13 April 2026
Beranda blog Halaman 41900

Dwikorita Karnawati Resmi Dilantik Sebagai Rektor Baru UGM

Jakarta, Aktual.co —Prof Dwikorita Karnawati akhirnya secara resmi menjabat sebagai Rektor baru UGM periode 2014-2017 menggantikan rektor sebelumnya Pratikno yang menjadi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg).

Pelantikan dilakukan oleh Majelis Wali Amanat (MWA) di Balai Senat UGM Senin (24/11/2014) pagi.

Dalam pidato pelantikanya, Dwikorita Karnawati mengaku akan meneruskan visi dan misi rektor sebelumnya Pratikno. Salah satu hal yang menjadi prioritasnya adalah melakukan mapping atau pemetaan penelitian di UGM. Selain itu ia juga mengaku akan memprioritaskan hilirisasi hasil-hasil penelitian tersebut kepada masyarakat, industri dan pemerintah.

“Kita akan mencoba merombak budaya penelitian saat ini. Yakni dengan melakukan mapping penelitian. Penelitian mestinya jangan sesukanya saja. Tapi diarahkan pada kebutuhan publik atau market (pasar) yakni masyarakat, industri maupun pemerintah,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Dwikorita juga menyampaikan dirinya bersama seluruh elemen di UGM akan berusaha mempertahankan UGM sebagai universitas pancasila, univeristas kerakyatan dan universitas nasional dengan terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang berakar pada kemajemukan bangsa.

“Perubahan kementrian yang kini menjadi Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi juga menjadi peluang sangat baik,” katanya.

Sebelum menjadi Rektor, Dwikorita sendiri sebelumnya menjabat Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni UGM Yogyakarta. Dia merupakan rektor pertama perempuan di UGM Yogyakarta. “Menjadi rektor bukan tujuan, tapi ini amanat yang harus diemban,” ujarnya.

Selain dihadiri sejumlah civitas UGM, pelantikan tersebut juga nampak sejumlah pejabat di DIY seperti Kapolda DIY Brigjen Pol Oerip Soebagyo, Komandan Korem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Sabrar Fadillah, hingga Bupati Sleman, Sri Purnomo dan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD yang merupakan anggota Majelis Wali Amanat UGM.

Artikel ini ditulis oleh:

Anggota DPD RI Sayangkan Polisi Panggil Demonstran BBM

Medan, Aktual.co — Anggota DPD RI asal Sumut, Dedi Iskandar Batubara menyayangkan pemanggilan yang dilakukan Satreskrim Polresta Medan terhadap dua orang mahasiswa Universitas Pancabudi dengan dalih melakukan tindak pidana mengganggu ketertiban umum saat menggelar aksi demonstrasi BBM.

“Tugas kepolisian kan mengamankan, kita menyayangkan anggapan bahwa aksi demonstrasi sebagai tindak pidana. Karena mereka kan tidak merusak,” ujar Dedi kepada Aktual.co di Medan, Senin (24/11).

Menurut Dedi yang juga menjabat sebagai sekretaris KNPI Sumut itu, aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM tidak saja terjadi di kota Medan. Pun, aksi bakar ban dan pemblokiran jalan. Dimana aksi-aksi itu dinilai wajar sebagai sikap kritis mahasiswa.

Selain itu menurutnya, pemanggilan mahasiswa untuk diperiksa atas alasan mengganggu ketertiban umum oleh Polisi, agaknya hanya terjadi di Kota Medan.

“Dan BBM ini kan berpengaruh sama sektor kehidupan, jadi wajar direspon. Sepengetahuan saya, diluar Medan belum ada pemanggilan seperti ini,” katanya.

Dedi menyatakan, aksi-aksi penolakan kenaikan BBM di Kota Medan masih dapat dinilai sangat santun. Berbeda dengan beberapa daerah lain, dimana terjadi bentrokan fisik.

Dedi menegaskan, agar kepolisian tidak mengembalikan gaya lama, dengan menganggap aksi demonstrasi mengesankan tindakan subversif.

“Saya melihat santun kali kita disini (Medan-red) demo. Saya berharap polisi jangan represiflah menghadapi demo-demo. Jangan dikembalikan kesan-kesan subversif, demo dianggap mengganggu negara, mengganggu stabilitas negara. Tak cocok mereka (mahasiswa-red) dipersepsikan seperti itu. Jangan dikembalikan ke cara-cara lama menghadapi demonstran,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, dua orang pendemo BBM di Kota Medan, masing-masing Hendra M. Sihaloho alumni Universitas Panca Budi dan Taufiq Hilmi Ketua BEM Universitas Panca Budi mendapatkan surat pemanggilan dari Satuan Reskrim Polresta Medan.

Surat Pemanggilan itu masing-masing bernomor S.Pgl/6007/XI/2014 untuk Hendra dan S.Pgl/6007/XI/2014 untuk Hilmi dengan alasan melakukan pemeriksaan dalam rangka penyidikan untuk mengambil keterangan tentang terjadinya tindak pidana pelanggaran tentang keamanan umum bagi orang dan barang dan keselamatan umum sebagaimana dimaksud dalam 489 KUHP.

Terkait pemanggilan itu, kedua aktivis itu agaknya akan melakukan perlawanan dan penolakan.

“Kita tidak akan pernah takut dan mundur selama memperjuangkan aspirasi rakyat kecil,” tegas Hilmi saat dihubungi Aktual.co di Medan, Minggu (23/11).

Artikel ini ditulis oleh:

Pemkot Jakut Anggap Bansos Pemicu Kemiskinan

Jakarta, Aktual.co —Pemerintah Kota Jakarta Utara menganggap bantuan sosial kerap memicu kemiskinan karena menjadi alasan bagi sejumlah warga untuk enggan berusaha dan bangkit dari masalah.

“Kalau di Jakarta terlalu banyak orang yang membantu. Faktor itu yang membuat orang agak malas untuk berusaha sendiri,” kata Pelaksana tugas Wali kota Jakarta Utara Tri Kurniadi di Jakarta, Senin (24/11).

Tri menyebutkan, banyaknya pihak swasta yang terlibat dalam program penanganan bencana atau musibah tanpa disadari membuat warga menjadi ketergantungan.

“Akibat banyaknya bantuan yang mengalir di Jakarta, lambat laun membuat masyarakat terlena dan enggan berusaha untuk bangkit,” kata Tri.

Menurutnya bantuan yang baik bukan lah berupa materi, melainkan dengan memberikan modal pelatihan atau kemampuan agar mampu berusaha mandiri.

“Seharusnya bantuannya kita berikan pelatihan. Kita beri mereka kail dan umpan, bukan langsung diberi ikannya,” kata Tri menegaskan.

Sebelumnya, Tri berpendapat diperlukan sebuah kegiatan yang mampu merubah pola pikir masyarakat seperti itu, salah satunya ialah pemberdayaan masyarakat melalui PKK.

Tri berpendapat bahwa bantuan yang baik bukanlah berupa materi, melainkan dengan memberikan modal pelatihan atau kemampuan agar mampu berusaha mandiri.

“Dengan itu mereka punya upaya untuk bekerja di Jakarta. Kalau masalah permodalan pun bisa mengajukan ke kelurahan,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Pemprov Sediakan Parkiran di 11 Gedung Sepanjang Protokol, Tak Gratis

Jakarta, Aktual.co —Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai kesepakatan dengan 11 gedung-gedung perkantoran yang ada di sekitar Jalan MH Thamrin dan Jalan Medan Merdeka Barat untuk menyediakan lahan parkir mereka bagi sepeda motor.
Yakni terkait uji coba pelarangan sepeda motor melintasi jalan protokol yang diberlakukan Dinas Perhubungan DKI di 17 Desember mendatang 
Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Benjamin Bukit  mengatakan 11 gedung yang bersedia digunakan lahan parkirnya adalah Gedung Jaya, Gedung Bank Dagang Negara (BDN), Jakarta Theatre, Sarinah, Gedung BII, Gedung Oil, Plaza Permata, Gedung Kosgoro, Hotel Nikko/Wisma Nusantara, Grand Indonesia, dan The City Tower.
“Silakan gunakan fasilitas parkir di 11 tempat itu dan gunakan bus tingkat gratis untuk melintasi Jalan Thamrin dan Jalan Medan Merdeka Barat,” ujarnya di Balai Kota, Senin (24/11).
Kesebelas tempat itu, ujarnya, bisa menampung 9.318 mobil dan 5.128 unit sepeda motor.
Selain 11 tempat itu, pihaknya juga akan menggunakan lapangan IRTI di Monas dan lahan parkir di pusat perbelanjaan Carrefour Harmoni untuk menampung sepeda motor.
Namun, penggunaan lahan parkir itu ternyata tak gratis. Diakui Benjamin, tarif parkir nantinya masih diberlakukan sesuai dengan tarif parkir yang berlaku setempat.

Artikel ini ditulis oleh:

Pemprov DKI Jakarta Naikan TarifbAngkutan Umum Rp 1000

Penumpang berada disebuah angkutan kota yang terdapat pengumuman kenaikan tarif di terminal Kampung Melayu Jakarta Timur, Senin (24/11/2014). Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan Dki Jakarta telah menetapkan tarif angkutan umum sebesar Rp 1000, karena harga BBM naik. AKTUAL/MUNZIR

Polres Mataram Gagalkan Upaya Perdagangan Manusia

Jakarta, Aktual.co — Polres Mataram, Nusa Tenggara Barat, berhasil menggagalkan upaya pengiriman empat perempuan asal Nusa Tenggara Timur yang diduga menjadi korban perdagangan manusia ke luar negeri, pada Minggu (23/11)pukul 11.00 WITA.
Kepala Kesatuan Reserse Kriminal Polres Mataram AKP Agus Dwi Ananta mengatakan, lokasi diamankannya empat korban tersebut di lingkungan Kampung Banjar, Kecamatan Ampenan.
“Modus pelaku adalah akan mengirim empat korban sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia dan Singapura,” kata dia di Mapolres Mataram, Senin (24/11).
Dia mengatakan, saat menindaklanjuti informasi warga, polisi menemukan empat perempuan asal NTT yang mengaku hampir sepekan di Lombok dan dijanjikan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di luar negeri.
Menurut Agus, empat korban asal NTT yang diamankan pihak kepolisian yakni AT (21), YH (24), IP (27), dan YD (32). “Keempatnya masih diamankan pihak kepolisian untuk dimintai keterangan lebih lanjut, rencananya korban akan dipulangkan jika permasalahan ini sudah selesai,” katanya.
Selain empat korban, pihak kepolisian juga berhasil membekuk pelaku yang diduga sebagai pengirim. “Kami mengamankan tiga orang yang diduga sebagai sindikatnya, satu di antaranya diduga sebagai otaknya,” kata Agus.
Satu pelaku yang diduga sebagai otaknya yakni FA (47), warga Kebon Lelang, Kecamatan Ampenan, yang diamankan bersama empat korban, sepulangnya dari Bandara Internasional Lombok (BIL).
Saat cokok, FA mengaku berniat memulangkan korban ke kampung halamannya menggunakan alat transportasi udara. Hal itu dilakukan karena dokumen keempat korban itu tidak dapat diproses oleh pihak Imigrasi Mataram dengan alasan berkasnya kurang.
“Dua pelaku lainnya yakni JA (65) dan ST (63). Keduanya bertindak sebagai pemilik rumah yang menjadi lokasi penampungan korban.”
Menurut keterangan yang diperoleh, kata Agus, empat korban datang ke Lombok menggunakan jalur udara pada Rabu (19/11). Keempatnya dijemput FA di BIL dan awalnya diinapkan di Lombok Timur, tepatnya di rumah JA selama dua hari. Selang dua hari kemudian korban diungsikan ke wilayah Lombok Utara, di rumah mertua FA.
Kemudian, sejak Sabtu (22/11), empat korban dipindahkan ke lingkungan Kampung Banjar, Kecamatan Ampenan, tepatnya rumah ST yang mengaku masih berkeluarga dengan FA. 
“Sejak itulah warga mulai mencurigai empat korban disaat mereka mencoba bertanya dan mencari tempat ibadah kepada penduduk sekitar tempat penampungannya,” kata Agus.
Lebih lanjut Agus mengatakan bahwa pihaknya akan mengembangkan keterangan dari para pelaku yang diduga sebagai sindikat “human trafficking” internasional. “Berdasarkan instruksi dari pimpinan, kasus ini telah menjadi atensi pihak kepolisian,” katanya.
Hal itu disampaikan Agus terkait maraknya kasus “human trafficking” di Indonesia, khususnya NTT, dan telah mendapat perhatian Pemerintah Indonesia untuk diungkap dan menangkap para pelaku dan jaringannya. 

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain