7 April 2026
Beranda blog Halaman 53

Mendagri: Wacana WFH Bukan Hal Baru, Pemda Diminta Pastikan Layanan Esensial Tetap Berjalan

Jakarta, aktual.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengatakan wacana kerja dari rumah (work from home/WFH) bukanlah sesuatu yang baru dan akan melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah terkait kesiapan layanan esensial yang tetap berjalan.

Ditemui usai usai konferensi pers di Jakarta, Rabu, Mendagri Tito menyebutkan bahwa pemerintah sudah berpengalaman menerapkan skema WFH yang dilakukan saat pandemi COVID-19 dan semuanya dapat berjalan dengan lancar.

“No problem. Ya, pemda juga ada banyak pengalaman. Cuma mungkin karena daerah ini ada kepala daerah baru, nanti saya akan kasih penjelasan kepada mereka. Hal-hal yang esensial seperti angkutan, kemudian yang melayani emergensi, rumah sakit, kebersihan harus tetap jalan,” kata Mendagri.

Dia menyebutkan bahwa wacana WFH sebelumnya sudah dirapatkan bersama kementerian/lembaga terkait untuk menyampaikan masukan terkait rencana tersebut. Namun, hasil dari rapat itu akan disampaikan lebih lanjut setelah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Mendagri menyebut bahwa salah satu skema yang diajukan adalah satu hari WFH dalam satu pekan.

“Tapi hari apa yang akan diambil biar nanti yang memutuskan, nantikan hasil rapat kemarin akan dilaporkan ke Presiden,” tuturnya.

Ditanya lebih lanjut soal pilihan hari untuk melakukan WFH, Mendagri kembali menekankan bahwa pengumuman lebih lengkap terkait hal itu akan dilakukan setelah hasil rapat dilaporkan kepada Presiden.

Sebelumnya, pemerintah merencanakan kebijakan WFH diterapkan usai Lebaran sebagai langkah untuk menghemat energi di tengah kenaikan harga minyak dunia.

Dalam pernyataan pada Sabtu (21/3), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kebijakan itu berlaku bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan diimbau pula untuk sektor swasta.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Stop Sementara Bantuan ke Palestina, Rakyat Indonesia Mengalami Penjajahan Modern yang Lebih Berat dari Zaman Kolonial

Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan (Aktual)
Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan (Aktual)

Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

Jakarta, aktual.com – Solidaritas terhadap Palestina adalah sikap kemanusiaan yang tidak perlu diperdebatkan. Bangsa Indonesia sejak awal berdiri telah menempatkan kemerdekaan sebagai hak segala bangsa, dan karena itu wajar jika rakyat Indonesia memiliki empati terhadap bangsa yang masih mengalami penjajahan. Namun di tengah semangat membantu konflik di luar negeri, muncul pertanyaan yang lebih mendasar yaitu apakah kita sudah benar-benar merdeka di negeri sendiri?

Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menolak solidaritas internasional, tetapi untuk mengingatkan bahwa perhatian terhadap dunia luar tidak boleh membuat kita lupa pada kondisi bangsa sendiri. Tidak sedikit tanda yang menunjukkan bahwa rakyat Indonesia justru masih menghadapi bentuk tekanan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa kolonial. Penjajahan tidak lagi datang dalam bentuk tentara dan senjata, tetapi melalui sistem, regulasi, ekonomi, dan cara berpikir yang dibentuk dari luar.

Budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun pernah mengingatkan dengan kalimat yang sangat keras:

“Jika kamu tidak paham Indonesia, maka kamu tidak paham dunia. Jika kamu tidak paham Indonesia, maka kamu tidak paham apa yang diperbuat dunia terhadap Indonesia. Kamu itu dibohongi. Kalau kamu tidak paham dibohongi, bagaimana mungkin kamu bisa membangun Indonesia. Dan saat ini kita mengalami penjajahan seratus kali lipat dibanding zaman penjajahan Belanda.”

Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika, melainkan kritik terhadap cara kita memahami kemerdekaan. Banyak orang menganggap penjajahan telah selesai pada tahun 1945, padahal dalam perkembangan sejarah modern, penjajahan justru berubah bentuk menjadi lebih halus dan lebih sulit disadari.

Jika pada masa kolonial penjajahan dilakukan melalui kekuatan militer dan penguasaan wilayah, maka pada era modern penguasaan dapat terjadi melalui nilai, sistem ekonomi, dan regulasi yang membentuk arah kehidupan suatu bangsa tanpa harus mengirimkan tentara.

Dalam banyak analisis geopolitik, pola penjajahan modern sering digambarkan dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah penjajahan militer dan teritorial. Tahap kedua adalah penjajahan nilai, budaya, dan ekonomi. Tahap ketiga adalah penjajahan regulasi, yaitu ketika suatu negara secara formal merdeka tetapi arah kebijakan, sistem hukum, dan struktur ekonominya sangat dipengaruhi oleh kekuatan di luar dirinya.

Jika melihat kondisi Indonesia hari ini, tanda-tanda penjajahan gaya baru sering kali terasa lebih nyata dibandingkan penjajahan lama. Rakyat menghadapi tekanan ekonomi yang berat, biaya hidup semakin tinggi, akses terhadap sumber daya semakin terbatas, dan kebijakan negara sering kali terasa jauh dari kepentingan masyarakat luas.

Ironisnya, semua itu terjadi di negeri yang dikenal sebagai salah satu wilayah paling kaya di dunia. Tanah subur, laut luas, sumber daya alam melimpah, dan jumlah penduduk besar seharusnya menjadi modal untuk kesejahteraan. Namun kenyataan menunjukkan bahwa kekayaan alam tidak otomatis menjadi kemakmuran rakyat.

Dalam situasi seperti ini, kritik terhadap sistem negara menjadi penting. Tujuan negara Republik Indonesia sebenarnya sudah dirumuskan dengan sangat jelas dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Jika tujuan tersebut dijadikan sebagai input, maka sistem konstitusi dan tata negara seharusnya menjadi processor yang menghasilkan output berupa kesejahteraan, perlindungan, dan keadilan bagi rakyat.

Namun realitas yang dirasakan banyak orang justru berbeda. Ketimpangan ekonomi masih tinggi, konflik sosial sering terjadi, pendidikan belum merata, dan kebijakan negara sering dianggap lebih berpihak pada kepentingan elite penguasa daripada rakyat.

Jika input sudah benar tetapi output menyimpang, maka yang patut dipertanyakan adalah prosesnya. Desain sistem negara setelah perubahan konstitusi membawa banyak perubahan dalam cara kedaulatan rakyat dijalankan. Mekanisme politik semakin bergantung pada partai, biaya politik semakin tinggi, dan arah pembangunan sering berubah mengikuti kepentingan kekuasaan yang sedang berjalan.

Dalam kondisi seperti itu, rakyat sering kali harus bertahan sendiri. Cak Nun pernah menyampaikan bahwa rakyat Indonesia menjadi kuat karena terbiasa hidup tanpa perlindungan yang memadai dari negara. Pernyataan tersebut terasa pahit, tetapi banyak orang merasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Negara seharusnya melindungi, tetapi sering kali rakyat justru harus melindungi dirinya sendiri dari tekanan ekonomi, birokrasi, dan kebijakan yang tidak berpihak.

Karena itu, sebelum terlalu jauh berbicara tentang membantu konflik di luar negeri, bangsa ini perlu berani melihat ke dalam. Solidaritas internasional tetap penting, tetapi kemerdekaan bangsa sendiri tidak boleh diabaikan. Tidak ada bangsa yang mampu membantu dunia jika rakyatnya sendiri masih merasakan ketidakadilan di negerinya.

Menghentikan sementara bantuan bukan berarti kehilangan kepedulian, tetapi bisa menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang terlebih dahulu mampu menata dirinya sendiri, memastikan rakyatnya terlindungi, sejahtera, dan memiliki kedaulatan yang nyata, bukan hanya tertulis di dalam konstitusi.

Jika benar seperti yang dikatakan Cak Nun bahwa penjajahan hari ini bisa terasa lebih berat daripada masa kolonial, maka tugas terbesar bangsa ini bukan hanya membela kemerdekaan bangsa lain, tetapi memastikan bahwa kemerdekaan Indonesia benar-benar dirasakan oleh rakyatnya sendiri.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Irak Beri Sinyal Lawan AS-Israel, Siap Balas Serangan Drone yang Tewaskan 15 Orang

Ilustrasi peluru kendali (rudal) Iran meluncur menuju sasaran target. /ANTARA/Anadolu/py (Anadolu)
Ilustrasi peluru kendali (rudal) Iran meluncur menuju sasaran target. /ANTARA/Anadolu/py (Anadolu)

Jakarta, aktual.com – Irak mengisyaratkan kemungkinan bergabung dengan Iran dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel, menyusul serangan drone AS yang dinilai sebagai agresi tanpa dasar serta pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara tersebut.

Serangan tersebut menargetkan markas Popular Mobilization Units (PMU) Irak dan mengakibatkan 15 orang tewas. Peristiwa ini langsung direspons oleh Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani dengan menggelar rapat darurat Dewan Menteri untuk Keamanan Nasional.

Dalam pernyataannya, juru bicara panglima tertinggi angkatan bersenjata Irak menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam atas serangan tersebut.

“Kami telah memutuskan untuk menanggapi serangan yang dilakukan oleh pesawat tempur dan drone AS yang menargetkan markas dan formasi Unit Mobilisasi Rakyat, sesuai dengan prinsip hak membela diri.”

“Kami telah memutuskan untuk mengejar mereka yang terlibat dalam serangan terhadap lembaga keamanan dan misi diplomatik.”

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Irak telah melayangkan pengaduan resmi kepada Dewan Keamanan PBB serta memanggil diplomat Amerika Serikat di Baghdad.

Sejumlah tokoh senior Irak juga menyuarakan kemarahan atas eskalasi kekerasan yang dinilai menyasar kepentingan kawasan, termasuk Republik Islam Iran.

Sementara itu, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerukan persatuan negara-negara Muslim untuk menghadapi Amerika Serikat. Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya menyatakan Iran berada pada posisi sebagai pelindung negara-negara Arab, berbeda dengan AS dan Israel yang dinilai hanya memanfaatkan kawasan tersebut.

“Apa manfaat yang telah diberikan pangkalan-pangkalan AS kepada Anda? Jika Israel menyerang Anda, akankah Amerika menembakkan satu peluru pun untuk membela Anda?” tanya IRGC.

Lebih lanjut, Iran mengimbau negara-negara di kawasan untuk mengurangi ketergantungan pada kekuatan eksternal dan kembali pada prinsip-prinsip Al-Qur’an, serta mendorong pembentukan sistem keamanan kolektif tanpa keterlibatan AS maupun Israel.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

DPR Ingatkan Efisiensi BBM Kemhan Tak Boleh Ganggu Kesiapan Tempur TNI

Jakarta, aktual.com – Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini menilai efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan Kementerian Pertahanan (Kemhan) adalah upaya ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk memperkuat tata kelola logistik pertahanan yang lebih akuntabel dan berkelanjutan, terutama di tengah situasi global terkait pasokan energi.

“Saya sebagai anggota Komisi I DPR RI melihat situasi ini dalam dua perspektif yaitu kesiapan operasional dan efektifitas efisiensi,” kata Amelia di Jakarta, Rabu (25/3).

Dia menjelaskan bahwa penggunaan BBM pada alat utama sistem pertahanan (alutsista) tidak semata-mata soal konsumsi energi, tetapi berkaitan langsung dengan tingkat kesiapan tempur, frekuensi latihan, serta mobilitas satuan di lapangan.

“Oleh karena itu, efisiensi tidak boleh diterjemahkan sebagai pengurangan yang berpotensi menurunkan kesiapan TNI,” kata dia.

Tentang penggunaan kendaraan dinas, dia menyarankan bahwa efisiensi dapat dilakukan melalui optimalisasi penggunaan, digitalisasi monitoring konsumsi BBM, serta penerapan standar operasional yang lebih disiplin.

Sementara untuk alutsista, menurut dia, pendekatan dalam upaya efisiensi harus lebih teknis, seperti peningkatan efisiensi mesin, modernisasi sistem, hingga pengaturan siklus operasional yang tetap menjaga kesiapsiagaan.

Kunci dari kebijakan itu, kata dia, terletak pada keseimbangan antara soal negara dapat menghemat tanpa mengorbankan kemampuan pertahanan.

“Efisiensi yang tepat justru bisa memperkuat postur TNI, bukan melemahkannya,” katanya.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyiapkan langkah efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) secara untuk mengantisipasi dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi stabilitas energi.

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Sekretariat Jenderal (Setjen) Kemhan Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Rico Ricardo Sirait dalam siaran pers resminya yang diterima di Jakarta, Senin mengatakan, langkah antisipasi sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya langkah proaktif dan efisiensi nasional.

“Langkah-langkah yang disiapkan mencakup pengaturan penggunaan sumber daya secara lebih efektif dan berbasis prioritas, termasuk dalam operasional alutsista dan mobilitas dinas,” kata Rico dalam siaran pers tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Iran Serukan Aliansi Militer Berbasis Al-Qur’an Tanpa AS dan Israel di Timur Tengah

Istanbul, aktual.com – Iran menyerukan negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah untuk membangun sebuah “aliansi keamanan dan militer” tanpa keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dengan “Al Quran sebagai dasar”.

“Waktunya telah tiba untuk mendirikan sebuah aliansi militer tanpa kehadiran Amerika Serikat dan Israel,” kata Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Khatam Al Anbiya Angkatan Bersenjata Iran, dalam rekaman video yang ditujukan bagi dunia Arab dan Islam, Rabu (25/3).

Ia menyebut agresi AS dan Israel terhadap negaranya mencerminkan sebuah “fase baru”, dan Iran kini ada di garis depan membela negara-negara Islam.

Zolfaghari menekankan pentingnya tidak tergantung pada kekuatan asing dan untuk kembali ke ajaran Al Quran. Menurut dia, negara-negara di kawasan tidak seharusnya memerlukan negara nun jauh di seberang benua sebagai penjamin keamanan mereka.

“Kita harus bersatu untuk menjamin keamanan kita dan bergerak menuju suatu kesepakatan keamanan bersama yang menjadikan Islam dan Al Quran sebagai acuan, inti, dan landasan ajek,” kata dia.

Ketegangan di kawasan Teluk meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.

Iran kemudian membalas agresi militer itu dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Inggris Siap Pimpin Operasi Koalisi Buka Selat Hormuz di Tengah Eskalasi Timur Tengah

Brussels, aktual.com – Angkatan Laut Kerajaan Inggris sedang bersiap untuk mengambil peran utama dalam potensi operasi koalisi untuk membuka kembali Selat Hormuz, menurut laporan The Times pada Selasa (24/3).

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pejabat pertahanan Inggris sedang mempertimbangkan rencana untuk mengerahkan kapal Angkatan Laut atau kapal komersial sewaan untuk berfungsi sebagai “kapal induk” untuk sistem otonom tanpa awak yang dirancang untuk mendeteksi dan menetralisir ranjau laut di jalur perairan strategis tersebut.

Inisiatif itu akan menjadi bagian dari upaya multinasional yang lebih luas yang melibatkan sekutu, termasuk AS dan Prancis, untuk memastikan jalur aman bagi pelayaran komersial melalui selat tersebut, salah satu jalur transit terpenting di dunia.

Para pejabat yang dikutip oleh The Times mengatakan operasi tersebut dapat berlangsung dalam beberapa fase.

Tahap awal akan fokus pada perburuan ranjau menggunakan sistem otonom canggih yang diluncurkan dari kapal induk.

Fase kedua dapat melibatkan pengerahan kapal permukaan tanpa awak bersama dengan kapal perusak Tipe 45 Angkatan Laut, atau hanya kapal perusak, untuk melindungi kapal tanker yang melintasi area tersebut.

“Kami memiliki kemampuan terdepan di dunia dalam hal perburuan ranjau otonom, serta kemampuan kapal perusak yang fantastis dengan Tipe 45 kami, dan juga pengembangan konsep angkatan laut hibrida, yang memberi kami peluang untuk menghindari membahayakan orang demi mengamankan selat,” kata seorang pejabat.

Para pejabat pertahanan Inggris itu percaya bahwa ranjau laut telah ditanam di selat tersebut, meski masih ada “jalur yang jelas” karena kapal-kapal India, Pakistan, dan China terus melintasi jalur air tersebut.

Eskalasi regional di Timur Tengah terus berlanjut sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran telah membalas dengan serangan drone dan rudal berulang kali yang menargetkan Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Selat Hormuz juga telah secara efektif terhambat sejak awal Maret. Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melewati selat tersebut setiap hari, dan gangguan itu telah meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain