13 April 2026
Beranda blog Halaman 615

Seskab Teddy Jadi Sorotan, Masuk Daftar Menteri Paling Dikenal Publik

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya swafoto saat meninjau langsung pelaksanaan Program Magang Nasional di salah satu perusahaan besar swasta, PT Denso Indonesia, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat, 7 November 2025. Aktual/BPMI-SETNEG

Jakarta, aktual.com – Di tengah dominasi para Menteri yang menjabat di pos strategis, Teddy Indra Wijaya, yang menjabat sebagai Sekretaris Kabinet (Seskab), muncul sebagai figur pejabat non-Menteri Koordinator yang paling dikenal publik.

Hasil survei terbaru Indikator Politik Indonesia menunjukkan tingkat awareness atau kedikenalan Teddy Indra Wijaya mencapai 50,8%, menempatkannya di posisi ketiga secara keseluruhan, hanya di bawah Erick Thohir dan Agus Harimurti Yudhoyono.

Dalam grafik 10 Pejabat/Menteri Terpopuler, Teddy Indra Wijaya berada di atas sejumlah Menteri Koordinator dan Kepala Lembaga penting lainnya. Angka ini menandakan keberhasilan Seskab dalam membangun profil publik di tengah isu-isu pemerintahan yang krusial.

Founder dan Peneliti Utama Indikateddtor Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menyebut tingginya awareness Teddy Indra Wijaya sebagai fenomena politik yang menarik dan patut dicermati.

“Posisi Sekretaris Kabinet secara tradisional bukanlah jabatan yang memiliki sorotan media sebesar Menteri Koordinator atau Menteri teknis yang berurusan langsung dengan proyek fisik,” kata Burhanuddin, saat menyampaikan hasil survei bertajuk ‘Evaluasi Publik Atas Kinerja Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran secara virtual, Sabtu (8/11).

Namun, Burhanuddin melanjutkan, “angka 50,8% awareness ini menunjukkan bahwa publik sangat memperhatikan sosok di lingkaran inti Presiden,” ujar Burhanuddin.

Menurut Burhanuddin, tingginya tingkat kedikenalan Seskab dapat diartikan dalam dua hal. Pertama, mengindikasikan bahwa Teddy Indra Wijaya berperan sangat krusial dalam menyampaikan kebijakan dan keputusan penting di balik layar kepresidenan.

Perannya sebagai penjaga gerbang informasi dan administrasi Presiden kemungkinan besar terekspos dalam isu-isu besar.

Kedua, ini terkait efektivitas Komunikasi: “Meskipun bukan jabatan yang sering tampil di front-line, tingginya awareness ini bisa mencerminkan efektivitas komunikasi yang dibangun Seskab, baik melalui pernyataan publik terbatas maupun kehadirannya yang konsisten mendampingi Presiden dalam momen-momen penting.”

Di sisi lain, awareness Teddy yang mencapai lebih dari 50% bahkan melampaui beberapa figur kunci, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto (34,2%), dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar (44,6%).

Survei Indikator dilakukan secara tatap muka, dalam rentang 20-27 Oktober 2025, menempatkan 1.220 responden dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.

Usman Hamid: Kalau Soeharto Pahlawan, Gus Dur dan Amien Rais Penjahatnya?

Jakarta, aktual.com – Pengurus Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah, Usman Hamid, menanggapi wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto. Ia menilai, usulan itu justru berpotensi membalik makna kepahlawanan dan mengaburkan nilai moral dalam sejarah bangsa.

“Saya mau kutip pandangan Idi Subandy Ibrahim. Dia bilang kepahlawanan itu adalah cahaya keteladanan. Jadi, kalau di sekitar kita terjadi kegelapan, maka seorang pahlawan itu memberikan cahaya. Nama Soeharto itu membuat saya seperti kembali ke dalam kegelapan,” ujar Usman dalam diskusi #Seohartobukanpahlawan 2.0 di Jakarta Selatan, pada Sabtu (8/11).

Usman mengatakan, jika Soeharto disebut pahlawan, maka secara logika terbalik, tokoh-tokoh reformasi seperti Amien Rais, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Nurcholish Madjid (Cak Nur) justru dianggap penjahat.

“Banyak yang mengatakan bahwa Presiden Soeharto adalah pahlawan, maka mantan ketua umum PP Muhamamdiyah Amien Rais adalah penjahatnya? Padahal, Prof Amin Rais yang ikut menjatuhkan Soeharto bersama Gus Dur bersama Nurcholis Madjid (Cak Nur). Cak Nur bahkan yang dicatat dalam sejarah mengatakan kepada Presiden Soeharto bahwa mahasiswa menginginkan Soeharto turun,” tegasnya.

Usman lantas menyinggung kisah Cak Nur yang sempat menyampaikan langsung kepada Soeharto mengenai tuntutan mahasiswa pada masa reformasi 1998.

“Kata Cak Nur, ‘Pak harto tahu tidak apa yang dimaksud mahasiswa soal reformasi?’, ‘Tidak tahu’, ‘Yang diinginkan mahasiswa soal reformasi, Pak Harto turun’,” ungkap Direktur Amnesty Internasional ini.

Atas dasar itu, menurut Usman, jika ada lagi upaya menyamakan Soeharto dengan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai pahlawan adalah langkah yang menyesatkan moral publik.

“Sekaligus saja, misalnya Riza Chalid jadi Pahlawan. Atau semua terdakwa korupsi dan terpidana korupsi kita pahlawankan misalnya. Semua pelanggar-pelanggar hak asasi manusia kita pahlawankan demi persatuan nasional. Kan enggak gitu,” kritiknya.

Usman menegaskan, bangsa ini membutuhkan kompas moral yang jelas untuk menilai mana yang benar dan salah, mana yang etis dan tidak etis.

“Indonesia sudah semakin kehilangan kompas moral. Mana yang benar dan salah dan mana yang jahat dan baik, mana yang etis dan tidak etis mulai kabur. Sama seperti dalam konteks wacana kepahlawanan, mana yang pahlawan, mana yang penghianat dikaburkan,” ujarnya.

Atas dasar itu, Usman pun turut merasakan apa yang dirasakan generasi muda, khususnya Gen Z, yang kini kesulitan menemukan figur teladan dalam kehidupan sosial-politik.

“Akhirnya kita gak punya panduan lagi akhirnya anak-anak Gen-Z tidak lagi punya rujukan kepahlawanan, kecuali pahlawan topi jerami. Kemarin bendera one peice. One piece itu definisi sederhana seorang pahlawan. Dia berani melawan ketidakadilan, membangun solidaritas utk menjatuhkan pemimpin-pemimpin yang tiran. Yang kita mau pahlawankan malah pemimpin yang tiran. Jadi ini kebalik-balik,” katanya.

Lebih jauh, Usman juga mengajak dan menyerukan kepada generasi muda agar aktif menyuarakan sikap terhadap nilai-nilai keadilan dan moralitas publik.

“Anak muda harus bersuara, anak Gen-Z harus bersuara. Sampaikan pandangan-pandangan anak muda sekarang apa dan jelaskan sikap-sikap anda,” tandas Usman.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Operasi Senyap KPK di Ponorogo, Uang Tunai Diamankan Bersama Bupati Sugiri Sancoko

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi Budi Prasetyo memberikan keterangan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (23/10/2025). ANTARA/Rio Feisal/am.
Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi Budi Prasetyo memberikan keterangan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (23/10/2025). ANTARA/Rio Feisal/am.

Jakarta, aktual.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kepala daerah. Kali ini, lembaga antirasuah tersebut menangkap Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, pada Jumat malam, 7 November 2025. Dalam operasi senyap itu, tim KPK juga menyita sejumlah uang tunai dalam pecahan rupiah. Namun, jumlah pastinya belum diungkapkan.

“Tim juga mengamankan sejumlah uang tunai dalam bentuk mata uang rupiah,” ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, dalam keterangannya, Sabtu, 8 November 2025.

Budi menjelaskan, total ada 13 orang yang diamankan dalam kegiatan tersebut. Dari jumlah itu, enam orang tidak dibawa ke Gedung Merah Putih KPK karena keterangan yang mereka berikan sudah cukup. Sementara tujuh orang lainnya diterbangkan ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

“Tujuh orang sudah tiba di Gedung Merah Putih KPK. Selanjutnya, pihak-pihak yang diamankan dalam kegiatan tangkap tangan tersebut akan dilakukan pemeriksaan lanjutan secara intensif,” kata Budi.

Dalam rombongan pertama yang tiba di Jakarta, terlihat Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko. Ia tiba di Gedung Merah Putih sekitar pukul 08.10 WIB menggunakan mobil hitam bersama beberapa orang lainnya. Sementara kloter kedua tiba beberapa jam kemudian, sekitar pukul 11.40 WIB. Orang yang datang terakhir disebut sebagai orang kepercayaan Bupati.

Selain Bupati Sugiri, KPK juga mengamankan sejumlah pejabat daerah, di antaranya Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo, Direktur Utama RSUD, Kabid Mutasi Setda, serta tiga pihak swasta, salah satunya adik Bupati. Mereka dibawa ke Jakarta pada Sabtu pagi untuk menjalani pemeriksaan intensif di markas KPK.

Sebelumnya, KPK menyebutkan bahwa operasi ini dilakukan berdasarkan laporan dan informasi awal yang menunjukkan adanya dugaan praktik suap terkait proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Hingga kini, penyidik masih melakukan pendalaman terhadap barang bukti serta peran masing-masing pihak yang diamankan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

#HereNow, Kampanye Generali untuk Wujudkan Keamanan Finansial Masa Depan

President Director dan CEO Generali Indonesia, Rebecca Tan (tengah) didampingi Head of Corporate Communication Windra Krismansyah (kiri) saat menghadiri kegiatan #HereNow healthy challenge di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (8/11/2025). Generali Indonesia resmi meluncurkan kampanye global terbarunya yang bertema #HereNow, sebuah inisiatif yang mengajak masyarakat untuk mulai menyiapkan masa depan sejak sekarang. Kampanye ini merupakan bagian dari kampanye global Generali Group yang diluncurkan secara serentak di berbagai negara tempat Generali beroperasi, menegaskan komitmen perusahaan sebagai Lifetime Partner yang senantiasa hadir di setiap momen penting kehidupan nasabah. Aktual/TINO OKTAVIANO

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Luka yang Meledak di SMA 72: Antara Bullying dan Bayang-Bayang Teror

Oleh : Hamidin Pengamat Terorisme Global

Jakarta, aktual.com – Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta pada Jumat siang, 7 November 2025, bukan sekadar dentuman fisik yang mengguncang sekolah. Ia adalah ledakan simbolik dari luka sosial yang selama ini terpendam, melukai puluhan siswa dan guru, meninggalkan trauma, dan memunculkan pertanyaan besar: apa yang mendorong seorang anak sekolah menyalurkan amarahnya dengan cara paling tragis?

Dari keterangan awal aparat, pelaku kemungkinan adalah siswa sendiri, berusia sekitar 17 tahun, yang dikenal pendiam dan tertutup. Polisi tidak menutup kemungkinan bahwa ia menjadi korban bullying atau tekanan sosial di lingkungan sekolah. Bila dugaan itu benar, ledakan ini lebih dari insiden kriminal; ia adalah tindakan regresif-balasan, manifestasi luka psikologis yang lama terpendam dan akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan fisik.

Bullying, meski kerap diremehkan, memiliki efek psikologis serius. Korban bisa kehilangan harga diri, merasa terasing, hingga menumpuk kemarahan yang tak tersalurkan. Dalam banyak kasus, tekanan yang dibiarkan menumpuk ini dapat memuncak dalam tindakan ekstrem. Ledakan di SMA 72, dengan demikian, bisa dipahami sebagai buah dari luka sosial yang membusuk tanpa penanganan.

Di sisi lain, muncul dugaan bahwa tindakan ini mungkin terkait dengan ideologi ekstrem atau lone wolf terrorism—aksi kekerasan tunggal yang dilakukan tanpa komando organisasi, tetapi terinspirasi narasi ekstrem yang beredar di dunia maya. Era digital memang memungkinkan radikalisasi terjadi tanpa kontak langsung. Propaganda yang memadukan pesan heroik dan penderitaan global bisa menjadi “bahan bakar emosional” bagi remaja yang sedang mencari identitas.

Namun, dalam konteks Indonesia, kemungkinan proses radikalisasi konvensional—melalui guru radikal (warship), pembelajaran tertutup (discipleship), atau jaringan pertemanan ideologis (friendship)—terlihat sangat kecil. Hal ini berkat keberhasilan program kontra-radikalisasi dan deradikalisasi yang dijalankan Densus 88 dan BNPT. Program rehabilitasi narapidana terorisme, pemberdayaan mantan pelaku, serta pendekatan sosial-ekonomi telah menjadikan Indonesia salah satu negara dengan strategi penanganan ekstremisme paling komprehensif di dunia.

Keunggulan model Indonesia terletak pada kombinasi penegakan hukum dan pendekatan kemanusiaan. Aparat tidak hanya menindak pelaku, tetapi juga menyembuhkan luka ideologis melalui edukasi, pembinaan sosial, dan pemberdayaan ekonomi. Karena itu, kemungkinan adanya proses indoktrinasi klasik dari guru radikal atau jaringan rahasia tampak sangat kecil.

Yang tetap harus diwaspadai hanyalah kemungkinan ekstrem: sel tidur (hybernated cell), jaringan yang selama ini dorman, namun dapat bangkit bila ada pemicu signifikan—misalnya kemunculan tokoh simbolik seperti Hambali atau seruan global dari pimpinan terorisme. Meski demikian, hingga saat ini aparat menegaskan tidak ada bukti keterkaitan pelaku dengan jaringan teror aktif, domestik maupun internasional.

Dalam perspektif ini, tragedi SMA 72 lebih masuk akal dibaca sebagai letupan sosial yang dibungkus simbol kekerasan, bukan serangan ideologis yang terstruktur. Pelaku tampaknya bukan radikal, melainkan remaja yang kehilangan ruang aman, yang mencoba menyalurkan amarahnya melalui cara paling tragis.

Namun konteks global tetap relevan. Konflik di Timur Tengah, krisis Gaza, hingga tensi politik di negara lain menciptakan gelombang narasi emosional yang tersebar luas di media sosial. Gambar penderitaan, seruan heroik, dan propaganda bisa menembus batas logika, terutama bagi remaja yang sedang mencari identitas. Emosi yang tersulut oleh isu global dapat menjadi pemicu tambahan, meski tidak ada hubungan langsung dengan jaringan teror aktif.

Tragedi ini mengingatkan kita bahwa keamanan bukan hanya soal menghadang bom atau menangkap pelaku, tetapi juga soal membangun ketahanan sosial sejak dini. Dunia pendidikan harus menjadi ruang aman, bukan sekadar tempat belajar. Guru, konselor, dan teman sebaya perlu peka terhadap perubahan perilaku siswa. Program anti-bullying tidak cukup menjadi slogan; ia harus menjadi budaya yang menumbuhkan empati dan solidaritas.

Keberhasilan Indonesia dalam menekan radikalisasi konvensional adalah prestasi nyata. Namun ketahanan sejati juga tergantung pada keluarga, sekolah, dan komunitas—yang mampu mendeteksi tanda-tanda luka sosial sebelum berubah menjadi aksi destruktif. Ledakan di SMA 72 bukan sekadar persoalan hukum atau keamanan, tetapi juga peringatan moral: ekstremisme dapat tumbuh dari kesepian, kekecewaan, dan rasa terasing.

Kasus ini juga menekankan bahwa senjata terkuat melawan kekerasan bukan hanya aparat atau undang-undang, tetapi perhatian, kasih, dan kemampuan mendengar. Luka yang dibiarkan diam bisa meledak dengan cara paling tragis. Anak-anak perlu merasa aman tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan sosial.

Ledakan di SMA 72 adalah cermin bagi bangsa: betapa pentingnya empati, ruang aman, dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia telah menyiapkan sistem keamanan dan program deradikalisasi yang diakui dunia. Namun mencegah tragedi berikutnya membutuhkan kesadaran kolektif—bahwa anak-anak yang terluka di hati bisa menjadi bom waktu jika tidak ada yang mendengar dan menuntun mereka ke jalan yang benar.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Wakil Wali Kota Bekasi Hadiri Pelantikan Pengurus Pertina, Dorong Prestasi Tinju Menuju Lebih Baik

Bekasi, aktual.com — Dunia olahraga tinju di Kota Bekasi memasuki babak baru dengan dilantiknya pengurus Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kota Bekasi masa bakti 2025–2029. Acara pelantikan ini dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Bekasi yang juga menjabat sebagai Ketua PB Porprov XV Jawa Barat Kontingen Kota Bekasi.

Dalam kesempatan tersebut, suasana penuh semangat terlihat dari kehadiran para atlet, pelatih, dan tokoh olahraga yang menyambut dengan antusias kepengurusan baru. Pelantikan ini dianggap sebagai momentum penting untuk memperkuat komitmen pembinaan prestasi atlet tinju di tingkat daerah.

Wakil Wali Kota Bekasi dalam sambutannya menegaskan bahwa lahirnya kepengurusan baru ini menjadi harapan besar bagi kemajuan olahraga tinju di Kota Bekasi.

“Hari ini menjadi momen yang sangat penting bagi dunia olahraga tinju di Kota Bekasi, karena kita menyambut kepengurusan baru yang penuh energi, semangat, dan komitmen untuk memajukan pembinaan prestasi atlet di kota yang kita cintai,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan harapan agar pengurus yang baru dapat bekerja dengan sinergi serta membawa perubahan positif bagi perkembangan olahraga tinju.

“Atas nama Pemerintah Kota Bekasi, sekaligus sebagai Ketua PB Porprov XV Jawa Barat Kontingen Kota Bekasi, saya menyampaikan selamat dan sukses kepada seluruh pengurus yang baru dilantik,” tambahnya.

Dengan semangat baru tersebut, diharapkan Pertina Kota Bekasi dapat menjadi wadah pembinaan atlet yang lebih profesional dan berprestasi, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga di kancah nasional. Pemerintah Kota Bekasi berkomitmen untuk terus mendukung setiap upaya dalam meningkatkan kualitas dan prestasi atlet di berbagai cabang olahraga, termasuk tinju.

Melalui kepengurusan baru ini, Kota Bekasi diharapkan mampu mencetak lebih banyak atlet muda potensial yang dapat mengharumkan nama daerah di berbagai kejuaraan mendatang. (ADV)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain