Jakarta, Aktual.co —Para pedagang kaki lima yang resmi menempati lahan IRTI di kawasan Monas mengaku merasa keberatan dengan adanya sistem bagi hasil di mana mereka harus menyetor sebesar 20 persen kepada UKM Monas yang bekerja sama dengan pihak SOSRO.
Salah seorang pedagang, Abdul (39), mengaku sangat keberatan karena bagi hasil itu dinilai merugikan pedagang di sana. 
“Waktu itu kita kumpul dan rapat dengan UKM Monas dan Sosro, mereka bilang untuk para pedagang yang akan menempati lapak baru yang sedang dibangun itu para pedagang harus membagi hasil sebanyak 20 persen dari hasil penjualan setiap harinya. Ya kita gak mau, sama saja Ini merugikan para pedagang,” keluh Abdul, kepada Aktual.co, di Jakarta, Rabu (15/10).
Dikatakan Abdul, wajar saja para pedagang merasa keberatan karena tiap bulannya mereka juga sudah dikenakan biaya sebesar 250 ribu perbulan untuk tiap lapak untuk fasilitas listrik, air dan satu orang tenaga kerja untuk membantu berdagang.
“Masa pedagang harus dibebani lagi dengan bagi hasil 20 persen tiap hari?” ujarnya.
Sedangkan mengenai kewajiban membayar 250 ribu perbulan, diakui Abdul, para pedagang tidak merasa keberatan.
Informasi itu, ujarnya, disampaikan kepada para pedagang saat dilakukan pendataan. Saat itu ada 339 pedagang yang akan menempati lapak yang baru dan akan mendapatkan kartu khusus pedagang.
Karena itulah, mewakili teman-temannya, Abdul berharap pengelola IRTI ataupun Pemprov Jakarta bisa mempertimbangkan lagi kebijakan untuk setoran 20 persen tiap hari kepada pengelola.
Untuk diketahui, pembangunan terminal IRTI yang berada di Monumen Nasional (Monas) diperkirakan akan rampung awal November nanti. Rencananya para pedagang yang sudah terdata dan mendapatkan kartu akan ditempatkan di kios-kios yang sudah dibuat.

()