6 April 2026
Beranda blog Halaman 958

Mentan Amran: Jika Hilirisasi Serius, Dolar Bisa Rp1.000

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Aktual/HO-Humas Kementan

Yogyakarta, aktual.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan nilai tukar Rupiah berpotensi menguat hingga menyentuh Rp1.000 per dolar Amerika Serikat (AS), jika hilirisasi komoditas ekspor nasional dikerjakan secara serius mulai saat ini.

“Dolar AS bisa Rp1.000 ke depan. Tapi ini harus dikerjakan dari sekarang,” kata Amran dalam Rapat Koordinasi Pengendalian (Rakordal) Pembangunan Daerah Triwulan II Pemda DIY di Gedhong Pracimasono, Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (30/7).

Amran mencontohkan potensi kelapa bulat yang selama ini hanya diekspor dalam bentuk mentah. Menurutnya, nilai ekspor kelapa saat ini mencapai Rp20 triliun. Namun, jika diolah di dalam negeri, nilainya bisa meningkat hingga 100 kali lipat.

“Sekarang ini ekspor kita nilainya Rp20 triliun untuk kelapa, kali 100, itu Rp2.000 triliun,” jelasnya.

Ia memperkirakan jika seluruh komoditas ekspor nasional dihilirisasi di dalam negeri, nilainya bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp50.000 triliun. “Kalau seluruh komoditas ekspor kita dihilirisasi, katakanlah Rp20.000 sampai Rp50.000 triliun,” sambungnya.

Amran juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui alokasi anggaran sebesar Rp371 triliun untuk mendukung program hilirisasi. Dari total itu, sebesar Rp40 triliun telah siap digunakan, termasuk Rp8 triliun yang baru saja ditandatanganinya.

“Hari ini saya tanda tangan. Turun (cair) anggarannya Rp8 triliun, total Rp40 triliun. Hari ini ada anggaran pertanian Rp40 triliun,” ujar Amran.

Ia menegaskan komoditas dengan permintaan tinggi seperti kakao, mete, dan kopi akan menjadi prioritas dalam program hilirisasi tersebut. Untuk mendukung hal itu, Kementan telah menyiapkan tambahan anggaran sebesar Rp4 triliun hingga Rp7 triliun guna membangun fasilitas pengolahan di dalam negeri.

Amran mengkritisi kebiasaan lama mengekspor komoditas mentah, seperti kakao dari Sulawesi yang diekspor ke Singapura dan dijual kembali dengan harga berlipat hanya karena proses penggilingan.

“Modalnya Singapura cuma ulek, ulek, diputar gini. Maka kami rintis, kami sudah siapkan anggaran sekitar Rp4 atau Rp7 triliun untuk membangun hilirisasi, dan yang mengulek nanti ke depan adalah Indonesia. Semua komoditas kita ulek, dikelola di Indonesia,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti peluang besar dari perubahan pola konsumsi global, khususnya di India dan China yang kini mulai beralih ke “coconut meal”. Negara-negara tersebut disebutnya tak mampu menanam kelapa, sehingga Indonesia punya potensi besar untuk menguasai pasar dunia.

“Di Eropa, kelapa mentah dijual Rp34.000. Ke depan, ada enam dari 13 komoditas strategis yang mungkin bisa kita selesaikan. Kalau itu terjadi, ekspor kita yang sekarang Rp600 triliun, dikali 100 atau 50 saja, bisa jadi Rp30.000 triliun. Indonesia mencapai Indonesia emas dan menjadi negara superpower ke depan,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Indonesia Serukan Tindakan Tegas Akhiri Penjajahan Panjang di Palestina

Jakarta, aktual.com – Indonesia menyerukan tindakan tegas dan nyata untuk mengakhiri penjajahan panjang atas Palestina dan mewujudkan Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

Menurut keterangan tertulis Kemlu RI, Rabu, hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir dalam Konferensi Tingkat Tinggi Internasional mengenai Implementasi Solusi Dua Negara yang diselenggarakan oleh Prancis dan Arab Saudi di Markas Besar PBB New York pada 29 Juli 2025.

Dalam konferensi tersebut, Indonesia menegaskan tiga langkah utama untuk mewujudkan Solusi Dua Negara; langkah pertama adalah pengakuan haruslah bersifat strategis, bukan hanya simbolis.

“Mengakui Palestina bukanlah sebuah bantuan. Pengakuan merupakan kewajiban berdasarkan hukum internasional. Mengakui Palestina berarti memperjuangkan keadilan. Pengakuan berarti percaya pada Piagam PBB. Pengakuan berarti menyeimbangkan persaingan diplomatik,” ujar Wamenlu RI yang akrab disapa Tata itu.

Indonesia menekankan bahwa solusi dua negara itu dimulai dengan pengakuan politik, sehingga negosiasi perdamaian dapat berlangsung, yang dapat dilanjutkan dengan mengakhiri pendudukan ilegal seperti yang ditegaskan oleh Mahkamah Internasional.

Yang kedua, Indonesia menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga Palestina harus segera dihentikan.

Indonesia menekankan bahwa gencatan senjata merupakan kewajiban moral, termasuk memberikan bantuan kemanusiaan dan melindungi warga sipil, baik warga Palestina maupun warga Israel.

“Presiden Prabowo telah menegaskan kesiapan Indonesia untuk berkontribusi pada perdamaian, termasuk melalui penyediaan personel untuk mendukung upaya pasukan stabilisasi di Gaza, di bawah mandat PBB,” ujar Tata, menambahkan Indonesia tidak hanya mengadvokasi perdamaian tetapi juga siap membantu membangun perdamaian itu.

Ketiga, Indonesia menegaskan bahwa masa depan Palestina harus dipimpin oleh Palestina sendiri.

Indonesia menekankan bahwa hanya rakyat Palestina yang bertanggung jawab untuk membangun kembali negara Palestina dan membentuk masa depan politiknya.

“Segala upaya untuk menggusur paksa mereka atau memaksakan persyaratan terhadap kedaulatan mereka harus ditolak dengan tegas. Negara Palestina yang kuat dan bersatu, dengan kendali penuh atas wilayah dan institusinya, adalah fondasi perdamaian yang berkelanjutan,” ucap Wamenlu RI itu.

Hanya dengan mewujudkan Negara Palestina yang kuat dan bersatu dengan kendali penuh atas wilayah dan institusinya, maka Israel dapat benar-benar diterima sebagai tetangga yang damai di Timur Tengah yang aman, kata Tata.

Indonesia juga akan terus membantu pemuda Palestina terutama dalam hal pendidikan, karena kaum muda itulah yang akan memimpin Palestina yang bebas, demokratis dan berdaulat, ujar Wamenlu RI.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

PHK Massal Akibat Gejolak Ekonomi, DPR Desak Pemerintah Hadirkan Solusi Terpadu

Jakarta, aktual.com – Berdasarkan survei dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), lebih dari separuh perusahaan menyatakan telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para pegawainya. Situasi ini dipicu oleh gejolak ekonomi yang melanda berbagai sektor industri.

Menanggapi temuan tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini menyatakan keprihatinannya. Ia menilai bahwa tren pengurangan tenaga kerja di Indonesia bukan semata persoalan hubungan industrial, melainkan mencerminkan adanya persoalan sistemik dalam ketahanan ekonomi nasional menghadapi tekanan global dan lemahnya daya beli masyarakat.

“PHK besar-besaran tidak hanya berdampak pada pekerja dan keluarganya, tapi juga menimbulkan efek domino pada stabilitas sosial dan ekonomi nasional,” kata Yahya melalui siaran pers yang diterima pada Rabu (30/7).

Menurut Yahya, kondisi ini menuntut adanya respons kebijakan yang terkoordinasi dan lintas sektor. Kebijakan tersebut harus berpihak pada keberlanjutan dunia usaha dan perlindungan tenaga kerja secara bersamaan.

“Kita tidak bisa membiarkan dunia usaha menanggung beban sendiri tanpa kehadiran negara dalam bentuk intervensi kebijakan yang konkret,” ujar Yahya.

Ia mendesak Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) agar memperkuat program pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan bagi pekerja, khususnya di sektor yang terdampak PHK.

“Harus ada juga skema perlindungan sosial yang fleksibel dan adaptif terhadap gelombang PHK, terutama bagi pekerja informal dan kontrak,” ujarnya.

Politisi Partai Golkar tersebut juga menekankan pentingnya peningkatan pengawasan atas pelaksanaan PHK agar tetap berjalan sesuai aturan dan mengedepankan dialog sosial antara pengusaha dan pekerja.

Yahya menegaskan bahwa keberlanjutan usaha dan perlindungan tenaga kerja tidak harus saling bertentangan. Justru dalam kondisi krisis, keduanya perlu saling menguatkan.

“Negara boleh hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pengarah kebijakan yang mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang berkeadilan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, dalam survei terbarunya, Apindo mencatat bahwa lebih dari 50 persen responden perusahaan mengaku telah mengurangi tenaga kerja atau melakukan PHK sebagai dampak dari ketidakpastian ekonomi yang masih terus berlangsung hingga saat ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Ibas Gandeng Meksiko, Perkuat Misi Kemanusiaan dan Kedaulatan Global

Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono, ketika mengunjungi Parlemen Meksiko (29/7/2025). EBY dan delegasi disambut langsung oleh Teresa Ginez Serano Ketua GKSB Meksiko - Indonesia dan jajarannya. Aktual/DOK MPR

Meksiko, aktual.com – Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas/EBY) mendorong penguatan hubungan bilateral Parlemen Indonesia dengan Meksiko. Ibas menyoroti pentingnya kolaborasi di tengah tantangan geopolitik global dan mendorong kerja sama konkret di berbagai bidang. Dengan semangat persatuan, ia menekankan bahwa Indonesia dan Meksiko bukan pesaing, melainkan mitra setara menuju kemajuan bersama.

Hal tersebut disampaikan Edhie Baskoro yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ketika mengunjungi Parlemen Meksiko (29/7/25). EBY dan delegasi disambut langsung oleh Teresa Ginez Serano Ketua GKSB Meksiko – Indonesia dan jajarannya.

Di awal sambutannya Wakil Rakyat dari Partai Demokrat ini menyuarakan komitmen bersama untuk memperkuat hubungan bilateral di tengah tantangan geopolitik global.

“Pertemuan ini penting. Kami melihat pertemuan ini sebagai kesempatan untuk melanjutkan kepercayaan strategis dan untuk membangun hubungan kolaborasi dalam situasi geopolitik yang semakin rumit.”

“Hubungan yang dapat memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup dan kesuksesan kita bersama,” ungkapnya.

Dalam nuansa yang hangat Edhie Baskoro menyampaikan apresiasi tingginya pada persahabatan dan solidaritas yang dibangun Meksiko saat ini. “Saya mengucapkan penghargaan yang terdalam atas semangat persahabatan dan solidaritas yang dibawa Meksiko saat ini. Dari Teotihuacan & Chichen Itza ke Borobudur. Dari Cancun ke Bali.”

“Pesannya jelas: Kita adalah bangsa yang berdiri tinggi dan berjalan bersama,” tegasnya dengan senyuman.

Ibas, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat ini pun mengenang sejarah panjang diplomasi kedua negara. ”Persahabatan ini tidak dimulai hari ini. Berawal dari masa Presiden Soekarno dan Presiden Lopez Mateos, diperdalam oleh Presiden SBY dan Presiden Jose Calderon, dan sekarang berlanjut di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dan Presiden Claudia,” ungkapnya.

Edhie Baskoro, Wakil Ketua MPR RI dari Partai Demokrat ini pun menegaskan bahwa hubungan antar parlemen ini dinilai lebih dari sekadar komunikasi diplomatik. “Kita tahu, di tingkat parlemen, kelompok persahabatan kita bukan hanya sebuah dialog, ini adalah ruang untuk gagasan, tujuan, dan tugas bersama. Dan di panggung global seperti G20, MIKTA, FAO, dan lainnya, kita tidak hanya hadir; Kita berbicara dengan suara yang satu.”

Menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks, Ibas yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasihat Kadin pun menegaskan pentingnya terus membela keadilan, kedaulatan, dan kemanusiaan.

“Kita bertemu hari ini di dunia yang telah berubah, lebih cepat, lebih panas, dan jauh lebih tidak pasti. Ketika makanan menjadi alat tawar, ketika energi digunakan sebagai pengungkit, ketika solidaritas diuji oleh kepentingan diri, kita harus berdiri sebagai jangkar, membela keadilan, kedaulatan, dan kemanusiaan.”

Edhie Baskoro kemudian menyampaikan ajakan untuk terus bekerjasama secara konkret di berbagai bidang Indonesia-Meksiko. Mari kita melanjutkan kemitraan yang berakar pada kenyataan, sebagai contoh yang dapat kita lakukan hari ini.”

“Mulai dari pertukaran pemuda petani dan mahasiswa pertanian, kolaborasi dan kerjasama dengan pusat penelitian tentang sistem pangan yang tangguh terhadap iklim, juga MoU yang dipercepat untuk perdagangan daging sapi dan kopi. Selain itu ada juga acara perjalanan budaya lintas Pasifik: dari Maya ke Majapahit,” papar Ibas lengkap.

Dengan semangat persatuan, EBY menegaskan bahwa Indonesia dan Meksiko bukanlah pesaing tapi mitra kemajuan. “Kita tidak perlu sepakat dalam segala hal, tetapi kita perlu percaya pada satu hal: bahwa dengan berdiri bersama, kita akan tumbuh lebih kuat.”

“Indonesia dan Meksiko bukanlah pesaing. Kita adalah bangsa yang saling melengkapi, mitra setara dalam kemajuan bersama.”

Menutup pemaparannya, Edhie Baskoro menyampaikan undangan persahabatan kepada Meksiko, “Terima kasih atas kehadiran, semangat, dan antusiasnya. Saya juga dengan hangat mengundang delegasi Meksiko untuk mengunjungi Pacitan, Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.”

“Mari kita melanjutkan dialog ini di tanah kita, di bawah langit Asia Tenggara dalam semangat Amerika Latin. Muchas gracias. Viva Indonesia, Viva Meksiko,” tutupnya.

Dalam kunjungan ini, Edhie Baskoro hadir bersama Group Kerjasama Bilateral (GKSB) DPR RI lainnya, di antaranya Herman Khaeron, Fathi, Umbu Kabunang, Nafa Urbach, Bramantyo, Dini Rahmania, dan Jefry Romdonny.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Inggris Sebut Syarat untuk Akui Negara Palestina

Komite Pembangunan Internasional Parlemen Inggris pada Jumat (17/1/2025) mendesak pemerintah untuk mengakui negara Palestina, termasuk menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi dan jadwal aksi yang direncanakan. /ANTARA/Anadolu/py

London/PBB, aktual.com – Downing Street pada Selasa (29/7) menuntut Israel untuk segera mengambil langkah substantif guna mengakhiri “situasi memprihatinkan di Gaza” dan berkomitmen pada tujuan perdamaian jangka panjang dan berkelanjutan.

Jika tidak, pemerintah Inggris pada September nanti akan mengakui Negara Palestina demi “melindungi kelangsungan solusi dua negara”.

Dalam pernyataannya, Downing Street meminta Israel untuk segera mengizinkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melanjutkan pengiriman bantuan kemanusiaan bagi rakyat Gaza demi mencegah bencana kelaparan di wilayah kantung tersebut, serta mendesak Israel agar menyetujui gencatan senjata dan secara tegas menyatakan tidak akan ada aneksasi di Tepi Barat.

Dalam pernyataan itu, Pemerintah Inggris Raya juga meminta Hamas untuk segera membebaskan semua sandera.

Perdana Menteri (PM) Inggris Raya Keir Starmer menjelaskan lebih lanjut tentang sifat bersyarat dari pengakuan status kenegaraan Palestina ini dalam konferensi pers pada Selasa. Dia menjelaskan bahwa tujuan utama pemerintah Inggris adalah mengubah realitas di lapangan, dan “persyaratan ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan tersebut”.

Starmer juga mengungkapkan latar belakang pemilihan waktu dari pernyataan tersebut.

“Saya sangat khawatir gagasan solusi dua negara saat ini akan makin surut dan makin tenggelam dibandingkan bertahun-tahun yang lalu. Tidak ada solusi yang lebih baik bagi masa depan kawasan tersebut selain solusi dua negara,” ujar dia.

Menurut solusi tersebut, Israel dapat memiliki perbatasan yang aman dan diakui serta dapat hidup damai dengan tetangga mereka, bebas dari ancaman terorisme. Sementara itu, warga Palestina hidup di negara mereka sendiri, dengan bermartabat dan aman, serta bebas dari pendudukan.

Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Inggris David Lammy, Selasa (29/7), dalam konferensi internasional tingkat tinggi mengenai “Penyelesaian Damai Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara” yang diadakan di markas besar PBB.

Saat memberi keterangan kepada awak media menyusul pernyataannya dalam konferensi tersebut, Lammy mengungkapkan bahwa keputusan yang telah diambil “menempatkan kita pada jalur menuju pengakuan” Negara Palestina.

“Kita telah menyaksikan kejadian-kejadian yang paling mengerikan. Masyarakat global dibuat geram atas penembakan dan pembunuhan anak-anak dalam perjalanan mereka mencari bantuan,” ujar dia kepada awak media.

Lebih dari 200 anggota parlemen dari sembilan partai politik Inggris menandatangani surat yang ditujukan kepada PM Starmer dan Menlu Lammy pada Sabtu (26/7), yang berisi seruan kepada pemerintah untuk mengakui Negara Palestina.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Dukung Edukasi Finansial, FOREXimf Teken MoU dengan Rizki Aditama

Presiden Direktur FOREXimf Freddy Chandra, dan Trader Rizki Aditama usai penandatanganan kemitraan untuk membangun dan memajukan ekosistem trading yang sehat dan profesional di Indonesia. Aktual/HO

Jakarta, aktual.com – PT. International Mitra Futures (FOREXimf) adalah perusahaan pialang berjangka berlisensi di Indonesia yang dikenal memiliki reputasi sangat baik dalam industri keuangan dan perdagangan berjangka. Dengan visi menjadi mitra terpercaya bagi trader Indonesia, FOREXimf berkomitmen menyediakan solusi yang mudah diakses, edukatif dan berorientasi pada kebutuhan nasabah
dalam dunia trading.

Sebagai wujud nyata dari visi tersebut, selain menghadirkan QuickPro yang merupakan sebuah aplikasi trading yang dirancang khusus untuk membantu trader pemula hingga profesional dalam
melakukan transaksi secara lebih mudah, cepat dan terarah, FOREXimf secara resmi juga menjalin kerja sama strategis dengan Rizki Aditama seorang trader profesional dan diangkat sebagai Brand
Ambassador FOREXimf.

Penandatanganan kemitraan ini dilakukan di Jakarta, dan diwakili oleh Freddy Chandra, Presiden Direktur FOREXimf. Kolaborasi ini dilandasi oleh visi bersama untuk membangun dan
memajukan ekosistem trading yang sehat dan profesional di Indonesia.

“Sesuai tagline FOREXimf yaitu Trading Like a Pro, kita memiliki komitmen untuk mengedukasi masyarakat agar mampu trading layaknya seorang pro trader. Rizki Aditama adalah figur yang bukan hanya memiliki pengalaman sebagai trader profesional tetapi juga
keahlian dalam berbagi secara efektif kepada publik bagaimana beliau trading secara profesional,” ujar Freddy Chandra.

Sebagai seorang trader yang aktif berbagi ilmu trading kepada jutaan audiencenya secara online, Rizki Aditama telah membuktikan dirinya sebagai figur kredibel yang tak hanya sukses dalam praktik, tetapi juga unggul dalam berbagi cara trading yang aplikatif dan bertanggung
jawab.

Kerja sama ini akan membuka rangkaian kegiatan edukatif baru, seperti webinar, workshop, kelas daring hingga komunitas eksklusif yang memungkinkan masyarakat umum, termasuk investor saham dan kripto untuk mengenal dan memahami forex trading secara tepat.

“Ini adalah langkah besar untuk membangun kesadaran publik akan pentingnya edukasi dalam
Industri trading forex dan kami ingin menjangkau sebanyak mungkin orang agar dapat merasakan pengalaman trading yang lebih baik, aman, dan profesional,” tutur Rizki Aditama.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Berita Lain