12 April 2026
Beranda blog Halaman 80

Lebaran Tanpa Al-Aqsa: Saat Zionis Bengis Israel Mengunci Ibadah di Tanah Suci

Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, Palestina. (ANTARA/Xinhua)

Yerusalem — Jumat (20/3/2026) pagi, Idul Fitri di Yerusalem Timur tahun ini tidak diwarnai gelombang jamaah yang biasanya memadati kompleks Masjid Al-Aqsa. Gerbang-gerbang kota tua justru dijaga ketat, akses dibatasi, dan suasana yang lazimnya penuh takbir berubah menjadi lengang dan tegang.

Otoritas Israel melarang pelaksanaan salat Id di Al-Aqsa dengan alasan keamanan, seiring meningkatnya konflik dengan Iran. Pembatasan itu bukan hanya menutup tempat ibadah, tetapi juga membatasi ruang publik. Para pedagang diminta menutup toko, aktivitas warga dipersempit, dan Kota Tua nyaris seperti kota yang berhenti bernapas.

Namun, larangan itu tidak sepenuhnya menghentikan langkah warga Palestina. Sejak fajar, ratusan orang tetap datang mendekati Al-Aqsa, membawa sajadah di bawah lengan, mencari celah untuk tetap menunaikan salat meski hanya di jalanan.

“Hari ini, Al-Aqsa telah direbut dari kita. Ini adalah Ramadan yang menyedihkan dan menyakitkan,” kata Wajdi Mohammed Shweiki, seorang pria Palestina berambut perak berusia 60-an, kepada AFP.

“Ini adalah situasi yang sangat buruk bagi penduduk Yerusalem, bagi warga Palestina pada umumnya, dan bagi seluruh umat Muslim di seluruh dunia.”

Kerumunan sempat mencoba mendekati gerbang kota. Takbir menggema, sebagian melantunkan syahadat. Namun aparat kepolisian zionis mendorong mereka mundur, bahkan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang dianggap melampaui batas yang diizinkan.

Polisi sempat melonggarkan barikade. Di sela ruang yang sempit itu, para jamaah memanfaatkan kesempatan. Mereka membentangkan sajadah di aspal, menunaikan salat Id di dekat Gerbang Herodes. Seorang imam berdiri di atas bangku plastik, menyampaikan khutbah singkat di tengah tekanan situasi.

“Berdoalah, mohonlah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan berharaplah agar doa-doa kalian dikabulkan,” katanya kepada para jamaah. “Ya Tuhan, berikanlah kemenangan kepada orang-orang yang tertindas.”

Momen itu berlangsung singkat. Setelahnya, aparat kembali membubarkan kerumunan. Jamaah perlahan meninggalkan lokasi, menyusuri gang sempit Kota Tua. Sebagian berhenti membeli roti hangat di kios kecil. Sebuah ritual sederhana yang tersisa di tengah hari raya yang tak utuh.

Jumlah jamaah yang hadir hanya ratusan orang. Angka yang jauh dari biasanya, ketika Idul Fitri di Yerusalem bisa menghadirkan puluhan ribu hingga sekitar 100.000 orang di Al-Aqsa.

Penutupan ini disebut sebagai yang terpanjang dalam periode Ramadan hingga Idul Fitri sejak Israel mencaplok Yerusalem Timur pada 1967. Tak hanya Al-Aqsa, akses ke situs suci lain seperti Gereja Makam Suci dan Tembok Barat juga dibatasi.

Di balik alasan keamanan, muncul kekhawatiran lain. Sejumlah warga Palestina menilai pembatasan ini bukan sekadar langkah darurat, melainkan bagian dari perubahan perlahan atas status akses ke situs-situs suci.

“Pihak penjajah, dengan dalih keamanan dan untuk kepentingan mereka sendiri, telah menutup masjid,” kata ulama Ayman Abu Najm.

“Dalam sejarah pendudukan, ini adalah periode terpanjang di mana Masjid Al-Aqsa ditutup.”

Di sisi lain, tekanan ekonomi juga terasa. Pedagang yang biasanya mengandalkan momen Lebaran untuk meraup keuntungan justru kehilangan penghasilan. Pembatasan aktivitas membuat roda ekonomi di kawasan itu ikut tersendat.

Bagi sebagian warga, kehilangan akses ke Al-Aqsa bukan sekadar soal tempat ibadah. Ada dimensi personal yang terasa hilang.

“Ramadan tanpa Masjid Al-Aqsa adalah perasaan yang sangat menyedihkan, perasaan seperti patah hati,” kata seorang jamaah, Zeyad Mona.

 

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Mudik 2026 Pecah Rekor, 270 Ribu Kendaraan Padati Jalan, Polisi Ubah Strategi

Pelabuhan Penajam
Kendaraan pemudik saat keluar dari kapal di Pelabuhan Penajam. DOK/NET

BEKASI — Arus mudik Lebaran 2026 mencatat lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kepadatan kendaraan mencapai puncaknya pada 18 Maret, dengan jumlah menembus lebih dari 270 ribu kendaraan dalam satu hari.

Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho menyebut angka tersebut sebagai rekor baru dalam pergerakan mudik nasional. Lonjakan ini membuat aparat harus mengubah pola penanganan di lapangan.

“Seperti apa yang disampaikan oleh Pak Dirut Jasa Marga adalah puncak arus mudik tertinggi sepanjang sejarah kurang lebih 270.315 (kendaraan),” kata Agus di Gedung JMTC Jasa Marga, Bekasi, Jumat.

Menghadapi tekanan volume kendaraan yang meningkat, Korlantas tidak lagi sepenuhnya mengandalkan pola lama. Sejumlah rekayasa lalu lintas diterapkan secara lebih fleksibel, termasuk menutup sementara Jalan Layang Tol Mohammed bin Zayed (MBZ) untuk mencegah penumpukan serta menerapkan contraflow bertahap di titik-titik krusial.

Langkah ini diambil untuk menjaga aliran kendaraan tetap bergerak, terutama di jalur utama mudik dari KM 70 Tol Jakarta-Cikampek hingga KM 414 Kalikangkung, Semarang.

“Oleh sebab itu, puncak arus yang cukup tinggi bisa kita kelola dengan baik, sehingga pada saat meninggalkan KM 70 (Tol Jakarta-Cikampek) sampai KM 414 (Kalikangkung, Semarang) ini lancar,” ucapnya.

Di tengah tingginya mobilitas, angka kecelakaan justru menunjukkan tren penurunan. Data Korlantas mencatat jumlah kecelakaan turun sekitar 3 persen, sementara fatalitas korban menurun signifikan hingga 24,67 persen dibandingkan periode mudik tahun lalu.

“Ini tentunya akan kita pertahankan agar ke depan kita bisa mengelola berkaitan dengan keselamatan,” katanya.

Setelah puncak arus mudik terlewati, perhatian kini bergeser ke fase berikutnya. Kepolisian mulai menyiapkan pengamanan arus balik sekaligus mengantisipasi lonjakan pengunjung di sejumlah destinasi wisata selama libur Lebaran.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Iran Balas Serangan, Yerusalem hingga Pangkalan AS di UEA Jadi Sasaran

Rudal balistik darat ke darat dengan jangkauan 2.000 km bernama Khaibar dipamerkan di Tehran, Iran, Kamis (25/3/2023). /ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/foc.
Rudal balistik darat ke darat dengan jangkauan 2.000 km bernama Khaibar dipamerkan di Tehran, Iran, Kamis (25/3/2023). /ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/foc.

TEHERAN — Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat. Militer Iran meluncurkan serangan ke sejumlah titik strategis, termasuk Yerusalem Barat, Haifa, dan pangkalan udara militer Amerika Serikat Al Dhafra di Uni Emirat Arab, pada Jumat.

Serangan ini diumumkan langsung oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai bagian dari operasi lanjutan yang mereka sebut Operasi Janji Sejati 4. Tahapan terbaru ini disebut sebagai fase ke-66, menandakan intensitas serangan yang terus berlanjut dalam beberapa waktu terakhir.

“Selama fase ke-66 Operasi Janji Sejati 4, target di Yerusalem Barat, Haifa, dan pangkalan AS Al Dhafra di wilayah tersebut berhasil dihantam,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Iran YJC.

Dalam operasi tersebut, Iran menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone. IRGC menyebut jenis rudal yang dikerahkan di antaranya Kheibar Shekan, Zolfaghar, dan Qadr persenjataan yang selama ini menjadi bagian dari kekuatan utama arsenal militer Iran.

Serangan ini bukan tanpa konteks. Iran menyatakan langkah tersebut sebagai respons atas operasi militer gabungan yang lebih dulu dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Konflik yang awalnya diklaim sebagai tindakan pencegahan, kini berkembang menjadi konfrontasi terbuka yang melibatkan serangan lintas wilayah.

Hari pertama operasi militer itu meninggalkan dampak besar di Iran. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur, sementara sebuah sekolah perempuan di Iran selatan hancur. Pemerintah Iran memperkirakan korban tewas telah melampaui 1.300 orang.

Di sisi lain, narasi dari Amerika Serikat dan Israel juga mengalami pergeseran. Jika pada awalnya serangan disebut sebagai langkah untuk menahan ancaman dari program nuklir Iran, pernyataan berikutnya mengarah pada tujuan yang lebih luas, yaitu perubahan kekuasaan di Teheran.

Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam tekanan baru. Serangan yang kini saling berbalas tidak lagi terbatas pada satu wilayah, tetapi mulai menyentuh berbagai titik strategis dari pusat kota hingga instalasi militer internasional.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Prabowo: Pasukan ke Gaza Bukan untuk Lawan Hamas, Fokus Lindungi Warga

Presiden Prabowo Subianto (kanan) didampingi Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto (kedua kanan) melaksanakan inspeksi pasukan pada Upacara HUT ke-80 TNI di kawasan Silang Monas, Jakarta, Minggu (5/10/2025). Aktual/TIM MEDIA PRABOWO SUBIANTO

Presiden Prabowo Subianto meluruskan spekulasi soal rencana pengiriman pasukan Indonesia ke Gaza, Palestina. Ia menegaskan, misi tersebut bukan untuk melucuti senjata Hamas atau terlibat dalam operasi militer, melainkan berfokus pada perlindungan warga sipil di tengah konflik.

Penjelasan itu disampaikan Prabowo dalam forum diskusi terbuka Presiden Prabowo Menjawab yang digelar di kediamannya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dalam forum yang juga dihadiri pakar dan jurnalis senior tersebut, Prabowo menggarisbawahi posisi Indonesia yang sejak awal konsisten membela kemerdekaan Palestina.

“Saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina. Saya selalu katakan, dalam pembicaraan saya dengan tokoh-tokoh barat, kita akan ikut (Board of Peace/BoP) dan kita siap kirim pasukan perdamaian, asal saya bilang semua pihak setuju keterlibatan Indonesia,” kata Prabowo dikutip dari siaran pers pada Jumat (20/3/2026).

Namun, rencana tersebut tidak berdiri sendiri. Prabowo menyebut ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum pasukan dikirim. Persetujuan dari tokoh Palestina menjadi kunci, disusul dukungan negara-negara mayoritas muslim seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir.

Selain itu, Indonesia juga menempatkan satu syarat penting: penerimaan dari Hamas sebagai pihak yang secara de facto menguasai wilayah Gaza.

“Dan, saya juga mengatakan, de facto, Hamas harus menerima kita. Itu saya sampaikan. Karena we want to be a peacekeeping force,” tegas Prabowo.

Dalam skema Board of Peace (BoP), setiap negara diberi ruang menentukan batas keterlibatan melalui konsep national caveats. Indonesia, menurut Prabowo, mengambil posisi yang tegas—ikut dalam misi perdamaian, tetapi tanpa terlibat dalam konflik bersenjata.

“National caveats. Kita tegas, kita tidak mau terlibat dalam aksi militer terhadap Hamas,” ujarnya.

Ia juga menegaskan Indonesia tidak akan terlibat dalam upaya pelucutan senjata.

“Kedua, kita tidak mau terlibat dalam mengambil senjata, deweaponization, dari Hamas. Kita tidak mau ikut. Yang kita mau adalah menjaga rakyat sipil dari serangan mana pun,” tutur Prabowo.

Meski demikian, situasi geopolitik terbaru membuat rencana tersebut harus ditunda. Eskalasi konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat memaksa Indonesia melakukan peninjauan ulang.

“Itu komitmen kita. Setelah terjadi perang begini, kita konsultasi, tapi de facto-nya adalah everything on hold. Ya, saya sudah umumkan,” jelas dia.

Sebelumnya, Indonesia menyiapkan hingga 8.000 personel TNI untuk bergabung dalam misi International Stabilization Force (ISF) di Gaza. Namun hingga kini, pengiriman pasukan masih menunggu mandat resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa serta kondisi keamanan yang memungkinkan.

Di tengah dinamika konflik yang terus bergerak, posisi Indonesia terlihat jelas: hadir sebagai penengah kemanusiaan, bukan bagian dari pertarungan bersenjata.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Momentum Idulfitri 1447 H Pererat Kebersamaan Demi Bangun Indonesia yang Lebih Baik

Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani. Aktual/DOK DPR RI

Jakarta, aktual.com – Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani menyampaikan selamat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ia berharap momen Lebaran 2026 dapat mempererat kebersamaan bangsa, demi membangun Indonesia yang lebih baik.

“Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin,” kata Puan dalam keterangan tertulisdi Jakarta, Jumat (20/3/2026).

Puan pun mengajak umat Muslim untuk menyambut Hari Kemenangan dengan sukacita setelah sebulan lamanya menjalankan ibadah puasa.

“Ramadan telah menempa diri kita, membersihkan jiwa dan menjernihkan hati,” ungkap perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu.

“Kini, Idulfitri hadir membawa kita kembali pada kesucian diri. Di Hari yang fitri ini, marilah kita saling membukan pintu maaf,” imbuh Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu.

Meski ada perbedaan Hari Raya Idulfitri, Puan mengajak semua pihak untuk terus menjaga kebersamaan dan selalu membangun toleransi.

Seperti diketahui, Pemerintah resmi menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 pada Sabtu (21/3). Sementara Muhammadiyah menetapkan awal bulan Syawal 1447 H jatuh pada hari ini.

“Mari kita mempererat kebersamaan, dan memperkuat semangat gotong royong demi membangun Indonesia yang lebih baik,” tutur Puan.

Puan juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memperkuat kepedulian dan kebersamaan.

“Di momen Idulfitri ini, mari kita meningkatkan rasa empati kepada sesama, terutama bagi mereka yang kekurangan dan membutuhkan,” ujarnya.

Puan pun menilai aksi kepedulian sangat penting, apalagi dunia tengah dilanda berbagai dinamika geopolitik yang mempengaruhi stabilitas ekonomi global termasuk perekonomian Indonesia. Ia juga mendorong Pemerintah untuk semakin peka dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

“Rakyat masih terus menaruh harapan besar agar negara hadir, khususnya di saat-saat rakyat paling membutuhkan,” tegas Puan.

Lebih lanjut, Puan meminta Pemerintah memastikan kelancaran momen Idulfiitri.

“Mulai dari kelancaran umat Muslim dalam merayakan Hari Idul Fitri, kelancaran transportasi dan semua infrastruktur arus mudik-arus balik, hingga kepastian keamanan dan kenyamanan masyarakat saat libur Lebaran,” paparnya.

Kepada seluruh rakyat Indonesia, Puan mengucapkan selamat bersilaturahmi bersama keluarga di momen libur Lebaran 2026.

“Semoga seluruh umat Muslim menyambut Hari Kemenangan dengan gembira. Dan bagi seluruh masyarakat, selamat berkumpul dengan keluarga di momen libur Lebaran ini,” tutup Puan.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Okt

Tuai Kritik, Pola Perang Zionis Israel Sasar dan Bunuh Elite Iran

Ilustrasi - Rudal balistik Iran. ANTARA/Anadolu/py/am.

Strategi Israel yang secara langsung menargetkan elite Iran dalam konflik yang terus meningkat kini menjadi sorotan para pengamat internasional. Serangan yang menewaskan Ali Larijani pada 17 Maret 2026 dinilai bukan sekadar operasi militer, tetapi bagian dari pergeseran pola perang yang lebih agresif dan berisiko tinggi.

Sejumlah laporan menilai bahwa, “menargetkan pimpinan tertinggi dapat mengganggu struktur komando, tetapi juga berisiko memicu eskalasi yang tidak terkendali.”

Pendekatan yang dikenal sebagai decapitation strike ini dinilai memiliki konsekuensi serius. Akademisi dari Johns Hopkins University, Vali Nasr, menilai bahwa konflik Iran–Israel telah memasuki fase baru yang lebih berbahaya. Ia menekankan bahwa kawasan ini sedang bergerak menuju fase konfrontasi yang lebih berbahaya,” yang menandai meningkatnya risiko benturan terbuka antarnegara.

Pandangan serupa disampaikan Fawaz Gerges dari London School of Economics. Ia menilai bahwa serangan terhadap tokoh kunci Iran berpotensi memperluas konflik di kawasan. Dalam pengamatannya disebutkan bahwa, ini dapat memperluas konflik melampaui batas yang ada saat ini,” terutama dengan keterlibatan tidak langsung Amerika Serikat yang semakin memperumit dinamika geopolitik.

Sementara itu, Rosemary Kelanic dari University of Notre Dame menyoroti keterbatasan strategi tersebut. Ia menyatakan bahwa “strategi pemenggalan kepemimpinan jarang menghasilkan hasil politik jangka panjang,” yang menunjukkan bahwa dampaknya cenderung sementara dan tidak menyelesaikan akar konflik.

Analisis lain juga menyoroti potensi efek berantai dari strategi tersebut. Serangan terhadap pejabat tinggi dinilai dapat memicu respons yang lebih luas dari Iran dan sekutunya. Dalam sejumlah laporan disebutkan, “serangan semacam ini dapat memicu pembalasan yang lebih luas di seluruh kawasan,” yang memperbesar risiko konflik regional yang sulit dikendalikan.

Di tengah kritik tersebut, Israel tetap mempertahankan pendekatan militernya. Namun, sorotan internasional menunjukkan bahwa langkah ini tidak hanya dinilai sebagai strategi militer, tetapi juga sebagai ujian terhadap batas-batas hukum dan norma dalam konflik modern. Sejumlah pengamat menilai bahwa “penargetan terhadap kepemimpinan politik menantang norma yang selama ini berlaku dalam hubungan internasional,” yang mengindikasikan adanya pergeseran dalam praktik perang kontemporer.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Berita Lain