Jakarta, Aktual.com – Kelompok makanan jadi, minuman dan tembakau menjadi pendorong tertinggi inflasi di DKI bulan November 2015.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI, Doni P. Joewono mengatakan peningkatan tekanan inflasi pada kelompok ini sudah terjadi sejak bulan Oktober.

“Hal itu terjadi akibat meningkatnya biaya produksi, sebagai dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah yang mulai ditransmisikan ke konsumen,” ujar dia, dalam keterangan tertulis yang diterima Aktual.com, di Jakarta, Jumat (4/12).

Sensitif perubahan nilai tukar juga masih relatif tinggi terjadi di komponen impor dari produk makanan jadi. “Subkelompok makanan jadi pada periode ini mengalami inflasi 0,65persen (mtm), meningkat cukup tinggi dari bulan sebelumnya yang hanya 0,13persen (mtm),” ujar dia.

Kelompok pendorong inflasi lainnya adalah kenaikan inflasi kelompok perumahan air, listrik, gas dan bahan bakar.

Inflasi di kelompok ini, tutur Doni, terutama disebabkan oleh meningkatnya biaya sewa rumah dan kontrak rumah. Seiring dengan meningkatnya permintaan di tengah terbatasnya ketersediaan yang ada.

Diperkirakan Doni, ekspektasi kenaikan harga tarif listrik pada Desember 2015 juga dapat menjadi pemicu para pemilik sewa rumah dan kontrak rumah untuk meningkatkan harganya pada November 2015.

“Hal itu tercermin dari meningkatnya inflasi subkelompok tempat tinggal dari 0,07% (mtm) bulan lalu menjadi 0,41% (mtm) pada November 2015,” kata dia.

Diberitakan sebelumnya, harga-harga di Jakarta alami inflasi di bulan November sebesar 0,12 persen dibanding bulan sebelumnya (mtm). Setelah bulan sebelumnya alami deflasi 0,05persen (mtm).

Doni mengatakan inflasi November 2015 tergolong rendah dibanding inflasi nasional dan rata-rata lima tahun sebelumnya (2009 – 2013) yang berada pada angka 0,21persen.

Rendahnya tekanan inflasi November terutama dipicu masih terjadinya deflasi pada kelompok bahan makanan.

()

()