Jakarta, Aktual.com — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Muhammad Sulton Fatoni mengatakan pihaknya terus mempromosikan Islam Nusantara sebagai gagasan Islam yang toleran, antiradikalisme dan antiterorisme.

“Promosi perlu, mengingat saat ini Muslim di Libya, Yaman, Irak, Suriah, Afghanistan tidak kunjung hidup damai, padahal selama ini mereka dikenal sebagai negara-negara Islam,” demikian kata Sulton di Jakarta, Senin (15/02).

Salah satu alasan PBNU menggulirkan Islam Nusantara adalah perlunya mengenalkan karakter ber-Islam seperti di Asia Tenggara. Dengan begitu, khasanah Islam tidak terlalu Arab sentris atau tidak hanya tentang Arab.

Menurut Sulton, Islam di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menunjukkan wajah Islam yang yang akomodatif terhadap budaya lokal.

PBNU, kata dia, bersyukur saat ini Islam Nusantara sudah dikenal masyarakat luas dan dunia. Karena itu, agenda selanjutnya adalah memperkuat implementasi strategi terutama saat karakter Islam Nusantara berhadapan dengan budaya lokal masyarakat setempat, terutama masyarakat Eropa, Amerika dan Australia.

“Memang tidak mudah menyampaikan Islam dengan pendekatan budaya. Di samping membutuhkan penguasaan ilmu ke-Islaman juga mengingat Eropa misalnya, sudah mengenal Islam dengan corak politik dan ekonomi serta akar liberalisme mereka yang kuat. Namun itu soal waktu saja,” ujar Sulton.

Sulton mengatakan PBNU sebagai pengusung Islam Nusantara mengapresiasi semua pihak yang bergerak ikut menyosialisasikan Islam Nusantara sebagai media dakwah dan promosi Islam yang menjunjung tinggi toleransi, moderat dan antiradikalisme.

“Semangat kita sebagai warga Indonesia yang cinta damai tampak dalam mengapresiasi gagasan Islam Nusantara. Selanjutnya, Muslim Indonesia juga perlu mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi atas gagasan tersebut agar manfaatnya lebih besar dirasakan masyarakat dunia, khususnya Indonesia,” tutur ia menutup pembicaraan.

()