9 April 2026
Beranda blog Halaman 581

Pesantren, Pilar Umat Menuju Indonesia Emas 2045, HNW Serukan Optimalisasi Peranannya

Hidayat Nur Wahid (HNW) memaparkan pentingnya optimalisasi peran pesantren dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat pada Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara di Jakarta.. Aktual/DOK MPR RI

Jakarta, aktual.com – Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) An-Nuaimy menggelar Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara bertajuk “Mengokohkan Peran Dakwah Pesantren melalui Penguatan Organisasi dan Program, Menjemput Indonesia Emas 2045”, di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (12/11/2025).

Dalam paparannya, Hidayat Nur Wahid (HNW) menegaskan bahwa pesantren memiliki tiga fungsi utama, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

“Kalau hanya fungsi pendidikan, cukup dikelola oleh Direktorat Pendidikan Islam. Namun karena pesantren juga memiliki fungsi dakwah dan pemberdayaan masyarakat, sebagaimana ketentuan dalam UU Pesantren, maka perlu ada peningkatan status, kewenangan dan anggaran dari sebelumnya (Direktur) yakni Direktorat Jenderal Pesantren,” ujarnya.

HNW menjelaskan, pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama telah disetujui Presiden menjelang peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025. Ia berharap lembaga baru tersebut tidak tumpang tindih dengan Direktorat Pendidikan Islam, serta benar-benar dapat memperkuat peran pesantren, bukan justru mengontrol secara berlebihan yang malah merepotkan dunkia Pesantren.

Selain itu, Dirjen Pesantren diharapkan memperjuangkan hak-hak pesantren sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pesantren, termasuk pengelolaan dana abadi pesantren, serta memastikan perlakuan adil terhadap seluruh jenis pesantren yang diakui oleh UU Pesantren yaitu Pesantren tradisional (salafiyah), modern (mu‘adalah), dan terpadu.

“Kita pernah menolak rencana revisi Undang-Undang Pesantren karena hanya mengakui satu jenis pesantren. Padahal realitas di lapangan Pesantren sangat beragam, dan semuanya berkontribusi penting bagi bangsa,” tegasnya.

Ia juga menilai tema diskusi kali ini sejalan dengan semangat Undang-Undang Pesantren yang menempatkan fungsi dakwah sebagai bagian integral dari sistem pendidikan pesantren.
Dalam konteks dakwah, pesantren juga memiliki peran pembinaan masyarakat dan penguatan karakter.

Hal itu kata dia, sejalan dengan kebijakan Kementerian Agama tentang Kurikulum Pesantren Ramah Anak, yang menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas kekerasan. Namun, HNW menegaskan bahwa “ramah” bukan berarti tanpa kedisiplinan.

“Pesantren justru unggul karena disiplin dan pembinaan akhlak melalui keteladanan para kiai dan ustaz,” ujarnya.

Ia menyoroti berbagai kasus kekerasan di lembaga pendidikan sebagai pelajaran penting agar pesantren terus memperkuat fungsi pendampingan psikologis dan pembinaan moral. HNW juga mengingatkan bahwa pesantren memiliki peran historis dalam perjuangan bangsa.

“Sejak masa perumusan BPUPK, tokoh-tokoh dari NU, Muhammadiyah, dan PUI, bahkan yang dari Partai2 Islam seperti Syarekat Islam, Penyadar, Partai Islam Indonesia, Masyumi, semua para Kiyai dan Santri yang berakar dari pesantren, dan mereka masing2 telah berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahanakn kemerdaan Indonesia,” ujarnya.

Peran pesantren juga tampak dalam berbagai momentum penting, seperti Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, Amanat Jihad 1946, hingga Perjuangan PDRI dan pengembalian Indonesja menjadi NKRI yang dipimpin Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan M Natsir, tokoh dari Partai Islam Masyumi.

“Karena itu, santri masa kini harus ikut mempersiapkan masa depan bangsa menuju Indonesia Emas 2045 dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan,” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa jika ingin melihat nasib sebuah bangsa 20 tahun mendatang, lihatlah apa yang dikerjakan bangsanya 20 tahun sebelumnya.

“Karenanya apa yang kita lakukan hari ini, termasuk memperkuat peran pesantren, akan menentukan seperti apa wajah Indonesia tahun 2045,” pungkasnya.

Denny JA Foundation Umumkan 4 Pemenang Penghargaan Sastra 2025

Sutardji Calzoum Bachri, Sindhunata, Kaisar Deem, dan Fatin Hamama. Aktual/HO

Jakarta, aktual.com – Denny JA Foundation secara resmi mengumumkan empat penerima Penghargaan Sastra 2025. Penghargaan ini diberikan melalui tiga lembaga: Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena, Lembaga Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai, dengan total hadiah lebih dari Rp155 juta.

Di tengah era digital dan percepatan teknologi, penghargaan ini menjadi penegasan bahwa karya yang memiliki kedalaman estetik, kekuatan moral, dan empati kemanusiaan tetap menjadi fondasi kehidupan intelektual bangsa.

Dewan Juri 2025

Seluruh penghargaan—kecuali Puisi Esai Award—dinilai oleh dewan juri gabungan: Okky Madasari, Anwar Putra Bayu, Dhenok Kristiadi, Hamri Manoppo, Muhammad Thobroni, Wayan Suyadnya, dan Victor Manengkey.

Dewan juri ini mewakili lintas disiplin, lintas wilayah, dan lintas tradisi literasi, dari Sumatra hingga Papua, memastikan standar penilaian yang berimbang dan kredibel.

Penerima Penghargaan

1. Satupena Lifetime Achievement Award – Sutardji Calzoum Bachri, Hadiah: Piagam + Rp50.000.000

Sutardji Calzoum Bachri dianugerahi Satupena Lifetime Achievement Award 2025 atas kontribusinya yang luar biasa dalam merevolusi bahasa Indonesia.

Dikenal sebagai “Presiden Penyair Indonesia,” ia memandang kata sebagai makhluk hidup dan mengembalikan puisi kepada akar magisnya: mantra.

Melalui karya monumental seperti O Amuk Kapak dan Tragedi Winka & Sihka, ia memerdekakan bahasa dari penjara makna dan membuka era baru spiritualitas linguistik.

Selama lebih dari lima dekade, Sutardji menjadi rujukan estetik dan moral bagi penyair generasi berikutnya, menjadikan bahasa Indonesia lebih bernyawa, lebih bebas, dan lebih bercahaya.

2. Dermakata Award 2025 – Non-Fiksi: Sindhunata, Hadiah: Piagam + Rp35.000.000

Romo Sindhunata menerima Dermakata Award 2025 kategori Non-Fiksi berkat kemampuannya mengubah tawa rakyat menjadi filsafat hidup.

Melalui Ilmu Ngglethek dan Opo Jare Tekek, ia menempatkan ludruk dan jula-juli sebagai cermin kebijaksanaan wong cilik.

Dengan latar pendidikan doktoral di München serta pengalaman panjang sebagai penulis dan pastor, Sindhunata memadukan riset akademik, humanisme, dan empati pastoral.

Ia menjadikan non-fiksi sebagai ziarah batin yang merawat akar budaya, mengangkat suara mereka yang sering luput dari perhatian, dan menegaskan bahwa pengetahuan yang paling jernih sering lahir dari tawa dan air mata rakyat jelata.

3. Dermakata Award 2025 – Fiksi: Kaisar Deem, Hadiah: Piagam + Rp35.000.000

Kaisar Deem memenangkan Dermakata Award kategori Fiksi melalui kumpulan cerpen Jose Kecil dalam Dirimu.

Karyanya menyuarakan memori kelam sejarah melalui sosok Jose, bocah penyintas Timor Leste, yang berbicara dengan bahasa yang jujur dan mengguncang.

Lahir dari keluarga sederhana di Makassar, Kaisar memilih jalur realisme sosial: menulis tentang luka yang tak terlihat, penderitaan yang sering dihindari, dan ketidakadilan yang tak diberi ruang bicara.

Ia menghadirkan fiksi sebagai perlawanan senyap terhadap lupa kolektif bangsa. Kepekaan moral, kesederhanaan bahasa, dan keberaniannya mengungkap sisi gelap kemanusiaan membuat karyanya mendapat pengakuan kuat dari para juri.

4. Puisi Esai Award 2025 – Fatin Hamama, Hadiah: Piagam + Rp35.000.000

Fatin Hamama dianugerahi Puisi Esai Award 2025 atas kemampuannya memadukan riset sosial, spiritualitas, dan suara kemiskinan urban menjadi karya puitik yang lembut namun menggetarkan.

Dalam “Puisi dan Bunga Kangkung” serta “Mazmur Duka Mazmur Cinta,” ia menulis dari lorong-lorong kehidupan: tepian kali, tubuh lapar, cinta yang patah, dan ruang kota yang kehilangan arah.

Lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, ia membawa puisi esai ke forum internasional sebagai bahasa empati dan penyembuhan.

Karyanya memperlihatkan bahwa puisi bukan hanya keindahan kata, tetapi juga upaya merawat martabat manusia di tengah dunia yang makin keras.

Kutipan Resmi dari Denny JA, Pendiri Denny JA Foundation

“Empat penerima penghargaan tahun ini menunjukkan bahwa di tengah teknologi yang semakin canggih, masyarakat tetap membutuhkan kedalaman kata-kata.

Mereka bukan hanya penulis, tetapi penjaga nurani bangsa. Karya-karya mereka mengingatkan kita bahwa kata-kata yang jujur dapat menjadi cahaya yang menuntun masyarakat menuju kemanusiaan yang lebih luhur.”

Denny JA Foundation berkomitmen membangun ekosistem literasi Indonesia melalui dana abadi penghargaan penulis, program penerjemahan, dan dukungan bagi kreator di era AI.

Di tengah dunia yang dipenuhi algoritma dan artificial intelligence, keempat karya pemenang justru menegaskan keunggulan manusia: hati yang berempati, pikiran yang merenung, dan kata-kata yang menyentuh jiwa.

Ini sebagai penanda peradaban yang tetap manusiawi.

Melalui penghargaan sastra 2025, Yayasan menegaskan tekad bahwa karya yang penuh empati, jujur, dan bernilai estetik tetap menjadi pilar dalam membangun peradaban Indonesia.

Menkes Beri Sinyal Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (13/11/2025). Foto: Nur Aida Nasution/Aktual.com

Jakarta, Aktual.com – Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin memberi sinyal kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Pasalnya, tanpa kenaikan iuran, keberlanjutan program jaminan kesehatan nasional (JKN) ini akan terancam, karena defisit anggaran.

Ia menjelaskan, pendapatan BPJS Kesehatan hanya tercatat positif pada beberapa tahun tertentu, seperti pada tahun 2016, 2020, 2021, dan 2022.

“BPJS itu nggak pernah sustainable, dia positif kalau ada kenaikan iuran,” ujarnya saat ditemui di Komplek Parlemen, Jakarta, Kamis (13/11/2025).

Pada 2023 lalu, BPJS Kesehatan mencatatkan pendapatan iuran sebesar Rp151,7 triliun, namun beban program JKN mencapai Rp158,9 triliun.

“Penting untuk mengkaji kenaikan iuran untuk menjaga keberlanjutan sistem JKN yang memberikan layanan kepada masyarakat,” paparnya.

Meski begitu, ucap Budi, Pemerintah belum membahas rencana kenaikan iuran BPJS Kesehatan dalam waktu dekat. “Tetapi kami sadar BPJS bisa nggak sustain tanpa ada kenaikan iuran,” katanya.

Sebagai langkah untuk memastikan keberlanjutan, Kementerian Keuangan telah mengucurkan dana sebesar Rp10 triliun kepada BPJS Kesehatan. Sisa dana Rp10 triliun diharapkan dapat disalurkan pada Januari 2026 untuk mendukung kelangsungan program JKN.

Pihaknya terus berupaya untuk memperbaiki mekanisme iuran dan koordinasi dengan asuransi swasta. “Kami sudah menandatangani kesepakatan dengan OJK untuk skema Combine of Benefit (COB),” ujarnya.

Budi juga menyoroti ketidaksesuaian data penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan. “Ada 540 ribu orang di desil 10 yang dibiayai pemerintah, padahal mereka orang kaya,” ungkap Budi.

Menurutnya, hal ini pertanda perlunya perbaikan sistem PBI untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Sebagai solusi jangka panjang, Budi mengusulkan penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dan lebih fokus pada masyarakat kelas bawah.

Laporan: Nur Aida Nasution

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi

Roy Suryo Cs Diperiksaan Polda Metro, Belum Ditahan dalam Kasus Ijazah Jokowi

Jakarta, aktual.com – Mantan Menpora Roy Suryo menghadiri pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Kamis (13/11/2025), terkait kasus tudingan ijazah palsu Presiden Joko Widodo. Ia datang bersama ahli digital forensik Rismon Sianipar dan pegiat media sosial Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa.

Roy tiba sekitar pukul 10.15 WIB bersama kuasa hukumnya, Ahmad Khozinudin, dan menyatakan siap menjalani pemeriksaan. “Sudah sangat siap, sudah. Buktinya sudah ada, sudah,” Ujar Roy.

Dalam pemeriksaan tersebut, Roy mengaku membawa sejumlah barang bukti yang akan ditunjukkan kepada penyidik. Ia menegaskan bahwa kehadirannya di Polda Metro Jaya merupakan bentuk tanggung jawab kepada publik.

Polda Metro Jaya memutuskan tidak menahan Roy Suryo cs usai pemeriksaan berlangsung. “Setelah ini kepada ketiga tersangka kami perbolehkan untuk kembali ke rumahnya masing-masing,” ujar Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin.

Iman menjelaskan, keputusan itu diambil karena ketiganya mengajukan saksi dan ahli yang meringankan. “Kami harus menjaga keseimbangan keterangan dan informasi agar proses hukum ini berjalan adil dan berimbang,” katanya.

Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menyatakan delapan orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Mereka dijerat dengan pasal-pasal pencemaran nama baik dan manipulasi data elektronik berdasarkan hasil penyidikan yang dinilai cukup kuat.

Roy Suryo, selaku pakar telematika dan akademisi lulusan Universitas Gadjah Mada, kini menghadapi sorotan besar publik atas kasus ini. Ia menegaskan tetap kooperatif dan yakin proses hukum akan membuktikan kebenaran versinya di pengadilan.

(Muhammad Hamidan)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Ketua Fraksi Golkar MPR Temui Gubernur DIY Bahas Sarasehan Obligasi Daerah

Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kraton Yogyakarta untuk bertemu dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Aktual/DOK MPR RI

Yogyakarta, aktual.com – Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, melakukan kunjungan silaturahmi ke Kraton Yogyakarta untuk bertemu dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam rangka kulo nuwun sekaligus memohon izin dan dukungan atas rencana pelaksanaan Sarasehan Nasional tentang Obligasi Daerah yang akan digelar di Yogyakarta pada 24 November 2025 mendatang.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan tersebut, Melchias Markus Mekeng menyampaikan bahwa kegiatan sarasehan ini akan menjadi forum strategis untuk membahas potensi obligasi daerah sebagai salah satu instrumen pembiayaan pembangunan daerah dan investasi publik.

“Yogyakarta kami pilih bukan hanya karena nilai historis dan budayanya yang tinggi, tetapi juga karena peran pentingnya sebagai pusat pendidikan dan pemikiran kebangsaan. Kami merasa perlu kulo nuwun kepada Ngarsa Dalem Sri Sultan sebelum kegiatan nasional ini dilaksanakan,” ujar Mekeng.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyambut baik gagasan penyelenggaraan sarasehan nasional tersebut. Sultan menyampaikan bahwa inisiatif tersebut sangat relevan dengan semangat kemandirian fiskal daerah dan upaya memperkuat tata kelola keuangan publik di Indonesia.

“Gagasan obligasi daerah merupakan langkah maju untuk memperkuat otonomi daerah dan kemandirian pembiayaan pembangunan. Saya menyambut dengan antusias dan, Insya Allah, akan hadir sebagai keynote speaker pada sarasehan nanti,” ujar Sultan.

Pertemuan diakhiri dengan harapan bersama agar kegiatan sarasehan nasional ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkaya wacana kebijakan fiskal daerah, serta memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan instrumen keuangan yang sehat dan berkelanjutan.

Namanya Dipulihkan, Guru Abdul Muis: Presiden Dewa Penolong dan Pejuang Kemanusiaan

Jakarta, aktual.com – Abdul Muis, 59, guru SMAN 1 Luwu Utara, yang mendapat rehabilitasi hukum atau pemulihan nama baik usai diberhentikan tidak dengan hormat (PTDH) oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan, menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto.

Dia bahkan menyebut Kepala Negara sebagai ‘dewa penolong’ bagi para guru di Tanah Air. Presiden Prabowo bahkan disebut sebagai sosok patriot.

“Dewa Penolong yang kami sendiri tidak pernah prediksi akan endingnya seperti itu, yang kami bayangkan itu adalah SK (rehabilitasi/pemulihan nama baik) nah Bapak pribadi Prabowo ini sebagai seorang patriot, sekaligus sebagai humanis sejati,” kata Abdul saat dihubungi, Jakarta, Kamis, 13 November 2025.

Menurut Abdul, kasus ini cukup membuat dirinya dan Rasnal guru SMAN 1 Luwu Utara yang dipecat menderita. Apalagi, proses perjalanan kasus ini memakan waktu yang cukup panjang.

Abdul mengaku tak pernah menyangka bila kasus yang menimpanya akan menjadi perhatian publik. Terlebih, membuat Presiden Prabowo turun langsung dan menerbitkan SK Rehabilitasi.

“Jadi atas nama PGRI, sampaikan dan tegaskan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak Presiden, pejuang kemanusiaan,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memberikan rehabilitasi kepada dua guru asal Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, yaitu Abdul Muis dan Rasnal yang sebelumnya dipecat karena pungutan dana untuk guru honorer.

Prabowo memulihkan nama baik keduanya setelah menerima aspirasi masyarakat dan berbagai pihak. Keputusan tersebut diambil langsung sesaat setelah Presiden Prabowo tiba kembali di Indonesia usai kunjungan kenegaraan ke Australia, pada Kamis, 13 November 2025.

Wakil Ketua DPR Dasco menjelaskan bahwa penandatanganan surat rehabilitasi dilakukan langsung oleh Presiden di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.

“Barusan saja Bapak Presiden sudah menandatangani surat rehabilitasi kepada Pak Rasnal dan Pak Abdul Muis, guru SMA yang dari Luwu Utara,” kata Dasco.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain