Jakarta, Aktual.co — Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI), menyusun rapor atlet-atlet bulu tangkis yang berisi tiga kriteria di pusat pelatihan nasional Cipayung, Jakarta.

“PBSI harus punya parameter yang berisi catatan atlet karena fisik atlet-atlet pelatnas harus dipersiapkan sebelum mengikuti turnamen. Fisik atlet harus tahan untuk mengikuti dua atau tiga turnamen berturut-turut, selain juga konsisten,” kata Kepala Bidang Pengembangan PBSI Basri Yusuf seperti dilansir Tim Humas dan Media Sosial PBSI, Selasa (4/11).

Rapor atlet pelatnas bulu tangkis itu, lanjut Basri, akan merangkum seluruh pencapaian atlet di setiap kejuaraan, termasuk lima jenis tes fisik dari tiga kriteria pada tiap bulan.

Pembobotan kriteria atlet pelatnas itu berupa kemampuan teknik, taktik, dan strategi sebesar 50 persen, kemudian kemampuan fisik sebesar 30 persen, dan kemampuan mental 20 persen. PBSI juga merinci kemampuan fisik dari lima komponen yaitu ketahanan, kekuatan, kecepatan, fleksibilitas, dan koordinasi.

“Tim pelatih harus memaksimalkan analisis penampilan atlet karena negara-negara lain sudah lama menerapkan sistem ini secara terpadu,” kata Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Rexy Mainaky.

Rexy menyontohkan penerapan sistem terpadu termasuk melibatkan peranan teknologi ketika Anggia Shitta Awanda/Della Destiara Haris mengalahkan pasangan nomor satu dunia asal Tiongkok, Bao Yixin/Tang Jinhua.

“Tiongkok pasti langsung meneliti kekalahan tersebut. Tantangan untuk kita, apakah kalau bertemu lagi, Anggia/Della bisa menang?” ujar Rexy.

PBSI, menurut Rexy, berharap persiapan atlet-atlet pelatnas dapat diselesaikan semaksimal mungkin menjelang keikutsertaan mereka dalam kejuaraan dunia. Parameter itu juga akan menjadi salah satu syarat bagi seorang atlet apakah dia layak mengikuti turnamen atau tidak.

()

()