Jakarta, Aktual.com – Pakar oseanografi Institut Pertanian Bogor (IPB) Alan Frendy Koropitan, Ph.D mengaku kaget mendengar Gubernur DKI Ahok ucapkan kata-kata umpatan saat sosialisasi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) di Balai Kota DKI, akhir pekan lalu.

Dimana Ahok menyebut peserta KLHS jangan hanya mengkritik reklamasi, tapi juga beri solusi. Bukan hanya itu, Ahok juga menyebut ‘brengsek’ dalam sambutannya. Ahok mengatakan, “Bapak boleh sampaikan apa saja, tapi satu hal yang saya minta kalau anda sebut ini bukan hitam, bapak harus jelaskan kenapa dia disebut oranye. Tapi kalau bapak bilang ini bukan hitam, saya tanya apa, anda bilang tidak tahu. Buat saya itu brengsek.”

baca: Didepan Warga Terdampak Reklamasi, Ahok: Hai Orang-Orang Bodoh Nurut Saja Sama Orang Pinter

Meski tidak hadir di acara yang digelar di Balai Kota DKI akhir pekan lalu itu, Alan anggap kata-kata seperti itu tidak pantas diucapkan oleh seorang pejabat negara seperti gubernur, apalagi di depan publik. Dan yang jadi pertanyaan Alan, ditujukan ke siapa kata-kata ‘brengsek’ itu.

Menurut dia, kalau Ahok memang benar-benar mau proses KLHS berjalan baik, harusnya biarkan saja Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menjalankan tugasnya secara profesional. Yakni dengan tidak mengabaikan naskah akademik yang sudah ada sebelumnya. “Kalau dia harus mengeluarkan pernyataan ke publik dengan menyebut ‘bodoh’ dan ‘brengsek’ di joint commite itu, apa maksudnya?” ujar Alan, kepada Aktual.com, Senin (14/6).

Apakah Para Ahli Kelautan yang Ahok Anggap Brengsek?

Alan bertanya, siapa yang dimaksud Ahok dengan brengsek itu? Apakah para ilmuwan yang sudah membuat Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) di tahun 2011-2012 yang menemukan potensi-potensi buruk jika proyek reklamasi dan Giant Sea Wall dilakukan di Teluk Jakarta?

“Kalau itu yang disebut bodoh dan brengsek, berarti sama saja menghina Bappenas dan KLH. Apakah orang-orang yang menulis laporan itu yang bodoh? Brengsek? Mereka itu konsultan yang ‘dihire’ loh. Atau laporan Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dianggap Ahok brengsek?” ucap dia.

Diingatkan juga oleh Alan, para pakar oseanografi di Indonesia itu hanya sedikit saja. Jadi saling mengenal dan saling menghargai kajian masing-masing. “Seperti peneliti oseanografi yang dari IPB, ITB, Undip misalnya, itu saling mengenal dan saling menghargai. Jadi tidak bisa cara-cara seperti yang Ahok pakai itu. Atau jangan-jangan dia hanya mendengar hasil kajian yang mendukung reklamasi saja?” kata Alan.

Sambung dia, ilmu pengetahuan itu netral dan tidak memihak. Kalaupun hasilnya dianggap memihak, itu bukan karena memihak tanpa sebab. “Tapi karena hasil ilmiahnya begitu. Dan tidak ada urusan sama politik. Misal kalau temuan saya menyebut bagus, ya saya katakan bagus itu reklamasi. Kenyataannya kan tidak begitu,” ujar dia.

Bahkan Alan sampai mengeluarkan penilaian kalau Ahok ini seperti tengah menerapkan prinsip perang Sun Tzu yang terkenal dengan ajaran ‘Menyerang Adalah Pertahanan Terbaik’. baca: Pakar Kelautan: Asumsi Ahok Soal Daya Tarik Bulan Itu Pembodohan

()