Sejumlah pencari kerja antre untuk mendapatkan formulir saat digelar bursa kerja di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Jumat (30/8). Bursa kerja tersebut digelar untuk memberikan kesempatan pemuda pemudi yang baru lulus sekolah maupun kuliah untuk mendapatkan pekerjaan serta bertujuan untuk mengurangi pengangguran di Indonesia. Aktual/Tino Oktaviano
Sejumlah pencari kerja antre untuk mendapatkan formulir saat digelar bursa kerja di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Jumat (30/8). Bursa kerja tersebut digelar untuk memberikan kesempatan pemuda pemudi yang baru lulus sekolah maupun kuliah untuk mendapatkan pekerjaan serta bertujuan untuk mengurangi pengangguran di Indonesia. Aktual/Tino Oktaviano
Sejumlah pencari kerja antre untuk mendapatkan formulir saat digelar bursa kerja di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Jumat (30/8). Bursa kerja tersebut digelar untuk memberikan kesempatan pemuda pemudi yang baru lulus sekolah maupun kuliah untuk mendapatkan pekerjaan serta bertujuan untuk mengurangi pengangguran di Indonesia. Aktual/Tino Oktaviano
Sejumlah pencari kerja antre untuk mendapatkan formulir saat digelar bursa kerja di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Jumat (30/8). Bursa kerja tersebut digelar untuk memberikan kesempatan pemuda pemudi yang baru lulus sekolah maupun kuliah untuk mendapatkan pekerjaan serta bertujuan untuk mengurangi pengangguran di Indonesia. Aktual/Tino Oktaviano
Sejumlah pencari kerja antre untuk mendapatkan formulir saat digelar bursa kerja di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Jumat (30/8). Bursa kerja tersebut digelar untuk memberikan kesempatan pemuda pemudi yang baru lulus sekolah maupun kuliah untuk mendapatkan pekerjaan serta bertujuan untuk mengurangi pengangguran di Indonesia. Aktual/Tino Oktaviano
Jakarta, Aktual.co — Film “Tanah Surga Katanya” mengisahkan kehidupan di perbatasan, tepatnya di sebuah kampung di Kalimantan. Film ini mencoba menelisik kehidupan nyata antara rasa cinta tanah air dan kenyataan sulitnya mencari penghidupan di negara sendiri.
Lemat tokoh Hasyim, seorang kakek mantan pejuang saat berperang melawan Malaysia tahun 1965, ia tetap kukuh untuk tinggal di Indonesia walau anaknya (Haris) yang sukses ingin mengajak tinggal di Malaysia.
Sikap kukuh Hasyim, jelas mengharukan karena ia tetap percaya pada Indonesia di tengah beratnya kehidupan sosial ekonomi.
Di bagian lain film, sutradara menyodorkan kisah bagaimana di kampung itu, ada anak sekolah dasar yang tak bisa menggambar merah putih dan menganggap lagu kolam susu Koes Plus lagu kebangsaan.
Satu pesan penting yang ingin disampaikan sutradara, Indonesia yang kaya raya sesungguhnya masih banyak warga terlunta terutama di perbatasan. Di tengah himpitan hidup dan kesempatan terbuka di negeri seberang, sebagian rela meninggalkan Indonesia.
Fim besutan sutradara Herwin Novianto ini layak dijadikan referensi hiburan di akhir pekan. Selamat menonton.
Pemain film Tanah Surga Katanya… :
Osa Aji Santoso berperan sebagai Salman (Anak laki-laki dari Haris, Putra Hasyim) Fuad Idris berperan sebagai Hasyim (Kakek Salman, Ayah dari Haris) Ence Bagus berperan sebagai Haris (Ayah dari Salman) Astri Nurdin berperan sebagai Astuti (Guru didaerah tersebut) Tissa Biani Azzahra berperan sebagai Salina (Adik Salman, Puteri Haris) Norman Akyuwen berperan sebagai Gani (Kepala Dusun) dan Agus Ringgo
Mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli (kiri), Anggota DPD RI Poppy Darsono (tengah) dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Anton J Supit (kanan) saat diskusi DPD RI dengan tema "Perekonomian Daerah dan Melemahnya Nilai Rupiah" di gedung DPD RI, Jakarta, Jumat (30/8). Rizal Ramli mengingatkan agar pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak meremehkan melemahnya rupiah yang terus merosot sekarang ini. Sebab, kalau dibiarkan dan hanya sibuk pencitraan politik menjelang pemilu 2014, maka krisis rupiah tersebut bisa menjadi krisis politiik, yang justru bisa mempercepat digelarnya pemilu. Aktual/Tino Oktaviano
Mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli (kiri), Anggota DPD RI Poppy Darsono (tengah) dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Anton J Supit (kanan) saat diskusi DPD RI dengan tema "Perekonomian Daerah dan Melemahnya Nilai Rupiah" di gedung DPD RI, Jakarta, Jumat (30/8). Rizal Ramli mengingatkan agar pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak meremehkan melemahnya rupiah yang terus merosot sekarang ini. Sebab, kalau dibiarkan dan hanya sibuk pencitraan politik menjelang pemilu 2014, maka krisis rupiah tersebut bisa menjadi krisis politiik, yang justru bisa mempercepat digelarnya pemilu. Aktual/Tino Oktaviano
Mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli (kiri), Anggota DPD RI Poppy Darsono (tengah) dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Anton J Supit (kanan) saat diskusi DPD RI dengan tema "Perekonomian Daerah dan Melemahnya Nilai Rupiah" di gedung DPD RI, Jakarta, Jumat (30/8). Rizal Ramli mengingatkan agar pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak meremehkan melemahnya rupiah yang terus merosot sekarang ini. Sebab, kalau dibiarkan dan hanya sibuk pencitraan politik menjelang pemilu 2014, maka krisis rupiah tersebut bisa menjadi krisis politiik, yang justru bisa mempercepat digelarnya pemilu. Aktual/Tino Oktaviano
Mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli (kiri), Anggota DPD RI Poppy Darsono (tengah) dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Anton J Supit (kanan) saat diskusi DPD RI dengan tema "Perekonomian Daerah dan Melemahnya Nilai Rupiah" di gedung DPD RI, Jakarta, Jumat (30/8). Rizal Ramli mengingatkan agar pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak meremehkan melemahnya rupiah yang terus merosot sekarang ini. Sebab, kalau dibiarkan dan hanya sibuk pencitraan politik menjelang pemilu 2014, maka krisis rupiah tersebut bisa menjadi krisis politiik, yang justru bisa mempercepat digelarnya pemilu. Aktual/Tino Oktaviano
Mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli (kiri), Anggota DPD RI Poppy Darsono (tengah) dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Anton J Supit (kanan) saat diskusi DPD RI dengan tema “Perekonomian Daerah dan Melemahnya Nilai Rupiah” di gedung DPD RI, Jakarta, Jumat (30/8). Rizal Ramli mengingatkan agar pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak meremehkan melemahnya rupiah yang terus merosot sekarang ini. Sebab, kalau dibiarkan dan hanya sibuk pencitraan politik menjelang pemilu 2014, maka krisis rupiah tersebut bisa menjadi krisis politiik, yang justru bisa mempercepat digelarnya pemilu. Aktual/Tino Oktaviano
Ketua MPR Sidarto Danusubroto (tengah), Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (kiri) dan Ketua Panitia 17 Jimly Asshiddiqie (kanan), anggota Panitia 17 Eddie Marzuki Nalapraya (kanan), Mooryati Soedibyo (kiri) dan A.M. Fatwa (kedua kiri) usai menggelar pertemuan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (30/8). Panitia 17 mengusulkan pemberian nama jalan menggunakan nama Soekarno, Mohamad Hatta, Soeharto dan Ali Sadikin disematkan pada Jalan Medan Merdeka di sekeliling Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Aktual/Tino Oktaviano
Ketua MPR Sidarto Danusubroto (tengah), Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (kiri) dan Ketua Panitia 17 Jimly Asshiddiqie (kanan), anggota Panitia 17 Eddie Marzuki Nalapraya (kanan), Mooryati Soedibyo (kiri) dan A.M. Fatwa (kedua kiri) usai menggelar pertemuan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (30/8). Panitia 17 mengusulkan pemberian nama jalan menggunakan nama Soekarno, Mohamad Hatta, Soeharto dan Ali Sadikin disematkan pada Jalan Medan Merdeka di sekeliling Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Aktual/Tino Oktaviano
Ketua MPR Sidarto Danusubroto (tengah), Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (kiri) dan Ketua Panitia 17 Jimly Asshiddiqie (kanan), anggota Panitia 17 Eddie Marzuki Nalapraya (kanan), Mooryati Soedibyo (kiri) dan A.M. Fatwa (kedua kiri) usai menggelar pertemuan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (30/8). Panitia 17 mengusulkan pemberian nama jalan menggunakan nama Soekarno, Mohamad Hatta, Soeharto dan Ali Sadikin disematkan pada Jalan Medan Merdeka di sekeliling Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Aktual/Tino Oktaviano
Ketua MPR Sidarto Danusubroto (tengah), Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (kiri) dan Ketua Panitia 17 Jimly Asshiddiqie (kanan), anggota Panitia 17 Eddie Marzuki Nalapraya (kanan), Mooryati Soedibyo (kiri) dan A.M. Fatwa (kedua kiri) usai menggelar pertemuan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (30/8). Panitia 17 mengusulkan pemberian nama jalan menggunakan nama Soekarno, Mohamad Hatta, Soeharto dan Ali Sadikin disematkan pada Jalan Medan Merdeka di sekeliling Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Aktual/Tino Oktaviano
Ketua MPR Sidarto Danusubroto (tengah), Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (kiri) dan Ketua Panitia 17 Jimly Asshiddiqie (kanan), anggota Panitia 17 Eddie Marzuki Nalapraya (kanan), Mooryati Soedibyo (kiri) dan A.M. Fatwa (kedua kiri) usai menggelar pertemuan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (30/8). Panitia 17 mengusulkan pemberian nama jalan menggunakan nama Soekarno, Mohamad Hatta, Soeharto dan Ali Sadikin disematkan pada Jalan Medan Merdeka di sekeliling Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Aktual/Tino Oktaviano
Istri Ahmad Fathanah Sefti Sanustika masuk gedung Komisi Pemberantasan Korupsi KPK), Jakarta, Jumat (30/8), saat akan menjenguk suaminya Ahmad Fathanah. Kali ini penyanyi dangdut itu tidak membawa ayam goreng kesukaan tersangka kasus suap impor daging sapi, tetapi cinta. Aktual/Tino Oktaviano
Istri Ahmad Fathanah Sefti Sanustika masuk gedung Komisi Pemberantasan Korupsi KPK), Jakarta, Jumat (30/8), saat akan menjenguk suaminya Ahmad Fathanah. Kali ini penyanyi dangdut itu tidak membawa ayam goreng kesukaan tersangka kasus suap impor daging sapi, tetapi cinta. Aktual/Tino Oktaviano
Istri Ahmad Fathanah Sefti Sanustika masuk gedung Komisi Pemberantasan Korupsi KPK), Jakarta, Jumat (30/8), saat akan menjenguk suaminya Ahmad Fathanah. Kali ini penyanyi dangdut itu tidak membawa ayam goreng kesukaan tersangka kasus suap impor daging sapi, tetapi cinta. Aktual/Tino Oktaviano
Istri Ahmad Fathanah Sefti Sanustika masuk gedung Komisi Pemberantasan Korupsi KPK), Jakarta, Jumat (30/8), saat akan menjenguk suaminya Ahmad Fathanah. Kali ini penyanyi dangdut itu tidak membawa ayam goreng kesukaan tersangka kasus suap impor daging sapi, tetapi cinta. Aktual/Tino Oktaviano
Istri Ahmad Fathanah Sefti Sanustika masuk gedung Komisi Pemberantasan Korupsi KPK), Jakarta, Jumat (30/8), saat akan menjenguk suaminya Ahmad Fathanah. Kali ini penyanyi dangdut itu tidak membawa ayam goreng kesukaan tersangka kasus suap impor daging sapi, tetapi cinta. Aktual/Tino Oktaviano
Seorang pengunjung melihat foto-foto yang yang dipamerkan hasil liputan dari berbagai kegiatan yang dilakukan anggota DPR baik di dalam maupun di luar gedung parlemen di gedung DPR, Senayan Jakarta, Jumat (30/8). Dalam rangkaian kegiatan HUT DPR RI ke-68, pameran foto jurnalistik yang bertajuk, "Warna Warni Parlemen ke - 3 dipamerkan dari tanggal 29 Agustus hingga 5 September 2013. Aktual/Tino Oktaviano
Seorang pengunjung melihat foto-foto yang yang dipamerkan hasil liputan dari berbagai kegiatan yang dilakukan anggota DPR baik di dalam maupun di luar gedung parlemen di gedung DPR, Senayan Jakarta, Jumat (30/8). Dalam rangkaian kegiatan HUT DPR RI ke-68, pameran foto jurnalistik yang bertajuk, "Warna Warni Parlemen ke - 3 dipamerkan dari tanggal 29 Agustus hingga 5 September 2013. Aktual/Tino Oktaviano
Seorang pengunjung melihat foto-foto yang yang dipamerkan hasil liputan dari berbagai kegiatan yang dilakukan anggota DPR baik di dalam maupun di luar gedung parlemen di gedung DPR, Senayan Jakarta, Jumat (30/8). Dalam rangkaian kegiatan HUT DPR RI ke-68, pameran foto jurnalistik yang bertajuk, "Warna Warni Parlemen ke - 3 dipamerkan dari tanggal 29 Agustus hingga 5 September 2013. Aktual/Tino Oktaviano
Seorang pengunjung melihat foto-foto yang yang dipamerkan hasil liputan dari berbagai kegiatan yang dilakukan anggota DPR baik di dalam maupun di luar gedung parlemen di gedung DPR, Senayan Jakarta, Jumat (30/8). Dalam rangkaian kegiatan HUT DPR RI ke-68, pameran foto jurnalistik yang bertajuk, "Warna Warni Parlemen ke - 3 dipamerkan dari tanggal 29 Agustus hingga 5 September 2013. Aktual/Tino Oktaviano
Seorang pengunjung melihat foto-foto yang yang dipamerkan hasil liputan dari berbagai kegiatan yang dilakukan anggota DPR baik di dalam maupun di luar gedung parlemen di gedung DPR, Senayan Jakarta, Jumat (30/8). Dalam rangkaian kegiatan HUT DPR RI ke-68, pameran foto jurnalistik yang bertajuk, "Warna Warni Parlemen ke - 3 dipamerkan dari tanggal 29 Agustus hingga 5 September 2013. Aktual/Tino Oktaviano
Seorang pengunjung melihat foto-foto yang yang dipamerkan hasil liputan dari berbagai kegiatan yang dilakukan anggota DPR baik di dalam maupun di luar gedung parlemen di gedung DPR, Senayan Jakarta, Jumat (30/8). Dalam rangkaian kegiatan HUT DPR RI ke-68, pameran foto jurnalistik yang bertajuk, "Warna Warni Parlemen ke - 3 dipamerkan dari tanggal 29 Agustus hingga 5 September 2013. Aktual/Tino Oktaviano
Seorang pengunjung melihat foto-foto yang yang dipamerkan hasil liputan dari berbagai kegiatan yang dilakukan anggota DPR baik di dalam maupun di luar gedung parlemen di gedung DPR, Senayan Jakarta, Jumat (30/8). Dalam rangkaian kegiatan HUT DPR RI ke-68, pameran foto jurnalistik yang bertajuk, “Warna Warni Parlemen ke – 3 dipamerkan dari tanggal 29 Agustus hingga 5 September 2013. Aktual/Tino Oktaviano