6 April 2026
Beranda blog Halaman 42216

Surabaya Membara, Jerit Tangis Perempuan dan Bocah Bersahutan Minggu Malam

Jakarta, Aktual.co —Suara desing peluru dan bom terdengar menggelegar di sepanjang jalan pahlawan Surabaya. Sayup-sayup dari kejahuan,  terdengar suara teriakan minta tolong. Lambat laun suara itu terdengar dekat dan keras.

Jerit tangis perempuan dan bocah terdengar bersahutan. Tak jelas siapa yang menangis. Kondisi jalan Pahlawan Surabaya sudah penuh asap. Tong-tong sampah bertumpukan jerami di sepanjang jalan, terbakar habis. Listrik pun padam.

“Surabaya Membara.” Itulah tema dari drama kolosal yang melibatkan  1.200 prajurit TNI dan seniman Surabaya dalam rangka puncak peringatan Hari Pahlawan.”

“Jadi drama kolosal ini kita buat sedemikian rupa persis dengan gambaran saat perang di jalan pahlawan ini. Intinya, ini sebuah karya penghargaan untuk menghormati jasa-jasa pejuang. Agar masyarakat tahu betapa pedihnya perang itu.” Kata produser Surabaya Membara, Taufik Monyong, minggu malam (9/11).

Drama kolosal yang bertemakan Surabaya membara ini menceritakan peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Orange serta menceritakan tewasnya jendral besar sekutu Brigjen Malabi yang akhirnya tercetus perang 10 November.

Ketika drama diawali dengan orang-orang bersepeda, tepuk tangan meriah pun terdengar riuh.

Meski drama kolosal dilakukan di sepanjang jalan Pahlawan, namun warga yang hadir mencapai ribuan. Akibatnya, mereka berdesak-desakkan. Tidak sedikit yang tidak bisa menonton sehingga memilih duduk di pinggiran jalan.

Bahkan jembatan layang rel kereta api pun dimanfaatkan warga sebagai tempat menonton, dengan risiko berbahaya jika ada kereta lewat.

Diketahui, bahwa drama kolosal sengaja ditempatkan di jalan Pahlawan, lokasi tersebut terjadi pusat peperangan antara pribumi melawan sekutu pasca tewasnya jendral besar sekutu, Brigjen Mallaby.(Ahmad H. Budiawan)

Artikel ini ditulis oleh:

Bawa Kabur 30 Sepeda Motor, Polisi Gadungan Dibekuk Polisi

Bandung, Aktual.co — Petualangan Muhamad Sansan Taufik (27) sebagai polisi gadungan hari Selasa ini berakhir di balik jeruji besi Mapolsekta Coblong, Kota Bandung.

Dengan mengaku sebagai petugas kepolisian, Sansan berhasil membawa kabur 30 sepeda motor selama lima bulan terakhir ini.

“Kita tangkap ditempat persembunyiannya, tersangka itu DPO kita karena membawa kabur 30 sepeda motor,” kata Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Mashudi di Bandung, Selasa (11/11).

Sansan memperdaya korbannya, dengan mengenakan seragam polisi. Bila calon korban itu perempuan, akan didekati dulu dan dipacari. Sehingga, dia bisa membawa kabur sepeda motornya beserta semua surat-surat, saat korban lengah.

“Kalau laki-laki berlagak kayak ada masalah seperti dpo dan sebagainya. Kemudian membawa sepeda motor sebagai jaminan,” ucapnya.

Tidak hanya seragam, pria penganggur ini membawa senjata api replika pula guna meyakinkan korbannya bahwa dia merupakan polisi.

“Kadang pistolnya ditenteng keluar biar nakutin korban. Wajar korban tertekan, panik dan menyerahkan motornya. Orang awam pasti sulit membedakan pistol asli apa palsu,” bebernya.

Dari hasil pemeriksaan kepada tersangka, Mashudi menegaskan seragam polisi lengkap tersebut membeli di salah satu sentra pakaian di Kota Bandung.

“Beli seharga Rp 500 ribu. Kalau senjata api replika dia sudah punya sendiri,” pungkasnya.

Atas perbuatannya, Sansan terancam dijerat Pasal 378 dan 372 KUHPidana tentang penipuan dan penggelapan. Ancaman hukuman diatas lima tahun penjara. (Kiki)

Artikel ini ditulis oleh:

Seabad Gong Kebyar Kawal Budaya Bali Mendunia (Bag. 2)

Jakarta, Aktual.co — Bagi Bali tiada hari tanpa alunan suara gamelan dan gerak lincah orang menari. Alunan musik tradisional itu ibarat denyut nadi Pulau Dewata.
Geliat tari ibarat ritme kehidupan. Puspa ragam ekspresi seni tari tersaji dalam ritual keagamaan, aktivitas budaya, adat dan peristiwa sosial lainnya maupun yang digelar secara khusus sebagai tontonan wisatawan.
Menari bukan hanya dilakoni oleh gadis-gadis cantik dan perjaka-perjaka tampan. Dalam ritual agama Hindu yang dianut masyarakat Bali, orang-orang tua hingga anak-anak pun tampil menari.
Seratus tahun terakhir ini, kehadiran gong kebyar dengan segala perubahannya seakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan berkesenian, ritual keagamaan, dan dinamika masyarakatnya.
Untuk memberi arti pada seabad gong kebyar memfokuskan pada dua hal, yakni pengaruh gong kebyar pada seni pertunjukan Bali, dan gong kebyar dalam konteks ekspresi budaya masyarakat Pulau Dewata.
Kedua hal itu, menurut Kadek Suartaya, yang juga kandidat doktor program pascasarjana Kajian Budaya Universitas Udayana dianalisis melalui pendekatan kajian teks dan konteks, sebab gong kebyar sebagai sebuah teks tentu memiliki keterkaitan dengan konteks sosial-kultural-religius kehidupan manusia, dalam hal ini manusia Bali.
Saling Mempengaruhi Suartaya yang sering memperkuat tim kesenian Bali mengadakan lawatan ke mancanegara itu menjelaskan, gong kebyar yang lahir di Bali utara dengan cepat menyebar ke penjuru Bali.
Perkembangan pesat gong kebyar bukan hanya secara fisik namun juga secara konsep estetik, terutama secara fungsional. Secara fisik, gong kebyar telah dikenal luas di Bali pascakemerdekaan RI, baik gong kebyar buatan baru atau gong kebyar yang didaur dari gamelan-gamelan yang telah ada sebelumnya.
Pada awalnya, bentuk fisik gong kebyar milik sebuah desa atau banjar, umumnya dengan tungguh instrumen yang masih bersahaja sering disebut lelengisan atau tanpa ukiran dan warna prada.
Hingga dimulainya lomba gong kebyar atau utsawa merdangga pada tahun 1968, utusan masing-masing kabupaten dan kota di Bali masih tampil dengan fisik gamelan yang sederhana.
Kendati dalam bentuk fisik yang sederhana, biasanya gong kebyar yang dibeli dengan susah payah itu oleh warga desa atau banjar pemiliknya, dipelihara dengan telaten. Tidak sembarang warga, terutama anak-anak, dibolehkan memainkan gamelan.
Sebab untuk dapat mengikuti trend gong kebyar yang merebak di Bali itu memerlukan biaya dan pengorbanan yang berat pada situasi krisis ekonomi yang sedang terpuruk.
Selain biaya uang, masyarakat yang ingin memiliki gong kebyar juga berkorban perasaan yang harus melebur gamelan yang telah dimiliki seperti semarapagulingan atau palegongan misalnya agar dapat berkebyaria.
Namun begitu kuatnya pesona gong kebyar memaksa masyarakat desa atau banjar mengikhlaskan gamelan warisan leleluhurnya diubah menjadi gong kebyar.
Ansambel gong kebyar sangat berpengaruh kepada gamelan lainnya. Pengaruh fisikal dari perkembangan kebyar itu dibarengi pula dengan pengaruh estetik musikal. Estetika ngebyar menjalar pada ekspresi musikal sejumlah gamelan Bali yang lainnya.
Ngebyar, kata dia, secara teknis musikal dalam seni tabuh didefinisikan sebagai sesuatu ungkapan secara serentak, keras, cepat, ramai, riuh, lincah, aksentuatif, sarat kejutan, dan seterusnya.
Dari sudut etimologis, kebyar sebagai sebuah istilah dalam bahasa Bali dapat dipandang secara audio dan visual. Secara audio kebyar adalah bunyi yang keras serentak dan secara visual kebyar adalah sinar sesaat yang terang benderang.
Karakteristik musikal ngebyar, secara sadar dan tak sadar, mewarnai estetika sebagian seni karawitan Bali seperti tampak dalam gender wayang, angklung, joged bumbung, dan balaganjur.

Artikel ini ditulis oleh:

Masuki Musim Penghujan, Harga Cabai di Yogyakarta Melonjak

Yogyakarta, Aktual.co — Setelah sempat melonjak akibat isu kenaikan harga BBM, memasuki harga cabai di pasar tradisional kota Yogyakarta, musim penghujan ini kembali naik signifikan. Bahkan harga jenis cabai tertentu saat ini mencapai Rp55 ribu per kilogram.

Dari pantauan di pasar tradisional Beringharjo Yogyakarta, Senin (10/11/2014) kenaikan harga paling signifikan terlihat pada jenis cabai kriting merah. Menurut salah seorang pedagang, Desi, harga cabai kriting merah naik dari Rp40-45 ribu menjadi Rp50-55ribu per kilogram.

Juga untuk cabai rawit merah naik dari Rp35 menjadi Rp40 ribu per kilogram. Sementara harga cabai jenis teropong berkisar Rp42 ribu per kilogram.

Sebaliknya harga cabai jenis rawit putih justru menurun dari Rp35 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram.

Selain dipengaruhi isu rencana kenaikan BBM, menurut pedagang, kenaikan sejumlah harga cabai juga dipengaruhi oleh pergantian musim dari kemarau ke musim penghujan yang terjadi saat ini. Sehingga, membuat cabai semakin sulit ditemukan.

“Memang kalau memasuki musim penghujan biasanya akan naik. Karena barang menjadi mudah busuk. Sehingga otomatis harga juga menjadi naik,” katanya. (Haadi)

Artikel ini ditulis oleh:

Seabad Gong Kebyar Kawal Budaya Bali Mendunia (Bag. 1)

Jakarta, Aktual.co — Bagi Bali tiada hari tanpa alunan suara gamelan dan gerak lincah orang menari. Alunan musik tradisional itu ibarat denyut nadi Pulau Dewata.
Geliat tari ibarat ritme kehidupan. Puspa ragam ekspresi seni tari tersaji dalam ritual keagamaan, aktivitas budaya, adat dan peristiwa sosial lainnya maupun yang digelar secara khusus sebagai tontonan wisatawan.
Menari bukan hanya dilakoni oleh gadis-gadis cantik dan perjaka-perjaka tampan. Dalam ritual agama Hindu yang dianut masyarakat Bali, orang-orang tua hingga anak-anak pun tampil menari.
Karena menari adalah kesukacitaan yang mengasyikkan sebagai sebuah persembahan sekaligus ekspresi estetik.
Pemerhati seniI Kadek Suartaya, SSKar, MSi, mengemukakan bahwa gong kebyar salah satu instrumen gamelan Bali yang telah seratus tahun mengawal budaya Bali dan kini keberadaannya telah mendunia.
Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang lahir di daerah “gudang seni” Bali, yakni Kabupaten Gianyar, 53 tahun silam ini menjelaskan gamelan gong kebyar yang muncul tahun 1914 atau 1915, telah menapak Benua Eropa pada tahun 1931.
Dalam ruang jelajah berikutnya, kata ahli gamelan Bali dan kerawitan ini, gong kebyar menyebar ke Benua Amerika, Asia, dan Australia. Di tanah kelahirannya Pulau Dewata, gong kebyar selain dimiliki oleh setiap desa atau banjar, juga oleh sanggar-sanggar seni pribadi, kantor pemerintah hingga sekolah-sekolah.
Gamelan berusia seabad ini juga dapat dijumpai di penjuru Nusantara, seperti di kota-kota besar Jakarta, Surabaya, dan Bandung hingga di lingkungan komunitas etnik Bali, seperti di Lampung, Palu, dan tanah Papua.
Gong kebyar pada awalnya berkembang di Bali utara. Kebaruan dan kecemerlangan yang diekspresikan gamelan yang dikembangan dari gamelan kuna gong gede, dengan cepat merebak ke seluruh Bali.
Setidaknya pada tahun 1930-an, uforia gamelan itu telah bergemuruh dalam pentas gong kebyar antarkerajaan se-Bali. Karakteristik musikal gong kebyar itu turut pula mempengaruhi prinsip-prinsip keindahan ansambel gamelan Bali yang lainnya, baik barungan gamelan yang lebih tua usianya, seperti gender wayang hingga gamelan yang lebih muda seperti gamelan joged bumbung.
Begitu kuatnya arus gong kebyar yang menggelinding dari Buleleng, sempat melibas keberadaan gamelan khas Bali selatan. Sekitar tahun 1950-1960 tidak sedikit gamelan semarapagulingan, palegongan, panyalonarangan misalnya, dilebur menjadi gamelan gong kebyar.
Paling Populer Michael Tanzer, peneliti dari Amerika Serikat dalam bukunya, “Gamelan Gong Kebyar: The Art of Twentieth-Century Balinese Music” (2000) menyebut gong kebyar sebagi genre gamelan paling populer dan berpengaruh dari seluruh musik pada abad ke-20 yang berkembang di Pulau Bali.
Dalam bab pendahuluannya Tanzer menegaskan, gong kebyar memiliki sikap mandiri yang tegas dan penuh sadar diri, terbebas dari berbagai katagori dan fungsi musik sebelumnya, suatu sikap yang secara jelas terdengar dalam gerakan dan ritme musik, bahkan pada perkenalan pertama.
Rupanya sejak awal kelahiran gong kebyar memang diciptakan sebagai musik instrumentalia dan wadah bagi para komponisnya untuk mengekspresikan diri, kebebasan mencipta lagu baru, membuat aransemen yang rumit sebagai pertanda kreasi baru.
Gong kebyar memiliki keunikan, baik dari segi musikalnya maupun dalam konteks sosial budayanya. Kehadiran dan perjalanan gong kebyar di tengah masyarakat Bali beriringan dengan dinamika kebudayaan Bali, sejak prakemerdekaan hingga sekarang. Sebagai sebuah nilai budaya atau simbol masyarakat.
Gong kebyar turut serta mengawal budaya Bali dalam segala perubahan sosio-kulturalnya. Karakteristik budaya Bali dengan sinergi agama-estetika-solidaritasnya, menyertakan gamelan gong kebyar dalam berbagai ekspresi dan aktivitas masyarakat.
Demikian pula sebaliknya, sebagai ekspresi budaya, gong kebyar hadir sebagai representasi yang signifikan pada peristiwa dan prilaku budaya masyarakat Bali.
Sebab, musik pada dasarnya adalah suatu lambang dari hal-hal yang berkaitan dengan ide-ide maupun perilaku suatu masyarakat.

Artikel ini ditulis oleh:

Tunggu Rekomendasi Ahok, Kemendagri Pikirkan Cara Pembubaran FPI

Semarang, Aktual.co — Mendagri Tjahjo Kumolo menyatakan belum menerima surat rekomendasi dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama soal pembubaran organisasi massa Front Pembela Islam (FPI).

“Ya sudah kita tunggu saja dulu. Katanya sudah masuk Kemendagri tapi sampai kemarin malam, saya cek belum ada,” kata Mendagri di Semarang, Selasa (11/14).

Plt Gubernur DKI Jakarta sepengetahuan Mendagri memang mengirimkan perihal surat rekomendasi tersebut kepada Kemendagri. “Dia mengajukan dulu ke Menteri Hukum dan HAM. Kita tunggu saja dulu, saya belum baca,” ujar Tjahjo.

Mendagri menuturkan Kemendagri masih memikirkan cara yang tepat untuk membubarkan organisasi massa yang kontroversial tersebut. Setiba surat dari Plt Gubernur DKI Jakarta tadi di meja kerjanya, Mendagri memastikan bakal meminta staf ahli di Kemendagri untuk menelaah celah hukum yang bisa menjadi landasan pembubaran FPI.

“Setiap usulan dari daerah, tetap kami pelajari dan kami telaah,” tegas Tjahjo.

Plt Gubernur DKI Jakarta yang akrab disapa Ahok pernah mengirimkan surat rekomendasi Kemenkumham dan Kemendagri soal pembubaran FPI. Sebaliknya FPI menolak Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta, karena menilai agama yang dianutnya tidak sesuai dengan aspirasi mereka. (Uki)

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain