya. Sampai kapan kondisi ini terus berjalan.

Sampai bangsa ini sadar tentang pentingnya pergolakan (revolusi) bukan saja sebuah revolusi mental an sich. Melainkan pergolakan (revolusi) komprehensif mencakup pergolakan pemikiran, politik dan pergolakan militer sebagai mekanisme perubahan masyarakat sepanjang sejarah. Dan perubahan masyarakat yang dicontohkan oleh Rasullullah SAW tidak bisa dipisahkan dengan substansi ajaran Islam mencakup syariah, dakwah, aqidah, jihad dan khilafah.

Alergi terhadap pergolakan (revolusi) hanya akan membuat kejumudan gerakan. Atau penumpulan gerakan dari sebuah entitas dakwah yang berpotensi menjadi pressure group menjadi sebuah entitas intelektual yang berkembang dari wacana ke wacana. Dari panggung ke panggung. Dari forum ke forum.

Atau kalaupun turun ke jalan, pengambil kebijakan pun tahu bahwa kerangkanya dalam bingkai seruan/himbauan mental dan intelektual. Tidak lebih dari itu. Ingatlah Firman Allah Subhanahu Wa Ta’alla :

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (memerintahkan kebijaksanaan) di antara kamu supaya menetapkannya dengan adil.Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat. Wahai orang-orang yang beriman Taatilah Allah, taatilah rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikan kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) lagi lebih baik akibatnya “(QS. An-Nisa : 58-59). Wallahu A’lam Bis Showab.

Artikel ini ditulis oleh:

KONI Padang Targetkan Raih 135 Medali di Porprov

Padang, Aktual.co — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Padang, Sumatera Barat, menargetkan meraih 135 medali emas pada kejuaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar di Dharmasraya pada 16 Desember mendatang.

Ketua Umum KONI Padang, Soetrisno Abe menyebutkan, target medali itu didapat setelah adanya koordinasi masing-masing Cabang Olahraga (Cabor).

“Kita targetkan 135 medali emas besok, kita juga melihat masing-masing Cabor memiliki atlet yang bagus dan kuat,” katanya di Padang, Kamis (11/12).

Disebutkan Soetrisno, kontingen Kota Padang saat ini sudah siap seratus persen untuk mengikuti kejuaraan tersebut. “Alhamdulillah, semuanya sudah clear (beres), Sabtu (13/12) besok, kita akan lepas kontingen untuk berangkat ke Dharmasraya,” ujarnya.

Adapun jumlah kontingen pada Porprov 2014 tersebut dari Kota Padang sebanyak 700 orang. “Terdiri dari 610 atlit, kemudian selebihnya merupakan pelatih dan official cabor,” tuturnya.

Selain itu, terkait anggaran kontingen Kota Padang, saat ini diakui Soetrisno juga sudah rampung. “Alhamdulillah, semuanya sudah rampung termasuk pencairan anggaran anggarannya ada Rp5 miliyar,” jelasnya.

Dia berharap masing-masing cabor dapat meraih hasil maksimal saat kejuaran mendatang. “Pastinya, kita bakal support sekuat tenaga untuk anak-anak yang bertanding,” harapnya.

Artikel ini ditulis oleh:

KONI Padang Targetkan Raih 135 Medali di Porprov

Padang, Aktual.co — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Padang, Sumatera Barat, menargetkan meraih 135 medali emas pada kejuaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar di Dharmasraya pada 16 Desember mendatang.

Ketua Umum KONI Padang, Soetrisno Abe menyebutkan, target medali itu didapat setelah adanya koordinasi masing-masing Cabang Olahraga (Cabor).

“Kita targetkan 135 medali emas besok, kita juga melihat masing-masing Cabor memiliki atlet yang bagus dan kuat,” katanya di Padang, Kamis (11/12).

Disebutkan Soetrisno, kontingen Kota Padang saat ini sudah siap seratus persen untuk mengikuti kejuaraan tersebut. “Alhamdulillah, semuanya sudah clear (beres), Sabtu (13/12) besok, kita akan lepas kontingen untuk berangkat ke Dharmasraya,” ujarnya.

Adapun jumlah kontingen pada Porprov 2014 tersebut dari Kota Padang sebanyak 700 orang. “Terdiri dari 610 atlit, kemudian selebihnya merupakan pelatih dan official cabor,” tuturnya.

Selain itu, terkait anggaran kontingen Kota Padang, saat ini diakui Soetrisno juga sudah rampung. “Alhamdulillah, semuanya sudah rampung termasuk pencairan anggaran anggarannya ada Rp5 miliyar,” jelasnya.

Dia berharap masing-masing cabor dapat meraih hasil maksimal saat kejuaran mendatang. “Pastinya, kita bakal support sekuat tenaga untuk anak-anak yang bertanding,” harapnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Kerusuhan Antar Suporter karena Kurangnya Pengetahuan Sepakbola

Jakarta, Aktual.co — Diskusi Kamisan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kumis Kemenpora), membahas permasalahan pengelolaan suporter sepakbola di Indonesia, khususnya kerusuhan antar suporter.

Diskusi yang digelar di ruang Media Centre Kemenpora, Jakarta, Kamis (11/12), dihadiri oleh tiga narasumber yakni Ari Julianto (wartawan olahraga senior), Budi Setiawan (Member Development and Stakeholders Affairs Director) dan Gatot S. Dewa Broto (Deputi V Bidang Keharmonisan dan Kemitraan Kemenpora).

Dikatakan Ari Julianto, wartawan senior dari salah satu media lokal di Indonesia, minimnya edukasi mengenai “law of the game” (peraturan pertandingan) dari sepakbola itu sendiri, penyebab terjadinya keributan antar suporter sepakbola.

“Terjadinya bentrokan antar suporter karena ketidakpahaman mereka (suporter) akan peraturan sepakbola itu sendiri. Selain itu, makin maraknya kerusuhan antar suporter, juga karena tidak adanya pengusutan secara tuntas dari aparat mengenai tindakan represif yang dilakukan oleh suporter,” sesal Ari.

Meski begitu, pendapat berbeda dikatakan oleh perwakilan dari PSSI. Untuk paling tidak meminimalisasi permasalahan kerusuhan adalah dengan perbaikan infrastruktur dan pemantapan regulasi.

“Dalam peraturan Konfederasi Sepakbola Internasional (FIFA) tidak mengatur suporter secara langsung. Infrastruktur yang memadai, jarak lapangan dengan tribun agak berjauhan. Selian itu dari sisi regulasi juga harus diperhatikan,” ujar Budi.

Menanggapi hal tersebut, pihak Kemenpora yang diwakili oleh Ketua Deputi V mengatakan bahwa, pihaknya akan segera melakukan aksi nyata untuk permasalahan antar suporter di Indonesia.

“Menpora beberapa waktu lalu sudah melontarkan wacana untuk berdiskusi dengan suporter. Iya paling tidak diskusi itu bisa meminimalisasi kerusuhan antar suporter sepakbola Indonesia,” harapnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Kerusuhan Antar Suporter karena Kurangnya Pengetahuan Sepakbola

Jakarta, Aktual.co — Diskusi Kamisan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kumis Kemenpora), membahas permasalahan pengelolaan suporter sepakbola di Indonesia, khususnya kerusuhan antar suporter.

Diskusi yang digelar di ruang Media Centre Kemenpora, Jakarta, Kamis (11/12), dihadiri oleh tiga narasumber yakni Ari Julianto (wartawan olahraga senior), Budi Setiawan (Member Development and Stakeholders Affairs Director) dan Gatot S. Dewa Broto (Deputi V Bidang Keharmonisan dan Kemitraan Kemenpora).

Dikatakan Ari Julianto, wartawan senior dari salah satu media lokal di Indonesia, minimnya edukasi mengenai “law of the game” (peraturan pertandingan) dari sepakbola itu sendiri, penyebab terjadinya keributan antar suporter sepakbola.

“Terjadinya bentrokan antar suporter karena ketidakpahaman mereka (suporter) akan peraturan sepakbola itu sendiri. Selain itu, makin maraknya kerusuhan antar suporter, juga karena tidak adanya pengusutan secara tuntas dari aparat mengenai tindakan represif yang dilakukan oleh suporter,” sesal Ari.

Meski begitu, pendapat berbeda dikatakan oleh perwakilan dari PSSI. Untuk paling tidak meminimalisasi permasalahan kerusuhan adalah dengan perbaikan infrastruktur dan pemantapan regulasi.

“Dalam peraturan Konfederasi Sepakbola Internasional (FIFA) tidak mengatur suporter secara langsung. Infrastruktur yang memadai, jarak lapangan dengan tribun agak berjauhan. Selian itu dari sisi regulasi juga harus diperhatikan,” ujar Budi.

Menanggapi hal tersebut, pihak Kemenpora yang diwakili oleh Ketua Deputi V mengatakan bahwa, pihaknya akan segera melakukan aksi nyata untuk permasalahan antar suporter di Indonesia.

“Menpora beberapa waktu lalu sudah melontarkan wacana untuk berdiskusi dengan suporter. Iya paling tidak diskusi itu bisa meminimalisasi kerusuhan antar suporter sepakbola Indonesia,” harapnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Buku Baru Charles Tentang Bisnis Meluncur di Awal Tahun 2015

Jakarta, Aktual.co — Artis dan penulis buku Charles Bonar Sirait segera meluncurkan buku ketiganya tentang teknik pembicaraan di dunia bisnis berjudul “Public Speaking and Business: Etiket Berbicara dalam Forum Bisnis” pada Februari 2015.

“Segera diluncurkan pada Februari tahun depan. Sekarang saya mulai promosi prapeluncuran,” kata Charles di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Kamis (11/12).

Dia mengatakan promosi prapeluncuran buku ketiganya itu dilakukan di berbagai tempat dari pintu ke pintu. Strategi tersebut dinilainya cukup efektif untuk promosi.

“Lebih efektif seperti ini (promosi prapeluncuran) daripada dilakukan acara peluncuran resmi secara besar-besaran yang dilakukan sekali. Nanti kita lihat saja,” kata dia.

Buku ketiga yang ditulis Charles itu sendiri telah didahului buku karyanya, “The Power of Public Speaking: Kiat Sukses Berbicara di Depan Publik” di edisi pertama dan “Public Speaking for Teacher: Kiat Sukses Pendidik Berbicara di Depan Publik” seri kedua.

Sebagai lulusan manajemen, presenter di berbagai acara itu banyak berbagi cara berkomunikasi yang efektif dalam dunia bisnis.
 
Di salah satu lembaran buku yang akan diluncurkannya itu Charles berbagi suka duka, tantangan dan kendala saat bekerja di departemen komunikasi sebuah bank.
 
Dia berharap lewat pengalamannya yang ditulis di buku itu akan dapat bermanfaat bagi pembaca dalam membangun suasana bisnis yang kondusif dan menyenangkan lewat pola komunikasi yang tepat. Dengan begitu, bisnis dapat berjalan lancar karena mampu menjalin komunikasi berkualitas secara internal ataupun eksternal perusahaan.
 
Secara umum, Charles memiliki pengalaman di dunia bisnis karena menjadi akademisi dan juga praktisi di bidang tersebut.

Karier Charles di dunia “publik speaking” juga terbilang baik di dunia hiburan. Dia sempat menjadi pembawa acara televisi “Gebyar BCA” di Indosiar dan juga meraih penghargaan bergengsi pada Panasonic Awards di tahun 1999 dan 2003 kategori “Best Male TV Presenter”.

Sementara itu, Charles tidak hanya mempromosikan buku ketiganya. Dia juga menyumbangkan total 100 eksemplar buku ketiganya tersebut kepada perpustakaan daerah yang memiliki tajuk Perpustakaan Seru (PerpuSeru) di Kotawaringin Barat.

PerpuSeru sendiri merupakan sebuah upaya revitalisasi perpustakaan menjadi gudang ilmu yang menyenangkan sehingga mampu menyedot minat besar masyarakat berkunjung. Program ini digagas oleh Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) dan Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) dalam upayanya mengubah pandangan masyarakat terhadap perpustakaan.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain