18 April 2026
Beranda blog Halaman 894

Prabowo Perintahkan Investigasi Transparan Insiden Tewaskan Ojol Affan

Jakarta, aktual.com – Presiden RI Prabowo Subianto memerintahkan investigasi transparan atas insiden yang menewaskan pengemudi ojek online, Affan Kurniawan karena dilindas mobil Barakuda Brimob Polri, dalam demonstrasi yang berujung ricuh pada Kamis (28/8) malam. Ia menegaskan, petugas yang terbukti bersalah harus bertanggung jawab.

“Sekali lagi, saya terkejut dan kecewa dengan tindakan petugas yang berlebihan. Saya telah memerintahkan agar insiden tadi malam diusut secara tuntas dan transparan, serta petugas-petugas yang terlibat harus bertanggung jawab,” tegas Prabowo dalam pernyataan resminya melalui video, Jumat (29/8).

Prabowo melanjutkan ia tidak akan mentolerir petugas yang berbuat di luar kepatutan dan ketentuan yang berlaku.

“Kita akan ambil tindakan sekeras-kerasnya sesuai hukum yang berlaku,” tambahnya.

Baca Juga:

Prabowo Berduka Atas Insiden Menewaskan Affan Pengemudi Ojol

Di awal pernyataannya, Prabowo menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga almarhum.

“Atas nama pribadi dan atas nama Pemerintah Republik Indonesia, mengucapkan turut berduka cita dan menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Saya sangat prihatin dan sangat sedih terjadi peristiwa ini,” ujarnya.

Ia juga memastikan pemerintah akan memberikan perhatian khusus kepada keluarga Affan. “Pemerintah akan menjamin kehidupan keluarganya, serta memberikan perhatian khusus kepada baik orang tuanya, adik-adik, dan kakak-kakaknya,” jelas Prabowo.

Baca Juga:

Affan Tewas Dilindas Aparat Brutal dan Arogansi Wakil Rakyat

Prabowo meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi. Ia menegaskan seluruh keluhan rakyat akan dicatat dan ditindaklanjuti.

Selain itu, Prabowo memperingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi dengan menciptakan kekacauan.

“Saya juga menghimbau kepada seluruh bangsa Indonesia untuk selalu waspada. Ada unsur-unsur yang selalu ingin huru-hara, yang ingin chaos. Saya sampaikan kepada seluruh rakyat bahwa hal tersebut tidak menguntungkan rakyat, tidak menguntungkan masyarakat, tidak menguntungkan bangsa kita,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Ahmad Sahroni Digeser dari Komisi III DPR RI, Buntut Sebut Pendemo Paling Tolol ? 

Bendahara Umum Partai Nasdem Ahmad Sahroni

aktual.com- Anggota DPR Ahmad Sahroni yang baru-baru ini menjadi bulan-bulanan netizen karena pernyataan kontroversialnya soal tuntutan pembubaran DPR, tiba-tiba posisinya digeser dari Komisi III ke Komisi I DPR.

Pergeseran itu tertuang dalam surat Fraksi Partai Nasdem nomor: D Nasdem/758/DPR-RI/VIII/ 2025, yang beredar di whatsapp grup, Jumat 29 Agustus 2025.

Surat fraksi yang dikeluarkan pada 29 Agustus 2025 menyatakan bahwa Ahmad Sahroni yang semula menjadi anggota Komisi III DPR yang mitra kerjanya antara lain kepolisian, kejaksaan agung, dan KPK digeser ke Komisi I DPR.

Lalu, posisi Sahroni di Komisi I digantikan oleh Rusdi Masse yang sebelumnya menjabat sebagai anggota Komisi IV DPR.

Surat tersebut ditandatangani oleh Ketua Fraksi Nasdem Viktor Laiskodat, dan sekretaris Ahmad Sahroni.

Pergantian ini menimbulkan spekulasi. Apakah ini buntut pertanyaan Sahroni yang menyebut rakyat tolol karena mau bubarkan DPR. Ataukah ada faktor lain.

Sebelumnya, pernyataan Sahroni soal demo pembubaran DPR menyulut emosi publik dan berdampak pada aksi demontrasi pada Kamis 28 Agustus 2025.

Bahkan, demonstrasi ini telah membuat pengemudi ojek online tewas karena terlindas kendaraan rantis Brimob, pada Kamis malam.

Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari Fraksi Nasdem soal pergeseran posisi tersebut. (Raffi Adenin)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Represi Aparat dan Gagalnya Transformasi Polri di Tengah Bebalnya Elite Politik

Jakarta, Aktual.com – Pengamanan aksi demonstrasi di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (28/8), yang berakhir ricuh disayangkan banyak pihak. Aparat kepolisian kembali menampilkan wajah kekerasan dalam menjalankan peran dan fungsinya, ketimbang wajah pengayom dan pelindung masyarakat. Puncaknya, terjadi tragedi memilukan ketika kendaraan taktis Brimob melindas seorang peserta aksi pengemudi ojol hingga tewas.

Peneliti HAM dan Sektor Keamanan Serara Institute Ikhsan Yosarie menilai peristiwa tersebut bukan hanya bentuk pelanggaran prosedur keamanan, tetapi juga mencerminkan penggunaan kekuatan yang eksesif yang tidak bertujuan untuk melindungi warga negara. Terlebih muncul laporan terjadinya pemukulan, penganiayaan, penembakan gas air mata secara sembarangan, hingga penangkapan sewenang-wenang.

“Dalam konteks penggunaan gas air mata untuk pengendalian massa memperlihatkan ketiadaan pembelajaran dari tragedi Kanjuruhan tahun 2022 lalu. Hal ini menunjukkan minimnya implementasi konsep Presisi Polri di lapangan, terutama oleh anggota-anggota,” kata Ikhsan, melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (29/8).

Dirinta mengingatkan bahwa Pasal 28E UUD 1945 telah menjamin bahwa setiap berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Sedangkan Pasal 9 ayat (1) UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum kemudian juga menegaskan bahwa unjuk rasa sebagai salah satu bentuk penyampaian pendapat di muka umum.

“Dengan demikian, demonstrasi merupakan ruang sah bagi warga negara untuk menyampaikan aspirasi. Bahkan Pasal 13 ayat (2) UU No. 9/1998 mengamanatkan Polri bertanggung jawab memberikan perlindungan terhadap pelaku atau peserta penyampaian pendapat di muka umum,” tuturnya.

Dikatakan, ketika menangani demonstrasi rakyat yang marah terhadap elite politik di DPR yang bebal terhadap aspirasi dan denyut nadi rakyat, polisi harus memastikan jaminan hak konstitusional warga untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi, serta melaksanakan Standard Operating Procedure (SOP) yang menjamin Hak Asasi Manusia.

“Tindakan kekerasan aparat dalam penanganan demonstrasi bukanlah insiden sporadis dan isolated (berdiri sendiri), melainkan masalah struktural dan kultural dalam tubuh Polri. Pola ini lahir dari kultur kekerasan, impunitas, dan kegagalan reformasi kepolisian yang seharusnya menegakkan prinsip demokrasi dan hak asasi manusia,” ujarnya.

Menurutnya, Perkap No. 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM dalam Penyelenggaraan Tugas Polri hanya menjadi dokumen normatif di internal Polri. Peraturan internal yang sejatinya menjadi panduan etis-operasional justru dikhianati oleh praktik lapangan yang penuh kekerasan. Kondisi ini memperlihatkan kegagalan pelaksanaan kebijakan.

“Aturan ada, tetapi tidak dilaksanakan,” keluhnya. (Erwin)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Prabowo Berduka Atas Insiden Menewaskan Affan Pengemudi Ojol 

Jakarta, aktual.com – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rasa duka dan keprihatinan mendalam atas insiden yang menewaskan pengemudi ojek online, Affan Kurniawan. Peristiwa itu terjadi saat demonstrasi yang berujung anarkis pada Kamis (28/8) malam.

“Atas nama pribadi dan atas nama Pemerintah Republik Indonesia, mengucapkan turut berduka cita dan menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Saya sangat prihatin dan sangat sedih terjadi peristiwa ini,” ujar Prabowo dalam pernyataan resminya melalui video, Jumat (29/8).

Prabowo menegaskan pemerintah akan memastikan keluarga almarhum Affan mendapat jaminan hidup dan perhatian khusus. “Pemerintah akan menjamin kehidupan keluarganya, serta memberikan perhatian khusus kepada baik orang tuanya, adik-adik, dan kakak-kakaknya,” tegasnya.

Baca Juga:

Affan Tewas Dilindas Aparat Brutal dan Arogansi Wakil Rakyat

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyoroti tindakan kekerasan aparat Brimob yang dianggap berlebihan. “Saya telah memerintahkan agar insiden tadi malam diusut secara tuntas dan transparan, serta petugas-petugas yang terlibat harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Prabowo menekankan tidak akan ada toleransi bagi aparat yang bertindak di luar ketentuan hukum. “Kita akan ambil tindakan sekeras-kerasnya sesuai hukum yang berlaku,” kata Prabowo.

Prabowo meminta masyarakat tetap tenang dan mempercayai langkah pemerintah. Ia memastikan semua keluhan rakyat akan didengar dan ditindaklanjuti.

Baca Juga:

Mahfud MD Soal Brimob Lindas Ojol: Biang Utamanya Pejabat Korup

Prabowo juga memperingatkan soal adanya kelompok yang mencoba memanfaatkan situasi dengan menimbulkan kerusuhan.

“Saya juga mengimbau kepada seluruh bangsa Indonesia untuk selalu waspada. Ada unsur-unsur yang selalu ingin huru-hara, yang ingin chaos. Saya sampaikan kepada seluruh rakyat bahwa hal tersebut tidak menguntungkan rakyat, tidak menguntungkan masyarakat, tidak menguntungkan bangsa kita,” tegasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

SOROTAN: Affan Tewas Dilindas Aparat Brutal dan Arogansi Wakil Rakyat

Jakarta, Aktual.com – Affan Kurniawan tidak pernah bermimpi namanya akan tercatat dalam berita duka bangsa ini. Ia hanya seorang driver ojek online, yang setiap hari menggantungkan hidup pada motor dan aplikasi di ponselnya. Ia bekerja dari subuh hingga larut, mengantar pesanan dan penumpang, demi sesuap nasi.

Namun Kamis, 28 Agustus 2025, jalanan yang menjadi sumber nafkahnya justru menjadi liang lahatnya. Dalam ricuh demonstrasi, Affan tewas mengenaskan. Tubuhnya dilindas kendaraan taktis Brimob. Tragedi yang tak masuk akal di negeri yang mengaku demokratis.

Seorang rakyat kecil, yang mestinya dilindungi, justru dihabisi oleh alat negara. Bukan peluru nyasar, bukan salah sasaran belaka, melainkan roda baja yang menggilas tubuhnya hingga tak bernyawa. Betapa murah nyawa rakyat di negeri ini, ketika keberingasan aparat tak lagi mengenal batas kemanusiaan.

Ironinya, sementara Affan meregang nyawa di jalan, di gedung parlemen para wakil rakyat sibuk dengan dirinya sendiri. Anggaran miliaran untuk fasilitas, mobil dinas, perjalanan dinas ke luar negeri, semuanya mereka setujui dengan wajah tanpa rasa malu. Mereka marah bila disebut arogan, tetapi fakta-fakta hidup mereka menunjukkan sebaliknya.

Affan adalah potret rakyat paling sederhana. Ia tidak pernah meminta istimewa, tidak pernah menuntut kemewahan. Hanya bekerja untuk hidup. Tetapi negara justru memperlakukannya seperti debu yang bisa disapu, dilindas, dilupakan.

Tragedi ini bukan hanya soal Affan. Ia adalah simbol, bahwa roda kekuasaan di negeri ini bisa begitu saja melindas rakyatnya sendiri. Aparat yang brutal di jalan dan wakil rakyat yang pongah di kursi empuk, hanyalah dua sisi dari koin yang sama: Negara yang semakin jauh dari rakyatnya.

Kematian Affan harus jadi pengingat. Demokrasi kehilangan makna jika darah rakyat kecil begitu gampang tumpah di aspal. Jika parlemen terus memanjakan diri dengan privilese, dan aparat terus menjawab kritik dengan represi, maka republik ini hanya akan melahirkan lebih banyak Affan, rakyat kecil yang nyawanya terampas tanpa pernah dihitung dalam catatan sejarah resmi.

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto

Habiburokhman Minta Aparat Ditindak Tegas Brimob Lindas Ojol

Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/8/2025). ANTARA/Melalusa Susthira K.

Jakarta, aktual.com – Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman meminta agar para aparat yang melindas pengemudi ojek online (ojol) menggunakan kendaraan taktis (rantis) hingga menyebabkan tewas untuk ditindak tegas.

Menurut dia, tindakan tegas itu harus diberikan baik secara kedinasan maupun secara hukum. Pemerintah pun, kata dia, perlu turut mengambil peran untuk bertanggung jawab kepada korban.

“Pemerintah seharusnya mengambil alih tanggung jawab nafkah keluarga almarhum termasuk biaya sekolah anak-anak almarhum sampai perguruan tinggi,” kata Habiburokhman di Jakarta, Jumat (29/8).

Dalam hal ini, dia pun menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya pengemudi ojol yang bernama Affan Kurniawan tersebut. Dia berharap keluarga korban diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi musibah tersebut.

“Semoga almarhum husnul khatimah dan semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan kekuatan,” kata ketua komisi yang membidangi urusan penegakan hukum itu.

Adapun kejadian rantis Brimob melindas pengendara ojek online itu terjadi pada Kamis (28/8) malam, setelah berbagai elemen masyarakat yang menggelar aksi unjuk rasa di sekitar kompleks parlemen, Jakarta, dipukul mundur oleh pihak kepolisian.

Akibatnya kericuhan terjadi hingga ke berbagai wilayah di sekitaran kompleks parlemen, mulai dari Palmerah, Senayan, hingga Pejompongan. Peristiwa rantis Brimob yang melindas pengemudi ojol itu diduga terjadi di wilayah Pejompongan.

Kadiv Propam Polri Irjen Pol Abdul Karim pada Jumat dini hari, mengungkapkan bahwa ada tujuh aparat Brimob yang diduga terlibat dan berada di dalam rantis tersebut. Menurut dia, tujuh personel itu masih dalam proses pemeriksaan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain